Quennevia

Quennevia
Perhatian Quennevia



Sementara di taman, Ethan sudah sampai di sana namun ia benar-benar tidak menemukan Quennevia di sana, ia pun memilih untuk duduk saja di kursi bawah pohon tempat Quennevia sebelum nya berada. Dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa memenuhi janjinya.


" Aku ini benar-benar bodoh, tidak mungkin dia masih di sini sampai malam seperti ini. " gumam Ethan tersenyum kecut.


Ethan menyandarkan dirinya di kursi itu, dia tidak bisa memikirkan bagaimana Quennevia setelah ini, dia pasti benar-benar marah pikirnya. Ia menutup matanya ketika angin malam menerpa nya, rasanya dingin namun ia tidak berniat pergi dari sana.


" Ethan.... Ethan... "


Suara seseorang yang memanggil nya itu membuat Ethan membuka matanya, dan di depan nya itu.. Quennevia berjalan ke arahnya dengan raut khawatir seperti itu.



" Ethan. " panggil Quennevia lagi.


" Quennevia, kau disini. " ucap Ethan merasa senang.


" Bodoh, apa yang kau pikiran dengan pergi ke tempat ini saat kondisi mu seperti itu. " ucap Quennevia pula agak marah.


" Kupikir kau mungkin masih di sini, aku minta maaf padamu. " sahut Ethan sambil menatap Quennevia yang ada di depannya itu, " Kau membuka cadar mu, cantik sekali. " ucapnya pula.


Mendengar itu membuat Quennevia tersipu, ia memang membuka cadar nya saat mencari Ethan ke teman. Quennevia pun mengulurkan tangan kepada Ethan yang ada di sana sambil tersenyum.


" Ayo, pergi. Kali ini aku yang akan mengantar mu. " ucap Quennevia.


Ethan pun tersenyum dan menerima uluran tangan itu dengan senang hati, " Iya. " ucapnya.


Mereka pun pergi dari taman itu bersama, dengan Quennevia yang memapah Ethan untuk kembali ke asrama nya. Dan dalam perjalanan kembali itu mereka pun bertemu dengan Oscar dan yang lainnya, akhirnya mereka pun kembali bersama-sama.


- Besoknya.


Saat Ethan membuka matanya, dia masih ada di kamar Asrama nya yang biasanya, ia masih ingat kalau Quennevia yang mengantarkan nya ke sana kemarin. Namun saat ia bangkit dari tidur nya ia dikejutkan dengan Quennevia yang ternyata masih ada di sana, tangah tidur di kursi samping nya sembari memegangi tangannya.


" Kenapa.... Dia masih di sini??. " ucap Ethan yang kebingungan.


" Aha... Dia disini semalam. " sahut Oscar berjalan ke arahnya, " Kami tidak bisa membuatnya pergi, jadi hanya bisa memberikan nya selimut agar tidak kedinginan. " lanjutnya sambil melirik Quennevia yang tengah tidur itu.


" Begitu ya. " gumam Ethan.


" Seperti nya dia juga yang sudah mengobati lukamu semalaman, bagaimana keadaan mu sekarang??. " tanya Ryohan pula.


Ryohan ingat saat terbangun malam itu, ia melihat Quennevia masih belum tidur ketika menggenggam tengah Ethan. Tapi ia melihat sebuah cahaya hijau dari tangan Quennevia, yang mungkin adalah cahaya dari sihir penyembuhan, dan luka-luka ditubuh Ethan juga kelihatan membaik.


" Em... Ya, kurasa lebih baik, tidak ada rasa sakit seperti sebelumnya juga. " jawab Ethan, ia tidak menyangka kalau Quennevia akan menyembuhkan nya semalaman.


" Hee.... Aku iri padamu. Bagaimana rasanya di perhatikan oleh seorang gadis cantik, Ethan. " ucap Arkan.


" Apa maksud mu, kau tidak perlu iri. Bukankah kau sedang mengejar Meliyana. " sahut Ethan.


" Tapi dia tidak se-perhatian Quennevia, dan seperti nya dia sudah memiliki orang yang disukai nya. Aku malah jadi penasaran bagaimana hubungan kalian yang sebenarnya. " jawab Arkan pula.


" Hm... Hubungan kami... Biasa saja. " jawab Ethan pula tidak tahu harus berkata apa.


Iya,nitulah yang terjadi di anatara mereka, namun seperti nya ada sesuatu yang mengganjal bagi Ethan.


" Apa?? Dia perhatian seperti itu, masa kalian hanya berteman saja. " ucap Ryohan pula ikut bicara.


" Iya, apa kau tidak punya perasaan khusus atau apa gitu??. " tanya Oscar pula.


" Em... Entahlah, terkadang aku merasa tidak pentas berada di samping nya. Kau tahukan dia itu agak.... Spesial. " sahut Ethan.


Mereka juga berpikir seperti itu sih, tapi apa Ethan tidak berpikir kalau Quennevia juga menyukai nya, Quennevia itu sangat perhatian kepada dirinya. Lamunan mereka pun buyar ketika suara seseorang tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka.


" Kalian membicarakan apa??. " tanya Quennevia yang sudah bangun dari tidur nya.


" Ah, bukan apa-apa. Ngomong-ngomong Terima kasih kau sudah mengobati ku. " sahut Ethan mengalihkan pembicaraan.


" Huh, itu karena kau selalu ceroboh melakukan segala hal. Jika Everon disini dia pasti akan mengejek mu habis-habisan. " jawab Quennevia pula.


" Kau terlambat, aku sudah memberitahu nya. Begitu juga apa yang kau lakukan saat perpisahan kita 5 tahun lalu. " ucap Quennevia tersenyum jahil.


" Memangnya apa yang dia lakukan??. " tanya tiga orang disana pula.


Sementara itu Ethan tengah mengingat-ingat apa yang dimaksud oleh Quennevia, dan saat ia kembali mengingat nya kembali, dia malah jadi terbayang ekspresi Everon saat mendengar nya, itu membuatnya merinding.


" Ke... Kenapa kau memberitahu nya?!. " ucap Ethan dengan sangat panik.


" Itu karena dia adalah ayah baru ku. " jawab Quennevia santai.


" Hah? Sejak kapan Everon jadi ayah mu??. " tanya Ethan pula dengan bingung.


" Sejak aku jadi putri angkat nya bersama ibu Emilia. "


" Jadi kau punya dua ibu dan dua ayah??. "


" Kenapa kau iri??. "


Mereka berdua malah berdebat sendiri sementara yang lainnya terlupakan, mereka bahkan tidak bisa ikut dalam perdebatan mereka. Karena tidak ada satupun yang tahu siapa yang mereka sebutkan itu.


******


Sedangkan di arena, Niu, Yuki dan juga Meliyana sudah ada di sana untuk menonton pertandingan hari ini, sambil menunggu kedatangan yang Quennevia dan yang lainnya juga. Mereka sempat khawatir karena Quennevia tidak pulang ke asrama, jika saja Yue tidak memberitahu mereka kalau Quennevia baik-baik saja, meraka pasti sudah mencari kesana kemari.


" Hm.... Kira-kira dimana Quennevia tidur ya, dia tidak pulang semalam. " ucap Niu sambil berpikir dengan serius, masalahnya karena Yue tidak memberitahu dia ada dimana makanya mereka bingung.


" Kuharap dia tidak tidur diluar, dia bisa masuk angin. " sahut Meliyana pula sana serius nya dengan Niu.


Sebaliknya Yuki hanya menatap mereka datar, " Jangan khawatir seperti itu, dia bukan anak kecil. " ucapnya pula kepada mereka.


" Tentu saja kami khawatir!. " ucap keduanya pula meneriaki Yuki.


Sedangkan Yuki menatap mereka bingung, memangnya Quennevia orang yang bisa mereka khawatir kan seperti itu. Yuki tak habis pikir harus sekamar dengan dua orang yang sangat menempel kepada Quennevia seperti mereka.


" Oh, kalian sudah di sini rupanya. " ucap Ethan pula yang baru sampai, membuat mereka mengalihkan perhatian kepada nya.


Ethan baru saja sampai bersama teman-teman sekamar nya, juga Quennevia yang terus digenggam tengan nya oleh Ethan.


" Tunggu, kau harusnya beristirahat dulu. " ucap Niu sambil menghampiri mereka.


" Hm... tidak ada luka, tidak ada bau darah. Apa kau pura-pura terluka??. " ucap Meliyana pula yang terus memperhatikan nya.


" Apa?? Tentu saja tidak, ini semua berkat Quennevia yang mengobati luka ku. " sahut Ethan.


Meliyana hanya mengangguk mendengar itu, kemudian mereka pun duduk ditempat mereka di sana. Saat perhatian Ethan teralihkan kepada Jino dkk di samping tempat mereka, kebetulan sekali kali ini mereka duduk berdekatan.


" Halo, Senior. Kebetulan sekali kita duduk berdekatan seperti ini. " sapa Ethan kepada Jino dkk.


" Ah, kau rupanya. Bagaimana dengan luka mu??. " sahut Jino.


" Oh, sudah lebih balik. Malahan sudah hampir sembuh. " ucap Ethan pula sambil menggerakkan tangannya.


" Syukurlah kalau begitu. " ucap Jino pula.


Ia dan teman-temannya pun sedikit tersentak ketika melihat Quennevia yang melirik ke arah mereka, tapi kemudian Quennevia pun kembali melihat ke depan sana. Seperti nya mereka agak trauma setelah apa yang dilakukan oleh Quennevia sebelumnya.


" Rasanya... dia seperti sedang memperingati kita. " batin Arden.


" Seperti nya dia mengatakan 'jangan beritahu siapapun tentang kejadian semalam' seperti itu. " batin Jino.


" Dia gadis yang menakutkan. " batin Sayles.


" ......... " batin Kian pula.


Mereka sangat tertekan karena hal itu. Beda halnya dengan Ethan dan teman-temannya yang lain yang tersenyum tidak tahu apapun.