Quennevia

Quennevia
Perubahan situasi



[Season 2]


-- Kota xxx, pusat kota.


Keadaan kota ini masih sibuk seperti biasa, meski tidak sesibuk biasanya. Orang-orang menjalani rutinitas sehari-hari mereka seperti biasanya, ada juga yang hanya sekedar berjalan-jalan menikmati suasana musim gugur saat ini. Tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda, orang-orang disekitar jalanan kota terlihat terkagum-kagum akan sesuatu.


Sesuatu itu... Tentu saja Ethan dan teman-temannya. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang menyempatkan diri hanya untuk memandangi mereka berjalan. Pada akhirnya, mereka tatap menjadi pusat perhatian.


Niu menghela nafas panjang karena itu, " Haa.... Kau bilang kita tidak akan jadi pusat perhatian jika berdandan seperti ini. " ucapnya dengan senyuman kosong diwajahnya.


Dia mulai merasa kalau Ethan menipunya lagi sekarang.


" Setidaknya kita tidak dikerumuni." Ethan pun menimpalinya demikian.


Yang mana Oscar juga mengangguk setuju dengannya, " Itu benar, mereka hanya tertarik dengan penampilan. Tidak jauh beda dengan orang-orang yang kita tahu." ucapnya.


Bukan hal yang aneh. Orang-orang yang berpenampilan menawan berkumpul dan berjalan bersama melewati jalanan kota, tentu saja itu akan menarik perhatian orang-orang sekitar. Jadi mereka harus berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu mempedulikan sekitar.


Tak lama kemudian, mereka berhenti disebuah halte bus setelah sedikit melihat-lihat kota setelah masuk.


Ethan berkata kepada mereka, " Oke. Kalian tunggu disini dulu, aku harus melakukan sesuatu." ucapnya yang hendak pergi.


Namun Niu menghentikan langkahnya, " Kemana kau akan pergi?"


Ethan yang mendengar nya pun menoleh kearahnya, " Kau mau ikut? Boleh. Tapi yang lain tetap disini, jangan pakai kekuatan, jangan berkeliaran dan jangan menarik perhatian. Aku yakin kalian tahu maksudku." sahutnya.


" Kami mengerti, jangan khawatir." Arkan segera menanggapi hal itu.


Ethan yang mendengar nya hanya membalas dengan anggukan kepala, baru ia dan Niu pun pergi dari sana. Mengurus sesuatu yang katanya harus dilakukan oleh Ethan. Sementara itu teman-teman mereka yang lain hanya diam dan masih memandangi kota itu dengan seksama, bahkan membahasnya bersama...


Terutama Meliyana...


" Aku masih tidak percaya kita punya kesempatan melihat dunia lain, ini terasa seperti... Mimpi." ucapnya yang berdiri dipinggir jalan dan menyanga dagunya dengan tangan.


Yuki disebelahnya pun kemudian menanggapi, " Kalau begitu berhenti bermimpi dan lihat kenyataan sekarang." ucapnya dengan ekspresi datar diwajahnya, mendengar itu membuat Meliyana cemberut kesal.


Berbeda dengan keduanya, Oscar dan Arkan yang duduk dikursi halte, mereka malah cekikikan karena tingkah keduanya. " Hahaha... Kau jangan menjatuhkan semangat Meliyana seperti itu, Yuki." Oscar berkata demikian seolah menengahi mereka.


" Kau menyakiti perasaannya." dan Arkan pun membalasnya seperti itu.


Pada akhirnya keduanya bukan benar-benar membantu, malah meledek mereka.


Meliyana mendengus sebal karena teman-temannya berubah jadi menjengkelkan disana. " Hmph. Aku tahu kalian sedang menggodaku, jangan katakan apapun padaku jika tidak tulus!." keluhnya kepada mereka.


Tapi Oscar dan Arkan masih tetap tertawa, tidak menanggapinya serius sama sekali. Sementara Yuki menghela nafas lelah karena mereka.


Semuanya baik-baik saja dan cenderung tidak ada apa-apa disana, mereka hanya menghabiskan waktu dan terkadang menggoda Meliyana, dan semakin lama itu membuat mereka sedikit bosan karena tidak ada sesuatu yang harus dilakukan.


Sampai... tak lama kemudian masalah tiba-tiba datang seolah itulah yang mereka harapkan...


Sekelompok pria tiba-tiba datang mendekati mereka, dan salah satunya langsung merangkul pundak Meliyana diantara mereka. " Hey, hey. Lihat siapa ini?." ucap orang itu. Kedatangan mereka dan apa yang dilakukan oleh orang itu membuat Meliyana kaget. " Hallo, nona manis. Siapa namamu?." lanjutnya pula sambil mencolek dagu Meliyana.


Melihat itu, ekspresi Arkan dan Oscar langsung berubah dingin seketika. Tidak ada satupun orang yang suka pada ketidaksopanan apalagi ditempat umum. Tentu saja, termasuk Meliyana yang diperlakukan seperti itu disana.


" Apa yang kau lakukan? Menjauh dariku!." Meliyana berteriak kesal padanya dan langsung menepis tangan pria itu.


Tapi bukan berarti mereka akan berhenti meski diperlakukan seperti itu...


" Haha.. Kasar sekali." malahan mereka malah semakin tertarik.


" Itu benar. Jangan seperti itu."


Meliyana merasa mual karena wajah tidak tahu mereka. Orang-orang bodoh yang mengincar orang yang mereka anggap lemah dan berguna untuk mendapatkan uang, mereka bergerak dengan bergerombol dan mengepung mereka. Kira-kira 10 orang yang mengelilingi mereka sekarang, tidak memberi mereka celah sedikit pun.


" Hm?? Orang dibelakang itu..."


Arkan menyadari kalau beberapa diantara mereka sebelumnya pernah ia lihat dalam perjalanan, ia yakin kalau seperti mereka memang sudah ditargetkan sejak awal sekarang.


Lalu, meski ada beberapa orang disekitar dan suasana masih terlihat ramai meski sore menjelang, orang-orang hanya berusaha untuk mengabaikan itu dan tidak ingin terlibat dengan apa yang terjadi dan berlalu begitu saja.


Oscar melihat sekitar mereka, " ....Tidak ada satupun yang bertindak.." matanya pun menyipit seketika.


Melihat bagaimana orang-orang sekitar terlihat takut dan ragu untuk menolong mereka, bisa diartikan para preman bodoh ini cukup punya reputasi disini. Dan yang pasti keberadaan mereka sangat meresahkan.


Lamunan mereka kembali ketika salah satu dari para preman itu lagi, yang mereka yakini dia adalah pemimpin mereka. " Kemarilah, aku ingin bicara denganmu." dia menarik lengan Meliyana dengan paksa.


Tapi Meliyana juga tidak menurutinya begitu saja, dia melotot kepada orang itu karena merasa sangat terganggu karenanya.


" Hoho.. Aku suka tatapanmu, jarang menemukan perempuan cantik yang berani seperti mu." ucap nya pula tidak tahu diri.


" Kita bawa saja dia."


" Benar, ayo. Sebelum polisi datang."


Sama seperti para anak buahnya yang tidak bisa melihat mangsa dengan benar.


Sementara dalam hati, Meliyana hanya bisa membatin dalam diam. " Hah! Aku ingin memakai kekuatan ku untuk menerbangkan mereka, tapi..." dia menggertakan giginya sangat kesal.


Ketika itu ia ingat apa yang Ethan katakan..


" Tetap disini, jangan pakai kekuatan, jangan berkeliaran dan jangan menarik perhatian."


Meliyana menutup mata, hanya bisa menahan diri. Situasi sama sekali tidak mendukungnya, " ...Ethan akan marah jika aku sembarangan. Tapi, kalau hanya untuk membela diri.. Serangan pelan-..."


Seett...


Meliyana berhenti berpikir seketika, ketika ia melihat tangan seseorang merebut lengan pemimpin preman itu dan memelintirnya.


" Aakkk!!." teriakan penuh rasa sakit terdengar dari orang itu.


Meliyana menoleh kesampingnya menatap pelaku yang melakukan itu, dia Yuki. Orang yang dari tadi diam saja sekarang beraksi tanpa menunggu perintah atau permintaan.


Sedangkan Oscar dan Arkan tersenyum puas melihat apa yang dia lakukan.


" Le-lepaskan..! Ack.. Lepas, kubilang!." pemimpin preman itu terus menjerit-jerit kesakitan dan berteriak kepadanya, tapi Yuki hanya memiliki ekspresi dingin diwajahnya.


" B-Bos!." dan para bawahannya mulai kehilangan kepercayaan diri mereka sedikit demi sedikit karena tercengang dengan hal itu.


Saat itu, Yuki pun kemudian berkata. " Kalau begitu, menjauhlah dari temanku bajingan!." ucapnya.


Pemimpin itu menoleh kearah para anak buahnya dengan susah payah sambil menahan rasa sakit, dan ia pun berteriak. " Apa yang kalian lihat?! Cepat serang mereka!." teriaknya merasa kesal.


Anak bauhnya yang lain tersentak dan kembali sadar pada kenyataan, mereka sepakat untuk maju bersama.


" Hei, kau...!!"


Salah satu diantara mereka hendak maju, tapi langkah dan ucapannya langsung terhenti seketika, karena Oscar dan Arkan menghalangi mereka dengan seringai dingin yang terlihat diwajah mereka.


" Hei, kau tidak berpikir untuk mengeroyok seorang wanita, kan? Pasti tidak, kan? Itu hanya khayalanku." Arkan membarikan pertanyaan yang ia jawab sendiri kepada orang-orang itu.


" Sebelum menyentuh yang dibelakang, kenapa tidak bicara dengan kami dulu, hmm??" Oscar juga mengajukan pertanyaan seperti dengan suara yang entah kenapa terdengar mengeramkan.


Orang-orang itu kembali ragu, tapi karena melihat pemimpin mereka kesulitan, mereka pun akhirnya memberanikan diri dan menyerang mereka bersamaan. Perkelahan itu tidak bisa dihindari. Tapi.... apakah itu benar-benar bisa disebut perkelahian?


Kurang dari 5 menit, para preman itu sudah terkapar dijalanan dan sama sekali tidak berdaya. Sampai-sampai membuat orang-orang disekitar juga tercengang karenanya. Itu juga waktu terlama yang bisa mereka ulur saat menahan kekuatan mereka. Karena itu, seharusnya tidak akan ada masalah yang terlalu besar kepada mereka, Oscar dan yang lainnya hanya membela diri.


" Huftt... Mereka tidak sekuat itu, kenapa orang-orang begitu takut." bisik Arkan kepada Yuki dibelakangnya dengan ekspresi bingung kepada orang-orang sekitar.


Yuki yang mendengar itu pun kemudian menoleh dan berkata, " Kita yang terlalu kuat, dasar bodoh." ucapnya.


" Ah.. " itu satu-satunya tanggapan Arkan setelah mendengar jawaban Yuki, seolah dia baru sadar dengan hal itu.


Tin... Tin...


Perhatian mereka langsung teralihkan mendengar suara itu, mereka menoleh dengan serempak. Dan yang mereka lihat adalah sebuah mobil dengan warna merah, berhenti tak jauh dari mereka. Saat itu, kaca disamping pengemudi pun turun secara perlahan, dan Ethan terlihat duduk disana.


" Pertunjukan bagus. Sekarang naik." puji Ethan kepada mereka, dan ia juga langsung menyuruh mereka naik.


Disaat yang sama, pintu belakang mobil itu juga terbuka, dan terlihatlah Niu disana.


Oscar dan yang lain saling pandang sesaat setelah melihat itu, baru mereka pun memutuskan untuk naik karena sepertinya kerumunan juga semakin banyak. Yuki membuka pintu mobil disamping Ethan dan masuk ke sana. Sementara itu Arkan, Oscar dan Meliyana masuk ke tempat yang sama dengan Niu. Meski saat didalam, Arkan melangkah melewati kursi penumpang dan memposisikan diri dibelakang tiga yang lain dihadapan nya untuk memberikan ruang.


Dan setelah memastikan kalau semuanya sudah baik, Ethan pun segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya membelah jalanan dikota. Teman-temannya juga terlihat kagum dengan benda yang mereka naiki sekarang...


" Keren! Bagaimana benda ini bisa bergerak tanpa kuda?!." tanya Arkan antusias dengan mata berbinar seperti anak kecil.


Sementara Ethan yang mendengar itu hanya menanggapinya dengan santai, " Ah~ Ini menggunakan mesin dan salah satu jenis minyak bumi bernama bensin sebagai bahan bakar. " jawabnya.


" ..... " namun tidak ada jawaban lain.


Saat kemudian ia melihat kaca spion didalam mobil, dan mendapati banyak tatapan polos dari teman-temannya yang bingung dengan apa maksudnya. Ethan sampai tidak bisa berkata-kata melihat itu dan hanya tersenyum canggung.


Sampai Arkan pun berkata, " Eee... Aku tidak terlalu mengerti, tapi baiklah." ucapnya. Dia mengakhiri masa itu seperti bagaimana ia memulainya saat bertanya.


" Dari mana kau mendapatkannya?." Yuki yang ada disampingnya pun juga ikut mengalihkan percakapan disana.


Tapi masalah itu membuat Niu menghela nafas panjang, " Dia membelinya setelah merampok seorang pria." ucapnya dengan ekspresi kosong diwajahnya.


Hal itu membuat yang lain jadi menatapnya dengan tataan horor...


" Ethan..." dan Oscar pun memanggil namanya seolah meminta penjelasan soal itu.


Dan Ethan langsung menanggapi. " Jangan tatap aku seperti itu! Aku tahu ini salah!." sahutnya cepat dengan panik, ia menarik nafas sejenak dan kembali bicara. " Tapi, uang dunia kita tidak bisa digunakan disini." lanjutnya.


Itu alasan paling penting dan satu-satunya yang ia punya. Jika dia mengeluarin koin emas disana, dia malah bakal jadi sasaran rampoknya, sama seperti sebelumnya. Dan pasti itu akan sangat merepotkan.


" Dan orang yang kurampok juga sebenarnya telah merampok orang lain juga, jadi tidak masalahkan aku melakukan ini sedikit, kan?" ucapnya pula seolah meminta pembenaran dari teman-temannya.


" Memang benar..." dan Arkan memang merasa itu sedikit adil.


" Tapi, bukannya kita bisa menjual permata dan emas yang kita punya." usul Meliyana mengutarakan pendapatnya.


Ethan mengangguk setuju, namun.. " Iya, tapi aku tidak berniat melakukannya. Dunia ini... Ada yang berbeda dengan dunia yang kuingat, sesuatu telah berubah. Kita bisa saja dilacak orang dengan mudah jika bertindak sembarangan. " ucapnya menjawab hal itu.


Tentu saja pernyataannya itu membuat teman-temannya yang lain jadi penasaran dan bingung disaat yang sama. Padahal mereka datang ke dunia dimana Ethan dan Quennevia tinggal dulu, meskipun perubahan memang tidak pernah berhenti. Tapi apa masuk akal sampai orang yang pernah tinggal disini sendiri juga jadi merasa aneh?


Sementara itu, Ethan sendiri sedang mencoba memikirkan situasi apa yang telah terjadi, hingga bisa merubah semua ini. ".... Tingkat kriminalitas meningkat dari yang terakhir kali aku ketahui, sekarang personil polisi jauh lebih aktif dari biasanya. Aku juga tidak melihat satupun anggota organisasi yang berpatroli seperti biasanya disini. Kalau sampai seperti ini, saat Quennevia datang ke sini mungkin..."


Sebuah gambaran terlintas dikepala Ethan, dan jelas itu bukanlah sesuatu yang sangat baik. Pada akhirnya, Ethan pun menggelengkan kepalanya berusaha untuk menyingkirkan pikiran itu...


"... Aku berharap apa yang aku pikirkan itu benar-benar hanya sebatas pikiran saja." Meski begitu, dia masih memiliki keraguan.