Quennevia

Quennevia
Apa yang tidak bisa ditarik kembali?



[Season 2]


Cahaya-cahaya redup menerangi jalan dari lorong yang tidak luas namun juga tidak sempit, sudah sekitar 15 menit Ethan menyururi jalan yang ia pilih setelah meninggalkan teman-temannya didekat mata air.


Sesuatu mengatakan kepadanya tempat itu jelas ada didepan sana, namun sebelum mencapai tempat yang ia tuju Ethan menghentikan langkahnya sejenak. Ia melihat sekeliling sampai perhatian nya tertuju kepada sesuatu yang berkilau di dinding pohon tak jauh darinya.


Itu bukanlah sejenis permata atau yang lainnya, namun mata...


Iya, mata dari pohon kehidupan.


Ethan tersenyum ketika melihat mata itu disana, diam memperhatikan nya tanpa menunjukan perhatian yang mencolok. Ia tahu jelas ada dimana dirinya sekarang. Ini adalah perbatasan yang selalu memulangkan kembali mereka yang mau mencari tahu apa yang disembunyikan disini.


Mata Ethan berkilau dalam cahaya keemasan kearah lorong kosong dihadapan nya, kemampuan menerawang biasa tidak akan bisa melihat penghalang apalagi menembus kedalamnya, namun ia dengan jelas dapat melihat sebuah dinding transparan yang menjadi portal berputar yang berperan sebagai pemindah otomatis.


Ethan mengangkat kepalanya keudara dan berkata, " Hei, pohon kehidupan. Sudah lama bukan? Aku butuh tempat sepi saat teman-temanku ada disekitarku, tolong maafkan ketidak sopananku."


Semuanya hening untuk sementara, saat kemudian tekanan udara langsung berubah, suasana dingin mengelilingi tempat itu dan getaran kecil terasa dibawah kaki Ethan. Meski begitu senyuman diwajahnya tidak hilang, dia berdiri diam dengan santai sambil menunggu sesuatu.


Dan suara yang telah ia tunggu-tunggu pun kemudian terdengar seperti berbisik dengan suara lembut disekitarnya...


[«Ohh.... Ka mu.. Ka mu sudah la ma..»]


Itu suara lembut yang penuh dengan kehangatan, suara dari pohon kehidupan.


" Aku tahu, maaf. Butuh waktu yang begitu lama, tapi kurasa sudah saatnya mengakhiri semua ini... " Ethan bergerak kesamping dan menyentuh pohon kehidupan, dan tatapan nya langsung berubah tajam. " 'Sang Dewi' akan bangkit dan akan mengakhiri penderitaan tanpa akhir kami. Namun 'Malapetaka' juga mulai terbangun dari segelnya. "


Hambusan angin tipis terasa dari sisi lain jalan yang belum ia lalui, Ethan tahu apa artinya. Pohon kehidupan menghela nafas karena perkataannya.


Tentu saja, itu hal wajar. Dia juga adalah makhluk hidup...


[«Mala petaka..?? Wanita itu ju ga masih Hi dup..»]


" Aku tahu, karena itu kami ada disini. Kami butuh bantuanmu, Quennevia terluka karena wanita itu mempermainkan emosi dan mentalnya yang tak stabil. "


[«Pu tri empat du nia... Ter luka..»]


" Iya."


[«Baik lah, tapi..»]


Ada nada sedikit keraguan dalam suara pohon kehidupan dan ia tidak melanjutkan perkataan nya, namun Ethan tahu apa yang ingin dia katakan. " Tidak apa-apa... aku tahu.."


Itu bukan sekedar gertakan. Ethan benar-benar tahu...


Bagi pohon kehidupan, satu cabang pohon mengandung setara 1/100 kekuatan nya, itu akan terus berkurang sampai cabang yang baru tumbuh. Dikondisinya yang saat ini sedang sekarat, setiap cabang kehilangan kekuatan nya sedikit demi sedikit dan kematian menunggu dengan sabar didekatnya. Memberikan kulit pohon kepada nya berarti sama saja mengakui kalau dia telah mati.


Kekuatan nya akan turun dengan drastis, dan tanah Elf akan kehilangan penyokongnya selama kurang lebih 100 tahun. Sampai pemilik hutan menyiapkan pengganti sementara untuk energi pohon kehidupan, yang akan bertahan sampai pohon kehidupan baru tumbuh.


Namun karena itu hanyalah pengganti, energinya tidak akan pernah cukup untuk menutupi sepersetengah energi murni dari pohon kehidupan itu sendiri.


Bahkan untuk membawa kembali pohon kehidupan baru dari world borders, jantung hutan. Memerlukan perjuangan yang begitu besar, bahkan pengorbanan ekstrim pun tidak bisa dielakkan.


Itu karena energi murni dari pohon kehidupan yang masih muda dan tidak bisa melindungi diri sendiri, akan mengundang berbagai monster dan iblis mendekat untuk mengambil energi murni itu. Selama masa periode itu, para Elf akan berada diambang kepunahan.


Itu akan menciptakan masalah yang lebih besar.


Para Elf dimasa lalu yang pernah mengalami masa seperti itu selalu mengingatkan keturunan mereka, jika terjadi sesuatu kepada pohon... segera kunjungi Pemilik Hutan sebelum pohon mati dan mintalah izin untuk membawa tunas baru kembali ke tanah Elf. Namun situasi saat ini jauh berbeda dengan masa lalu.


Pohon kehidupan yang baru belum lahir, Pemilik Hutan tidak menghubungi para Elf tentang tunas baru yang lahir. Bahkan tidak ada pergerakan dari para Guardian. Karena itu bangsa Elf diliputi kecemasan setiap waktu, dan hanya Ethan yang punya cara untuk mengembalikan energi murni pohon kehidupan saat ini. " Jangan khawatir, kami akan berjuang menolongmu. Karena itu aku membutuhkan benda itu, hanya dia yang bisa menyembuhkanmu. "


***


Ditengah hari yang cerah dimana burung-burung berkicau diatas pohon, seorang anak duduk diam dibalik tumpukan buku yang ada dihadapannya. Balin membuka sebuah buku tebal yang bersandar ke buku-buku itu, matanya sangat fokus menatap buku tersebut dalam keheningan yang menghanyutkan. Meaki begitu... Pikirannya melayang jauh dari kepalanya.


" Kakak sedang apa, ya? Dia tidak dimarahi kan? kuharap dia tidak dihukum..."


Dia memikirkan apa yang terjadi kemarin, dia senang karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan Arkan. Namun ia juga tahu, kalau Arkan pasti akan mendapatkan hukuman karena tidak mendengarkan perkataan ibunya.


Perasaan cemas menghantuinya sejak semalam, dan ia tidak bisa menenangkan pikirannya. Setiap kali dia teringat dia akan kehilangan fokus dan hanya menatap ke udara dengan kosong. Saat ini pun seperti itu.


Hingga suara pintu yang terbuka dengan keras membuatnya meloncat kaget, dan suara yang sangat ia kenal pun terdengar dari sana.


" Adikku! Apa yang kau lakukan, mengurung diri disini sementara hari yang cerah menunggumu diluar sana?? Tidakkah menurutmu itu membosankan??" Arkan baru saja menerobos masuk ke dalam perpustakaan yang bisanya tidak akan ia kunjungi karena itu berada disudut kediaman dan merupakan perpustakaan tua.


Balin yang melihatnya pun langsung melonjak dari kursinya dan lari menghampiri dengan tergesa-gesa, " Kakak! Kakak baik-baik saja? kakak tidak dihukum? Ibu pasti marah, kan?"


Dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi khawatir yang jelas diwajahnya, Arkan yang melihatnya pun hanya menghela nafas pelan dan tersenyum. Saat tangannya dengan lembut mengusap kepala anak kecil itu...


" Tidak apa-apa, kok. Yah, ibu memang marah dan sedikit mengomel. Tapi setelah itu tidak terjadi apapun."


" Benarkah? Kakak tidak bohong, kan?"


" Tentu saja. Apa menurutmu aku akan berada disini untuk menemuimu jika aku dihukum?"


Arkan sangat percaya diri dengan ucapannya, dia tahu dia sangat keren saat mengucapkan itu. Tapi...


" ....Kupikir kakak akan kabur meski dihukum."


Saudaranya yang baik langsung menghantamkan kenyataan kepadanya.


Dia memang berpikir untuk kabur saat dikurung sebagai hukuman atau apapun itu, dia tidak berpikir untuk menjadi anak penurut lagi. Bahkan saat ini dia kabur dari kelas sejarah yang membosankan.


" Berhenti memikirkan itu dan ayo pergi!."


Arkan tidak mau memperpanjang percakapan tidak menyenangkan itu dan langsung menariknya pergi dari sana. Sementara Balin tidak bisa mengatakan apapun karena terlalu terkejut.


Itu terjadi selama berhari-hari.


Saat dia berjalan ditaman...


" Balin! Ayo pergi melihat festival dikota!"


Saat bersama kakeknya..


" Balin! Tolong, aku tidak bisa menemukan seekor kucing."


Bahkan saat malam hari dikamarnya, dia tiba-tiba muncul didepan jendelanya dengan wajah yang terlihat menyeramkan.


" Balin..."


" Eekk!! Ka-kakak!!."


Itulah hal yang selalu ia pikirkan dan khawatirkan, bahkan saat ini...


Ketika Arkan jelas-jelas ada tepat didepan matanya, membaca buku bersamanya dibawah pohon ditaman yang sama dengan nya. Perasaan gelisah itu tidak pernah hilang, justru semakin menjadi-jadi.


" Um.. kakak.."


" Hm? Apa? Ada apa?."


" Itu... Kenapa kakak berubah akhir-akhir ini?."


Sesaat keheningan menerpa mereka, Arkan terlihat sedikit tersentak sebelumnya saat kemudian kehilangan kata-kata. Sementara Balin yang melontarkan pertanyaan itu semakin khawatir.


Bagaimana jika kakaknya tersinggung dengan ucapannya dan kembali menghindarinya? Itu akan sangat menyedihkan.


" ...I-itu... Maafkan aku.." sahut Balin yang pertama kali membuka suaranya lagi. " Kakak pasti tidak ingin membicarakan hal seperti ini, kan? Maaf, aku malah membuat suasananya tidak nyaman.."


" Tidak apa-apa..."


" ...Eh?."


Balin sedikit meragukan apa yang ia dengar barusan, ia pun menoleh kembali ke arah Arkan dan melihat nya tersenyum dengan hangat.


Tidak ada kebohongan sama sekali diwajahnya.


" Aku sudah lama menunggu pertanyaan itu darimu, ternyata Balin jauh lebih lambat dari yang kuduga."


" Eh.. itu.." Balin merasakan wajahnya memanas karena malu, ia pun secara reflek menundukan kepalanya dan melihat kedua kakinya disana.


Sementara Arkan yang melihat tingkahnya hanya terkekeh geli, " Kau pasti sangat penasaran karena aku tiba-tiba berubah, ya? Aku tahu kau akan bingung dan takut kalau ini hanya pura-pura, tapi sebenarnya... aku bukan ingin menghindarimu dari awal." ucapnya.


" Mungkin... aku hanya ingin sedikit mengobati luka dalam mimpi." lanjutnya pula.


Arkan membuang perhatiannya kearah danau dan menatapnya dengan begitu serius. Itu adalah danau tempatnya tercebur beberapa waktu yang lalu, dan jalan yang membuatnya datang ke sana.


Disisi lain, Balin yang melihat ekspresi nya itu tidak mengerti apa maksudnya.


"....Ya? Maksud kakak apa?"


" Balin.. apa kau tahu apa yang tidak bisa kau tarik kembali dari orang lain setelah kau memberikan nya?"


Balin yang mendengar itu menempatkan jari-jari tangannya diatas dagunya saat ia berpikir, saat kemudian ia pun menjawab dengan ragu-ragu. " ..Um.. Kata-kata?."


" ....Benar. Yang lain?"


Jawabannya benar, namun apa yang ingin Arkan jelaskan adalah hal yang lain. Namun sepertinya Balin tidak sampai pada jawaban itu.


" Itu adalah perasaan." Arkan tahu betapa rumitnya sebuah perasaan.


Dia tahu bagaimana rasa sakit saat dikhianati, dia tahu betapa sedihnya ditinggalkan. Dan dia tahu betapa berharganya kasih sayang dan mereka yang menyayanginya. Teman-temannya lah yang bertanggung jawab membuatnya mengerti semua hal itu.


Dia ingin Balin juga mengerti kalau hal-hal berharga seperti itu, tidak peduli sekecil apapun, tidak boleh ia abaikan...


" Perasaan??."


" Ya. Perasaan sakit, perasaan sedih, perasaan senang, dan juga amarah. Itu adalah perasaan yang bisa kau rasakan kepada orang lain atau dirimu sendiri. Itu sama dengan kasih sayang. "


" ...Apa kakak menyayangi seseorang??"


" Bukankah itu sudah jelas? Aku menyayangimu. Aku juga menyayangi ayah dan kakek. Dan juga... aku menyayangi ibu. Tapi... Kau pasti tahu situasi kita selama ini tidak terjadi begitu saja. Ini karena ibu. "


" Ah..."


" Sulit untuk mengubah perasaanmu kepada seseorang hanya karena sesuatu yang tidak pasti. Namun jika kesalahpahaman datang, perasaan itu bisa saja terkubur. Tapi itu tidak akan hilang. Tidak peduli sebarapa benci kau kepada seseorang, jauh didalam lubuk hatimu... kau mungkin saja masih menyayanginya. "


Arkan tidak tahu apakah perkataannya bisa mencapai Balin atau tidak. Itu kata-kata yang rumit bahkan untuk orang dewasa pahami, tapi ia tidak punya kata-kata lain yang bisa ia pikirkan.


Itu adalah apa yang ia rasakan, dan bergantung kepada percakapan nya dengan Kagura beberapa waktu yang lalu.


Sama seperti Quennevia. Ia yang selama ini menderita karena dunia, pasti sangat membenci dunia ini. Namun mengapa ia masih ingin melindungi dunia yang ia benci...


Ia teringat dengan kata-kata yang hampir terlupakan yang ia dengar dari Quennevia sebelumnya...


" Tidak peduli seberapa keras dunia ini, pasti akan ada sebuah kebaikan yang datang ditengah kesengsaraan. "


Jika itu artinya dia masih memiliki cinta untuk dunia ini, tidak peduli seberapa ia membenci dunia. Itu menjelaskan mengapa dia begitu berusaha keras mempertahankan segalanya.


Lalu bagaimana dengan dirinya sekarang? Kenapa dia berusaha keras didalam ilusi ini?Apa karena rasa bersalahnya? Atau ini hanya keegoisannya untuk setidaknya merasakan sedikit kasih sayang keluarga?


" Lalu apa yang akan kakak lakukan dengan ibu? " Itu pertanyaan yang tidak terduga dari Balin, di matanya.. Arkan pasti menjadi anak yang paling menyayangi ibunya.


Namun itu bukan Arkan yang sekarang...


" Jika aku bisa memilih, aku tidak ingin bersama dengannya sejak dilahirkan. Tapi... Aku tidak bisa melakukan apapun. Akhir-akhir ini aku menemukan alasan mengapa ibu selalu aneh, dan aku tidak menyukai hal itu. Lalu.. aku ingat selama ini aku terlalu lama mengacuhkan mu, jadi aku ingin memperbaiki semuanya. Mungkin ini bentuk penebusanku."


Itu hanya alasan..


Sebuah penghiburan untuk jiwa yang telah ditinggalkan oleh kasih sayang keluarga yang harusnya ia miliki.


Meski begitu, mata Arkan saat mengatakan itu memancarkan cahaya samar, dia terlihat sangat yakin dengan apa yang ia lakukan. Walaupun ia tahu, kalau mungkin itu tidak akan terlalu mempengaruhi kenyataan yang ia ketahui.


Ia masih punya sedikit harapan dan keyakinan yang tersisa...


" Balin.."


" Ya, kak?"


" Carilah teman yang baik. Teman yang akan membantumu tidak peduli apa, teman yang tidak akan mengkhianatimu. Dan kau harus menjaga mereka dengan baik. Karena temen seperti mereka jauh lebih berharga dari pada apapun didunia ini. Mereka yang akan membantumu saat kau dalam kesulitan, dan mereka yang akan menemanimu saat kau kesepian. Mereka tidak bisa kau bandingkan dengan apapun."


Balin menatapnya dengan seksama, ia mungkin mendapatkan jawaban yang ia inginkan dari obrolan yang panjang ini. Hanya saja ia masih tidak mengerti dengan maksudnya. Disisi lain, ia tahu kalau Arkan mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Dari itu saja dia tahu kalau dia tidak berniat bermain-main saja dengannya, dia sungguh berharap agar hubungan mereka bisa membaik.


Itu sudah cukup untuk mengatasi sedikit kegelisahannya dan membuatnya bahagia.


" ...Baik, kak."


Angin berhembus diantara keheningan mereka, namun itu tidak terasa dingin. Saat tangan Arkan mengusap kepala saudaranya yang duduk tepat disebelahnya, kehangatan mengalir dari tangan itu.


Perasaan mereka saling terhubung meskipun mereka tidak mengucapkan sepatah katapun satu sama lain. Itu suasana yang tenang namun penuh dengan kasih sayang.


Dan bagi mereka, itu adalah kenangan yang tak akan pernah bisa mereka lupakan.