Quennevia

Quennevia
Orang yang dikenal



[Season 2]


Siang itu, dijalanan pertokoan, didepan sebuah bar. Orang-orang yang lewat disana berkerumun karena perkelahian yang terjadi disana, sebagian besar hanyalah pejalan kaki yang kebetulan lewat dan tidak berani melintas saat perkelahian terjadi. Meski sebagiannya lagi memilih mencari jalan lain dengan memutar.


Lalu, ada juga yang hanya iseng melihat itu.


Sementara orang yang berkelahi disana, adalah sekelompok kecil anak buah gengster dengan seorang pria. Terlihat tidak seimbang, meski begitu...


Duak...


" Ukhh.."


Brukk..


Pria itu berhasil mengalahkan mereka semua seorang diri, hingga membuat orang-orang yang melihatnya tercengang. Dia adalah Arkan, ya dia Arkan, siapa lagi?


" Huh. Kalian semua bermulut besar seolah-olah sangat kuat, tapi kalian semua langsung pingsan hanya dengan sekali melawanku." ucap Arkan dengan ekspresi jengkel diwajahnya.


Sementara itu isi hatinya, " Harusnya kalian cari lawan yang lain, aku ini bukan manusia biasa." bagaimana pun itu bukan salahnya karena dia tidak memulai perkelahian ini.


Saat kemudian perhatian nya teralihkan kepada suara motor yang datang mendekatinya, lantas ia pun menolah. Tepat disaat pengendara motor itu berhenti disebelahnya. Niu dan Oscar yang datang kepadanya hanya tersenyum saat melihat apa yang terjadi disana sudah diselesaikan sebagian.


" Wah, kau menghajar mereka sendirian? Dasar tidak mau berbagi." ucap Oscar kepada Arkan.


Sementara itu, Arkan tertawa girang mendengar itu. " Hahaha... Itu karena aku yang terkuat." ucapnya menyombongkan dirinya sendiri.


Baik Niu maupun Oscar hanya tersenyum dan menghela nafas dengan sikapnya, tidak masalah, asalkan ia baik-baik saja. Bagaimana pun, Arkan tetaplah Arkan.


Saat kemudian mereka bertiga mendengar suara lain, bunyi yang terdengar sangat nyaring dan kencang datang dengan cepat dari kejauhan.


Mereka mendengar suara ini disalah satu penjelasan Ethan sebelum nya.


" Saat kalian mendengar suara sirine seperti ini setelah membuat keributan, segeralah pergi dari tempat kejadian."


Itulah yang dikatakan Ethan kepada mereka. Dan seperti nya sekarang lah saatnya..


" Polisi datang, ayo pergi." ucap Niu sambil menepuk pundak Oscar.


Oscar dan Arkan pun menanggapi nya dengan anggukan kepala. Arkan segera naik ke atas motornya sementara Oscar pergi duluan, baru kemudian disusul olehnya. Keduanya pergi dengan memacu motor mereka dengan kecepatan tinggi. Segera menghilang dari pandangan orang-orang yang ada disana.


Sementara itu disaat yang sana, Yuki dan Meliyana masih berkelahi saat ini. Tentu saja keduanya mendominasi perkelahian ini, namun orang-orang terus berdatangan kelihatan nya kelompok mereka lebih besar dari dugaan dan mereka yang ada dimana juga menghubungi yang lainnya.


Melihat itu, Meliyana dan Yuki pun mundur kembali ke tempat mereka dan menatap orang-orang itu, yang juga membantu rekan-rekannya kembali berdiri.


" Hei, Yuki. Sepertinya kita akan menghabiskan telalu banyak waktu jika kita terus melayani mereka." ucap Meliyana kala itu.


Yuki yang mendengar nya juga menganggukan kepalanya setuju, " Iya.."


" Haruskah kita gunakan benda itu?" tanya Meliyana pula kelihatan benar-benar lelah dengan dituasi ini.


Bukan, bukan karena kehabisan tenaga atau stamina. Dia lelah karena orang-orang yang mereka lawan itu terus saja berusaha menyentuhnya, dia benar-benar jengkel. Yuki bisa mengerti kenapa dia seperti itu, karena dia juga sama.


Ia pun kemudian menghela nafas, " Haa... Iyah. Baiklah, tapi jangan sampai mengenai titik vital atau kepala ya, atau akan ada pembantaian disini." ucap Yuki yang kemudian mengambil sesuatu dari balik jaket nya.


Dan lalu ia pun merentangkan tangannya, mengarahkan apa yang ia pegang kearah orang-orang di hadapan nya. Begitu pula Meliyana. Itu adalah pistol yang diberikan Ethan kepada mereka.


Hal itu, membuat orang-orang yang ada di hadapan nya tersentak dan ragu untuk maju, ketika melihat mereka mengacungkan benda itu kepada mereka.


" Wah, gawat. Itu pistol beneran.."


" Apa harus dilanjutkan?"


Mereka mulai terlihat berdiskusi satu sama lain tentang apa yang harus dilakukan, keraguan menyebar dan tidak ada yang berani untuk maju pertama kali. Sampai...


" Kenapa kalian ragu?! Bukan hanya mereka yang memiliki senjata!." teriak seseorang diantara mereka.


Hal sederhana itu mulai sedikit memberikan keyakinan kembali kepada mereka...


" Benar."


" Kita tidak bisa kalah dan mengecewakan bos lagi."


" Ayo serang mereka lagi!! Angkat senjata kalian!."


Mereka bersorak dengan sangat bersemangat, sementara itu Yuki dan Meliyana yang hanya diam menatap mereka kemudian berkata...


" Mereka punya tekad yang besar." ucap Yuki.


" Kau benar." sahut Meliyana pula.


Mereka mulai bergerak, dan ketika itu Yuki dan Meliyana melepaskan tembakan. Dua diantara mereka yang paling depan jatuh setelah kaki mereka terluka, orang-orang itu sempat terkejut, mereka mungkin berpikir kalau keduanya hanya menggertak saja. Tapi satu hal yang tidak mereka ketahui, bahwa Meliyana dan Yuki tidak peduli sama sekali.


Mereka tidak peduli dengan hidup siapapun yang ada disana...


Dor..!


Dua bunyi tembakan kembali terdengar bersamaan, dan dua orang lagi jatuh dengan luka di masing-masing bahu dan paha mereka.


" Ukh.."


Melihat itu membuat yang lainnya terhenti dan kembali ragu. Tapi itu bukanlah akhir...


Orang-orang yang paling depan itu mundur ketika yang lain dari mereka maju, dan menodongkan senjata yang sama. Yuki dan Meliyana sampai terkejut melihat jumlah mereka.


Jadi karena itu mereka sangat percaya diri meski mereka bisa saja mati, karena mereka juga telah menyiapkan benda itu dalam jumlah besar.


" Tembak!." salah satu dari mereka memberikan aba-aba.


" Cih." sementara Yuki mendecih pelan mendengar itu, ia bersiap untuk membuat penghalang karena ini mendesak.


Saat mereka semua pun menekan pelatuk nya, dan menembak Meliyana dan Yuki disana secara bersamaan. Sesuatu muncul dari belakang mereka dan langsung menghalangi dengan suara ban yang nyaring...


Ceekiiittt!! Brukk!


Itu sebuah mobil hitam yang dikenal Yuki dan Meliyana, mobil itu sekarang memasang badannya melindungi keduanya dari semua peluru itu. Sementara itu Ethan yang ada didalam mobil menatap orang-orang yang menyerang temannya dengan ekspresi dingin..


Crakk!


Saat kaca tepat didepan wajahnya retak karena banyaknya hentakan peluru yang terpantul ke mobilnya.


" Uh.. Siapa lagi kali ini..?"


Orang-orang diluar sana begitu heboh karena kedatangannya, begitu juga Yuki dan Meliyana. Sampai mereka melihat kaca mobil dimana Quennevia duduk terbuka, dan Quennevia sendiri menatap mereka tanpa ekspresi.


Seolah tahu dengan maksudnya, Keduanya pun langsung berbalik kearah motor mereka dan segera naik. Yuki menyalakan kembali motor itu dan siap pergi kapanpun. Dan suara deru motor nya memberikan tanda kepada Ethan...


" Kita tidak bisa lagi membuang waktu lagi." ucapnya yang kemudian mengibaskan tangannya.


Disaat yang sama dengan itu, semua senjata api yang dipegang oleh orang-orang disisi lain meledak begitu saja ditengan mereka semua.


" Aakk!!"


" Tanganku!."


Suara riuh kembali terdengar, tapi kali ini dipenuhi dengan jeritan dan rintihan. Sebagian jalanan disebelah sana akan dipenuhi darah setelah ini. Sementara itu, Yuki memutar motornya kearah lain dan melaju pergi dari sana secepat yang bisa dilakukan oleh motor itu, dan dibelakang nya Ethan menyusul dengan mobilnya.


****


Setelah pergi dari tempat dimana Yuki dan Meliyana dicegat, mereka akhirnya sampai ditempat pertemuan. Sepertinya mereka lah yang pertama disana. Tempat itu tak jauh dari kota, sebuah dataran luas hijau penuh dengan rumput dan ilalang. Kemudian berhadapan langsung dengan lautan tak jauh dari sana, sehingga angin laut bisa mereka rasakan membawa aromanya. Dan pemandangan matahari terbenam yang bisa mereka saksikan dari sana.


" Aah.. ini tempat yang indah, Green juga sangat menyukainya." ucap Meliyana sambil menghirup udara segar, dan memangku Green yang maksud ditangannya.


Yuki setuju dengannya, berbeda ketika berada di kota, ia merasa pengap dan sesak karena semua yang terjadi dan orang-orang. Ditempat ini ia merasa sangat damai karena tidak ada orang lain selain mereka disana.


Saat kemudian ia menoleh, dan mendapati Ethan dan Quennevia memasang raut wajahnya aneh. Entah kenapa, Ethan terlihat muram, sementara itu Quennevia seperti jengkel dengan sesuatu.


Itu membuat Yuki jadi bingung, ia pun bertanya. " Ethan... Apa yang terjadi?."


" Ah..." Ethan yang mendengar nya pun ikut menoleh, begitu juga Meliyana yang ada didepan mereka. Ethan masih terlihat resah, sampai... "... Ini.. Tempat ini adalah tanah dimana Markas utama organisasi harusnya berada." ucapnya.


Mendengar itu membuat Yuki dan Meliyana terkejut, karena yang ada disana hanyalah tanah kosong. Tidak ada bangunan apapun, atau jejak. Tanah ini seperti belum dijamah oleh siapapun.


" Apa kau yakin disini tempat nya?" tanya Yuki memastikan hal itu, bisa saja ada kesalahan dalam ingatan Ethan.


Tapi Ethan menganggukan kepalanya dengan yakin, " Iya, disini. Sekarang aku tahu apa yang menggangguku disini... aku sama sekali tidak melihat bangunan Organisasi yang besar seolah menelan kota." ucapnya.


" Apa yang terjadi..??" Meliyana yang melihat nya begitu gelisah pun jadi cemas.


" 1 tahun yang lalu, pembantaian terbesar yang memakan kurang lebih dari 2000 orang terjadi didunia ini." saat kemudian seseorang menyahuti nya.


Mereka bertiga pun langsung menoleh mendengar itu, dan mendapati kalau itu adalah Sakura.


" Tidak ada pelaku yang ditetapkan, dan tidak ada bukti. Semua pembantaian itu terjadi di waktu yang hampir bersamaan. Dan setelah itu, semua bangunan markas organisasi di seluruh dunia lenyap tak berbekas seolah memang tidak pernah ada sejak awal. Hanya beberapa orang yang selamat, sebagian besarnya hidup ketakutan dan mulai mengucilkan diri sendiri untuk menutup mulut, juga ada yang berakhir dirumah sakit jiwa karena gangguan mental." jelas Sakura pula lebih lanjut.


Sakura berjalan kearah mereka bersama tiga orang lain dibelakang nya. Sementara itu, Ethan yang melihat mereka melebarkan matanya terkejut. Karena mereka juga orang yang ia kenal, dan cukup dekat dengannya.


" Yukio, Lucy, Mamika!." panggilnya sangat terkejut.


" Halo." sapa Lucy dan Mamika sembari melambaikan tangan mereka.


" Sudah lama ya, Kiri-.. Ah, tidak. Namamu Ethan sekarang, kan?" ucap Yukio pula, yang kemudian mengulurkan tangannya kepada Ethan.


Ethan yang melihat itu terdiam sebentar, saat kemudian ia tersenyum dan berkata. " Ya... sudah lama, ya." sahutnya yang kemudian menerima tangan Yukio.


Itu benar-benar tidak terduga, bertemu kembali dengan kenalan lama, didunia lama. Meski ada banyak hal yang berubah, setidaknya ia bersyukur kalau masih ada yang tersisa yang ia kenal disana.


Setidaknya dia dan teman-temannya tahu, meski Quennevia melenyapkan semua yang membuatnya tersakiti saat datang kemari, tapi dia tetap menghargai orang-orang yang pernah berada disisinya dengan tulus.


Matahari tenggelam disaat reuni tak terduga itu, mereka membicarakan cukup banyak hal. Dan itu tidak mereka sadari...


" Aku sudah mendengar garis besar nya dari Sakura, jadi kalian mencari ular legendaris yang berasal dari dunia kalian. Dan kalian meyakini kalau dia ada disini." ucap Yukio.


" Iya, karena keberadaan nya menghilang disana. Sementara itu garis hidupnya masih berjalan." ucap Ethan mengiyakan hal tersebut.


Alasan yang membuatnya semakin yakin adalah... karena garis dimensi ke dunia ini sajalah yang paling kuat dan terhubung satu sama lain.


Yukio terlihat memikirkan itu dengan serius, " Hmm... Tapi, tetap saja itu agak tidak masuk akal bagiku. Kau bilang ular itu bahkan bisa lebih besar dari gedung berlantai 15, tapi bagaimana dia bisa bersembunyi dengan tubuh sebesar itu tanpa ada satupun yang pernah melihat nya." ucapnya.


" Humanisasi. Dia bisa berubah menjadi manusia dan berbaur dengan orang-orang disekitarnya." jawab Yuki menimpali itu.


" Begitu rupanya." dan Yukio juga berpikir itu yang paling mungkin, ia juga telah melihat banyak cerita fiksi yang seperti itu.


" Jadi... apakah kita akan memeriksa data penduduk di seluruh dunia? Tapi, bukankah sulit memastikan nya jika dia benar-benar menyerupai manusia seutuhnya." ucap Lucy memberikan pendapatnya.


" Kami bisa memeriksa melalui aura. Bahkan jika dia berada dalam wujud manusia, tapi dia tidak bisa menyembunyikan auranya yang berbeda dengan manusia. Tapi...." sahut Meliyana, ia pun kemudian menoleh kearah Quennevia yang berada cukup jauh dari mereka. " Quennevia tidak bisa menunggu terlalu lama lagi, dan dunia kami berada diambang kehancuran." lanjutnya.


Suasana mendadak hening segera setelah ia mengatakan itu, tidak ada yang mengatakan apapun lagi setelah nya, meski itu hanya berlangsung sesaat. Sampai Mamika berkata...


" Itu... Nevia, kan? Dia berbeda dengan terakhir kali kami lihat saat dia datang kesini. Saat itu.. dia memiliki rambut hitam dan mata merah, serta suasana gelap yang membuat nya terlihat seperti iblis yang muncul dari neraka. Tapi sekarang..." ucapnya menggantung.


" Dia terlihat seperti dewi, kan?" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Mamika, membuat nya terperanjat kaget. Itu adalah Niu. " Astaga, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu kaget sampai seperti itu." ucapnya pula merasa bersalah, sementara itu dibelakang nya Oscar dan Arkan hanya tersenyum kosong.


" A..Haha.. tidak apa." Mamika menanggapinya demikian meski ia merasa seolah jantungnya akan copot karena Niu.


" Sungguh? Kau baik-baik saja, kan?"


" Tentu, jangan khawatir."


Keduanya malah terlibat percakapan canggung dan juga tidak jelas, sementara itu Yukio hanya menghela nafas melihat itu.


Disamping itu, " Kenapa kalian begitu terlambat?" Ethan menanyakan itu kepada mereka bertiga yang baru datang.


Mendengar itu membuat Oscar menanggapinya dengan tawa canggung, " Haha... Kami sedikit tersesat karena sebelumnya dikejar polisi." ucapnya dengan tangan kanan dibelakang kepalanya.


" Serius? Kenapa?" tanya Sakura penasaran mendengar itu.


" Bocah ini membuat kerusuhan dan menghajar beberpa orang." Oscar pun menjawabnya sambil menunjuk Arkan yang ada disebelah nya.


" Hei, aku melakukan nya kan untuk membela diri." timpal Arkan pula agak kesal karena Oscar berkata seolah perkelahian siang tadi adalah salahnya.


" Iya, iya." sementara Oscar tidak ingin berdebat dengan itu.


Membuat Arkan mendengus sebal karenanya, dia seperti anak yang merajuk karena tidak mendapatkan apa yang dia mau.


" Kalian dikejar polisi hanya karena itu?" saat kemudian Meliyana menanyakan hal itu.


" Um, iya." sahut Niu pula.


" Kami menembak mereka." saat kemudian Meliyana mengatakan itu dan membuat suasana disana berubah dingin.