Quennevia

Quennevia
Danau Permata dan Sang Penjaga



[Season 2]


Ketika ilusi yang berasal dari mutiara itu menghilang, para monster yang sebelumnya tidak bisa merasakan kehadiran Ethan dan yang lainnya pun mulai melihat kearah mereka. Para monster itu kini menyadari keberadaan mereka disana..


Dengan wajah garang yang kelihatan lapar itu, mereka berenang semakin mendekat kearah Ethan dan teman-temannya. Sampai-sampai wajah Arkan dan Niu yang berada paling depan dengan monster-monster itu berubah pucat.


" Gawat... Ini benar-benar gawat..." gumam Niu dengan sangat gugup.


" Kita akan mati!! " dan ucap Arkan pula panik. Saat monster monster itu langsung menerjang kearah mereka.


Groarr...


" Gyaaa... !!! " Keduanya berteriak melihat mulut monster yang besar itu terbuka kearah mereka.


Tapi sesaat sebelum monster-monster itu memakan keduanya, mereka berdua langsung ditarik masuk dari belakang sana. Membuat serangan monster-monster itu tidak mengenai mereka...


Duarkk....


Niu dan Arkan masih sangat terkejut dengan apa yang terjadi sampai tidak sadar kalau Oscar dan Ethan telah berhasil menciptakan celah di penghalang gua itu. Karena itu Meliyana dan Yuki jadi harus menarik mereka masuk sebelum monster-monster itu memakan mereka.


" Kalian baik-baik saja?? " tanya Meliyana khawatir.


" Ahaha... Kupikir aku akan mati!. " sahut Arkan sambil tersenyum kikuk.


" Kaki-ku masih gemetaran, dan aku tidak bisa berdiri... " gumam Niu yang kelihatan nya masih terkejut.


" Mau ku gendong?? " tanya Yuki pula kepada Niu dengan wajah datarnya.


Beberapa saat kemudian, setelah Niu dan Arkan kembali tenang, mereka melanjutkan masuk lebih dalam ke gua itu. Jalannya cukup panjang, namun gua itu memiliki pemandangan yang bagus.


Dinding-dinding gua itu bersinar seperti memantulkan cahaya sendiri, dengan warna-warna yang jernih dan cantik. Itu cukup menanjakan mata mereka. Sampai tak lama kemudian, mereka pun tiba diujung jalan dimana mereka dihadapkan dengan sebuah danau kecil disana.


Danau itu terlihat indah dengan warna nya yang kelihatan seperti sekumpulan Mutiara dan permata lainnya dikumpulkan disatu tempat yang sama.


" Wahh... Indah sekali. Apakah itu benar-benar air?? " ucap Meliyana yang sangat terpukau dengan danau itu.


" Terlihat seperti permata dimataku. Ngomong-ngomong... Aku baru sadar kalau disini ternyata tidak ada air. " sahut Yuki menimpali.


" Kau benar juga. Lalu, dimana embun darah itu?? Tidak ada apapun disini yang terlihat seperti embun berwarna merah. " tanya Arkan.


" Kurasa disana. " jawab Oscar sambil mendongakan kepalanya menatap langit-langit dinding.


Dan yah, memang benar. Ada sesuatu yang terlihat berwarna merah diatas sana, tapi apakah benar itu apa yang mereka cari??


" Bagaimana caranya ke atas sana?? " gumam Niu.


" Bukannya kita tinggal terbang saja?? Untuk apa kalian pusing memikirkan itu. " ucap Meliyana.


" Kau tidak menyadarinya?? Kita tidak bisa menggunakan sihir disini. " sahut Oscar pula.


" Eh?? " Tapi melihat reaksinya sepertinya Meliyana tidak sadar dengan hal itu.


" Sepertinya... Ada lingkaran anti-magic dipenghalang yang melindungi gua ini. Secara otomatis kita yang masuk ke dalam gua ini jadi tidak bisa menggunakan kekuatan kita. " jelas Oscar pula dengan sedikit lebih rinci.


" Lalu bagaimana?? " tanya Meliyana pula bingung.


" Kurasa kita tidak perlu naik ke sana, karena itu hanya bayangan. " ucap Ethan tiba-tiba setelah sedari tadi hanya diam saja.


Membuat yang lain nya pun kemudian jadi menatap kearahnya dengan bingung, sedangkan Ethan sendiri sedang menatap danau didepan mereka itu dengan sangat serius.


" Bayangan? " ucap Niu pula bertanya-tanya.


" Coba lihat disana... " sahut Ethan pula yang kemudian menunjuk danau itu, " .. Banda yg kita cari ada disana. " lanjutnya.


Dan setelah diperhatikan dengan lebih jelas, apa yang Ethan katakan itu benar. Embun darah itu ada di dalam danau itu.


" Dia benar. " ucap Meliyana terkejut.


" Bagaimana bisa embun itu tidak bersatu dengan air danau dan malah berkumpul menjadi satu?? " tanya Arkan yang malah jadi bingung.


" Tunggu!.. " Oscar menghalangi mereka. " Aku tidak percaya kalau ini bisa semudah itu. " ucap nya pula.


" Ya, memang benar. Coba lihat apa yang ada di dalam sana bersama dengan embun darah itu. " ucap Ethan membenarkan.


" Ubur-ubur... " jawab Yuki sebelum yang lainnya melihat danau itu kembali.


" Ubur-ubur itu tidak terlalu berbahaya meskipun memang merepotkan, tapi... " ucap Ethan pula yang kemudian mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke danau itu. " Yang aku maksud itu adalah... Ini!. " lanjutnya pula.


Sesaat setelah batu itu masuk ke dalam danau, ia pun menarik teman-temannya yang lain untuk bersembunyi dibalik sebuah batu besar yang ada disana. Saat kemudian...


Byurrr...


Air di danau itu seolah meledak, dan kemudian muncullah seekor Belut besar kepermukaan danau itu.


" Gilaa!!. " ucap Arkan dan Meliyana yang sangat terkejut melihat Belut itu keluar dari sarangnya.


" Melewati ubur-ubur nya mudah, tapi selama Belut itu ada disana.... yang ada kita duluan yang akan diubah jadi makan siangnya.. " ucap Yuki.


" Bagus, sekarang bagaimana kita akan ke bawah sana untuk mengambil embun darah itu?? " tanya Niu menimpali.


" Tenang saja... Biar aku yang urus Belut itu. Dan kalian yang ambil embun darah nya. " jawab Ethan pula dengan percaya diri.


Ia pun berjalan hendak keluar dari tempat mereka sembunyi, namun langkahnya terhenti ketika Arkan mencekal lengannya.


" Aku tahu apa yang akan kau lakukan, jadi lebih baik jangan lakukan itu... " ucap Arkan dengan ekspresi wajah serius.


Sementara Ethan malah dengan santainya tersenyum sambil memiringkan kepala nya, " Kalau begitu apa kau punya pilihan lain?? Kau tahu bukan... Belut itu tidak akan pergi dari sarangnya begitu saja. " ucap Ethan padanya.


" Tapi jika kau melakukan hal itu, bukan hanya Belut nya saja yang terpancing.. Tapi semua monster yang ada di luar sana juga akan mengejarmu. " sahut Arkan pula.


" Arkan benar, Ethan. Jangan bahayakan dirimu sendiri, kita akan pikirkan cara lain. " ucap Oscar menimpali.


" Kita kehabisan waktu... " ucap Ethan pula menimpali, yang mana langsung membuat teman-teman nya terdiam bingung dengan perkataannya.


Mereka tahu kalau batas waktunya adalah satu tahun, mereka sudah melakukan perjalanan ini sejak setengah tahun yang lalu. Itu artinya masih ada setengah tahun lagi waktu yang mereka miliki, karena mereka sudah tahu tempat tujuan yang harus mereka tuju itu mempermudah mereka.


Mereka cukup percaya diri bisa menemukan semua benda itu sebelum batas waktu yang Quennevia miliki habis. Kalau begitu... Apa yang dimaksud oleh Ethan??


" Apa maksudmu?? " tanya Yuki yang mewakili semuanya.


" Sebenarnya... Beberapa waktu yang lalu, aku mendapatkan surat dari Tuan Haika. Keadaan diluar sana jauh lebih buruk dari pada yang kita duga. Klan Retia itu... Sudah banyak melakukan kerusuhan secara terang-terangan, karena ketidakadaan Quennevia selaku penjaga keseimbangan dunia. " jawab Ethan panjang lebar dengan ekspresi wajah merasa bersalah karena merahasiakan itu dari mereka.


Dan tentu saja, mereka yang mendengarnya pun sangat terkejut. Mereka tidak berpikir sampai ke sana karena terlalu fokus kepada Quennevia. Seharusnya mereka sadar kalau keberadaan Quennevia itu sangat penting bagi dunia, lebih dari apapun.


" Maaf karena merahasiakan ini dari kalian. Aku hanya tidak ingin kalian merasa semakin terbebani dengan semua yang terjadi sekarang ini. " ucap Ethan.


" Tidak... Ini bukan salahmu.. " ucap Niu menyahuti, dia pun tersenyum kepada Ethan. " Kami-lah yang tidak sadar dengan hal itu sampai membuatmu menanggung semuanya sendiri. Maafkan kami. " lanjutnya.


" Ya, Niu benar. Kita ini teman, harusnya kami lebih memperhatikan dan membantu menyelesaikan beban yang kau tanggung, bukannya malah menambah bebanmu. " ucap Arkan membenarkan, yang mana diangguki oleh yang lainnya juga.


" Ahaha... Ayolah, jangan kaku begitu! " sahut Ethan pula sembari menepuk punggung Oscar, " Kita kan berteman bukan baru satu atau dua hari, jadi jangan terlalu dipikirkan soal masalahku. Yang terpenting sekarang adalah Quennevia. " lanjutnya.


" Akan kupakai rencana ku sebelumnya. " ucapnya pula.


" Kalau begitu, aku juga akan ikut denganmu. Setidaknya... Akan lebih baik dari pada seorang diri, bukan?? " ucap Yuki menimpali, dia sangat perhatian meskipun wajahnya acuh tak acuh begitu.


" Aku juga. Lebih banyak orang lebih baik.. " Arkan berkata dengan semangatnya sembari merangkul pundak Ethan.


" Kalau begitu, kami bertiga yang akan mengambil embun darah itu. " ucap Oscar pula ikut ambil suara. Yang mana diangguki oleh Meliyana dan Niu.


Ethan hanya menghala nafas pasrah, mereka tidak akan bisa dihentikan lagi jika sudah memasang wajah yakin seperti itu. " Baiklah, kita lakukan seperti itu. Kalian berhati-hati lah. " Ethan mengingatkan mereka.


" Harusnya itu kata-kata kami. " dan kini Niu lah yg menyahuti nya.


Mereka pun menjalankan rencana yang mereka sepakati itu...