
" Ibu... Aku.. bagaimanapun jika.. jika kubilang aku bukan putrimu yang dulu lagi??. " tanya Quennevia dengan suara bergetar, ia masih mencoba untuk menahan tangisnya.
Beberapa saat ia tak kunjung mendapatkan jawaban dari Misika, Quennevia mulai putus asa dengan Misika yang diam saja itu. Ia berpikir mungkin saja Misika mulai menganggapnya aneh dan pikiran-pikiran negatif pun mulai menyerang Kepala nya.
Sampai kemudian Misika pun berkata, " Ada apa, sayang?? Apa ini ada alasan nya dengan ingatan mu dari dunia lain itu, apa kau berpikir kalau kau bukan putriku yang sebenarnya?? Ibu sudah tahu, kok. "
Quennevia tertegun mendengar nya, Misika sudah mengetahui hal itu, lalu apa dia tidak penasaran dengan apa yang terjadi kepada Quennevia yang asli??.
" La.. Lalu, apa ibu... bagaimana tantang Quennevia... ba..bagaimana ibu bisa..." ucap Quennevia dengan terbata-bata dan tidak jelas seperti itu.
Tetapi Misika hanya terdengar terkekeh di tempatnya, " Ibu sudah tahu, sayang. Semuanya ibu tahu. "
Mendengar itu Quennevia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia juga bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dan alasan ibunya tetap bersikap baik meski sudah tahu kebenaran itu, dia benar-benar bingung.
" Lalu... Kenapa??. " tanya Quennevia dengan lirih.
" Kau pasti penasaran mana sesungguhnya dirimu, antara kau yang sekarang atau kah kau yang ada di dunia lain, bukan?? Jawaban dari pertanyaan mu itu adalah... Dua-duanya adalah kenyataan. " ucap Misika.
" Bagaimana bisa?? Dan kenapa?? "
" Semuanya bermula ketika kau lahir, saat itu seluruh benua di selimuti oleh awan hitam dan energi negatif yang besar. Semua orang dirundung oleh perasaan buruk akan pertanda itu, bahkan para spirit pun juga ikut merasakan perasaan negatif itu. Pertanda akan lahirnya seorang anak yang memegang kunci 4 dunia, juga pertanda buruk akan lepasnya segel jiwa dari wanita pembawa bencana, Seretia. "
Quennevia mendengar kan penjelasan itu dengan seksama, tanpa menyela sedikit pun ucapan Misika. Kemudian Misika pun juga melanjutkan cerita nya..
" Ketika kau sudah terlahir, ada sebuah cahaya gelap yang tiba-tiba saja masuk ke dalam dirimu tentu saja kami terkejut karena nya. Disaat yang sama Lina... maksudku, sekarang, Yue pun juga muncul dihadapan ku dan para spirit guardian yang ada di sana, dia bilang kalau segel Seretia hancur dan jiwanya malah menerobos masuk ke dalam tubuhmu yang baru saja lahir. Karena hal itu lah, sudah pasti akan membuat kedua jiwa di dalam tubuh mu saling berebut tempat di sana, dan kau yang masih lemah pasti akan terus ditekan hingga pada akhirnya mungkin kau akan menghilang.
Yue mengusulkan saran agar mengirim setengah dari jiwa mu ke tempat lain, agar tidak ada penolakan yang terlalu berlebihan dari dirimu terhadap jiwa Seretia. Kami tahu jika itu bukan keputusan yang tepat, tapi untuk bisa melakukan pemisahan jiwa.. dibutuhkan waktu dan juga kau yang masih terlalu kecil dan lemah. Kami pun menerima usulan Yue meski itu hal menyakitkan, namun setelah nya yang membuat kami terkejut adalah, kalau setengah jiwamu itu pergi melintasi dimensi dan tinggal di dalam tubuh seorang anak bernama Nevia. Karena perbedaan waktu antar dimensi itu, ibu yang mencoba mencarimu lewat pohon waktu melihat mu yang sudah tumbuh sebagai gadis kecil berusia 5 tahun.
Kami selalu memperhatikan mu lewat pohon waktu, Quennevia. Ibu sangat sedih melihat mu tinggal di dunia itu, dipaksa untuk menjalani sebuah pelatihan yang keras, menghadapi segala ancaman hanya karena perintah seseorang. Dan hidup tanpa satupun keluarga yang menemani mu, rasanya ibu sangat ingin memelukmu dan membawamu kembali ke sisi ibu. Sampai saat dimana semuanya mulai ikut berubah di dunia ini, kau yang semakin lemah karena sebagian jiwamu tidak ada jadi selalu ditindas dan tidak bisa melakukan pelatihan bela diri ataupun sihir. Dicap sebagai sampah yang tidak berguna dilingkungan yang egois, Ibu selalu ingin berada di sisi mu namun kau pasti tahu cerita setelah nya bukan. " ucap Misika yang menceritakan masa lalunya itu dengan sangat terliti.
" Ibu Emilia yang kehilangan hidupnya dan memberi ku hidup baru, Everon yang disegel di tubuhku, ibu yang memisahkan jiwa dan tubuh ibu, aku yang kehilangan ingatan ku, kamudian aku yang ada di dunia lain mati dan kembali ke tubuh ini saat sedang sekarat di hutan. Setelah itu hari-hariku sama seperti yang aku ingat setelah ada di sini??. " ucap Quennevia.
Air mata kembali mengalir deras di pipinya, tapi berbeda dengan yang tadi kali ini, dia bahagia. Bahagia karena mendengar semua kenyataan kalau ternyata dirinya bukanlah orang lain, dan semua perasaan yang diberikan oleh mereka itu murni dan tulus dari hati mereka..
" Jadi.. Jadi, aku memang.. memang anak ibu bukan?? Aku bukan jiwa orang lain yang masuk ke tubuh ini??. " ucap Quennevia.
" Benar, semuanya ikut berubah tapi kau tetap ada disisi ibu. Saat ibu khawatir kalau kau benar-benar akan meninggalkan ibu selamanya, sisi lainmu menyelematkan harapan itu dan kau tetap bersama ibu sampai sekarang. " ucap Misika pula yang bisa Quennevia tebak mimik wajahnya saat ini.
" Aku senang... aku senang karena aku bukan orang lain. Aku bisa terus bersama ibu yang sangat menyayangi ku dan yang lainnya. " ucap Quennevia sambil menangis haru.
" Ibu juga senang, sayang. Namun ada sesuatu juga yang harus kau ingat... "
" Waktu itu, ketika kau kembali ke tubuhmu sendiri. Waktu di dunia mu dulu sudah berlalu 50 tahun. " ucap Misika.
" Apa?! 50 tahun?? " pekik Quennevia saking terkejut nya, untung saja di tempat itu tidak ada siapa-siapa. " Jadi Kirito dan yang lainnya sudah tua berarti. " gumam Quennevia pula.
" Lalu ada satu lagi yang harus kau tahu, waktu itu sebalum kau kembali ke tubuhmu lagi, ada jiwa lain yang juga ikut muncul di benua ini. Entah kenapa tapi Yue bilang kalau jiwa itu menyusulmu yang datang ke sini. "
" Huh?? Memangnya bisa seperti itu, ya. Dan kenapa Yue sama sekali tidak mengatakan nya padaku??. "
" Entahlah, ibu tdk tahu alasan dia menyembunyikan nya padahal kami tidak memintanya, Tapi sebenarnya kami juga sengaja menyembunyikan rahasia itu dari mu. "
" Hmph.. Ibu jangan seperti itu dong, ibu benar-benar membuatku takut kalau misalkan ternyata ibu sangat marah mengetahui hal ini kalau aku bukan anak ibu. "
Iya, Quennevia sangat takut sebelumnya, untung saja kenyataan nya berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan. Dan lagi ia malah jadi penasaran jiwa mana yang datang mengikuti nya itu.
" Fufufu... Tidak apa-apalah ibu jahil sedikit pada putri nya. " ucap Misika.
" Itu bukan sedikit lagi namanya, bu. Hampir saja aku benar-benar putus asa dan sampat berpikir akan bunuh diri karena ibu. " gerutu Quennevia.
" Baiklah, baiklah. Ibu minta maaf sayang, dan sekarang sudah hampir malam sebaiknya kau beristirahat saja. "
" Ah, aku benar-benar lupa waktu sampai sudah malam seperti ini. Kalau begitu kita bicara lain waktu lagi ya, bu, lain kali jangan seperti ini jahilnya. Aku sayang ibu. "
" Ibu juga sayang kamu, Quennevia. "
Setelah obrolan panjang antara ibu dan anak itu, Quennevia pun kembali membaringkan tubuhnya di kasur itu. Ia masih teringat dengan apa yang Misika katakan, dia senang karena semua pikirkan negatif nya itu hanya khayalan saja.
Dan siapa yang sangka, kalau ternyata dia adalah anak dari dunia fantasi seperti ini, dan itu juga mulai masuk akal baginya ketika mengingat sesuatu. Ketika di dunianya yang dulu dia sering dipanggil jenius terhebat sepanjang masa, seorang Nevia bisa melakukan segala hal dengan sangat sempurna.
Kecepatan dan kelincahan yang jarang dimiliki oleh orang lain, kehebatan dalam berkelahi, dan hebat dalam mempelajari hal baru meski hanya sekali lihat saja. Disamping itu ia ingat sesuatu, kadang jika ia terlalu marah kepada sesuatu atau seseorang, kaca atau gelas yang ada di dekatnya selalu tiba-tiba retak atau hancur. Mungkin itu karena kekuatan yang ia miliki di dunia lain, tapi karena dunia itu ia tidak bisa menggunakan nya jadi hanya itu yang terjadi saat ia tidak bisa mengontrol emosi nya.
Dan lagi satu hal yang masih mengganggu pikirkan nya, 50 tahun itu terlalu lama. Quennevia tidak tahu keadaan bocah-bocah nakal nya seperti apa. Apa mereka bahagia?? Apa mereka menjalani kehidupan yang normal?? Atau apalah mereka masih hidup atau tidak??.
" Aku merindukan kalian. " batin Quennevia mengingat mereka, hingga tak terasa ia pun kembali meneteskan air mata nya saat termenung seperti itu. Tak lama kemudian rasa kantuk mulai menyerang dirinya, dan ia pun langsung terlelap ke dalam alam mimpinya.
Sementara itu diluar kamar Quennevia, terlihat ada seseorang yang berdiri didepan pintu kamar nya. Ia sudah sedari tadi disana sejak Quennevia mulai bicara dengan Misika, dan sudah pasti ia mendengar semua yang mereka katakan.
Setelah orang itu tidak mendengar suara lagi dari kamar Quennevia, ia pun langsung pergi dari sana tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Dan menghilang ditengah kegelapan lorong asrama yang masih sepi karena para siswa masih ada di aula penyambutan.