
[Season 2]
Malam yang panjang telah berlalu, ketika pesta berakhir dan matahari mulai terbit, Ethan dan teman-temannya harus segera pergi untuk melanjutkan perjalanan mereka. Saat ini, mereka sedang berpamitan dengan keluarga kerajaan, dan beberapa Elf yang ada untuk mengawal mereka dipintu masuk desa Elf.
" Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan anda, Pangeran. Berkat anda dan teman-teman anda, kami para Elf bisa hidup dengan tenang dirumah kami lagi." ucap Sang Raja yang kemudian mengulurkan tangannya dengan ramah.
Ethan pun juga membalas uluran tangan itu dan mereka berjabat tangan, " Tidak perlu dipikirkan, Yang Mulia. Sebenarnya... Mendapatkan kepercayaan para Elf juga sebuah keuntungan tersendiri bagi Foldes." jawab Ethan pula menimpalinya.
Kata-katanya itu berhasil membuat sang Raja tertawa, " Hahaha... Seperti yang diharapkan dari penerus Kekaisaran." ucapnya.
" Yang mulia pangeran..!" suara Mira terdengar disana, ia berlari mendekat dan berhenti tepat didepan Ethan.
" Hm? Mira. Astaga, rasanya sulit sekali melihat wajahmu sejak kita datang kesini, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?" tanya Ethan yang kemudian merunduk menatap Mira yang lebih pendek darinya.
Mira yang mendengar pertanyaannya pun menangguk kan kepalanya sebagai jawaban, " Iya. Yang mulia, bolehkan aku tetap berada disini selama beberapa waktu lagi? Aku akan kembali bersama kakakku nantinya." pinta nya kemudian.
Sementara Ethan sedikit terkejut dengan permintaanya itu, tidak.. bukan karena tidak boleh tapi...
" Kau tahu Mira, kau tidak perlu kembali jika kau ingin bersama ayahmu. Lagipula ini adalah rumahmu, bukankan begitu??" ucap Ethan kepadanya.
Namun diluar dugaan, Mira menggelengkan kepalanya menampik hal tersebut.
" Tidak, rumahku ada di kekaisaran Foldes. Lagipula... Aku yang akan menjadi ketua pasukan pertama kekaisaran, karena Yin kurang cocok dengan hal itu." ucapnya dengan begitu percaya diri.
Ethan lagi-lagi terkejut dengan perkataan anak itu, dia bahkan tidak pernah berpikir untuk menduduki takhta meski secara resmi dia adalah pewaris satu-satunya kekaisaran. Tapi anak dihadapannya ini justru ingin berusaha keras mencapai posisi ketua pasukan kekaisaran disaat dirinya punya keluarga yang menyayanginya.
Entah kenapa, itu membuat Ethan merasakan kekalahan yang aneh dan juga itu lucu, " Hahaha... Baiklah, baiklah. Kalau begitu aku akan menunggu hasil kerja bagusmu, Mira." ucapnya kemudian mengusap kepala Mira dengan lembut.
Mira pun juga tersenyum senang dan penuh harap karena perkataan Ethan, yang berkata akan menunggunya. Teman-teman Ethan yang lain pun juga terkekeh melihat tingkah lakunya yang lucu itu.
Saat kemudian perhatian semua orang pun tertuju kepada putri Thesia yang berjalan mendekat, " Ini... Pohon kehidupan memintaku untuk memberikannya kepada Kalian." ucapnya yang kemudian menyerahkan kulit pohon, dia telah bicara dengan pohon kehidupan sejak semalam.
Yang mana itu langsung diterima oleh Niu. " Kulit pohon kehidupan... Seperti yang kita butuhkan." Niu pun tersenyum dan menoleh kepada Ethan dengan riang.
Ethan yang melihat itu pun balas tersenyum, " Terima kasih, putri." ucapnya.
" Ah, lalu... apa anda masih ingat dengan perjanjian kita waktu itu??" lanjutnya pula menanyakan hal itu.
Sementara teman-teman menatapnya dengan bingung apa maksudnya, kecuali keluarga kerajaan Elf yang telah mengetahui hal itu.
Putri Thesia pun terkekeh, dan ia menoleh ketika empat orang Elf membawa sebuah peti mati kehadapan mereka.
" Ini..." Oscar langsung terpana, dan ia pun menatap Ethan bertanya-tanya. Ethan hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Lalu Putri Thesia pun berkata, " Sesuai janji kita, pangeran. Kau bisa membawa tubuh kosong kakakku, kuharap Putri Empat Dunia bisa menggunakannya dengan baik." ucapnya.
Tidak aneh jika dia tahu, setelah raja Elf melihat sosok Quennevia didalam pohon kehidupan saat itu, Ethan menjelaskan tentang kondisinya yang kehilangan tubuh fisiknya kepada keluarga kerajaan. Dan Keluarga kerajaan sendiri telah bersumpah untuk menjaga rahasia itu dengan Kagura sebagai saksinya.
" Dia pasti melakukannya.." Ethan kemudian menyahutinya dengan ekspresi sendu.
Yang mana kemudian menggunakan kekuatan nya, mengecilkan peti dan tubuh kosong itu dan memasukan nya ke dalam gelang ruang yang ia bawa.
" Mungkin aku kasar, tapi dari apa yang aku lihat, seperti nya anda sudah tahu kalau semuanya akan jadi seperti ini, yang mulia. Takdir kakakku, alasan kenapa pohon kehidupan tidak memperbolehkan kami memakamkannya, dan tubuhnya yang tetap utuh bahkan setelah bertahun-tahun berlalu." ucapnya kemudian.
Sementara itu, Ethan yang diajak nya bicara sekarang hanya terdiam dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan...
Lalu putri Thesia pun menambahkan, " Pangeran Ethan, apa kamu benar-benar hanya seorang pangeran dari kekaisaran Foldes? Atau kau juga adalah sesuatu yang lain...?" dia punya kepekaan yang kuat.
Sementara yang lainnya hanya bisa diam mendengar itu, bukan hanya Thesia sebenarnya yang merasa seperti itu. Bahkan Oscar dan yang lain juga sama, mereka merasakan keganjilan dari Ethan setelah ia mendapatkan hampir seluruh ingatan yang tidak mereka ketahui kembali.
Tapi Ethan tidak pernah mengatakan apapun, dan mereka juga tidak ingin mengorek luka atau masa lalu yang tidak ingin ia katakan darinya.
Cukup lama keheningan itu berlangsung dalam suasana yang begitu dingin, Ethan pun kemudian kembali mengembangkan senyuman diwajahnya. Ia pun mengangkat kepalanya menatap Thesia dengan santai..
" Entahlah, aku juga tidak tahu aku ini sebenarnya apa." ucapnya dengan begitu mudahnya.
Namun itu meninggalkan tanda tanya besar dalam benak mereka yang mendengarnya...
Setelah mereka selesai berpamitan, Ethan dan yang lainnya pun akan pergi.
" Kami akan pergi sekarang, terima kasih atas semua keramahan kalian." ucap Oscar kepada para Elf disana.
" Kita akan bertemu lagi jika ada kesempatan." Arkan pun melanjutkan.
" Hati-hati dijalan.." putri Thesia pun menyahuti sambil melambaikan tangannya.
Dan itu juga dibalas oleh mereka, ini akan jadi... perjalanan yang sangat berkesan dalam hidup mereka. Mereka menginjakan kaki ke wilayah Elf yang biasanya sulit dimasuki, bicara dengan mereka, berpesta dengan mereka, dan menjadi teman mereka. Dan sekarang mereka berjalan keluar dari wilayah yang damai ini untuk melanjutkan perjalanan panjang mereka...
Disamping itu...
Apa mereka melupakan sesuatu?
" Ah! Ngomong-ngomong, Kagura dimana?!" Niu baru sadar dengan hal itu dan berteriak terdengar panik.
" Oh, iya! Tidak mungkin kita meninggalkan nya, kan?!" sahut Arkan pula setuju dengan hal itu.
Mereka panik sendiri dengan hal itu, sementara sisanya hanya tersenyum canggung dengan apa yang mereka katakan.
" Haha... Kagura kembali lebih dulu semalam. Apa kalian tidak sadar??" tanya Oscar menimpali keduanya.
Sementara Arkan dan Niu hanya menatap polos kearahnya, itu semakin membuatnya canggung.
" Kalian tidak tahu rupanya..."
" Dia dijemput oleh Zeze semalam, karena itu dia jadi melewatkan setengah pesta dan pergi sambil menahan tangis." ucap Yuki kemudian menengahi orang-orang idiot ini.
Sedangkan Arkan dan Niu, mereka terkejut sendiri hanya karena itu. " Apa...?!!"
.....Mereka benar-benar tidak sadar.