Quennevia

Quennevia
Keangkuhan sesungguhnya



" Aku tidak membutuhkan nya. " ucap Quennevia dengan wajah datar.


Semua orang langsung terdiam mendengar itu dan menatap kearahnya, mungkin mereka tidak menduga kalau Quennevia akan angkat suara. Tentu saja Quennevia hanya ingin menghentikan debat memusingkan itu, apalagi ayahnya yang ragu-ragu antara keselamatan dan kebahagiaan putrinya.


" Apa maksud anda, putri??. " tanya selir kedua terlihat membuat-buat ekspresi bingung diwajahnya.


Quennevia yang mendengar itu menutup kedua matanya dan tersenyum, " Seperti yang aku ucapkan, bibi Ellise. Aku tidak membutuhkan orang itu. Aku bisa menjaga diriku sendiri." ucapnya dengan santai.


" Adik kedua, tubuhmu saja lemah. Bagaimana jika ada seseorang yang mengancammu??. " ucap Jason pula.


Sementara itu, Quennevia mengangkat sebelah alisnya mempertanyakan ikut campurnya, " Kenapa kau ikut-ikutan sih, biasanya juga kau diam saja, Jason. Kalau seperti ini, sekalian saja aku perlihatkan keangkuhan yang sesungguhnya. " batinnya.


" Kakak pertama tidak perlu khawatir, meski pun aku tidak punya kekuatan, tapi aku masih punya... Otak. " ucap nya disana.


Quennevia melihat nya, orang-orang itu menertawakan nya diam-diam. Iya mereka pasti berpikir hanya dengan kemampuan otak mana bisa selamat dengan mudah. Apalagi melihat keangkuhan yang Quennevia tunjukkan saat mengatakan nya.


" Putri Quennevia, hanya dengan kemampuan otak belum tentu bisa membantu anda." ucap tuan Starvoc, dia menatap Quennevia seolah dia adalah anak yang benar-benar naif.


Tapi Quennevia hanya tersenyum dan kemudian, " Setidaknya aku punya otak untuk berpikir. " dia mengatakan hal yang cukup sarkas.


Hal itu langsung membuat semua orang terdiam karena terkejut, dan nampaknya jawaban itu sedikit membuat tuan Starvoc kesal, iya tentu saja orang itu adalah sindiran. Quennevia sengaja melakukan nya karena mungkin akan mendapatkan sebuah pertunjukan bagus, tapi anak tuan Starvoc, Ain Starvoc malah ikut campur.


" Tapi putri, jika tidak ada yang mengawal anda itu akan sangat berbahaya. " ucapnya dengan wajah sok baik.


Quennevia terkekeh mendengar itu, nampaknya di drama ini dia hanya perlu memutar-mutar kata-katanya dan kata-kata yang sudah diucapkan.


" Siapa bilang tidak ada yang melindungi ku, bukankah tadi kak Haika bilang akan melindungi ku, para prajurit juga rela bertarung untuk ku. Apa lagi yang kurang?? " ucap nya sambil memiringkan kepalanya.


" Tapi apakah anda yakin mereka akan ada saat anda butuhkan?? " tanyanya lagi.


" Lalu anda sendiri, apa anda bisa 24 jam terus ada di samping saya setiap harinya?? " tanya balik Quennevia.


" Itu... "


Skakmat, dia tidak bisa lagi menjawab. Tentu saja jawab nya tidak, dia tidak akan bisa berada di sini nya jika dibutuhkan. Dan perdebatan ini jelas-jelas dimenangkan oleh Quennevia.


" Itu memang tidak mungkin, tapi putra saya bisa melindungi anda. " ucap tuan Starvoc.


" Iya, meski pun bisa itu tidak akan berguna. " ucap Quennevia.


" Apa maksud anda?? "


" Mendiang ibuku pernah mengatakan ini...


Jika ada seseorang yang ingin melamar putriku, dia harus bisa memenuhi Syarat yang sudah aku tentukan.


Pertama : Dia harus benar-benar Mencintai putriku dengan tulus.


Kedua : Dia harus memiliki reputasi yang bagus, dan memiliki sifat tanpa pamrih.


Ketiga : Dia harus rela melakukan apapun yang putriku katakan.


Dan yang keempat : Dia harus disukai oleh putriku, jika tidak maka tiga syarat yang sebelum nya tidak akan berlaku lagi. Dan dia tidak akan bisa mendapatkan nya.


Jika dia bahkan tidak bisa memenuhi salah satu Syarat itu, tapi dia masih memaksakan keinginan nya. Maka dewa akan menghukum orang itu dengan sangat tragis.


..... Seperti itulah. " ucap Quennevia tersenyum dengan angkuh.


Semua orang terkejut mendengar nya, iya karena mereka belum pernah mendengar hal itu sebelumnya. Bahkan ayahnya sendiri pun tidak pernah mendengar nya.


Hal itu juga sebenarnya tidak sepenuhnya bohong, Quennevia hanya menambahkan syarat keempat agar dia bisa membodohi orang-orang itu.


" Saya bisa memenuhi syarat itu, putri. Saya bisa melakukan apapun yang anda inginkan. " ucap Ain Starvoc, dia benar-benar sangat percaya diri.


" Apapun?? " tanya Quennevia.


" Iya, putri. " ucapnya lagi.


" Kalau begitu jika ku bilang... Aku ingin kau memenggal kepalamu sendiri dan berikan padaku, dengan begitu aku akan menyukai mu. Bagaimana?? "


Ekspresi Quennevia berubah dingin dengan cepat, dan ia menyeringai tanpa dosa ketika mengatakan itu, sedangkan yang lainnya semakin terkejut dengan permintaan nya. Bahkan Ain Starvoc dan ayahnya tidak bisa lagi berkata-kata, Quennevia tidak seperti dirinya yang selalu dirumorkan, dan Ain terlihat sangat kesal karena ditolak begitu saja.


" Putri ketiga, bukankah permintaan itu agak keterlaluan. Bagaimana mungkin anda meminta hal yang mustahil seperti itu. " ucap selir pertama kelihatan tidak senang.


Tapi Quennevia hanya memiringkan kepalanya mendengar itu, " Bibi Anna, hal itu tidak lah mustahil. Aku yakin bibi masih ingat cara nya, seperti yang aku lakukan. Saat memenggal kepala pekerja siang itu, kan? " ucapnya pula.


Semua yang ada di sana pun dibuat merinding mengingatnya, apalagi saat melihat seringai dingin dari Quennevia. Mereka jadi tidak berani berkata-kata, tapi tentu hal itu membuat terkejut kelompok tuan Starvoc yang belum mengetahui nya.


Sementara itu, " Haah... Quennevia, ucapan mu terlalu keterlaluan. Minta maaflah kepada tuan Starvoc dan putranya. " ucap Hudson.


Quennevia hanya memutar bola matanya malas.


Ia tersenyum miring kepada mereka, membuat keduanya tersentak kaget sesaat.


Saat kemudian Quennevia memberikan rasa hormatnya, " Maaf karena kata-kata Quennevia yang keterlaluan, tolong jangan memasukkannya ke dalam hati. Semoga tuan memaafkan kesalahan Quennevia. " ucapnya sambil membungkuk, meski begitu matanya menatap tajam tanpa disadari orang lain.


" Ti-Tidak apa-apa, tidak apa-apa. " ucap tuan Starvoc dengan perasaan gugup, sedangkan dalam hatinya berkata lain.


Quennevia pun mengangkat kembali wajahnya dengan angkuh sebelum benar-benar kembali menghadap kepada Hudson, dan tentu itu membuat mereka terkejut karena Quennevia meremehkan mereka. Kemudian Quennevia pun berbalik menatap Hudson.


" Ayah, Quennevia merasa sedikit lelah. Apa Quennevia bisa kembali sekarang?? " tanyanya dengan ekspresi memelas.


Melihat itu membuat Hudson merasa kasihan, tentu saja karena putrinya belum sepenuhnya sembuh, pikiranya. " Tentu saja. Ayah dengar kau merasa tidak enak badan setelah kembali ke kediaman. Pergi dan beristirahat lah. " ucap Hudson kemudian.


" Ayahanda, biarkan saya yang mengantar adik. " dan Haika pun menawarkan dirinya untuk mengantarkan Quennevia kembali.


" Pergilah. " Dan Hudson mengizinkan itu.


Haika pun pergi kearah luar bersama dgn Quennevia dan Murphy, saat melewati tempat para selir dan anak-anak mereka. Seperti sebelumnya, Quennevia jika memberikan tatapan tajam kepada mereka. Kemudian pergi tanpa mengatakan apapun.


****


Tepat di dekat kediaman putri.


" Astaga, yang tadi itu sangat hebat. Adik, kau terlihat sangat keren. " ucap Haika dengan sangat menggebu-gebu dan penuh semangat. Dia pasti sangat puas melihat drama tadi.


" Huh, tentu saja. Aku pasti terlihat sangat keren." ucap Quennevia menyombongkan dirinya sendiri.


Murphy dan Haika yang melihat itu hanya tersenyum menanggapinya.


Mereka tidak mengerti kenapa di bisa berubah drastis, tapi juga bersyukur karena hal itu. Mereka jadi tidak perlu khawatir kalau dia akan ditindas lagi.


" Ngomong-ngomong, nona. Apa yang sebelumnya juga sungguhan?? Maksud saya syarat dari nyonya?? " tanya Murphy.


" Oh, yang itu. Tentu saja sungguhan, aku hanya menambahkan syarat no 4 saja. " jawab Quennevia.


Keduanya pun hanya menganggukan kepalanya paham, tentu saja poin itu juga sangat penting.


Tak terasa, mereka pun sampai di kediaman nya Quennevia, tepat saat Murphy membukakan pintu. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan Yue yang langsung saja melompat ke wajah Quennevia.


" Heeh?!!"


Brukk...


Dan akhirnya Quennevia dan Yue jatuh bersama.


" Adik, kau baik-baik saja??. " Haika sangat terkejut melihat nya terjungkal seperti itu.


" Nona?? " termasuk Murphy juga.


Quennevia tidak segera menjawab pertanyaan mereka itu, ia mengangkat Yue yang menghalangi wajahnya terlebih dahulu. Kemudian bangkit berdiri, sambil menaran rasa kesakitan karena terjatuh.


" Yue, apa yang kau lakukan?? " tanyanya kemudian


" Master, tolong aku. " ucap Yue yang terlihat ketakutan, atau... terkejut?


Quennevia bingung dengan apa yang dikatakan dan terjadi kepada Yue, memangnya ada apa di dalam sana sampai dia ketakutan seperti itu. Tapi Haika malah terkejut karena Yue adalah roh Suci.


" Adik, kau... " ucapnya terpotong.


" Ssttt... Kakak tidak boleh memberitahu siapapun, ya. " ucap Quennevia sambil menaruh jari telunjuk nya didepan bibirnya.


Haika hanya mengangguk mengerti, kemudian mereka bertiga pun masuk ke dalam untuk memeriksa alasan Yue yang ketakutan. Sampai mereka malah melihat sesuatu yang aneh ada di atas meja rias.


Ada sesuatu makhluk berwarna hitam ada diatas sana, sambil memegang kalung yang sebelumnya dipakai Quennevia.


" Siapa dia?? " tanya Quennevia dengan kening berkerut tidak senang.


" Saat saya kembali ke sini lebih awal dia tidak ada, Master. Tapi dia tiba-tiba saja keluar dari kalung itu. " jawab Yue menanggapinya.


" Nona, Berhati-hatilah. Mungkin dia makhluk buas. " ucap Murphy dari belakang.


" Biar kakak yang periksa. " ucap Haika kemudian.


Tapi Quennevia mengangkat tangannya, meminta Haika untuk berhenti. Tentu saja Haika langsung mengerti dan menggantikan langkah nya.


Quennevia mengulurkan tangannya, hendak memegang makhluk itu. Tapi dia tiba-tiba saja terbangun dan menatap Quennevia. Karena itu, Quennevia pun langsung mencengkram nya dengan satu tangan, dan menatapnya dengan tajam.


" Siapa kau berani menyentuh kalung itu?!!. " tanya nya dengan suara dingin.