Quennevia

Quennevia
Embun darah....



[Season 2]


Disaat Belut mencari-cari penyusup yang masuk ke sarangnya, namun tidak menemukan apapun. Belut itu hendak kembali ke dalam danau itu, akan tetapi.. Lemparan batu lain kembali mengalihkan perhatiannya.


Dan kini, dihadapannya berdiri Yuki, Arkan dan juga Ethan...


Arkan melempar-lemparkan batu yang ada ditangannya, " Yo, Belut licin. Bagaimana jika bermain dengan kami sebentar?. " ucap nya sambil tersenyum lebar. Dan dia pun kemudian melemparkan batu ditangannya itu yang langsung mengenali Belut raksasa itu.


Belut menggeram marah kearah mereka, dan berusaha untuk langsung melahap mereka secara utuh.


" Ini saatnya... Lari!! " teriak Ethan yang kemudian larinya diikuti oleh Yuki dan Arkan.


Mereka berlari menuju pintu keluar, gerakan Belut itu cukup cepat. Meskipun mungkin sedikit terhalangi oleh jalan digua itu yang sedikit kecil dari pada tubuhnya.


" Waha.. Gila! Dia benar-benar mengamuk, gua ini tidak akan runtuh, kan?? " tanya Arkan yang sedang berlari sembari memperhatikan Belut itu dibelakang mereka.


Dan Yuki pun menimpalinya dengan kata-kata yang cukup menusuk, " Dia tidak akan mengamuk jika tidak ada orang bodoh yang melemparinya dengan batu. "


Akan tetapi Arkan hanya tertawa mendengar itu, " Haha... Bukankah kita memang harus memancingnya, jadi apa yang kulakukan itu masuk akal, dong. " sahutnya dengan santai.


" Yah, terserah saja. " Yuki tidak ingin berdebat disaat seperti ini.


Saat kemudian suara Ethan pun mengalihkan perhatian mereka, " Jalan keluarnya terlihat, kalian peganglah tanganku!. " ucapnya.


Setelah mendengar itu, Arkan dan Yuki pun langsung meraih kedua tangan Ethan, tepat saat mereka melintasi penghalang. Dan ketika sampai diluar, dimana mereka bisa menggunakan kekuatan mereka kembali. Ethan memanfaatkan itu, dan langsung membawa mereka berdua melesat jauh dari kerumunan para monster.


Bersamaan dengan Belut itu juga, yang keluar dari penghalang tempat nya bersembunyi. Dia langsung dihadapkan dengan para monster yang selama ini berusaha untuk masuk ke dalam sana. Dan para monster itu langsung menyerang Belut raksasa itu.


" Apa mereka benar-benar saling tidak menyukai, ya? Seperti nya membawa Belut itu keluar memang pilihan yang tepat. " ucap Arkan ketika melihat perkelahian berdarah antar para monster didepan mereka.


" Mungkin... Karena Belut itu satu-satunya yang bisa masuk ke dalam gua itu. " ucap Yuki menyahuti.


" Hee... Maksudmu 'kesenjangan' diantara monster, ya?? " canda Arkan setelah mendengar ucapan Yuki, yang mana membuatnya mendapatkan pukulan dari Yuki sendiri tepat dikepalanya.


Bukk...


" Ack... Sakit! " Arkan berteriak kesakitan.


Disisi lain, Ethan, dia melihat perkelahian para monster itu dengan ekspresi yang sangat serius. Melihat hal itu membuatnya teringat dengan salah satu kenangan buruk yang selalu ingin dia lupakan. Kira-kira... Sekitar 10 tahun yang lalu...


" Aarrrrghhhh.....!! "


*****


Disaat itu, ketika Ethan, Yuki dan Arkan sedang mengalihkan perhatian Belut raksasa itu dari sarangnya. Oscar bersama dengan Niu dan Meliyana yang masih ada didalam langsung maju dan menceburkan diri ke danau yang terlihat seperti kumpulan permata itu.


Ketika pertama kali masuk, sama seperti yang sudah mereka lihat ketika dipermukaan, mereka langsung disambut dengan para ubur² yang hampir transparan didalam danau itu. Mereka tidak bisa berlama-lama, apalagi jika hanya untuk menikmati pemandangan indah yang disajikan disana.


Ketiganya pun langsung berenang semakin dalam untuk mencapai embun darah itu. Tapi memang tidak semudah yang dibayangkan, tentakel ubur-ubur itu berusaha menjerat mereka dan menghalangi mereka dari mendapatkan embun darah tersebut. Tentu saja itu tidak akan semudah yang mereka bicarakan sebelumnya.


Sampai kemudian, Meliyana mendorong keduanya untuk menjauh...


" Kalian berdua pergilah duluan! Mereka tidak berbahaya, hanya saja sangat merepotkan. " Meliyana mentransferkan isi pikirannya pada Niu dan Oscar.


" Kau yakin?? " tanya Oscar pula membalas.


Meliyana menganggukan kepalanya dengan yakin. Oscar dan Niu pun saling pandang satu sama lain, dan ketika sudah yakin kalau Meliyana akan baik-baik saja, seperti yang sudah mereka rencanakan... keduanya pergi lebih dulu menuju ke bawah sana.


Makin dalam mereka berenang, makan kuat terasa aura dari Embun Darah itu. Dan disaat itu... Niu yang berenang tepat dibelakang Oscar, tiba-tiba mendorongnya sekuat tenaga sampai membuat Oscar sendiri sangat terkejut. Ketika ia menoleh kebelakang sana, ternyata Niu juga ikut tertangkap oleh para ubur-ubur itu.


Niu hanya tersenyum ketika Oscar melihatnya, harus ada salah satu dari mereka yang mendapatkan Embun Darah itu. Karena itu... Niu memilih Oscar yang mendapatkannya, dan mendorongnya ke wilayah yang tidak ada ubur-ubur nya lagi. Oscar sendiri tahu apa maksud Niu hanya dengan melihat situasinya, jadi ia pun meneruskan jalannya semakin dekat dengan apa yang mereka cari.


" Sedikit lagi... " gumam batin Oscar, saat kemudian dia pun berhasil menyentuh batuan yang menahan embun darah itu. " ... dapat. Huh!" Disaat yang sama, sesuatu juga merasuk ke dalam tubuhnya.


Kekuatan yang sangat besar, terus mengalir kedalam tubuhnya. Bukan hanya itu, kebencian, kesedihan dan rasa sakit seseorang juga ikut masuk hingga membuat kedua matanya berubah menjadi merah seperti darah.


Kesadarannya dibawa masuk ke tempat lain...


" Oscar...!!" Niu yang melihat nya sangat khawatir dengan apa yang terjadi, dia berusaha melepaskan diri sekuat tenaga dari jeratan ubur-ubur itu.


Disisi lain, Oscar merasa kalau dirinya berada dalam kegelapan tanpa akhir. Sampai dia mendengar sebuah suara...


kleneng... kleneng... kleneng....


" Bunyi lonceng....? " Ketika Oscar membuka kedua matanya, dirinya berada ditempat lain.


" Dimana... ini... " gumamnya penasaran.


Suasana disekitarnya terasa sangat asing, namun penuh kemeriahan. Para pedagang berkumpul ditempat itu, dan semua warga terlihat bahagia, anak-anak juga bermain tanpa ada kekhawatiran sedikitpun. Melihat semua kemeriahan itu, Oscar berpikir kalau mungkin ada sebuah perayaan ditempat tersebut...


" Anu... Permisi..." Oscar berusaha untuk bertanya pada salah satu dari orang-orang yang ada disana, tapi ketika dia ingin menyentuhnya... tangannya menembus mereka begitu saja. " Huh! Apa aku sudah mati...?!!" teriaknya dengan sangat terkejut.


Tapi kemudian dia menyadari sesuatu, " Ah, tidak aku belum mati. Kalau diingat-ingat... semua orang mendapatkan ujian ketika akan mendapatkan benda-benda yang kami cari, kalau begitu ini juga salah satu ujian nya. Tapi... Tempat ini terlalu damai untuk dibilang sebuah ujian. " ucap Oscar pada dirinya sendiri.


Oscar mencoba mengikuti arusnya, semua orang yang ada disana berkumpul didepan sebuah kuil pada siang hari. Mereka semua menyatukan tangan dan menutup mata mereka, seraya berdoa dihadapan sebuah patung besar yang berdiri dihadapan kuil.


Sebuah patung wanita yang sangat cantik, Oscar merasakan kehangatan dan perasaan familiar yang aneh darinya. Namun disaat yang sama, dia merasa seperti sedang dipertimbangkan, oleh timbangan yang dipegang oleh patung itu.


Sampai perhatian nya teralihkan kepada seseorang yang muncul dari dalam kuil...


" Itu...?!!"


************************************************


PS : Maaf atas keterlambatannya, yang benar-benar sangat terlembat... 🙏🙏


Author punya masa-masa sulit dimana semua ide dan inspirasi tiba-tiba lenyap begitu saja. Sekali lagi maaf ya, guys...🙏🙏😅