Quennevia

Quennevia
Cerita anak-anak



[Season 2]


" Kami menembak mereka." saat kemudian Meliyana mengatakan itu dan membuat suasana disana berubah dingin.


Semua orang (- Ethan dan Yuki) menatapnya tercengang mendengar apa yang baru saja ia katakan, Niu, Oscar dan Arkan terkejut karena mereka diganggu sampai harus melakukan itu. Meskipun Arkan sendiri menang menggunakan nya, tapi dia hanya menggunakan untuk mengancam, bukan menyerang.


Sementara bagi Yukio dan yang lain, mereka hampir tidak percaya kalau dia akan melakukan itu, bagaimana bisa wanita manis sepertinya mengatakan hal yang begitu serius dengan sangat santai.


Meliyana sendiri, ia yang melihat mereka menatapnya dengan aneh bertanya-tanya dengan sebelah alis yang terangkat. " Kanapa kalian menatapku seolah aku ini makhluk aneh??" tanyanya.


" Kau benar-benar menembaknya? Apa ada yang mati?" tanya Niu memastikan itu.


" Hah? Tidaklah, yang kami tembak paling kaki, tangan, atau bahu saja." sahut Meliyana pula mengklarifikasi hal tersebut, membuat yang lainnya menghela nafas lega. Dan... " Tapi mungkin ada yang mati karena apa yang Ethan lakukan." ucapnya pula sambil mengingat itu.


Kembali membuat mereka semua terdiam. Niu yang merasa keheningan itu agak aneh pun berusaha mengalihkan percakapan...


" Ehem. Baiklah, jadi... apa saja yang kalian dapatkan??" tanyanya kepada temannya yang lain, saat kemudian ia mengeluarkan sebuah buku. " Kami dapatkan cerita." ucapnya pula mengangkat itu agar semuanya bisa melihat itu.


" Aku dapat jurnalnya." Arkan pun ikut menimpali dan menunjukkan nya.


" Kami dapat foto yang dimaksud." sahut Yuki.


Ethan yang melihat nya pun kembali tersenyum dan menepukan tangannya, " Kerja bagus. Jadi bagaimana jika kita periksa satu persaru." ucapnya sambil tersenyum cerah.


Teman-teman nya yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya setuju dengan usulan itu. Dan Ethan merasa senang karena mereka sependapat dengan nya.


" Kalau begitu, Yuki. Foto yang kau ambil dulu." ucapnya kemudian.


Ethan mengulurkan tangannya meminta itu, yah, tidak ada alasan untuk Yuki tidak memberikan itu. Tapi sebelum menyerahkannya, Yuki menatap Ethan dengan lekat, membuat Ethan sendiri bertanya-tanya kenapa. Bahkan Meliyana memiringkan tubuh nya agar masuk kedalam pandangannya, dan tersenyum dengan aneh.


Ethan benar-benar bingung dengan mereka, itu sampai ia melihat foto yang dimaksud itu. " Ukh..!." Ethan sangat terkejut dan jadi malu melihat itu.


Bagaimana bisa foto itulah yang mereka temukan, padahal yang dia ingat, foto itu sudah terbakar jadi abu. Sekarang dia tahu kenapa Yuki dan Meliyana jadi aneh. Dan melihat reaksinya yang seperti itu, yang lainnya pun jadi ikut penasaran.


" Mana-mana, kami mau lihat." ucap Arkan.


Ia muncul disamping Ethan dan mendorong tangannya agar sedikit menjauh, dengan begitu semua bisa lihat. Oscar dan Sakura muncul di sisi lain, sementara itu Niu mengintip dari belakang.


Seketika, mereka langsung terdiam.


Sakura memilih tidak melihat nya lagi, sementara itu teman-teman nya yang lain justru mengikuti Meliyana dan menatapnya sambil tersenyum dengan aneh. Ethan benar-benar merasa terganggu dengan itu.


" Ha.. Hahaha... Jangan tatap aku seperti itu, kalian membuatku malu." ucapnya menegaskan perasaannya sendiri.


Tapi Niu yang mendengar itu darinya justru ingin menggodanya agar lebih malu, " Astaga. Aku tahu Ethan itu romantis, tapi aku tidak menyangka kalau jejak keromantisan itu akan tetap ada bahkan didunia lain juga." ucapnya sambil menyikut-nyikut lengan Ethan.


Dan Ethan benar-benar tidak tahan dengan itu, " Hentikan, Niu! Ayo kita lihat saja kode nya." ucapnya dengan ekspresi berkedut seperti habis makan sesuatu yang asam.


Niu hanya terkekeh melihat reaksi lucu itu darinya, sementara Ethan menghela nafas karena nya.


Ia pun kemudian membalik foto itu, dan melihat kode yang tertulis dibelakang nya. " UM, +90°, -30°/9pm, 04/N/P. " ucapnya agar semua orang bisa mendengar nya.


Setelah mendengar itu dari Ethan, semuanya langsung berpikir dengan serius. Tentang maksud dari kode tersebut.. Tapi kelihatan nya tidak ada arti khusus didalamnya.


" Aku tidak bisa menemukan terjemahan yang sesuai, tapi entah kenapa aku merasa familiar." ucap Mamika memberikan tanggapannya pertama kali.


" Sama, aku juga." sahut Sakura menimpalinya.


" Kalau begitu, kita lanjutkan ke petunjuk yang lain." ucap Ethan menengahi itu, " Arkan, apa kau sudah membaca isi jurnalnya?" tanyanya pula kepada Arkan.


" Aku sudah membacanya. Tidak ada yang terlalu spesial, tapi... Quennevia menggambar sebuah pola dalam bentuk diagram garis." sahut Arkan.


Ia membuka jurnal ditangannya dan mencari halaman yang ia maksud. Dan setelah ia menemukan nya, ia memperlihatkan itu kepada teman-teman nya. Itu menang benar, dua sisi halaman dibuku itu dipakai untuk menggambar sebuah pola.


Sementara itu, " Oh. Kurasa aku tahu apa itu." ucap Oscar setelah melihat itu, membuat semua orang beralih menatapnya.


Oscar sendiri, ia mengambil ponsel yang ia bawa dan mencari sesuatu yang ia maksud. " Lihat ini."


Itu adalah foto yang ia ambil diruang bawah tanah pondok saat mereka pergi ke sana. Apa yang Oscar maksud adalah jejak perjalanan Quennevia saat didunia ini, perjalanan ke berbagai kota didunia. Semua kota dalam pin disambungkan menggunakan benang merah.


" Kau benar. Itu benar-benar mirip." ucap Arkan ketika ia mencocokan gambar difoto yang diambil Oscar dan jurnal yang ia ambil.


Itu menyadarkan Niu dari pikiran nya, " Oh. Ini buku anak-anak." ucapnya kemudian.


" Buku anak-anak??" sementara itu yang lainnya terlihat bingung kenapa dia membawa itu, dan apa hubungannya dengan apa yang mereka cari.


Niu bisa melihat arti tatapan mereka dengan jelas, jadi ia pun kembali berkata. " Biar ku jelaskan apa yang aku temukan." ucapnya.


Niu pun mulai membuka halaman pertama dari buku itu, yang mana isinya ternyata ada cerita bergambar. Niu pun menjelaskan.


" Buku ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang tersesat dihutan setelah ditinggalkan oleh orang tuanya. Lalu suatu hari, dia bertemu dengan seekor beruang besar, dan beruang itu menjaganya seperti anaknya sendiri."


Niu kemudian membalik halaman lain nya, cukup jauh, dan ia melanjutkan penjelasan... Em, ceritanya?


" Tapi suatu hari, beruang itu mati setelah berusaha kabur dari pemburu. Anak perempuan itu bersedih karena kematian beruang itu, dan dewi bintang yang melihat itu merasa kasihan kepadanya. Dewi bintang kemudian mengambil salah satu dari beberapa 'bintang paling terang' dilangit, yang merupakan bagian 'dari ibu' kehidupan, dan menghidupkan kambali beruang itu."


Niu kembali membuka halaman-halaman buku itu, dan berhenti dihalaman dimana ada gambar gelap, dan kehancuran, kemudian ada juga sosok makhluk besar dan terlihat bengis didalamnya.


" Lalu kemudian, muncul bencana. Seekor ular bernama 'Jormungand' yang meluluh lantahkan segalanya. Seekor ular dengan nama asli 'Hydreia', yang merindukan pemiliknya yang tidak pernah kembali, muncul sebagai penjahat. Dia mencoba menelan anak perempuan itu, tapi sang beruang melindunginya. Mereka bertarung, dan cerita berakhir dengan sang ular yang kalah. Sementara beruang dan gadis itu hidup bersama dengan bahagia."


Itu adalah akhir dari ringkasan cerita yang ia bacakan kepada teman-teman nya, mereka semua terlihat memikirkan nya dengan seksama. Yah, jika dipikirkan tidak ada yang terlalu spesial, itu hanyalah cerita biasa. Namun sepertinya ada yang disisipkan disana.


Niu yang melihat mereka tidak kunjung mengatakan apapun hanya menghela nafas, menang benar mereka tidak akan mengerti begitu saja karena tidak memperhatikan lebih spesifik cerita itu.


Ia pun kemudian berkata, " Ada sebuah kata, dalam cerita ini yang menurutku tidak asing. Itu adalah kata 'Bintang paling terang dari ibu'. Itu mirip dengan penggalan kalimat dari ramalan yang kutemukan didunia bawah sebelum nya." ucapnya.


" Apa?? Kau ingat ramalannya??" tanya Arkan setelah mendengar itu.


Dan diangguki oleh Meliyana, " Iya, Niu mengatakan nya. Kalau tidak salah isinya . Seperti itu." ucap Meliyana menerangkan nya.


Dan Niu membenarkan hal itu, " Benar. Lalu, ular yang dijelaskan dalam buku ini, aku tahu kalian pasti berpikir itu bisa saja lumrah karena mitos Jormungand juga eksis didunia ini. Tapi, 'hei.. Teman-teman dari dunia lain', apakah kalian sadar kalau kisah singkat ular ini mirip dengan ular yang kita cari??" ucapnya dengan kata-kata seolah menegaskan kalau teman-teman lemot mencerna informasi.


Karena itu mereka (-Ethan) jadi menarap nya dengan ekspresi datar, sementara Niu hanya mendengus sebal.


" Disamping itu, lihatlah nama penulis buku ini." ucap Niu kemudian, ia belum selesai. " Disini tertulis nama Viena Zickrea." Niu menunjukkan nama itu kepada mereka.


" Jadi... apa yang aneh dengan itu??" tanya Arkan kemudian dengan wajah malas.


Membuatnya memancing Niu memukulnya dengan buku itu.


Bukk!


" Sakit!." ucap Arkan mengaduh kesakitan.


Tapi Niu tidak peduli, ia kembali menunjukkan nama itu. " Jika Kalian melihat nya sekilas, tidak ada yang aneh, sama dengan cerita itu. Tapi mari kita perjelas, kita akan coret nama belakangnya karena itu hanyalah nama samaran. Perhatikan nama depannya..."


Niu menerangkan itu dengan benar-benar detail, membuat teman-teman nya berpikir dia akan cocok bekerja menjadi seorang profesor di Akademi.


" Lihat ini, Viena. Ini adalah sebuah Anagram." ucap nya.


" Anagram??" ulang Lucy mendengar itu.


" Benar, coba kalian acak dan susun kembali. Kemudian temukan nama asli si penulis buku ini."


Mereka melakukan nya, sesuai apa yang dikatakan oleh Niu. Mereka menyusun kembali huruf-huruf dari nama itu untuk membentuk kata yang baru, ada beberapa nama yang tercipta setelah mereka melakukan nya. Dan salah satunya adalah...


" ...Nevia?!!" Mereka tidak bisa tahan untuk tidak terkejut ketika mengetahui itu.


Sementara Niu yang mendengar mereka telah mencapai ke titik itu tersenyum, " Benar, penulis asli dari buku ini.. adalah Nevia." ucapnya.


Mereka semua benar-benar sangat terkejut, tidak ada satupun yang tahu... Tidak, tidak ada satupun yang berpikir kalau Nevia akan menulis sebuah buku cerita seperti itu.


Meski begitu, tentu saja tidak ada yang meragukan soal kasih sayangnya kepada anak-anak polos. Jadi, ya bisa saja. Dan buktinya memang ada di depan mereka saat ini.


" Huhu.. Jadi, seperti itu." saat kemudian semua orang teralihkan ketika Ethan berkata demikian, semuanya menatapnya. Sementara itu Ethan menatap kode di foto yang ia pegang kemudian berkata, " Kurasa aku tahu kode apa ini." ucapnya.


Mendengar itu membuat yang lainnya bersemangat. " Benarkah?! Apa yang kau ketahui?" tanya Meliyana yang sangat penasaran dengan itu.


Sementara itu, Ethan mengalihkan pandangannya kepada Quennevia yang terus menarap keatas didepan sana, " Jawabannya adalah apa yang Quennevia lihat sejak tadi." ucapnya.