
[Season 2]
Sementara itu, disaat yang sama, Ethan menghadapi lebih banyak halangan yang datang kepadanya.
Sriing..! Duakk!
" Ethan, dari arah jam sepuluh."
Saking banyaknya Ethan hampir tidak bisa menyadari kemunculan mereka semua karena banyaknya hal yang menghalangi pandangan dan kemampuan perasanya. Karena itu, Felice yang harus mengawasi titik-titik yang tidak diperhatikan oleh Ethan.
" Mereka tidak ada habisnya!." Ethan kembali mengayunkan pedangnya menebas seekor ular yang datang kearah nya dari balik kabut hitam.
" Lupakan soal kabut dan apa yang muncul didalam nya, Ethan." saat Felice pun kemudian muncul disampingnya. " Keluarlah dari kabut ini, atau hempaskan mereka semua sekaligus."
" Siap!."
Ethan menekuk kedua lututnya dalam posisi bersiap, dan ketika serangan lain datang dari arah kiri dan kanannya secara bersamaan, ia langsung menghempaskan dirinya sendiri naik ke atas, meninggalkan jejak hancur ditempatnya berdiri sebelumnya. Ia melesat keluar dari kabut hitam yang awalnya mengelilinginya, sementara kedua makhluk yang muncul itu saling menabrakan dirinya sendiri satu sama lain.
Ethan menatapnya dengan serius, setidaknya kabut itu tidak mengikutinya, lalu ia pun mengalihkan kembali pandangannya kearah pijakan didepannya. Ia mendarat disana sesaat dan kembali melompat menuju pijakan lain jauh didepan sana.
Ia melewati beberapa reruntuhan lain dibawahnya ketika melakukan satu lompatan, seperti seekor kelinci yang berjuang melakukan lompatan terbaiknya, sejauh yang ia bisa. Itu menghemat lebih banyak waktu.
" Itu bagus, Ethan. Pemikiran yang bagus."
" Aku hanya memikirkan cara yang simpel."
" Kecepatanmu yang sebelum nya juga sama, hanya saja kau sibuk meladeni apa yang muncul disekitarmu."
" Jadi itu salahku??"
Ethan tidak bisa berkata-kata lagi mendengar komentar itu, lama-lama ia merasa kalau ayahnya jadi mirip dengan kakeknya.
Waktu terus bergerak, Ethan tidak punya waktu untuk beristirahat. Sementara itu, sekumpulan makhluk yang mirip dengan berbagai macam hewan itu muncul kembali secara bergerombol tanpa henti. Ethan agak jengkel dengan itu sekarang, dan ia memanggil pedang Quennevia yang ia bawa untuk semakin memudahkannya.
Satu ditebas, satu yang lain datang, itu tidak berakhir hanya dengan menebas mereka, itu hanya akan membuatnya kehabisan energi lebih dulu. Karena itu Ethan hanya berusaha pergi dan memotong yang menghalangi jalannya. Dia bergerak sembari dikejar-kejar oleh kumpulan makhluk itu.
Sesuatu muncul dari pijakan tepat didepan nya sekali lagi, dia terlihat seperti kepala seorang badut, dan ia membuka mulutnya lebar-lebar dengan gigi-gigi tajam dibawah dan atas mulutnya. Badut itu hendak memakannya sekaligus.
" Hmph."
Ethan sendiri sudah bersiap mengayunkan pedangnya, saat sesuatu seperti leser putih lebih dulu menyerang si badut dan mengubahnya menjadi abu. Bukan hanya apa yang ada dihadapannya, tapi mereka yang mengejar Ethan juga lenyap begitu saja.
" Eh..?"
Terkejut dengan itu, Ethan merasa seolah waktu membeku sesaat, dan ia melihat seorang perempuan berambut perak disampingnya, duduk diatas sepotong kue sembari mengelus kucing putih dipangkuannya dengan tenang, dan menutup kedua matanya.
Adelaide, dia mewujudkan kesadarannya.
Ia pun berkata kepada Ethan, " Seekor burung yang terbang tinggi diatas langit, memandang tanah dengan remeh. Karena dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya jatuh ke tanah itu. Tapi... Terkadang, kembali ke tanah adalah hal yang wajar untuk menemukan sesuatu yang kau hilangkan, bukan?" dia menanyakan itu kepadanya, saat kedua matanya pun perlahan terbuka, manik mata yang terlihat seperti mutiara itu bersinar penuh dengan kehangatan. " Oscar dan aku punya janji. Pergilah. Jauh didalam.... dia sudah menunggumu. Tertidur dalam mimpi dan kenangan." dan Adelaide pun melanjutkan kata-katanya.
Setelah itu, semuanya kembali seperti semula. Dan Ethan menghentikan langkahnya segera setelah ia mendengar apa yang Adelaide katakan, ia mengubah arah dan kembali menjatuhkan dirinya dari pijakan yang ia pakai. Ethan terjun lebih dalam mulai dari sana.
Ethan melihat beberapa hal terlewati ketika ia jatuh, memori lama dan baru yang mulai berkumpul menjadi satu. Dan saat ia melintasi sebuah tv besar didepannya, ia melihat sebuah mata muncul dari sana dan menyipit dengan tidak senang kearahnya.
[" Kau adalah orang bodoh, ya."]
Dan suara itu kembali muncul...
[" Kau hanya akan memperburuk keadaan jika dia bangun."]
Tapi Ethan tidak berpikir kalau itu masalah utamanya sekarang, " Kau yang akan memperburuk keadaan jika tidak membiarkan ku lewat." perhatian Ethan hanya fokus tertuju kepada apa yang ada didepannya.
[" Berhenti!!."] suara itu berteriak kepadanya.
Disaat yang sama, sekumpulan benang muncul dari sekitarnya, mengelilingi dan mengikat Ethan disana.
" Uh!."
Ethan mulai merasa dirinya tersendat, jika dilihat baik-baik tentu saja dia menggantung saat ini. Ia pun kemudian menundukan wajahnya dan melihat semua benang yang melilit tubuhnya sekarang. Itu bukanlah masalah...
Karena segara setelah ia meningkatkan kekuatannya, benang itu putus satu persatu. Membuatnya kembali terjatuh kearah yang ia mau.
["....Kau akan menyesalinya."]
Ethan tidak menghiraukannya. Ketika ia melihat akhir dari jalannya untuk jatuh.
Ethan mendarat dilantai putih yang membentang dibawah sana, dan ia melihat sekelilingnya. Tempat itu lebih kosong dari pada diatas sana... Hanya diisi oleh warna putih tanpa apapun disekitarnya dan keheningan mutlak.
" Yah, dari sini kita harus mencari pintu dimana kesadaran Quennevia terkurung." ucap Ethan sambil berkacak pinggang dengan santai. Dan ia menatap Felice ketika ia mewujudkan dirinya disampingnya.
Tapi berbeda dari yang ia pikirkan, Felice justru memiliki ekspresi tidak bagus diwajahnya. " Bagus. Bagaimana kita akan menemukannya ditempat yang tak terbatas." dia mengatakan kebenarannya yang tidak bisa disangkal.
Ethan pun terdiam mendengar itu, senyuman nya berubah canggung hingga akhirnya ia mengalihkan wajahnya. " Yah... Kita akan tahu jika kita mencarinya dulu." Ethan juga tidak tahu dimana pintu yang ia maksud itu.
Dan Felice yang melihat itu sampai kehilangan kata-kata dan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ethan yang tidak pernah berubah.
Saat kemudian Ethan mengalihkan percakapannya, " Baiklah, ayo. Kita tidak perlu membuang waktu lagi." ucapnya.
Namun baru saja ia berkata demikian dan hendak melangkahkan kakinya pergi, Ethan kembali berhenti ditempatnya. Saat mendengar suara langkah kaki yang lain datang menghampiri kearahnya. Langkah itu berat, penuh dengan kekuatan hingga semua yang ia injak hancur. Suhu ditempat itu pun meningkat dengan drastis menyusul kedatangannya.
Ethan hanya terdiam ditempatnya ketika suara langkah itu bergema disekelilingnya, sementara Felice yang pertama melihat apa itu memiliki ekspresi yang benar-benar terkejut diwajahnya.
" Ethan..." Felice jelas bisa merasakan bahaya dari apa yang ia lihat.
Ethan yang mendengar suara Felice pun perlahan membalikkan tubuhnya, dan ia menoleh melihat sosok yang datang itu dengan serius.
Apa yang ia lihat adalah kobaran api.
Kobaran api yang sangat panas dan besar, api yang bisa membakar semua yang ada disekitarnya menjadi abu. Dan ditengah kobaran api itu, ada seorang wanita dengan armor berwarna putih dan oranye serta berambut merah menyala layaknya api itu sendiri. Dia menatap Ethan dengan sepasang mata tajam yang diisi oleh amarah.
Ethan tidak bisa melakukan apapun, tapi ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum dalam situasi itu. Ketika melihat kedatangan sosok yang berusaha menghalanginya sejak awal.
Wanita itu kembali mengambil satu langkah terakhir, dan ketika kakinya memijak lantai dibawah kakinya, hentakan kekuatan terjadi, mendorong api yang mengelilinginya menyebar dan menghilang. Sekarang sosoknya terlihat lebih jelas, dia bukanlah bayangan, dan sekarang dia berhadapan langsung dengan Ethan.
Ethan masih diam berdiri menatapnya, dia mungkin masih terlihat tenang saat ini, tapi sebenarnya dia juga sedikit cemas.
Sosok yang ada dihadapannya pun juga sama, dia hanya diam bergeming ditempatnya dan menatap Ethan tanpa mengatakan sepatah kata pun disana.
Ditengah keheningan yang terjadi antara mereka, Ethan lah yang pertama memulai percakapan. " Yah, sudah kuduga itu kau. Tapi caramu terlalu kekanakan untuk dilakukan, ya... Seraphine." ucapnya dengan nada main-main didalamnya.
Membuat sosok dihadapannya yang ia panggil dengan nama Seraphine itu menggertakan giginya, " Khh! Kau tidak lebih dari laki-laki bodoh yang dibutakan oleh Fatamorgana, apa kau pikir semuanya akan selalu berjalan sesuai dengan keinginanmu??" ucapnya menimpali perkataan Ethan.
Dan jujur saja, Ethan mulai sedikit kesal dibalik senyuman nya, secara tidak langsung Seraphine berkata kalau Ethan itu tidak berguna.
" Aha. Jadi kau pikir kau yang paling benar? Kau tahu, saat seseorang berpikir terlalu tinggi, maka dia akan sangat terkejut ketika dia tersandung nantinya."
" Aku tidak butuh nasehat dari pria picik sepertimu."
" Permisi, apa kau bahkan tahu apa arti kata 'picik'??"
" Jadi apa kau tahu apa arti dari sopan santun??"
" Setidaknya aku adalah orang yang berpendidikan, tidak seperti seseorang."
Mereka memulai perang saraf diantara mereka, sampai-sampai Felice yang ada disana terdiam bingung, kelihatannya tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Dan kelihatannya debat argumen ini baru saja dimenangkan oleh Seraphine yang mulai tidak berekspresi sama sekali, sementara Ethan berusaha menelan kekesalahan nya sendiri.
Disaat yang sama dengan itu, teman-temannya yang menyaksikan perdebatan mereka juga sampai terdiam sama seperti Felice.
" Apa... Ethan baru saja kalah adu argumen dengan seseorang??" tanya Arkan dengan kening berkerut, merasa kalau apa yang terjadi saat ini itu salah.
Dan sebenarnya bukan hanya dia yang berpikir seperti itu, " Kupikir mereka akan langsung bertarung saat bertemu." Yuki mengungkapkan perasaan yang sama dengan teman-temannya yang lain juga.
Tidak ada satu pun yang mengerti dengan maksud keduanya sekarang, mereka hanya terlihat bermain-main didalam sana.
Tapi bagi yang lain, sebenarnya mereka sadar kalau itu adalah situasi buruk.
[Ini buruk, ya. Apa dia akan melampiaskannya kepada Ethan??] Euclide menatap pertemuan keduanya dengan ekspresi was-was diwajahnya, meski dia percaya Ethan bisa menangani ini, tapi dia tetap takut jika situasi terburuk terjadi.
Saat kemudian, Hades menimpalinya. [Kita yang membunuhnya, kenapa kau berpikir dia akan melakukan itu?] ucapnya.
[Apa kau lupa kalau Ethan juga merupakan bagian dari kita??] Sahut Euclide lagi.
Hades terdiam sesaat setelah mendengar itu, lalu.. [....Seraphine tidak akan berani membunuh Ethan, paling dia hanya akan membuatnya tertidur untuk waktu yang lama.] ucapnya pula.
[Bukannya itu sama saja buruk??!]
Jika sampai itu benar-benar terjadi, Euclide berpikir itu sama saja usaha mereka sekarang sia-sia, dan mereka harus memulainya kembali dari awal.
Tapi meskipun Hades sendiri tahu akan hal itu, dia tatap saja berkata seperti itu.
Duarr..!!
" Ethan..!!."
Saat kemudian suara keras itu terdengar, dan teriakan panik Oscar dan yang lainnya mengalihkan perhatian mereka berdua.
Situasi yang sebelumnya dikira biasa-biasa saja tiba-tiba berubah menjadi menegangkan ketika Seraphine melancarkan serangan tiba-tiba kearah Ethan. Untunglah Ethan berhasil menghindari ledakan besar itu, tapi tentu saja dia terkejut. Itu karena Seraphine benar-benar tidak menahan diri untuk menyerangnya.
Serangan dari bola api beruntun datang menghampirinya, dan Ethan tidak bisa lengah untuk menghindari setiap bola yang datang kepadanya.
" Kau ini... benar-benar tidak bisa mengerti ya?!" teriaknya ketika menghindari bola api itu, dan melayangkan tebasan kearah Seraphine disaat yang sama.
Meski tebasan itu langsung lenyap karena dinding panas super tinggi yang menyelimuti Seraphine. Dan ia pun kemudian berkata, " Kaulah yang tidak bisa mengerti!! Quennevia lebih aman seperti ini daripada kembali!! Jadi berhenti dan menyerahlah!" ia balas berteriak dan mengatakan itu kepadanya.
Ethan pun kemudian mendarat dengan posisi berlutut ditempatnya, ia menundukan kepalanya dan membayangkan seperti apa Quennevia yang selama ini ia lihat bahagia. Benar... Dia mungkin tidak benar-benar bahagia, mungkin dia menyembunyikan perasaan aslinya. Tapi apakah benar itu semuanya??
" Kau benar." Ethan setuju dengan pemikiran Seraphine, Quennevia aman disini, tapi... " ...Tapi apakah itu benar-benar keinginan Quennevia??" dia tidak bisa memastikan hal itu.
Seraphine sedikit tertegun mendengar itu, tapi kemudian ia kembali menggertakan giginya. " Aku adalah bagian dari Quennevia!!! Apakah kau melupakan itu?!." Seraphine pun kembali berteriak kepadanya, membuat Ethan tersentak sadar dari lamunannya. " Kami berbagi perasaan yang sama! Dan aku sama sekali tidak ingin kembali ke dunia yang buruk itu lagi!!!." lanjutnya, saat ia mengangkat tangan kanannya keatas, dan sebuah tali terulur dengan cepat kearahnya.
Ethan yang melihat nya langsung menggeserkan tubuhnya. Serangan itu berhasil ia hindari, meski membuat beberapa rambut nya terpotong. Itu lebih baik dari pada tubuhnya yang terpotong, seperti itulah pikiran Ethan.
Tali itu pun kemudian kembali kepada Seraphine dan berkumpul disekitarnya. Tali... Atau lebih tepatnya cambuk berwarna merah, itu adalah senjata utama Seraphine.
Cambuk merah nya memiliki kekuatan yang besar, bahkan bisa menghancurkan batu dengan mudah, dan ia juga memiliki temperatur suhu yang tinggi, hingga bisa melelehkan logam. Sangat cocok dengan kemampuan utama Seraphine yang bertipe api. Bahkan serangan biasa seperti tadi saja sudah cukup untuk meninggalkan jejak terbakar dilantai yang mereka pijak sekarang.
Ethan tidak berpikir kalau ini akan menjadi pertarungan yang mudah.
Ia pun kembali bangkit berdiri menatap Seraphine, dan mulai memasang kuda-kuda bersiap, masih dengan kedua pedang ditangan nya. Ethan siap untuk lebih serius.
" Kita selesaikan ini sekarang dan untuk selamanya." ucap Ethan kepadanya kemudian.
Membuat Seraphine semakin kesal, " Jangan sombong!!." ia berteriak keras dan mulai mengayunkan cambuknya dengan kuat.
Pertarungan keduanya bagitu intens dan sangat sengit, tidak satupun dari mereka yang menunjukan celah sama sekali. Di tengah itu, struktur dasar dimensi tak dikenal... entah kenapa mulai berubah seiring pertarungan keduanya berlangsung, beberapa bagian lantai mulai menjulang berubah menjadi pilar dan tembok. Meskipun sebenarnya itu tidak terlalu berguna karena dampak pertarungan Ethan dan Seraphine kemudian menghancurkan mereka.
Kekuatan mereka meluluh lantak kan semua yang ada disekitarnya.
Meski begitu, sepertinya Seraphine lah yang mendominasi pertarungan ini. Ia berhasil mengendalikan jarak dan serangan Ethan, sementara ia yang memakai serangan jarak jauh dan pelindung kuat pada saat yang sama, sama sekali tidak tersentuh.
Ethan yang memakai pedang harus mendekat untuk memberikan dampak besar dalam serangan, tapi jangankan mendekat, dia harus terus bertahan dengan semua cambukan yang datang padanya. Sementara semua serangan jarak jauh yang ia kerahkan ditepis dengan mudah oleh Seraphine.
Setidaknya ia bersyukur karena senjata yang ia gunakan tidak akan hancur hanya karena cambuk miliknya.
Ketegangan dari pertarungan yang sengit itu tidak hanya dirasakan oleh mereka berdua yang bertarung, tapi juga orang-orang yang melihat semua nya dari luar sana. Terutama Oscar dan yang lainnya, tak ada satupun yang bisa mengalihkan perhatian dari penglihatan yang dibagikan itu. Mereka melihat situasinya dengan cemas, dan berharap kalau Ethan bisa menang dan baik-baik saja melewati itu.
" Ahh... Aku harap aku bisa membantu. Ethan sedang didesak, apa yang harus kita lakukan??" ucap Meliyana sembari memegangi kepalanya dengan frustasi.
" Seraphine itu masih salah satu Ego Quennevia, kan?" ucap Oscar kemudian menengahi suasana, namun semuanya langsung terdiam mendengar itu.
Sampai kemudian Hades menjawabnya, [....Iya. Yang terburuk yang pernah lahir.]
" Kenapa sampai seperti itu? Apa yang sudah dia alami??" tanya Oscar lagi dengan penasaran.
Mereka kembali diam setelah mendengar pertanyaan darinya, dan yang menjawab kali ini... adalah Eclipse. [Karena dia menjalani kehidupan paling malang dari yang lain.]
" Kehidupan malang??" jawaban itu membuat Niu juga ikut penasaran dengan apa yang terjadi.
Sementara itu Eclipse menganggukan kepalanya membenarkan itu, [Seraphine hidup dimasa terkelam dunia, ketika segala macam bencana terlepas disaat yang sama, dan dunia yang baru di restart ulang berada dalam kekacauan. Seraphine lahir dari keluarga miskin, karena itu dia dijual sebagai budak oleh orang tuanya untuk mendapatkan uang. Sejak saat itu, dia mulai merasakan penyiksaan paling menyakitkan dan hanya hidup sebagai alat kesenangan bagi orang lain.] ucapnya.
" Tapi bahkan setelah semua itu, ia tetap tidak bisa hidup dengan tenang." Mariana pun menyela dan berkata kepada mereka, " Ketika kekuatan nya bangkit tuduhan kejam datang padanya, dan ia mulai dibenci. Dia menerima semua cacian dan saat dipenjara pun dia tidak dihormati sedikitpun. Penyiksaan terus berlanjut sampai dia benar-benar jadi gila dan membenci segalanya. Saat dia benar-benar putus asa, hukuman eksekusi telah dijatuhkan padanya, Seraphine pun dibakar hidup-hidup dihadapan rakyat yang buta akan kebenaran." Mariana menundukan kepalanya dengan penuh rasa simpati ketika dia menceritakan itu, dan tentu sana semua itu membuat Oscar dan yang lainnya sangat terkejut.
Lalu, seseorang yang sedari tadi menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih pun melanjutkan cerita itu. [Tapi ibu tidak bersalah.] Arabel lah yang membuka suaranya diantara mereka, dan ia pun sedikit mengangkat wajahnya dan menatap mereka.
[Ketika eksekusi dijalankan, para Phoenix yang akhirnya menemukan ibu menyelamatkan nya dari api, tapi mereka juga terkejut karena api itu ternyata tidak melukai nya dan justru menjadi kekuatan nya. Lalu, hal yang paling disayangkan adalah karena mereka terlambat, ibu saat itu tidak peduli lagi pada apapun, dia hanya memikirkan balas dendam. Ibu berubah menjadi sosok yang keji dan sangat jahat, dia menyukai pembantaian dan membunuh banyak orang. Dia menyiksa manusia tanpa pandang bulu sama seperti yang mereka lakukan kepadanya, dia membelah parut para wanita hamil dan mengeluarkan bayi mereka. Menyebarkan kegilaan dimana-mana, menenggelamkan semua perempuan tidak ia sukai dan membakar para bajingan yang memperlakukan nya sebagai alat. Dia juga melemparkan batu-batu api ke kota-kota lain.]
Mereka yang mendengar cerita itu dari Arabel menelan ludah dalam kengerian, itu benar-benar kekacauan yang sangat parah dan tidak bisa mereka bayangkan. Tidak heran lagi jika sifat Seraphine menjadi seperti ini sekarang, itu karena dia mengalami penderitaan yang paling besar dari yang lain.
Karena itu tidak heran juga dia jadi membenci dunia yang telah memperlakukan nya seolah dia adalah sampah yang dapat dibuang kapan saja.
" Jadi... Bagaimana kalian menghentikannya sebelumnya??" Sakura pun kemudian memberikan pertanyaan penting itu.
Benar, jika dia sampai bisa melakukan semua itu, itu arti nya tidak ada yang berani dan mampu untuk menghentikannya ketika itu.
" Tetua Phoenix yang hidup saat itu mendatangi Phoenix pertama yang hidup diantara dewa untuk memohon kepada Tuan Euclide untuk menghentikan Seraphine. Karena permintaannya itulah, akhirnya Tuan Euclide dan Tuan Hades turun kedunia tengah langsung untuk menghentikannya." sahut Misika menimpali hal itu.
Dan Euclide kemudian menambahkan, [Itu permintaan yang penting. Karena Seraphine juga belum membangkitkan kekuatan ilahinya, pertarungan menjadi lebih mudah, dan aku berhasil mengikatnya agar tidak menggila lagi.] ucapnya.
[Dan aku menusuk jantungnya, dan membunuhnya agar dia tidak bisa membuat kerusakan lagi.] Hades pun memberikan penutup terakhir dari kisah itu.
Itu jelas bukan awal, perjalanan dan akhir yang baik atau buruk, tapi sangat buruk.
Takdir kejam mendorongnya terlalu keras, membuat Seraphine menderita segala kemalangan hingga akhirnya ia menjadi gila. Bahkan jika mereka membayangkannya, tidak akan ada satu orang pun yang bisa bertahan dari semua itu jika mereka mengalaminya.
Sifat dan keyakinan kejam Seraphine saat ini, adalah hasil dari kekejaman dan keburukan 'manusia' yang menganggap segalanya itu mudah dan tidak berharga. Mereka menghina perwujudan dari orang yang menciptakan mereka, dan akhirnya mendapatkan balasan kejam yang sesuai dengan kekejaman mereka pula.
Jujur saja Oscar dan yang lainnya puas dengan nasib itu, tapi pada akhirnya orang-orang yang tidak bersalah juga terkena imbasnya, dan Quennevia yang harusnya adalah korban juga malah menjadi pelaku juga.
" Bagaimana dengan kekuatan nya sekarang? Dan bagaimana jika dia mengambil alih tubuh Quennevia lagi??" tanya Meliyana untuk terakhir kalinya, mereka perlu tahu hal itu.
[Itu... adalah pilihan yang sangat buruk.] ucap Hades menjawabnya.
Kali ini Yigritte lah yang angkat suara, ia menjelaskan sumber dan akibat masalah nya. " Sumber kekuatan nya adalah emosi negatif. Dia mengambil semua emosi negatif milik Quennevia dan mengubahnya menjadi kekuatan korupsi yang sangat dahsyat dan merusak. Dan sesuai dengan sifat kekuatan nya, jika dia mengambil alih tubuh Quennevia, dia bukan hanya menghancurkan semua yang mengganggu dan tidak ia sukai, tapi dia juga akan menghancurkan dirinya sendiri secara perlahan. Karena Seraphine adalah pedang bermata dua." jelasnya.
Yah, jelas tidak ada yang bagus dari hal itu. Entah itu untuk keamanan sekitar dan diri Quennevia sendiri. Itulah alasan kenapa mereka tidak boleh membiarkan Seraphine bangkit, apapun alasannya.