
Kemunculan Quennevia di belakang Erdian membuat orang-orang kembali terkejut, apalagi ia yang tiba-tiba memegang sabit yang diarahkan kepada Erdian. Padahal beberapa saat yang lalu ia masih duduk diam disamping Kaisar. Namun sekarang, dengan tampang santai seperti menantangnya, bahkan tidak ada sedikit pun raut takut di wajah nya dia berdiri disana.
Erdian sendiri masih tidak percaya ia bisa tidak menyadari kalau Quennevia ada di belakang nya, mungkin kah karena ia hanya berfokus kepada Ethan sebelumnya. Apalagi hawa membunuh yang sangat besar tadi, tapi seperti nya hanya dia yang merasakan nya.
" Apa anda bersedia untuk mundur sekarang, kakek??. " ucap Quennevia pula.
" Bocah, darimana kau mendapatkan senjata itu??. " tanya balik Erdian.
" Oh, senjata ini?? Aku membuatnya menggunakan mana ku. " sahut Quennevia sambil tersenyum santai.
Erdian nampak sedikit tersentak mendengar itu, hanya orang dengan kemampuan diatas level 29 saja yang bisa membuat senjata dari mana, dan itu tidak semua orang dapat lakukan.
" Katakan berapa umur, tingkatan mu, dan bagaimana cara bertarung mu. " ucap Erdian yang akhirnya melirik Quennevia dengan serius.
Quennevia yang mendengar itu semakin mengembangkan senyumannya, namun itu bukanlah senyuman yang baik, melainkan... keangkuhan.
Ia pun kemudian berkata, " Quennevia Von Arkharega, umur 11 tahun. Petarung jarak dekat dan jauh, Ahli senjata dan mantra, ahli strategi perang, level.... 30."
Mendengar itu membuat semua orang tidak bisa berkata-kata, Quennevia masih begitu muda. Dan beberapa bulan yang lalu ia masih seseorang yang tidak bisa bertarung, apalagi menggunkan kekuatan. Dan sekarang dia sudah berada di level 30 dalam waktu yang sangat singkat, dia berubah menjadi seorang jenius.
" Tidak mungkin, level 30 di usia 11 tahun?!. "
" Bahkan jika itu seorang jenius pun sangat tidak masuk akal. "
" Putri Quennevia, jadi sangat kuat. Dia jenius diantara para jenius."
Seperti itulah uangkapan-uangkapan orang-orang yang ada di sana, mereka benar-benar sangat tekejut. Begitu juga dengan Lecht, beberapa hari yang lalu ia yakin Quennevia masih ada di level 29 dan sekarang sudah naik tingkat lagi.
" Kau... Petarung tipe??. " tanya Erdian kembali.
Quennevia semakin melebar kan senyuman nya, " Untuk saat ini..... Assassin. " jawabnya.
Dan itu membuat Erdian lebih terkejut lagi, seorang gadis yang selalu terkurung di rumah nya adalah petarung tipe Assassin, ia memang pernah dengar kalau Quennevia membunuh seorang pekerja. Tapi itu tidak membuat seseorang jadi Assasin yang sempurna, apalagi nafsu membunuhnya yang tadi.
" Hmph... Nampaknya wanita itu sudah melahirkan seorang monster kecil. " ucap Erdian pula.
" Hahh??. " sahut Quennevia mengerutkan keningnya dengan tidak senang, yang lain yang ada di sana juga tidak percaya Erdian bisa mengucapkan kata-kata seperti itu kepada Quennevia.
" Maksudku ibumu, dari awal aku sama sekali tidak menyukainya, dia tidak memiliki asal usul yang jelas, kekuatan yang ia miliki pun diluar batas manusia. Dan sekarang.. anaknya pun juga jadi seperti monster yang sedang tumbuh besar. " ucap Erdian, ia mencoba memprovokasi Quennevia.
" Jika aku berani, bagaimana jika kau bertarung melawan ku, pertarungan hidup dan mati. Jika kau menang kau bisa membunuh ku dan juga tanpa ada satupun anggota klan ku yang protes, tapi jika aku menang kau hanya perlu melepaskan anakku, dan aku tidak akan membunuhmu. " ucap Erdian pula.
Quennevia masih diam tidak menjawab perkataan nya, semantara semua orang menyoraki keputusan Erdian yang tidak tahu malu. Padahal ia sudah sangat tua, tapi ia benar-benar sangat tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
" Wuuu... pergi sana, orang tua yang sama sekali tidak adil!. "
" Masalah ini tidak perlu kau ikut campur, pergi sana. "
" Dasar tidak tahu malu, pergi saja orang tua sialan!. "
Teriakan dari para rakyat yamg sangat tidak suka dengan nya, sedangkan Arissa dan Jason hanya memandang dengan khawatir, bukan pada Erdian tapi pada Quennevia.
" Dia benar-benar..... " ucap Ning menggantung, dengan raut yang sama tidak sukanya dengan semua orang.
" Hehehe... bukankah ini jadi semakin menarik. " sementara Ethan berkata demikian dengan santainya.
" Tapi pangeran, ini.... " belum selesai Ning mengatakan nya, Ethan lebih dulu menyela nya.
" Jangan khawatir, semuanya akan baik baik saja. Dibandingkan dengan orang tua itu, kemampuan membunuh Quennevia lebih jauh di atas dirinya, lagipula dia memang sedari awal ingin memamerkan kemampuan nya. "
Ning hanya bisa menghela nafas nya mendengar itu, iya dia memang tidak akan bisa melakukan apapun disaat seperti ini sih.
" Ayah, apa sebaiknya kita menghentikan mereka saja??. " tanya Lecht kepada sang ayah yang ada disamping nya.
Dan di tengah sana, Quennevia yang masih diam setelah mendengar ucapan Erdian pun kembali tersenyum, dan tentu membuat Erdian bingung. Quennevia pun menghilangkan sabit yang ia buat dari mana nya itu, dan mundur beberapa langkah sabil tertawa.
" Ahahahaha.... hahahah... " tawa Quennevia membuat orang-orang jadi diam, mereka bingung kenapa Quennevia malah tertawa.
" Kakek Erdian, apa kau yakin kau ingin menantang ku bertarung hidup dan mati??. " tanya Quennevia ditengah tawanya itu.
" Hmph, tentu saja. Jangan kira aku tidak berani melawan mu hanya karena kau anak kecil. " sahut Erdian dengan sangat serius.
" Begitu, baiklah. Aku menerima nya, sebagai gantinya jika aku bisa membunuhmu maka klan Assasin mu akan jadi bagian dari Kekaisaran ini seutuhnya. Dan kalian harus mengabdi pada Kekaisaran, apa kalian dengar??. " ucap Quennevia pula, ia melirik ke beberapa tempat di sana.
Quennevia melirik kepada orang-orang dari klan Assasin yang sedang bersembunyi, tentu saja mereka terkejut karena Quennevia bisa menyadari keberadaan mereka begitu saja.
" Gadis ini.... Dia bahkan bisa menyadari keberadaan kami yang sudah dihilangkan bagitu saja, dia benar-benar orang yang sangat berbahaya. " batin salah seorang dari mereka.
Kembali lagi ke Erdian, ia juga nampaknya terkejut karena Quennevia bisa mengetahui nya, tapi dirinya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu dan menerima apa yang diajukan oleh Quennevia.
" Baiklah, mereka tidak akan mengingkari janji itu. " ucap Erdian dengan angkuh nya, nampaknya ia sangat percaya diri kalau dia tidak akan kalah.
Mereka berdua pun mulai bersiap untuk bertarung, sementara para selir dan orang-orang nya dibawa ke pinggir terlebih dahulu. Kini di tempat itu hanya ada mereka berdua, untuk beberapa saat mereka masih diam tanpa menyerang satu sama lain. Tapi kemudian Erdian pun mulai menyerang Quennevia lebih dulu.
Sekumpulan pedang terbang kearah Quennevia dengan cepatnya, semua orang terpaku dengan kecepatan serangan itu. Tapi Quennevia hanya diam sana di tempatnya....
" Hmph.. " Quennevia hanya kembali menyunggingkan senyuman nya, dan membuat semua pedang itu berhenti sebelum mengenainya.
Cetakkk.....
" Hancurlah. " ucap Quennevia sambil menjentikkan jarinya.
Pranggg.....
Dan semua pedang itu hancur bagaikan serpihan kaca yang rapuh, bahkan Quennevia sama sekali tidak melakukan hal yang besar dengan itu. Semua orang lebih terkagum-kagum melihat nya, bahkan Erdian sampai terkejut untuk kesekian kalinya melihat hal itu.
" Apa hanya itu, kau terlalu meremehkan ku. " ucap Quennevia memprovokasi Erdian sambil menutup sebelah matanya dan tersenyum, dengan begitu bukankah dia yang malah terlihat meremehkan Erdian.
" Bocah kecil... jangan sombong ku!!. " teriak Erdian dengan sangat marah.
Ia pun melesat untuk menyerang Quennevia, tapi berhasil di tangkis dengan mudah oleh nya. Namun sesaat kemudian keberadaan nya pun juga menghilang di sana.
" Oho, apa ini adalah teknik siluman klan Assasin. Keberadaan mu benar-benar tersamarkan. " ucap Quennevia terlihat kagum.
" Hmph... Kali ini aku tidak akan segan-segan. " ucap Erdian yang entah dimana keberadaan nya.
Suasana di sana saat ini benar-benar hening, teknik siluman klan Assasin adalah teknik yang sangat menakutkan. Tidak akan ada yang bisa menebak dari mana serangan selanjutnya akan datang, orang-orang berpikir kalau Quennevia sudah tidak memiliki kesempatan menang lagi. Tapi Quennevia nya sendiri masih santai-santai saja di sana.
" Iya, harus kuakui, kalau teknik ini benar-benar sangat bagus untuk membunuh seseorang secara diam-diam. Tapi kau punya satu kelemahan. " ucap Quennevia dengan sangat tenang, bahkan ia tidak memperlihatkan kalau ia menyadari serangan dari belakang nya.
" Lain kali, jika kalian ingin menyerang seseorang dengan teknik seperti ini, pastikan...... " ucap Quennevia menggantung.
Tranggg.....
Quennevia berbalik, kembali mengeluarkan sabit mana nya yang tadi, untuk menangkis serangan Erdian dari belakang nya.
" Apa... Bagaimana bisa??. " batin Erdian melihat itu.
" Pastikan kau mengurangi nafsu membunuhmu itu. " lanjut Quennevia dengan ekspresi dingin.
Erdian pun mundur beberapa langkah untuk menghindari jika saja Quennevia menyerangnya lagi, reaksi Quennevia itu benar-benar membuatnya terkejut, hingga teknik yang ia gunakan pun juga ikut terlepas. Sedangkan orang-orang semakin dan semakin terkagum-kagum melihat Quennevia bisa menebak dimana dia akan menyerang.
" Gadis itu... Dia benar-benar bisa merasakan keberadaan ku!. " batin Erdian pula.