
Diperjalanan menuju ruang tetua, Quennevia dan Ethan hanya diam saja karena fokus dalam lamunan masing-masing mereka. Quennevia sih sudah pasti melamun tentang Seretia yang ada di dalam tubuh nya, sementara itu Ethan... Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
Pemikiran seorang Ethan memang sangat sulit ditebak, tidak seperti Meliyana yang sangat mudah ditebak isi kepala nya. (Iyalah, kan beda orang, beda pemikiran, beda sifat nya juga 😒😒)
" Hm... Quennevia, bagaimana menurutmu soal Seretia itu??. " tanya Ethan tiba-tiba, membuat Quennevia menoleh menatapnya.
" Iyah, kau pasti sudah tahu bukan.. kalau jiwanya saat ini ada di dalam tubuhku. Entah dengan cara apa dan karena apa ia berhasil lolos dari segelnya di dunia roh. Biasanya hanya animal Spirit seperti Yue, ibu atau para Spirit Guardian sana yang bisa keluar masuk dunia roh. " ucap Quennevia.
" Mungkin kah ada faktor lain yang mempengaruhi nya??. "
" Bisa saja, apalagi dengan kelahiran anak yang jadi kunci gerbang 4 dunia, anak yang seperti itu hanya bisa lahir sekali dalam 10 ribu tahun. Kelahiran itu akan membuat 4 dunia bergejolak, jadi semua bisa tahu kalau si kunci telah terlahir. Meskipun begitu kemungkinan hidupnya sangat kecil karena belum tentu tubuhnya bisa menahan lonjakan kekuatan yang besar itu. "
" Lalu bagaimana bisa kau bertahan, kau tahu aku sangat bersyukur karena aku masih hidup sampai sekarang setelah mendengar ucapan mu tadi. "
Ethan tersenyum dengan sangat lebar dan kelihatan sangat manis, membuat Quennevia yang melihat senyum itu jadi merona. Namun ada satu hal yang Quennevia syukuri, yaitu karena Ethan tersenyum di tempat itu, dimana tidak akan ada siswi lain yang malah pingsan ditempat melihat senyuman nya.
" Mm... Mungkin karena jantung ibu Emilia, kau tahu aku hampir sekarat saat kecil dulu. Tapi karena aku mendapat jantung baru dari ibu Emilia, aku jadi punya regenarsi tubuh yang baik. Dan waktu dihutan aku juga hampir benar-benar mati di sana, sampai kau datang dan membantuku mengobati luka ku. Mungkin faktor keberuntungan juga sangat penting. " ucap Quennevia sambil mengalihkan wajahnya dari hadapan Ethan.
Mendengar penjelasan panjang itu dari Quennevia, Ethan hanya mengangguk-angguk kan kepala nya mengerti. Jika dipikir-pikir Quennevia memang selalu dihampiri keberuntungan disamping penderitaan, mungkin dewi keberuntungan memang berpihak padanya meski ia selalu diintai oleh dewa kematian.
Dia dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya, keluarga yang sangat menyayanginya. Tidak peduli jika ia menutupi sesuatu yang besar seorang diri, ataupun seberapa bahaya rahasia yang ditutupi nya itu, semua orang masih tetap berada di sisinya.
" Oh, iya. " ucap Quennevia pula dengan tiba-tiba, membuat Ethan langsung menoleh. " Ngomong-ngomong aku jadi penasaran, bagaimana bisa wanita dewasa yang umurnya entah sudah berapa tahun, bisa memberikan jantungnya kepada bayi yang umur nya baru beberapa bulan??. " tanya Quennevia dengan wajah bingung yang terlihat lucu.
Ethan terkekeh melihat nya yang bingung itu, apalagi wajah lucu yang membuatnya sampai ingin mencubit pipinya. Namun masih ia tahan karena setelah nya Quennevia pasti nantinya akan marah jika ia cubit.
" Sudahlah, jangan pikirkan itu karena aku juga tidak tahu. Sebaiknya kau mengetuk pintu ruangan para tetua saja, karena kita sudah sampai. " ucap Ethan sambil menunjuk pintu di sebelah mereka.
Quennevia yang juga melihat pintu itu hanya mengangguk kepada Ethan sambil tersenyum, ia pun berjalan mendekati pintu itu agar bisa menemui para tetua. Namun berbeda dengan yang Ethan pikirkan, bukannya mengetuk dengan sopan dan masuk setelah diizinkan, Quennevia malah....
Brakk...
" Halo, para tetua!! Quennevia pulang!!. " teriak Quennevia ketika pintu itu terbuka.
Ethan hanya tersenyum kikuk melihat sifat dan apa yang dilakukan oleh Quennevia saat keruang para tetua. Apalagi setelah membuka pintu dengan tidak sopan seperti itu, ia juga langsung masuk ke dalam begitu saja sambil berteriak.
" Seperti nya... sifatnya jadi agak bar-bar saat disini -_-' " batin Ethan.
Tapi kemudian ia melihat Quennevia kembali keluar begitu saja, " Para tetua tidak ada di sini, menurutmu mereka ada di mana??. " tanya Quennevia dengan raut wajah kecewa.
" Um... Kita bisa kembali lain kali, bagaimana jika kita kembali saja sekarang??. " tanya Ethan.
" Iyah, padahal aku ingin memberitahu mereka kalau beberapa hari lagi akan jadi hari spesial buatku. "
" Sudahlah, tidak apa-apa. Kita akan datang kesini lagi nanti. "
Ethan pun langsung menggandeng tangan Quennevia yang terlihat lesu itu, mereka pun berjalan pergi dari sana karena tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka ditempat itu.
****
Di asrama kemudian, ketika Quennevia membuka pintu asrama itu tempatnya masih kosong. Hanya empat kasur bertingkat di dua sisi ruangan itu, teman-teman nya mungkin masih belum datang ke sana.
Perhatian nya langsung terarahkan kepada seekor burung yang bertengger di depan jendela, karena penasaran Quennevia pun langsung membuka jendela itu. Dibawah kaki burung itu terdapat secarik kertas, dan seperti nya burung itu semacam sihir Yuki yang terbuat dari kertas juga.
Quennevia langsung membawa kertas dikaki burung itu, dan seketika si burung pun langsung lenyap di depannya.
" Ternyata benar dari Yuki. " batin Quennevia.
/*Isi suratnya*/
" Kami mungkin kembali larut. Jangan menunggu kami. "
...~Yuki✌😒~...
Quennevia tak habis pikir melihat isi surat itu, benar-benar seperti karakter Yuki yang sebenarnya.
" Um... Dan lagi, ada apa dengan wajah datar di dalam surat ini. Seperti nya Yuki minta dipukul deh_-' " gumam Quennevia.
Quennevia pun menyimpan surat itu di meja depannya, dan ia pun langsung naik ke atas ke tempat tidur nya. Ia rebahkan tubuhnya di kasur yang tidak terlalu empuk tapi nyaman itu, sambil melamun seorang diri. Dia malas juga menyalakan lampu meski hari sudah beralih sore hanya dalam beberapa jam saja.
Quennevia jadi bangun ketika merasakan sedikit aliran sihir di sekitar nya, ia mencari-cari dari mana aliran sihir itu ia rasakan. Dan saat ia mengeluarkan sebuah kristal cerah dari dalam ruang cincinnya, ternyata dari kristal komunitasi nya. (Hampir sama dgn HP gitu loh)
" Halo ibu, apa itu ibu??. " tanya Quennevia dengan ceria.
Iya, Misika lah yang saat ini sedang menghubungi Quennevia lewat kristal itu. Sudah lama juga mereka tidak mengobrol lama, meskipun hanya lewat Kristal itu.
" Quennevia sayang, bagaimana keadaan mu?? Apa kau sudah sampai kembali ke Akademi??. " tanya Misika di sebrang sana.
" Iya, ibu. Dan aku baik-baik saja. " jawab Quennevia dengan wajah sendu, untungnya hanya dia yang bisa melihat wajahnya sendiri saat ini.
" Sayang, apa kau sedang ada masalah??. "
" Tidak, tidak ada apa-apa kok, bu. "
" Sayang, kau tidak bisa membohongi ibumu. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu, dan itu adalah hal yang cukup penting. Ibu juga sudah mendengar tentang Seretia yang merasuki mu sebelumnya, apa kau merasa baik saja sekarang?? Adakah sesuatu yang terasa aneh dari tubuhmu??. "
Quennevia tersenyum mendengar itu, ternyata memang benar ya kalau perasaan seorang ibu itu sangat sensitif tentang anaknya. Hidupnya dulu tidak memiliki ibu, jadi dia tidak mungkin dimengerti sembarangan oleh seseorang tapi sekarang dia punya seorang ibu, dan pernah merasakan kasih sayang ayah.
Oh, tidak. Dia masih punya Ayah, dia adalah ayah angkatnya Everon. Siapa yang bisa percaya kalau ayah nya seekor naga dan ibunya seekor kelinci, di dunia nyata mungkin itu tidak, tapi ia juga tidak tahu sekarang ini dia ada di dunia nyata atau mimpi.
" Ibu, kau benar-benar sangat tahu diriku, ya. Dan aku selalu saja tidak bisa berbohong kepada ibuku yang tercinta ini. " ucap Quennevia.
" Tentu saja, sayang. Ibu lah yang paling mengerti tentang dirimu, bukankah ibumu ini yang sudah melahirkan dan membesarkan mu??. "
" Hehe... ibu benar, tapi... apa ibu yakin ingin aku menceritakan nya kepada ibu??. "
" Katakan saja, sayang. Ibu mu ini akan selalu menjadi tempat bersandar bagimu sampai kapanpun, lagipula kita punya kehidupan yang panjang dan hampir abadi di sini. "
Quennevia kembali mengulas sebuah senyum diwajahnya, kemudian ia pun memberanikan dirinya untuk mengatakan apa yang ia pikirkan sedari tadi hingga membuatnya melamun.
Namun saat ia ingin bicara, lidahnya kelu bibirnya tiba-tiba seolah terkunci tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Quennevia takut mengatakan nya, bagaimana jika setelah ia mengatakan apa yang ada di pikirkan nya semua kasih sayang yang ia dapatkan dari orang-orang itu hilang seketika.
Bagaimana tanggapan Misika saat mengetahui apa yang terjadi kepada putrinya, akankah dia tetap menerima nya yang sekarang atau malah membuangnya begitu saja. Untuk pertama kalinya seorang Quennevia bisa setakut ini hanya karena ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin juga ia bisa mengetahui kebenaran dibaliknya, namun ia tetap takut.
Hingga tak terasa butiran-butiran bening pun jatuh dari pelupuk matanya, tidak ada keberanian yang tersisa tetapi di saat yang sama dia juga ingin mengetahui kebenaran.
" Ah... aku.. aku tidak bisa, bagaimana jika aku dibuang?? Setelah semua kasih sayang yang manis itu, aku tidak mau kehilangannya. " batin Quennevia.
Misika yang tak kunjung mendapat kan jawaban pun merasa heran, akhirnya ia pun bertanya lagi kepada putri kecilnya itu.
" Sayang, ada apa?? Apa kau baik-baik saja??. " tanya nya kepada Quennevia.
" Ibu... Aku.. bagaimanapun jika.. jika kubilang aku bukan putrimu yang dulu lagi??. " tanya Quennevia dengan suara bergetar, masih mencoba menahan tangisnya untuk menanyakan itu, meski ada sebuah rasa sakit yang aneh saat ia mengatakan hal itu kepada Misika.