Quennevia

Quennevia
Segera Berakhir...



[Season 2]


Beberapa saat sebelum nya, Ethan dan yang lainnya masih berjalan dilorong es yang ada di hadapan mereka. Sampai mereka menemukan sebuah sarang... Lebih tepatnya ruangan besar didepan jalan yang mereka lalui.


Dan disana lah mereka melihatnya..


Seekor ular yang benar-benar besar, bahkan tidak bisa mereka bandingkan dengan ular raksasa yang pernah mereka temui sebelum nya.


" Besar sekali.." bisik Arkan dengan spontan ketika melihat nya.


Yah, makhluk itu lebih besar dari yang ia bayangkan. Karena itulah ia terkejut.


" Ethan, bagaimana kita akan meminta air matanya??" tanya Meliyana pula juga ikut berbisik.


" Bukankah dia sedang tidur?? Apa boleh kita membangunnya?" bahkan Niu juga ikut bicara.


Tapi Ethan menggelengkan kepalanya menanggapi itu, " Tidak. Dia sudah bangun." jawabnya.


Membuat teman-teman sedikit terperangah mendengar itu. Mereka mungkin tidak terlalu memperhatikan nya, tapi Ethan bisa melihat dengan jelas kalau mata ular itu terbuka dengan redup. Alasan kenapa dia tidak merasakan kedatangan mereka mungkin karena dia memang tidak berpikir akan ada yang datang menemukannya disana.


Ethan sendiri sebenarnya tidak tahu harus bagaimana, tapi hal pertama yang ia lakukan adalah berjalan lebih dekat.


" Ethan..?" panggil Oscar padanya, namun Ethan hanya memberikan kode kepadanya untuk tetap ada disana. Karena itu, yang mendekati ular itu kini hanyalah dia seorang.


Dan ditengah langkahnya itu, ia pun kemudian buka suara. " Akhinya kami menemukan mu."


Suaranya yang muncul disana, berhasil menarik perhatian ular raksasa itu. Ular itu membuka matanya lebih lebar dan menatap Ethan yang berjalan mendekat kearahnya dengan mata besar nya.


Ethan bisa merasakan kebingungan yang ia rasakan, tentu saja dia pasti tidak berpikir kalau akan ada manusia yang bisa masuk ke dalam es itu.


" Nama julukanmu adalah 'Jhormungand', nama lainnya yang juga merupakan nama dari ras-mu adalah 'Hydria', dan nama aslimu... Adalah 'Kharainza'." ucap Ethan pula lanjut bicara.


Sang ular yang mendengar nama itu darinya pun perlahan mengangkat kepalanya sedikit lebih tinggi, dan ia menyipitkan matanya dengan tajam, kemudian bertanya...


['Kau ini... Siapa?'] suaranya terdengar besar mengisi ruangan disana.


Sementara itu, Ethan hanya tersenyum kepada ular itu. Dan ia pun memperkenalkan dirinya, " Namaku Ethan Sanchez Sheillaveteos, Putra Mahkota dari Foldes."


['Foldes..??'] ular itu nampaknya sedikit terkejut, itu adalah nama yang sudah lama tidak ia dengar.


['Kenapa Putra Mahkota nya Foldes ada didunia seperti ini?]


" Tentu saja untuk menemuimu." sahut Ethan kemudian.


['Menemuiku? Untuk apa?']


" Aku membutuhkan air matamu, Kharainza."


Ethan benar-benar berterus terang dengan keinginannya.


Tanpa bertele-tele lagi, ia langsung mengatakan nya. Sampai-sampai membuat teman-teman nya sendiri tercengang mendengar kejujuran nya.


Kharainza juga tidak menjawabnya untuk beberapa saat, dia hanya terdiam sambil memandangi Ethan dengan serius. Saat tak lama kemudian ia menutup kedua matanya dan terlihat seperti menghela nafas.


['Itu bukanlah hal yang sulit kuberikan, asalkan kau memberi imbalan yang pantas. Tapi sayangnya aku tidak bisa lagi meneteskan air mata, jadi lebih baik kau menyerah saja.'] ucap Kharainza menimpali.


Jawabannya itu membuat Oscar dan teman-teman nya yang lain jadi sedikit kecewa, bagaimana pun mereka tidak bisa pergi dengan tangan kosong setelah datang ke tempat ini.


Tapi Ethan hanya terdiam dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.


['Kau bisa mencari ular lain untuk menangis untuk mu, jadi pergilah.'] Kharainza pun juga mengusirnya dengan baik-baik.


Tapi... " Bukankah kau terlalu acuh?" Ethan tidak berniat pergi begitu saja hanya karena jawaban seperti itu. " Bagaimana pun kau hidup hanya karena Putri Empat Dunia mengasihanimu, bukankah ini waktunya bagimu untuk membalas kemurahan hatinya?" dia berkata dengan ekspresi gelap.


Sementara dibelakang teman-teman merasakan firasat buruk..


" Ethan, hentikan. Ayo kita bicara dulu." panggil Arkan, yang sama sekali tidak digubris oleh Ethan.


Karena itu, Kharainza juga jadi menyadari keberadaan mereka. Namun ia tetap fokus kepada Ethan yang ada di hadapan nya, ['Kau mulai tidak sopan'.] dan ia mengkerutkan wajahnya terlihat tidak senang dengan ucapan Ethan.


" Apa? Bukankah itu benar?" ucap Ethan lagi, ia memiringkan kepalanya dan menatap ular di hadapan nya dengan ekspresi dingin. " Aku sudah pernah bilang padamu, jika kau tetap seperti ini kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan." lanjutnya.


['....Apa yang kau maksud?']


" Padahal dunia sedang kacau balau, kau malah pergi meninggalkan tugasmu. Bukankah itu demi mengejar wanita yang sudah mati?."


['Memangnya apa yang kau tahu--... Tunggu. Sekarang aku ingat.'] Kharainza kini sedikit menurunkan kepalanya dan mendekati Ethan yang kembali tersenyum padanya. ['Apa itu kau? Kupikir itu hanya nama yang secara tidak sengaja sama, tapi siapa lagi yang punya kekuatan seperti ini selain dirimu, Matahari?.'] ucapnya.


['Apa yang ingin kukatakan padamu tetap sama. Itu bukan karena aku tidak ingin membantu, tapi aku benar-benar tidak bisa meneteskan air mata lagi.'] ucap Kharainza kemudian menjelaskan situasinya.


Sementara itu, Ethan yang mendengar itu terlihat memikirkan nya. " Hm... Sejak kapan pastinya?" dan ia bertanya.


['Kita lihat. Kurasa.... Sudah lebih dari 10.000 tahun.']


" Itu sangat lama, huh."


Itu benar-benar bukanlah waktu yang singkat, itu mungkin terlalui dengan mudah karena Kharainza tertidur disebagian besar waktu nya. Tapi itu tidak mengubah kenyataan.


Ethan bertanya-tanya, apakah dia tidak bisa menangis karena air matanya kering atau karena dia tidak merasakan perasaan apapun.


Tapi.. Bagaimana pun mereka membutuhkan air mata yang paling murni, yang mengandung semua perasaan milik ular itu. Kalau seperti itu masalahnya... Mereka mungkin bisa mendapatkan benda apa yang mereka butuhkan tanpa harus bertarung.


Ethan melebarkan senyuman nya memikirkan itu, " Apakah kau masih ingin menjadi manusia? Berapa banyak orang yang sudah kau makan? 10 orang? 100? 1000?" dan ia pun menanyakan hal itu.


['Kenapa kau malah tiba-tiba bertanya soal itu?'] Kharainza balik bertanya kepadanya.


Dia menatapnya dengan bingung, begitu pula teman-teman dibelakang sana. Sementara Ethan hanya tersenyum lebar merencanakan sesuatu dalam kepalanya.


****


Ditempat Quennevia saat ini...


Mereka masih ada didalam piramida es, Sakura masih harus menyerap kekuatan nya dengan benar agar tubuhnya tidak rusak. Karena itu, Yue memberikan beberapa arahan padanya. Sementara hanya Quennevia menatapnya dalam diam.


Tidak lama lagi... Semuanya akan siap.


" Dia mempraktekannya dengan sangat baik, tubuh nya dan kristal itu hampir bersatu sepenuhnya." batin Yue ketika ia memperhatikan.


Setelah mengatasi masalah kepercayaan dirinya dan juga hatinya, Sakura mampu beradaptasi dengan mudah dengan kekuatan itu. Yue jadi merasa kalau mungkin saja dia memang bisa mengendalikan energi dalam dirinya bahkan sebelum ia mendapat kekuatan dari kristal itu.


Yah, itu wajar mengingat dia adalah mantan assasin. Mengendalikan emosinya, mengendalikan nafsu, mengendalikan hawa keberadaan, dan mengendalikan nafasnya. Hingga tidak bisa dirasakan oleh siapapun.


Yue pun kemudian menoleh kearah Quennevia dibelakang nya sekarang, ia kini menutup kedua matanya terlihat menantikan sesuatu. Sebelumnya dia sedikit ragu, tapi.... Sepertinya kekuatan ini sebagai ia ciptakan hanya untuk Sakura.


Kalau begitu, apakah Quennevia sebelumnya bangkit dalam diri Nevia? Itu menjelaskan mengapa benda seperti ini bisa ada disini dan bagaimana Nevia menemukan tempat ini. Satu-satunya situs dewa yang paling terhubung dengan alam semesta.


Karena itu, kesimpulan dari mengapa mereka ada disana sangatlah mudah.


" Sakura adalah salah satu roda gigi yang hilang dari jalan takdir."


Yue mengambil kesimpulan itu setelah mempertimbangkan situasi dan bukti, bahwa semua hal yang mereka cari ditemukan dengan mudah segera setelah mereka menemukan Sakura.


Lamunan Yue buyar ketika ia melihat Sakura mulai membuka matanya, energi itu telah terserap kedalam dirinya dengan sempurna.


Sakura yang telah mendapatkan kembali kesadaran nya pun kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Yue.


" Yue.."


" Kau sudah sadar? Baguslah, kau melewatinya dengan baik." ucap Yue sambil tersenyum kepadanya.


Sakura yang mendengar itu pun merasa lega dan balas tersenyum kepadanya, saat kemudian mereka merasakan kembali getaran ditempat itu. Membuat mereka berdua terkejut, dan langsung menoleh...


" Ap-.. Kakak?!"


" Master??"


Mereka melihat Quennevia mengulurkan tangannya diudara ketika getaran itu berlangsung. Benar, itu karena dia yang melakukan nya.


Ketika itu, lantai mulai bersinar dengan cahaya kebiruan, dan perlahan membuat semua yang ada disana memudar. Sakura bertanya-tanya dengan kebingungan dengan apa yang ia lakukan, tapi Yue...


" Master.. Apakah.. Apakah kau akan menghapus situs ini??" dia menyadari itu.


Benar, Quennevia berniat melakukan itu. Piramida es ini adalah salah satu bagian dari penciptaan pertama dunia ini, dan dia menyimpan kekuatan yang begitu besar. Jika ada orang lain yang datang kemarin... Semua kekuatan itu bisa saja lepas dan menghancurkan dunia.


Atau mungkin akan mengubah sistem tatan dunia ini.


Karena itu... Quennevia merasa kalau keberadaan nya tidak lagi diperlukan didunia ini.


Ssshhh...


Cahaya itu sekarang telah menutupi semua yang ada disana, piramida itu bahkan terlihat bersinar dibagian luar. Ketika bagian per bagiannya mulai terurai seperti udara tipis. Mereka perlahan berkumpul menjadi sebuah bola kecil diudara, dan segera setelah semuanya menghilang. Bola itu langsung meledak dengan suara nyaring yang cukup kencang..


Piinggg..!!