
Besok paginya.
Pagi-pagi sekali Quennevia sudah dibangunkan dari tidur nyenyak nya, hanya untuk berlari berkeliling sebagai pemanasan untuk latihan nya. Orang pertama yang mengajari nya adalah... Zeze, sang Pegasus malam.
" Ayo semangat, Queen kecil!. " teriak nya menyemangati Quennevia.
Zeze hanya duduk diam disana, sambil berteriak-teriak menyemangati nya. Padahal Quennevia sedang bersusah payah untuk berlari di sana.
" Mau sampai kapan aku berlari?!!. " jerit batin Quennevia.
Quennevia tidak bisa lagi menghitung berapa banyak ia sudah berlari, rasanya Zeze tidak memberikan nya waktu untuk beristirahat sebentar saja.
" Oke berhenti, Queen kecil!!. " ucap Zeze pula secara tiba-tiba.
Quennevia yg mendengar itu saat sedang melamun jadi terkejut dan berhenti mendadak, hingga pada akhirnya ia tersandung oleh batu dan jatuh.
" Ah?!!. "
Brukk....
" Queen kecil, kau baik-baik saja??. " ucap Zeze sambil menghampiri nya.
" Uhh... " Satu-satunya tanggapan Quennevia yang masih diam di tempat nya. " Bisakah aku beristirahat sejenak, aku lelah. " pintanya.
" Hmm... Coba kupikir-pikir dulu, tidak boleh. " sahut Zeze sambil tersenyum cerah, tapi malah terlihat menyeramkan bagi Quennevia.
" Queen kecil, bukankah ibumu sudah bilang kalau latihan bersama kami akan menyenangkan, jadi kau hanya perlu mengikuti saja. Tidak perlu khawatir... Ini hanya pemanasan, dan selanjutnya latihan kita yang sebenarnya. " jelas Zeze panjang lebar.
Sebenarnya masih banyak yang ia katakan, hingga Quennevia rasanya sedangkan belajar sejarah pembentukan Kekaisaran dari buku yang sangat tebal, pelajaran yang paling ingin ia hindari.
Akhirnya setelah menjelaskan dari A-Z, Zeze pun mulai mengajari Quennevia tentang sihir kegelapan, yang memang sudah hal yang seharusnya diajarkan oleh Zeze padanya.
*****
Hari berikutnya, saat nya bagi Quennevia untuk belajar beberapa teknik dari Aqua, dia sudah ada di depan danau dekat air terjun untuk menunggu gurunya muncul disana.
" Hai, Hai. Queen kecil ku, apa kau sudah menunggu lama??. " ucap Aqua saat muncul dari dalam air.
" Bibi Aqua, apa kau memang selalu ada di dalam air??. " tanya Quennevia.
" Haha... Kan memang rumah ku ada di dalam air, Queen kecil. Tapi kadang-kadang aku juga tinggal bersama Zeze. " sahut Aqua.
" Pantas saja. " ucap Quennevia pula.
Saat pertama kali muncul Aqua juga keluar dari air, tapi saat berkumpul dia keluar dari air dan merubah ekor nya menjadi kaki. Jadi dia benar-benar bisa hidup di darat dan air, hmm.. hm.. Ikan duyung memang hebat.
" Sekarang... Ayo mulai latihan kita, pertama-tama masuklah ke dalam air. " ucap Aqua pula.
" Hah?? Masuk.. Ke dalam air??. " ucap Quennevia mengulangi perkataan Aqua dengan bingung.
" Iya, melompat lah masuk ke dalam sini. " ucap Aqua sambil menepuk-nepuk permukaan air dan tersenyum.
Quennevia sama sekali tidak paham, tapi dia tetap melakukan nya. Beberapa saat setelah ia masuk ke dalam air sambil ia menatap langit di atasnya, ia mengambang di atas air seperti sebuah daun pohon yang jatuh ke sana. Semantara itu, Aqua menjelaskan apa yang akan ia pelajari darinya.
" Haahh..... Langit nya cerah sekali... " batin Quennevia.
" Queen kecil. Queen kecil, apa kau mendengarkan ku??. " tanya Aqua sambil menusuk-nusuk pipi Quennevia.
" Iya bibi, aku mendengar mu. " sahut Quennevia.
" Bagus. Nah, kalau begitu cobalah rasakan aliran airnya, suara, tekanan dan juga tentukan benda-benda yang ada di dalam sana. " ucap Aqua pula.
Quennevia pun mulai menutup matanya, ia mengikuti semua instruksi dari Aqua, dan akhirnya ia mengerti apa maksud nya. Dirinya harus bisa memahami teknik pengendalian air, berarti ia harus bisa lebih dekat dengan air itu sendiri. Disamping itu ia juga bisa melihat apa yang ada di sekitar danau itu melalui air.
Aqua yang melihat nya pun juga sangat bangga padanya, baru pertama kali belajar pun Quennevia bisa menguasai nya, itu artinya tidak akan lama lagi hingga Quennevia bisa mempelajari semua teknik pengendalian airnya, huhu.... Tapi tidak sekuat miliknya juga, sih.
Hari kedua pembelajaran Quennevia, berakhir dengan lancar sama seperti hari pertama.
******
Lalu hari ketiga pun tiba, dan dihari itu ia belajar bersama dengan Azel, si Raja Burung Elang.
" Sekarang, kita mulai saja pelajaran nya. Pertama-tama apa kau punya sayap spirit?? Jika kau punya tunjukkan lah. " ucap Azel.
" Baik. " sahut Quennevia dengan semangat.
Ia pun menutup matanya, dan sayap miliknya pun muncul. Tapi sayapnya yang sekarang berbeda dengan sebelumnya, sayap naga nya berubah menjadi seperti sayap burung merpati putih.
" Hoo.. sayap yang sangat cantik. " ucap Azel terpesona, tapi juga ada yang mengganggu nya. " Kenapa ia punya empat pasang sayap, bukankah orang biasa hanya bisa punya dua, apa mungkin dia.... " batin Azel.
Tapi sebenarnya bukan hanya Azel yang terkejut, tapi juga Quennevia sendiri.
" Heehh?? Kenapa bisa begini, kenapa sayap naga ku berubah??. " tanya Quennevia dengan raut yang kecewa sekaligus bingung.
" Iya, aku mengekstrak darah Everon agar bisa memiliki sayap seperti nya, tapi kenapa malah berubah seperti ini, dan lagi ada 4." jelas Quennevia seperti hendak menangis seperti anak kecil.
" Jangan khawatir, tidak akan ada masalah dengan itu. Bukankah sayap yang sekarang jauh lebih cantik??. " ucap Azel mencoba menghibur nya.
" Tapi... Tapi jika begitu, aku jadi tidak bisa belajar teknik tebasan sayap naga miliknya. " keluh Quennevia.
" Ah... ternyata karena itu. " batin Azel pula.
Sepertinya Quennevia merasa kalau teknik itu terlihat keren, iya memang sih, bahkan Azel pun juga mengakuinya, tapi jika tidak punya sayap naga pun dia masih bisa mempelajari nya.
" Jangan kecewa seperti itu, kau masih bisa mempelajari nya dengan atau tanpa sayap naga kok. " ucap Azel.
" Benarkah??. " tanya Quennevia yang mulai lebih baik.
" Tentu saja. " jawab Azel, Quennevia pun mengangguk mendengar itu.
" Bagaimana jika sebagai penghibur lain, aku akan mengajarkan teknik yang sangat berguna dari sihir langit??. " tanya Azel pula.
" Apa itu??. " tanya balik Quennevia.
Akhirnya Azel berhasil mengalihkan kegelisahan nya, dia tidak suka melihat Quennevia yang tidak bersemangat seperti tadi.
" Sihir penyembuhan dan juga Enchant." sahut Azel dgn serius.
" Enchant?? Enchant yang seperti apa?? " tanya Quennevia pula.
" Sebuah sihir yang bisa memperkuat orang yang ingin kau perkuat atau dirimu sendiri untuk sementara waktu, kau juga bisa melakukan hal lainnya dengan Enchant. Aku akan mengajarinya bagaimana, kau mau??. " jelas Azel.
" Aku mau. " jawab Quennevia dengan cepat dan penuh semangat.
Baginya itu akan sangat berguna sekali, apa lagi yang mengajarinya adalah ahlinya, dan juga penguasa langit selain yang lainnya.
" Nah, kalau begitu, Queen kecil. Teknik apa dulu yang sudah bisa kau lakukan dengan angin??. " tanya Azel kepada Quennevia.
" Uhh.... Kenapa semua orang memanggilku Queen kecil, sih. " gerutu Quennevia.
" Hoho... Itu karena saat kecil kau memanggil dirimu sendiri Queen, jadi kami hanya menambahkan kecil saja di nama panggilan mu. " sahut Azel.
Mendengar itu membuat Quennevia merona malu, apa dia memang melakukan hal seperti itu. Rasanya ingin ia memukul dirinya sendiri yang masih kecil agar tidak membuat nama panggilan yang aneh.
" Umm... Iya, aku bisa membuat pedang angin. Dan teknik tebasan angin, juga teknik angin penghancur. " jawab Quennevia.
" Oh, aku ingin melihat angin penghancur mu itu. " ucap Azel.
" Baiklah. " sahut Quennevia.
" Cobalah arahkan kepada pohon disana itu. " ucap Azel lagi sambil menunjuk sebuah pohon di depan sana, jaraknya cukup jauh dari mereka.
Tapi jarak seperti itu terlalu dekat bagi Quennevia, jika untuk orang yang punya kemampuan mungkin bisa menahannya, tapi sebuah pohon... Dia agak ragu.
Tapi meskipun begitu ia tetap melakukan nya, Quennevia menunjuk arah pohon itu dengan satu jari. Kemudian ia mengumpulkan kekuatan nya di sekitar jari itu, dan melakukan serangan bertipe angin kearah pohon itu.
Seketika pohon dan beberapa di sekitar belakang nya, juga ikut hancur bersama pohon yang ia serang. Azel cukup terkejut melihat nya, serangan itu cukup untuk menghancurkan sebuah pertahanan level tinggi. Asalkan orang yang menggunkan pertahanan itu orang dengan level di bawahnya, bahkan meski ia pemilik pertahanan terbaik sekali pun.
" Ma.. Maaf, apa aku terlalu berlebihan??. " tanya Quennevia.
" Haha... tidak, tidak. Tadi itu benar-benar sangat luar biasa. " jawab Azel sambil mengelus kepala Quennevia, " Pffttt... Dia mirip kucing. " batin Azel pula.
" Itu serangan yang sangat kuat. " ucap Mice, ia baru saja datang di tempat mereka.
" Tuan Mice, kenapa kau kemari??. " tanya Azel.
" Aha, aku sedikit khawatir dengan Quennevia setelah melihat serangan tadi. " jawab Mice.
" Khawatir??. " ucap Quennevia dan Azel mengulangi perkataan Mice.
Mereka tidak mengerti kenapa dia khawatir, apa dia pikir Quennevia akan terluka karena serangan tadi.
" Iya, soalnya tempat yang kalian jadikan bahan percobaan kalian itu.... " ucap Mice menggantung.
Brakk...
Lalu datang juga seseorang di sana dengan emosi, sampai membuat tanah yang ia pijak jadi retak. Dan itu membuat Azel dan Quennevia terkejut.
" Bocah, kau ingin membunuh ku, ya?!!. " teriak Everon dengan marah.
" Tempat Everon beristirahat. " lanjut Mice untuk ucapannya sebelumnya, padahal sudah terlambat.
" Apa?!!. " teriak Azel pula dengan sangat amat terkejut. " Ti... tidak, itu... Anu... Itu serangan dari Quennevia, aku hanya ingin melihat nya. "ucap Azel dengan panik.
" Benarkan... " ucapnya pula sambil melihat kearah Quennevia berdiri sebelumnya, dan dia sudah tidak ada di sana.
Ia pun beralih kepada Mice yang masih berdiri di sana sambil tersenyum, dan dari belakang nya.. Quennevia mengintip penasaran dengan apa yang akan terjadi. Azel yang melihat nya pun hanya bisa diam tidak percaya.
" Bohong kan?!. " jerit batinnya.
" Hah?!... Kau pikir aku akan percaya, jika itu memang dia pun tidak akan mungkin sekuat itu. " ucap Everon dengan tatapan membunuh.
" Aahhh....!!. " teriak Azel semakin ketakutan.
Hari ketiga itu jadi hari yang bermasalah karena membuat Everon marah.