
Sementara itu di tempat Yulles dan yang lainnya, setelah Oscar dkk mendengar perkataan Yulles tentang pilar merah kehitaman itu, mereka semua pun memutuskan untuk melihat apa yang terjadi dan segera menyelamatkan Quennevia jika saja dia memang dalam keadaan bahaya. Oscar dkk juga sudah siap dengan segala situasi yang terjadi, sementara itu Ethan yang masih belum sadar juga dititipkan kepada Kagura dan Xi untuk menjaganya.
Srrakk.. Srrakk...
" Hm... Tidak terlihat ada klan Retia disini, tidak mungkin mereka mundur begitu saja bukan?? Kita sudah setengah jalan untuk bisa sampai di markas mereka, ini benar-benar mencurigakan. " ucap Arkan yang tengah melihat situasi dari balik semak-semak.
" Mungkin mereka bersembunyi. " sahut Ryohan.
" Kau benar, lalu.. Ada apa dengan langit hari ini. Bukankah seharusnya cerah, kenapa malah gelap dengan sangat menyeramkan seperti ini! . " sahut Niu.
" Haha.. Cocok sekali dengan daerah musuh, ya. " ucap Meliyana menimpali.
" Cih. Memangnya kenapa dengan semua ini, dia itu kuat bukan?? Harusnya dia bisa keluar dari tempat itu dengan mudah, untuk apa kalian malah repot-repot melakukan ini??. " ucap Beatrice pula.
Ia yang benar-benar tidak berniat untuk ikut, namun apalah yang bisa ia lakukan jika Arkan juga malah memaksa membawanya. Seperti nya Arkan berniat menggunakan nya sebagai tameng hidup jika saja ada sesuatu yang terjadi.
" Jika kau ingin pergi ya pergi saja sana, tidak ada yang melarang mu kok. Tapi lihat apa yang akan Ethan lakukan kepada mu nantinya, Quennevia tertangkap kan karena dirimu yang mencari masalah dengan nya sebelum ini. " ucap Meliyana dengan wajah datar.
Beatrice hanya mendecih pelan mendengar nya, inginnya ia juga pergi hanya saja dia jadi terpaksa ikut karena Kagura membawa Ethan yang tak sadarkan diri itu, padahal bukankah lebih baik jika Ethan pergi bersamanya dari sana.
" Ayo kita jalan, tidak ada siapapun disekitar sini. " ucap Yulles, yang diangguki oleh yang lainnya.
Mereka pun segera bergerak dari tempat mereka itu diam-diam, tentu saja bagaimana jika tiba-tiba ada klan Retia yang muncul, itu akan sangat gawat karena mereka mungkin akan dikepung kalau ketahuan. Sesaat semuanya masih aman-aman saja, namun tiba-tiba mereka mereka maka mendapatkan serangan tak terduga di sana.
" Awas!. " ucap Haika kepada mereka.
Duar...
Serangan itu cukup kuat, untung saja mereka sempat menghindari jadi tidak ada yang terluka diantara mereka.
" Uhuk.. Uhuk.. Debunya banyak. " ucap Meliyana.
" Apa semuanya baik-baik saja??. " tanya Niu.
" I-Iyah, kurasa. " jawab Arkan.
" Akhirnya datang juga, ya. " ucap sebuah suara pula.
Mereka semua langsung menoleh kearah suara itu berasal, dimana seorang pria tengah berdiri diatas dahan pohon didepan mereka. Dia adalah Lorenzo, yang menyambut mereka dengan senyuman lebar di wajahnya.
" Hei, bocah! Serahkan Quennevia sekarang, bukankah kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan darinya?!. " ucap Yulles sambil menunjuk Lorenzo.
" Kalau begitu, biarkan aku bertanya kepada seseorang dari kalian terlebih dahulu. " sahut Lorenzo dengan santainya.
Mereka bingung mendengar hal itu, memangnya apa yang ingin ia tanyakan dan kepada siapa itu. Dan untuk apa pula alasan nya hingga ingin mengatahui jawaban dari apa yang ingin ia tanyakan itu.
" Apakah kau pernah terbangun di sebuah dunia yang sangat berbeda dengan dunia ini... Beatrice??. " tanya Lorenzo.
Mereka semua pun langsung menatap Beatrice yang ada dibelakang sana, dimana Beatrice juga terlihat terkejut mendengar Lorenzo menanyakan hal itu.
" Iya, lalu??. " tanya balik Beatrice.
" Bagaimana caramu kesana??. " tanya Lorenzo lagi.
" Portal dimensi. Orang-orang di tempat itu secara tidak sengaja menemukan batu spirit dari Naga Kehampaan di tempat itu, dan menggunakan nya untuk membuka pintu gerbang diam-diam. Namun itu hanya bisa bertahan setelah aku pergi dan kembali lagi kesini, setelah nya batu dan juga gerbang itu hancur. " jelas Beatrice dengan wajah malas.
" Jadi memang kau lah yang sudah membantai anak-anak di penti asuhan itu, termasuk Kirito dan yang lainnya. " ucap Lorenzo pula.
" Benar, itu aku. Memangnya apa urusannya dengan mu??. " sahut Beatrice menimpali.
Namun Lorenzo hanya menyunggingkan senyuman, dan itu membuat Beatrice merasa aneh dengan nya. Seharusnya dia sadar sejak awal kalau hal itu sangat aneh, kenapa Lorenzo bisa tahu dan untuk apa dia ingin tahu tentang hal itu. Lagi pula jika dia pergi kesana juga harusnya perbedaan waktunya akan sangat jauh, tidak mungkin sangat dekat... kecuali dia memang bisa mengatur batu spirit.
Lalu kenapa Quennevia dan Lorenzo bisa tepat pada waktu 5 tahun setelah kematian Nevia, mungkinkah itu karena Lorenzo yang sudah mengatur nya, seperti nya menang begitu. Lalu apa yang Lorenzo ucapkan selanjutnya adalah hal yang sangat cukup mencengangkan bagi mereka...
" Begitulah jawaban nya... Quennevia. " ucap Lorenzo.
Mereka yang mendengar nya pun terkejut karena Lorenzo menyebutkan nama Quennevia, apalagi mereka yang sama sekali tidak bisa merasakan keberadaan Quennevia di sana. Tapi dari kegelapan hutan didepan mereka, tepat dibawah Lorenzo yang sedang berdiri diatas dahan pohon itu, Quennevia benar-benar muncul dari sana.
" Dia jadi benar-benar mirip seperti kakak. " batin Yulles dengan mata yang membulat sempurna.
Quennevia yang sudah ada tepat di depan mereka itu, melemparkan sesuatu kehadapan Beatrice, yang tentu saja membuatnya terlihat ngeri dan terkejut melihatnya. Itu adalah kepala milik Ryuji, ternyata Quennevia sempat memotong kepalanya dan membawanya kembali bersama nya ke dunia itu.
" I-ini... " ucap Beatrice menggantung.
" Itu.. Kedua kalinya kau melakukan hal itu kepada Nevia, membunuh orang-orang yang berharga baginya. " ucap Quennevia dengan kepala yang tertunduk, yang langsung menarik perhatian Beatrice dan teman-temannya. " Pertama kali kau melakukan hal ini kepada Sirius bukan??. " lanjut nya.
" A-Apa yang kau bicarakan itu??. " sahut Beatrice.
" Aku berbagi rasa sakit dan bahagia dengan Nevia dan juga Sirius, apa yang mereka rasakan juga aku rasakan. Sama seperti mereka menganggap sesuatu berharga, maka hal itu juga berharga bagiku. Tapi... Kau selalu saja merebut apa yang berharga bagi ku, bagi mereka. " ucap Quennevia.
" Sudah kubilang, kau ini bicara apa?? " tanya Beatrice, sampai ia teringat akan sesuatu. " Jangan bilang, kalau kau adalah wanita yang dicintai oleh Kirito??. " ucapnya.
" Kirito?? bukan hanya dia saja. Apakah kau puas setelah membunuh mereka, apakah kau bahagia setelah membunuh anak-anak yang tidak berdosa itu. Dasar manusia jahat dan kejam, kejahatan mu padaku dan orang-orang disekitar ku sungguh sangat hina!!. " ucap Quennevia pula sambil menggerakkan giginya.
Aura dingin kembali menyebar disekitar mereka, bersamaan dengan perasaan benci Quennevia yang semakin memuncak itu. Hingga hampir membuat Oscar dan lainnya tidak bisa bernafas karena tekanan nya, untung saja Yulles dan Xi ada di sana untuk membantu.
Kecuali untuk Beatrice, dia bisa bergerak bebas tanpa terpengaruh oleh tekan itu, karena dia bukan lagi manusia yang benar-benar hidup. Disaat-saat itulah Quennevia mengangkat wajahnya tinggi-tinggi dan menatap Beatrice dengan sangat tajam dan penuh kebencian.
" BEATRICE SOL TANESIA. WAHAI KETURUNAN TERAKHIR KERAJAAN TANESIA YANG PENUH KEBENCIAN, AKU MENGUTUKMU. ATAS RASA SAKIT YANG KAU BERIKAN KEPADA KU DAN ORANG-ORANG DI SEKITAR KU SELAMA INI.
KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA TERLAHIR KEMBALI DALAM KEHIDUPAN APAPUN, KAU TIDAK AKAN PERNAH KELUAR DARI KEGELAPAN ABADI YANG MENELAN MU. BIARKAN TUBUH DAN JIWAMU TERBAKAR MENJADI ABU, KAU AKAN MERASAKAN KESAKITAN DAN PENDERITAAN SELAMANYA.
AKU MENGUTUKMU, BEATRICE!!!. " ucap Quennevia dengan penuh amarah.
Gluduk... Cetarr....!
Seolah mendengar kutukan Quennevia itu, langit pun semakin berubah menjadi gelap layaknya malam hari. Hal itu sekarang tidak lagi dirasakan disana saja, namun hampir menutupi seluruh daratan dan juga perairan sekitar nya. Orang-orang yang tinggal di daratan pun menjadi resah dan gelisah, melihat pertanda buruk itu, hanya karena kemarahan Quennevia.
Disisi lain Quennevia pun langsung menyerang Beatrice hingga membuatnya terdorong mundur dari sana, Quennevia terus menyerang dan menyerang tidak sekali pun ia memberikan celah untuk Beatrice membalasnya. Namun ternyata Beatrice masih bisa menahan hampir semua serangannya itu dengan cukup baik.
" Bahaya, jika terus seperti ini Quennevia bisa lepas kendali. " ucap Niu dengan panik.
" Ayo hentikan dia terlebih dahulu!. " sahut Arkan.
Mereka mencoba untuk mendekati mereka yang sedang bertarung itu, namun malah kembali terlmper ke tempat mereka semula.
" A-apa?? Penghalang??. " ucap Yuki.
" Coba kita hancur dulu. " usul Haika.
Brakk...
" Tidak bisa, penghalang nya sangat kuat. " ucap Yulles pula yang sudah berusaha menghancurkan penghalang itu.
" Sial, karena kekuatan kakak yang sangat besar itu jadi dikali-kali lipat setelah jadi milik Quennevia. " batin Yulles pula.
" Kalian tidak bisa menggangu mereka, ini adalah takdir yang harus mereka jalani. " ucap Lorenzo yang masih tetap tenang ditempat nya berdiri saat ini.
Mereka yang mendengar nya langsung menoleh kearah nya, dengan wajah yang bertanya-tanya apa maksud dari Lorenzo.
" Apa maksud mu itu?!. " tanya Oscar pula kesal kepada nya.
" Beatrice Sol Tanesia, dia adalah satu-satunya putri di Kerajaan Tanesia 200 tahun yang lalu. Akan tetapi... Karena keserakahan nya yang ingin memiliki orang yang dicintai oleh Sirius, dia memfitnah dan menjatuhi hukuman mati kepada Sirius tanpa alasan. Mice sang dewa naga air yang adalah ayah dari Sirius tidak terima dengan apa yang terjadi kepada putrinya, dan ia pun meratakan seluruh kerajaan dan juga orang-orang didalamnya.
Itulah yang jadi penyebab Sirius membenci Beatrice, begitu pula dengan Mice. Dan di kehidupan Nevia, Beatrice membunuh orang yang dicintainya sekaligus teman-teman dan anak-anak yatim piatu yang ia kasihi. Itulah yang menyebabkan Nevia semakin membenci Beatrice.
Disisi lain... Quennevia yang merupakan bagian dari keduanya menerima semua kebencian dan juga rasa sakit itu, sudah pasti dia sangat terbebani dengan perasaan itu dan ia pasti akan mencari Beatrice untuk meluapkan semua amarah nya itu. Dengan kata lain membalas dendam atas apa yang dilakukan Beatrice kepada nya, Nevia dan juga Sirius.
Dan mungkin saja... Alasan lain Quennevia melakukan nya, karena dia tidak mau orang yang ia cintai (Ethan) untuk ketiga kalinya juga harus direbut oleh Beatrice darinya. Sungguh takdir yang sangat tragis, iya kan?. " ucap Lorenzo panjang lebar, sambil melirik Ethan yang masih sibuk dengan alam bawah sadarnya dengan sinis.
Hingga membuat mereka yang mendengar nya langsung jadi terdiam ketika mengetahui kisah menyedihkan itu, memang benar Quennevia sudah banyak melewati masa-masa sulit dalam berbagai kehidupnya, dan entah kapan itu akan berakhir.
" Oh, ya ampun. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi sekarang!. " ucap Yulles dengan frustasi, kemudian ia pun mencoba membangunkan Ethan. " Hei, Ethan bangun. Cepatlah kembali dan bantu kami mengurus Quennevia!. " ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ethan.