
Di depan Akademi, seperti yang dikatakan oleh Quennevia untuk memanggil Haika, ia datang 3 jam kemudian. Karena untungnya dia ada di sana untuk memeriksa laporan beberapa anak buahnya yang menangkap anggota klan Retia yang mengintai diam-diam di sana.
" Hee... jadi ini sekolah adik kesayangan ku?? Sangat bagus. " ucap Haika yang berdiri agak jauh dari gerbang.
Perhatian nya pun langsung teralihkan kearah gerbang di depannya itu, saat melihat seorang gadis yang tengah bersandar di gerbang itu sambil melipat kedua tengan nya. Ia pun tersenyum dan langsung berjalan untuk menghampiri nya, sementara itu sang gadis yang juga menyadari keberadaan Haika hanya meliriknya saja.
" Terlambat. Aku sudah menunggu disini sangat lama, bukankah kau bilang ada di sekitar sini??. " tanya gadis itu yang tidak lain tidak bukan adalah Quennevia.
" Haha.. maaf, maaf. Tadi para anggota klan yang berjaga disini menangkap beberapa klan Retia yang mengintai. " dalih Haika.
" Lalu??. " tanya Quennevia pula.
" Sayang sekali, mereka membunuh diri mereka sendiri dengan racun. Jadi kita tidak bisa menggali informasi dari mereka. " jawab Haika sambil mengangkat kedua bahunya dengan santai.
" Hm... ikut aku. " ajak Quennevia pula.
Mereka pun langsung masuk ke dalam Akademi, dengan banyak nya murid yang memperhatikan dan ternyata-tanya siapa Haika, tentu saja tidak ada yang mengenalinya di sana. Yang mereka tahu hanya lah kalau dia punya hubungan dengan Quennevia.
Sementara itu Quennevia membawa Haika pergi ke lorong tempat para tetua, yang tak jauh dari ruang pertemuan dengan para tetua tadi. Karena hanya di sana dimana tidak akan ada yang menguping pembicaraan mereka, sementara itu ruangan hanya ada satu dan sekarang masih di pakai.
Lagipula Haika memang berencana menemui para tetua, jadi disana saja agar jaraknya ke tempat para tetua tidak terlalu jauh.
" Jadi.. Kakak sudah tahukan, tentang masalah mayat hidup yang tiba-tiba muncul ini??. " ucap Quennevia.
" Iyah, begitulah. Aku juga terkejut saat melihat nya langsung, para mayat hidup itu berjalan pincang, dengan tubuh yang membusuk, belum lagi dengan bau menyengat yang mereka keluarkan. Itu benar-benar menjijikkan. " jawab Haika yang kelihatan hampir muntah ketika mengingat itu.
" La.. Lalu, apakah kakak melihat atau menangkap orang yang melakukan nya??. "
" Sayang sekali tidak, saat aku dan para anggota klan lainnya berusaha menangkap orang itu, dia malah kabur setelah membuat para mayat itu menghalangi kami. Namun hal yang pasti, mereka memang dari klan Ratia. "
Quennevia memikirkan nya dengan sangat serius, melawan mayat hidup bukanlah hal yang mudah. Mereka akan terus bangkit lagi bahkan jika kepalanya hancur sekali pun, itu hal yang paling mengerikan dari mereka. Kecuali jika pembuatnya mati maka pembangkitan juga akan dibatalkan, dan semua mayat hidup itu akan hilang dengan sendirinya.
Namun tetap saja.. memikirkan yang sudah mati berjalan disekitar kita dengan tubuh seperti itu, tidak akan mati bahkan jika mereka memotong-motong tubuh mereka itu amat sangat mengerikan. Quennevia jadi merinding memikirkan hal itu, belum lagi dengan bau busuk nya yang akan hampir membuat nya muntah bahkan meskipun ia hanya memikirkan nya.
" Seperti nya... ini hal yang tidak mudah diselesaikan begitu saja. " ucap Quennevia dengan raut wajah yang kacau.
" Benarkan, tapi aku baru saja menemukan hal yang menarik loh. " ucap Haika pula.
" Hm.. Apa??. " tanya Quennevia pula.
" Hehe... cara yang bisa membuat para mayat itu terbakar menjadi abu dan tidak akan bangkit lagi, adalah dengan pedang legendaris yang dimiliki oleh penguasa hutan seperti ibu dan dirimu, tapi sayang sekali pedang itu hilang. "
Haika terlihat sangat kecewa ketika mengatakan nya itu, seperti nya ia sangat ingin melihat nya. Disaat yang sama Quennevia malah menatapnya dengan dahi yang berkedut, seperti nya dia harus memikirkan kembali kata-kata nya yang bilang tidak bisa mengatasi nya begitu saja.
" Maksud kakak... pedang ini??. " tanya Quennevia sama menunjukan pedang yang ia rebut kembali dari Seriana.
" Apa?! Bagaimana bisa pedang ini ada padamu, bukankah sudah hilang??. " tanya Haika balik dengan sangat terkejut.
" Benar, pedang ini hilang saat pertarungan ibu dengan pemimpin klan Retia dulu. Dan apa kakak ingat saat tuan muda mereka menunjukkan dirinya yang sebenarnya di sini??. "
" Iya, aku sudah mendengar nya. Katanya namanya itu Lorenzo, tapi kau memanggilnya Guren?. "
" Benar, dan saat itu bukan hanya sepuluh ketua keluarga di klan Retia saja. Namun sang pemimpin juga datang ke mari. "
" Apa?! Aku baru dengar tentang hal itu, apa kau mengunci ingatkan anggota klan ku tentang itu? Agar tidak mereka katakan hal sepenting ini?!. "
Haika hanya mendengus sebal mengetahui hal itu, " Lalu, apa yang kau lakukan saat dia datang??. " tanyanya pula.
" Hehe... Aku merebutnya. " jawab Quennevia dengan serius.
" Hah??. " sedangkan Haika terperangah mendengar nya.
" Itu benar loh, aku mendekati nya lalu berpura-pura akan menyerangnya padahal sebenarnya aku mengambil pedang ini. Kemudian aku menarik pedang nya, membuat pembangkitan ku sebagai penguasa hutan jadi selesai. Dan sekarang sayapku juga jadi punya tambahan, muehehehe.... "
Quennevia menceritakan nya dengan riang seperti itu, seolah-olah apa yang dia katakan itu adalah hal yang biasa saja. Padahal hal itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan oleh nya.
" Kau.... itu bukan main-main, bodoh!!. " teriak Haika dengan sangat geram, sementara jarinya menjitak kepala Quennevia.
" Aww... maaf. " ucap Quennevia dengan menyesal.
" Eh?? Tuan Haika, kau ada di sini. " ucap Oscar.
Mendengar suara seseorang itu membuat perhatian mereka teralihkan, dari sisi lain teman-temannya Quennevia datang menghampiri keduanya yang masih di tempat nya.
" Iya, Quennevia meminta ku datang kesini untuk menanyakan beberapa hal. " jawab Haika.
" Begitukah. Oh, ngomong-ngmong Quennevia, para tetua berharap kita bisa mengatasi masalah mayat hidup ini. Jadi kami menerima nya, bagaimana menurutmu. " ucap Meliyana.
" Bukan masalah, tetapi... pertanyaan nya bagaimana kalian bisa membuat mereka tidak bangkit lagi. " jawab Quennevia.
" Huhu... Soal itu kau tidak perlu khawatir, lihat ini. " ucap Haika pula yang mengeluarkan sebuah kotak didepan mereka.
Saat kotak itu terbuka isinya adalah beberapa permata, kelihatan cantik tapi untuk apa semua permata itu.
" Apa gunanya??. " tanya Arkan.
" Hm... Permata-permata ini sudah diisi dengan kekuatan suci selama bertahun-tahun, jadi jika kalian menempelkan nya ke pedang kalian, maka ketika kalian menebas semua mayat itu.. boom... mereka akan langsung jadi abu dan tidak akan bangkit lagi. " jawab Haika.
" Wow, itu hal yang sangat bagus. " ucap Niu.
" Kau benar, kita bisa memusnahkan mereka dengan ini. " ucap Ryohan pula menimpali.
" Sepertinya kau memang sudah mempersiapkan nya ya. " sahut Yuki pula.
Mereka pun membawa permata itu masing-masing satu, semuanya kecuali Quennevia dan Ethan tepatnya, namun Haika tahu hal itu dan mengerti. Berbeda dengan teman-temannya yang bingung sendiri dengan itu.
" Um.... Kenapa kalian tidak mengambilnya??. " tanya Meliyana.
" Ah, aku tidak membutuhkan nya. Pedang ku sudah memiliki permata seperti itu, ditambah dengan kekuatan ku juga, jadi aku tidak perlu yang baru. " ucap Ethan.
" Aku sudah punya ini. " ucap Quennevia pula yang menunjuk pedangnya.
" Begitu ya, karena kalian punya kekuatan dewa. Jadi meski tanpa permata ini kalian bisa mengalahkan para mayat hidup itu. " sahut Niu yang diangguki oleh keduanya.
" Kalau begitu apa lagi yang kita tunggu, ayo kita bersiap dan pergi!. " ucap Arkan dengan sangat bersemangat.
" Iya. " jawab mereka semua pula serempak.