Quennevia

Quennevia
Kakak dan Adik



[Season 2]


Perhatian Arkan teralihkan kepada Balin yang sedang bermain bola ditaman seorang diri. Dia tahu.. karena sesungguhnya dia ada diposisi itu dulu. Balin yang ia lihat saat ini pasti juga diasingkan dan dijauhi oleh orang-orang, entah karena apa. Sehingga dia tidak punya satupun teman di sisinya.


Mereka berdua adalah cermin gabungan, namun tidak memiliki bayangan yang sama. Jika salah satunya hidup dalam berkat, maka yang lain akan membawa penderitaan dipundaknya.


Tapi apa yang ada dipikiran mereka ketika itu terjadi...?


" Haahh... Aku harap kakak baik-baik saja."


Seperti itulah pertanyaan yang ada dikepala mereka. Bahkan saat ini... Karena terlalu asik dengan pikirannya sendiri, bola yang Balin mainkan pun terlempar cukup jauh dari nya.


" Ah!.."


Itu membuat Balin tersadar dari lamunan nya itu, dan ia pun mulai berlari mengejar bola yang menggelinding tersebut. Sampai kemudian bola itu berhenti setelah menabrak kaki seseorang...


Itu membuat Balin diam terkejut, sedangkan orang didepan nya itu kemudian membungkuk dan mengambil bolanya.


" Apa kau hanya bermain sendiri, Balin?" tanyanya. Ya, dia adalah Arkan.


Ketika melihat Balin bermain sendiri, ia pun memiliki inisiatif untuk mendekatinya lebih dulu. Tapi seperti nya Balin tidak menyadari hal itu..


" Ka.. kakak!." dia jadi terlihat terkejut karena nya.


Sementara Arkan hanya tersenyum ramah kearahnya, " Apa kau mau main bersama kakak??" tanyanya kemudian.


" Bermain bersama??" dia bahkan lebih terkejut lagi dengan hal itu.


Dia kelihatan begitu menginginkannya, pasti dia tidak pernah bermain dengan Arkan bahkan didunia ilusi ini. Namun seperti nya para pelayan dibelakang nya tidak akan mengizinkan hal itu begitu saja, mereka kelihatan ragu dengan sesuatu.


" Ta-Tapi... Tuan Arkan, nyonya bilang..."


" Ibu bilang apa?" potong Arkan cepat, ia berbalik dan menatap para pelayan itu dengan tajam.


Melihat itu, keduanya pun langsung bungkam dan menunduk dengan ekspresi takut. Mereka ingin melarang, tapi takut untuk melakukan hal itu.


" Jika kalian masih punya pekerjaan lain, kalian bisa pergi. Aku tidak punya kelas lain, jadi aku akan bermain bersama adikku. " ucap Arkan pula sambil berjalan mendekat kearah Balin.


Ia pun kemudian meraih tangan Balin dan mengajaknya pergi dari sana, " Ayo, kutunjukan tempat yang indah. " ajaknya sambil menariknya pergi.


" I-Iya.." sedangkan Balin, ia hanya mengikuti langkah Arkan yang ada bersamanya.


Ia sempet melihat kearah para pelayan itu yang diam dengan raut wajah resah, tapi tidak mau mendapat lebih banyak masalah. Jadi ia pun tidak mengatakan apapun.


Memikirkan apa yang akan mereka lakukan, tantu saja kedua pelayan itu akan pergi ke tempat Leana dan melaporkan hal itu. Namun Arkan telah memikirkan langkah lain untuk menanggapi apa yang akan terjadi selanjutnya, sisanya hanya bagaimana cara untuk membuat Balin tidak terkena amarah ibunya saja.


" Balin.. " panggil Arkan ditengah keheningan yang ada diantara mereka.


" Ya? " sahut Balin pula padanya.


" Apa ibu memperlakukan mu dengan baik? Seperti apa sikapnya padamu?" tanya Arkan kemudian.


Mendengar itu Balin tidak langsung menjawabnya, dia hanya diam sambil menundukan kepalanya. " Uhh.. Iyah, ibu baik padaku.." ucapnya terdengar ragu-ragu.


Namun Arkan tentu saja tidak percaya dengan hal itu, " Sungguh?? Dia tidak mengatakan apapun tentangku kepadamu??" tanya nya lagi memastikan.


Dan Balin pun mengangguk kan kepalanya, saat..., " Ah! Tapi... ibu bilang untuk tidak menganggumu, karena kakak sedang dalam pelatihan untuk menjadi ketua klan selanjutnya. Itulah yang dikatakan ibu. " ucap nya pada akhirnya.


Itu hanya alasan. Dalam kenyataan yang dialami oleh Arkan saat berada diposisi Balin, dia tidak mendapatkan pelatihan khusus apapun. Hanya pelajaran sederhana yang harus diterima anak-anak seumurannya, dan sisanya hanya duduk diam dan dilayani seperti anak manja.


" Ngomong-ngomong, kakak... " Lamunan Arkan buyar ketika mendengar itu, ia pun menoleh kearah Balin dengan senyuman lembut seperti sebelumnya. " ..Kita mau pergi kemana?" tanya Balin kepadanya.


Arkan yang mendengar itu tahu, dia belum pernah keluar dari kediaman dan datang ke tempat yang akan mereka tuju saat ini. Dia terus terkurung didalam kediaman dan tidak pernah melihat dunia luar, pasti mengejutkan baginya karena tiba-tiba harus menaiki tangga yang ada dibukit dekat kediaman.


" Kau akan tahu saat melihat nya nanti. Jangan khawatir, ini bukan tempat yang buruk. " Arkan menjawab pertanyaan nya seperti itu.


Mereka melanjutkan langkah kaki mereka menaiki satu persatu anak tangga yang sangat banyak itu, dan saat sampai diatas...


Brukk...


" Hosh.. hosh.. hosh.." Arkan langsung ambruk dengan nafas putus-putus dan sama sekali tak kuat berdiri, " Aku tidak menyangka akan seperti ini, padahal aku bisa berlari satu kilometer tanpa khawatir akan kelelahan seperti ini sebelumnya. Ini gara-gara tubuh anak-anak sialan ini.!" batinnya menggerutu kesal karena hal itu.


" Kakak baik-baik saja??" sedangkan Balin menatapnya khawatir karena hal itu.


Arkan pun mengangkat kepalanya kearah Balin, dia juga kelelahan.. tapi dia sama sekali tidak sama dengan nya yang langsung kehabisan nafas saat sampai. Dia bisa mengendalikan diri dengan baik.


" Tidak apa-apa, ini karena aku sudah lama tidak berjalan jauh saja. " ucap Arkan sambil mencoba untuk tersenyum, ia pun bangkit kembali dan berjalan ke sisi bukit itu.


Melihat nya yang berjalan kesana, tantu saja... Balin juga mengikutinya. Ia khawatir dengan keadaan Arkan, namun segera setelah ia sampai dipinggir bukit. Perhatian nya teralihkan, dengan pemandangan yang bisa ia lihat dari sana.


Pemandangan kota dan hutan yang bisa terlihat luas disana, membuat kedua mata Balin berbinar.


" Cantik.. " ucapnya terkagum-kagum.


" Benarkan? Kau bisa melihat nya selalu jika kau datang kemari, tapi jika kau datang pagi hari kau harus berhati-hati. Itu karena jalannya jadi tertutup kabut, tapi matahari terbit akan terlihat sangat bagus disini. " ucap Arkan menimpalinya dengan penuh semangat.


" Benarkah? Aku boleh datang dan melihat matahari terbit disini??" tanya Balin yang kelihatan sangat bersemangat, apalagi saat Arkan menganggukan kepalanya.


Arkan senang bisa merasakan kebersamaan dengan saudaranya seperti saat ini, meskipun ini hanya ilusi semata. Ia menikmati angin hangat yang berhembus menerpa wajahnya disela pemandangan alam yang hijau didepan nya. Seketika ia pun ingat dengan teman-teman nya didunia nyata..


" Mereka baik-baik saja kan? Perbedaan waktu dunia ilusi dan dunia nyata juga dipisahkan, jadi harusnya sekarang baru berlalu beberapa menit sejak aku menceburkan diri ke mata air kehidupan. " lagi-lagi ia tenggelam dalam lamunannya sendiri.


Sementara disebelahnya, Balin yang saat ini menjadi adiknya masih diam terkagum-kagum dengan pendangan yang ada dihadapannya. Tapi itu tidak berlangsung lama, saat...


Duk..!


" Akk?!"


Seseorang baru saja melemparinya dengan batu, tepat mengenai kepalanya. Dan dari seberang sana, ia melihat tiga anak-anak lain yang menertawakannya karena hal itu.


" Ahahaha... Lihat idiot itu. "


" Kau lihat ekspreksinya tadi, lucu sekali."


" Oi, idiot. Apa yang kau lakukan disini? Kau harusnya tetap bersembunyi selamanya dilubang seperti tikus pengerat. "


" Ahahaha..."


Mereka menertawakannya karena dia dikucilkan diklan, dan karena dia tidak pernah melangkahkan kakinya keluar dari kediaman. Mereka semua meremehkannya. Tantu saja dia kesal mendengar itu, terlihat jelas dimatanya karena anak-anak masih belum tahu cara menyembunyikan perasaannya.


Dan karena hal itu juga, salah satu dari mereka jadi balik kesal kepadanya...


" Hah?? Apa?? Kau kesal, kau ingin melemparku dengan batu juga? Dasar idiot tidak tahu diri!" ucapnya kepada Balin dan melemparkan batu lainnya padanya.


Balin yang melihat itu tidak bisa menghindar, jadi ia menyilangkan kedua tangannya didepan wajahnya. Sambil menutup kedua matanya, bersiap manahan rasa sakit.


Tap...