
[Season 2]
Krakk...
Ethan dan yang lainnya tidak kenyadari suara itu, suara lantai yang mereka pijak saat ini runtuh. Sampai ketika mereka hendak pergi, seluruh lantai tersebut benar-benar hancur. Mereka yang kaget saat itu pun dibawa jatuh kebawah tempat itu.
" Apa-Apaan ini?!! " teriak Arkan.
" Kenapa tidak ada yang menyadarinya?! " tanya Meliyana dengan panik.
Mereka terus jatuh, dan jatuh sampai ke dasar tempat itu. Dan ketika mereka sampai, mereka berusaha mendarat dengan selamat. Disana sangat gelap dan penuh dengan bebatuan, seperti gua yang cukup lambap dan luas.
" Dimana kita sekarang?? " ucap Oscar bertanya-tanya.
" Kita jatuh dari atas, menurut kalian bagaimana caranya agar bisa kembali ke sana?? " tanya Meliyana sambil menatap langit-langit yang cukup jauh dari mereka.
" Yang lebih penting dimana Quennevia?? Dia terlepas saat kita jatuh tadi. " ucap Niu sambil mencari-cari disekitarnya.
" Dia ada padaku. " jawab Yuki yang melirik pundak kanannya.
Dan ya, Quennevia ada disana, duduk diam sambil memperhatikan mereka yang sedang kebingungan sekarang. Kemudian Ethan pun membawanya dan kembali mengamankan nya ke dimensi ruang, yang mana langsung disambut oleh Yue dan Zico didalam sana.
" Kalau begitu bagaimana jika kita cari disini saja?? Siapa tahu ada sesuatu yang kita temukan disini. " usul Ethan yang kemudian berjalan duluan.
" Jika yang kau maksud kita temukan itu monster akan kupukul kepalamu. " ucap Arkan yang entah kenapa merasa curiga, apalagi karena Ethan tersenyum dengan aneh. Sedangkan Ethan yang mendengar nya hanya tertawa saja.
Pada akhirnya mereka pun menyusuri gua itu, ternyata tempatnya lebih luas dari yang dibayangkan. Di dinding-dinding gua-nya terdapat beberapa lukisan, seperti dengan sengaja dipahat untuk orang yang menemukan nya. Tapi yang membuat Oscar dan yang lainnya bingung... adalah apa yang tertulis dilukisan-lukisan batu itu.
Gambar-gambar yang tertulis disana, adalah cerita tentang seseorang yang mempelajari rahasia dewa dan apa saja yang telah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu, bahkan sampai ada orang-orang yang melakukan pengorbanan berdarah untuk bisa mengetahui rahasia dewa itu.
" Apa-apaan isi lukisan ini?? Gambarnya menakutkan. " ucap Meliyana.
" Sepertinya ini sebuah catatan sejarah. Tapi yang tertulis ini bahasa kuno bukan?? Mungkin sudah ada disini sejak sebelum kerajaan ini dibangun. " sahut Oscar.
" Sayang sekali mereka melakukan sesuatu yang tidak berguna sampai menjadikan orang lain sebagai pengorbanan. Namun, pada akhirnya mereka tidak menemukan apapun dan malah menjadi kutukan yang tiada akhir bagi mereka karena murka Dewa. " gumam Ethan yang memandangi salah satu lukisan di dinding gua itu.
Yang lainnya yang mendengar itu hanya saling tatap satu sama lain, tidak mengerti maksud dari perkataan yang digumamkan Ethan itu. Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menyusuri gua itu, sampai akhirnya tiba diujung gua... tepat dihadapan sebuah pintu besar yang ada disana.
" Apa kita buka?? " tanya Niu.
" Jika penasaran harus dibuka bukan?? Bisa saja ada sesuatu didalam sana. " jawab Yuki.
" Kalau begitu buka saja. " ucap Arkan yang kemudian membuka pintu itu.
Ketika pintu tersebut benar-benar terbuka, hal yang mereka lihat disana adalah sebuah ruangan besar, dan sebuah Altair yang dikelilingi oleh 12 pilar disisi-sisinya. Juga sebuah kabut aneh yang ada disekitar sana.
" Apakah ada sesuatu disini?? Tampatnya hampir mirip dengan Altar direruntuhan waktu itu bukan?? " ucap Arkan memberikan pendapatnya.
" Entahlah, mungkin saja itu-... " ucap Yuki yang terhenti ketika tiba-tiba ada sebuah tangan besar yang menangkapnya. " Kyaaa!. " teriaknya ketika dia ditarik pergi oleh tangan itu.
Yang lainnya juga ikut terkejut melihat hal itu, " Yuki, kau kemana?? " tanya Niu.
Sedangkan disisi lain, ada orang yang malah memikirkan hal yang melenceng jauh dari apa yang harusnya mereka pikirkan.
" Ba-Barusan dia bilang 'Kyaa', kan?? 'Kyaa', loh?? " ucap Oscar dengan raut wajah tercengang.
" Sepertinya akan ada hal buruk yang terjadi. " ucap Ethan juga.
" Aku tidak mau mati!! " teriak Arkan dengan panik.
" Kalian para laki-laki sama sekali tidak berguna! Kenapa kalian tidak menghilang saja sih!! " teriak Niu pula dengan kesal.
Saat kemudian perkataan Niu pun menjadi kenyataan. Lantai yang dipijak oleh mereka bertiga tiba-tiba hilang dan membuat ketiganya jatuh bersamaan.
" Aahhh!! " sementara Meliyana dan Niu berteriak panik melihat hal itu terjadi.
" Meliyana, kesini! " ajak Niu yang langsung menarik nya berlari kearah Altair.
Lantai itu terus runtuh dan mendekati keduanya, ketika Meliyana dan Niu berlari menuju ke Altair itu. Bahkan lebih buruk... sekarang keluar tangan-tanyan hitam yang berusaha menangkap mereka.
" Niu, kita tidak akan sampai tempat waktu! " ucap Meliyana.
Sementara Niu hanya meliriknya sebentar dan kemudian tersenyum, " Tidak apa-apa, aku pasti akan melindungimu. " ucap nya menimpali Meliyana.
Keduanya semakin dekat dengan Altair itu, tapi ketika selangkah lagi mereka sampai, tangan-tangan hitam itu berhasil menangkap keduanya. Mereka berdua ditarik jatuh ke bawah sana, tapi Niu berpikir setidaknya harus salah satu dari mereka yang selamat disana.
Karena itulah dia berusaha menarik Meliyana lebih keras, dan melemparkan nya ke altar itu. Tapi masih ada satu tangan hitam yang memeganginya.
" Hah! Niu, pegang tanganku!! " ucap Meliyana.
Tapi Niu hanya tersenyum padanya, ia pun mengambil sebuah belati dengan tangan kanannya.. " Maaf... Meliyana." ucap Niu yang memotong tangan hitam yang memegangi Meliyana itu.
Meliyana terkejut dengan itu, dan ia pun terjatuh diatas batu Altair itu. Sementara Niu ditarik masuk ke dalam kegelapan oleh tangan-tangan hitam itu.
" Tidak, Niu!! " Meliyana berusaha untuk menarik nya kembali, tapi dia harus terhenti karena ada sebuah dinding pembatas yang menghalanginya. " Tidak! Tidak! Niu! Kembaikan dia! Kembalikan teman-temanku! " teriak Niu sambil menangis.
Kini tinggal dia sendirian disana, Meliyana tidak tahu harus melakukan apa, karena itu dia hanya diam sambil memikirkan bagaimana nasib teman-temannya saat ini. Saat kemudian perhatian nya teralihkan kepada sebuah sinar yang berasal dari atas sana.
Meliyana pun berjalan ketengah-tengah altar dan mendongakan kepalanya keatas sana. Yang ia lihat adalah... Bulan.
Meliyana memperhatikan nya dengan seksama, dan dia juga memikirkan tentang petunjuk-petunjuknya...
" Bulan dan bintang... kerajaan kembar... Altar.. batu.. dan bulan.. 12 berlian dan satu penuntun.. " gumam Meliyana.
Tiba-tiba muncul berbagai tulisan yang mengelilinginya di atas altar itu, tulisan-tulisan itu bersinar dengan cahaya yang sangat menyilaukan sampai Meliyana tidak bisa melihat apa-apa. Tapi ketika dia bisa melihat semua nya kembali, dirinya berada ditempat yang jauh berbeda.
" Aku... Ada dimana?? " ucap Meliyana bertanya-tanya.
Ia merasa sangat tidak asing dengan tempat nya berada saat ini, seolah dia pernah ada disana tapi dia tidak ingin mengingatnya sama sekali. Tapi kemudian dia melihat sesuatu didepan nya... seorang anak kecil... tidak, lebih tepatnya dirinya sendiri ketika berumur 7 tahun. Terduduk sedih dihadapan banyak orang, ketika dirinya ada di kuil suci saat hendak melakukan tes kekuatan untuk ke sekian kalinya.
" I-Ini... " batin nya.