
[Season 2]
Ning menunjukan sebuah bola kristal putih kepada semua Ethan dan juga Velskud, tentu saja Titus yang ada disana juga bisa melihat nya. Ketika ia menaruh bola itu diatas meja, sebuah peta pun langsung muncul disana, peta benua yang lengkap dengan petunjuk dan nama-nama tempat yang ada disana.
Dan Ning pun langsung menjelaskannya...
" Ini adalah laporan yang diberikan kepada kita, pasukan yang dibuat melalui aliansi dengan klan Aira, Klan iblis bulan darah, Akademi bintang utara, dan kekaisaran Chrysos telah diam-diam menandai dan menemukan tempat-tempat yang dijadikan markas Klan Retia. Dan kemungkinan markas utamanya, yang artinya tempat Seretia berada ada disebelah sini. "
Ning menunjuk sebuah pegunungan diselatan, yang ditutupi oleh kabut tebal yang tidak pernah hilang disekitarnya, hingga tak terlihat apapun disana. Tapi, meskipun ditutupi kabut, tempat itu justru dipanggil dengan nama pegunungan hitam.
Itu adalah tempat yang katanya menjadi medan perang kuno yang dipakai oleh para dewa, banyak jiwa-jiwa orang mati yang terjebak dan berkeliaran ditempat itu. Tempat yang jarang didatangi oleh orang-orang, karena sekali kau masuk ke dalam kabut dipegunungan itu, kau akan terjebak dan berputar-putar disana selamanya.
" Mereka ada dipegunungan hitam? Itu adalah Zona yang tidak mungkin dimasuki oleh orang biasa, tapi sangat sempurna untuk digunakan sebagai markas orang yang menggunakan mayat dan jiwa orang mati sebagai kekuatan nya. " ucap Ethan setelah mendengar penjelasan Ning.
" Benar, lalu... Soal Ryohan, dia terlihat berkeliaran disekitar perbatasan pegunungan hitam. Dan ia menyerang semua mata-mata kita. " ucap Ning melanjutkan.
Namun respon Ethan hanya diam setelah mendengar itu, meski begitu.. tatapan matanya tidak terlihat begitu tenang seperti biasanya. Sudah sekitar setengah tahun lebih sejak mereka memulai pencarian obat untuk membangkitkan Quennevia. Meski begitu Ethan masih tidak bisa melupakan bagaimana Ryohan menyerang Quennevia dimalam itu..
Ning tahu, bahkan Titus dan Velskud tahu. Ethan... anak yang baik dan suka bercanda ini, bisa jadi lebih mengerikan dari siapapun jika berhubungan dengan apa yang ia sayangi. Bahkan dengan kenyataan kalau kekuatan nya disegel.
" Apa yang dia lakukan hanya itu?" tanya Ethan.
" Dibeberapa waktu dia juga terlihat ikut ambil bagian dalam menyerang beberapa desa-desa terdekat, karena hal itu kepanikan pun menyebar dan membuat orang-orang cemas. Klan Aira telah mengambil langkah lebih awal dengan menyediakan tempat pengungsian yang aman dan mengumumkan hal itu kepada orang-orang, karena nya banyak diantara mereka berbondong-bondong pergi ke pengungsian. " jawab Ning.
" Bagaimana dengan jumlah pasukan mereka?" tanya Velskud pula menengahi.
" Dari laporan sementara, jumlah pasukan hidup ada sebanyak 10 ribu orang, dan 7 pemimpin keluarga yang menjadi kelompok terkuat mereka. Lalu kedua putra Seriana, Lorenzo dan Ryohan. Sementara pasukan mayat hidup, seperti nya itu agak sulit dijumlahkan." jelas Ning.
" Tentu saja, mereka tidak akan mati tanpa pemurnian dan bisa bertambah selama ada mayat. " sahut Titus menimpali.
" Aku tidak peduli dengan jumlah mereka, baik Klan Retia, Lorenzo ataupun Seretia. Semuanya akan kulibas sampai habis. " ucap Ethan dingin, ia bahkan langsung mematahkan pena yang ia genggam saat membayangkan itu.
" Jumlah penting untuk mempersiapkan strategi, Ethan. Tahan emosimu. " ucap Velskud kepadanya kemudian.
" Lalu apa lagi? " tanya Titus pula kepada Ning.
" Ah, iya. Dan juga... kerajaan lain juga mulai menghubungi kita soal masalah ini, mereka mengirimkan permintaan untuk mengadakan pertemuan di Akademi bintang utara untuk mengetahui situasi dan juga langkah lebih lanjut soal penanganan hal ini. Apa kita harus menerima hal itu?? Pihak akademi mengirim surat kalau itu harus atas persetujuan anda, yang mulia. " ucap Ning pula.
Ethan memikirkan hal itu dengan seksama, mengadakan pertemuan itu bagus untuk memperkuat aliansi. Akan tetapi disaat seperti ini...
" Ning, bilang kepada kepala sekolah.. Tunda pertemuan nya sampai Quennevia bangkit kembali. Jika kabar soal Putri Empat Dunia yang menjadi pilar keseimbangan dunia saat ini sekarat, justru kepanikan akan semakin parah dan itu akan dimanfaatkan oleh musuh. Kondisi Quennevia saat ini adalah sebuah rahasia, jika sampai bocor kepihak luar maka semuanya akan berakhir. Dan Quennevia yang sedang lemah pun akan menjadi bulan-bulanan, jika sampai terjadi sesuatu lagi kepada Quennevia... para spirit guardian maupun para dewa pasti akan langsung meratakan seluruh daratan ini sebelum kita maupun klan Retia siap bertempur.. " Ethan telah memutuskan hal itu, dengan mempertimbangkan keamanan semuanya.
Meski dia mungkin tahu kalau Klan Retia telah menduga hal ini, tapi akan lebih baik jika mereka tetap waspada dengan keamanan Quennevia.
Ning yang mendengar nya juga mengerti hal itu, " Saya mengerti, kalau begitu saya permisi. " ia membungkukan tubuhnya kemudian pergi untuk melaksanakan perintah Tuannya.
Sementara itu Ethan, ia langsung menyenderkan punggungnya dikursi dan menghela nafas berat. Dia bahkan belum jadi Kaisar tapi ia sudah merasa beban nya sangat berat, tunggu... bukankah menjadi putra mahkota juga sama saja?? Ditambah dia yang mengurus masalah kekaisaran selama ini?? (kecuali saat dia tdk ada, Ning yang menurusnya)
" Sepertinya aku tidak ingin naik takhta, deh." ucap Ethan dengan tiba-tiba.
Yang disambut oleh raut wajah heran dari Titus, " Kenapa kau tiba-tiba bilang begitu??" tanyanya.
" Aku tidak mau bekerja, lebih menyenangkan menjadi pengangguran yang menghabiskan uang kekaisaran." jawab Ethan dengan wajah datar.
Buk..
" Ack!!" Ethan pun memegangi kepalanya yang terasa sakit karena Titus. Dia mengerti perasaan Arkan yang dipukul setiap waktu sekarang.
Sementara Titus sendiri menatapnya kesal, " Halumu ketinggian! Jika uang kekaisaran habis kau pakai, siapa yang akan mendanai kekaisaran ini?! Lagipula jika bukan kau siapa lagi yang akan jadi Kaisar nya?!" ucapnya.
" Ahah... Paman saja yang jadi kaisarnya, aku akan pergi dan tinggal ditempat yang tidak bisa ditemukan siapapun bersama Quennevia setelah dia bangkit. " jawab Ethan dengan entengnya.
Disisi lain, Velskud yang teracuhkan hanya diam dan menatap kulakukan mereka yang kekanakan seperti sebuah tontonan. Mengingatnya... dulu yang ada diposisi Ethan itu Titus sendiri, dan yang mengomelinya adalah Mariana, putri kesayangannya sekaligus ibu dari Ethan.
Sampai kemudian dia ingat dengan apa yang ia dengar sebelumnya, " Oh iya, Ethan..." panggilnya mengalihkan perhatian dua orang yang sedang bertengkar itu.
" Huh? Ada apa, kakek?" tanya Ethan.
" Kau bisa menggunakan pedang itu??" tanya Velskud kepada Ethan.
" Oh.. Pedang yang disegel ibu. Ya, aku bisa. Pedang itu menjawab panggilanku saat aku membutuhkannya. " jawab Ethan dengan santai.
Yang ia maksud adalah pedang yang ia panggil dipulau Amberis, pedang yang sejak lama diturunkan selama turun-temurun dikeluarga kekaisaran, pedang pemecah hukum. Pedang yang katanya bisa melanggar hukum dunia. Pedang itu disegel karena Ethan belum bisa mengendalikan kekuatan nya dulu.
Legenda mengatakan, kalau pedang itu adalah pedang pemberian dari dewa diawal peperangan suci. Sejak awal pedang itu memang dalam kondisi terkunci, jadi kekuatan aslinya pun tidak bisa benar-benar keluar. Tapi, meskipun begitu.. pedang itu sudah cukup kuat untuk bisa mengalahkan satu armada pasukan dengan sekali tebasan.
Tapi Ethan tidak merasa kalau Velskud benar-benar ingin tahu soal urusan yang berhubungan dengan kekaisaran, " Apa hanya itu yang ingin kakek tanyakan??" tanya Ethan memastikan.
Namun Velskud diam untuk sesaat, sampai pertanyaan lain pun ia lontarkan kepada Ethan. " Kudengar tadi temanmu meramal Bintang, apa yang ia katakan tentang ramalan itu?" ucap Velskud.
Ethan tidak tahu kalau kakeknya akan tertarik dengan ramalan itu, tapi setidaknya itu lebih baik daripada dia tertarik untuk memberikan komentar pedas.
" Uhh.. kalau tidak salah, Oscar bilang... 'Kegelapan mencoba menelan cahaya, kunang-kunang yang redup berkeliaran dalam kebingungan. Menatap diri sendiri yang rusak dalam kedengkian, dewi yang mati akan bangkit kembali melalui penderitaan...' Itulah yang dikatakan oleh Yuki kepada mereka." jawab Ethan.
" Dia keturunan keluarga kerajaan bintang?" tanya Velskud lagi, yang diangguki oleh Ethan. " Ramalannya belum selesai, itu baru bagian pertama dari apa yang akan terjadi 'kan? " ucapnya lagi kepada Ethan.
Sementara Titus dibingungkan dengan hal itu, " Ayah, kenapa kau menanyakan hal itu kepada Ethan? Apa maksudmu dia tahu apa yang-..." ucapan nya terhenti ketika melihat raut wajah Ethan yang begitu serius.
Ia bisa simpulkan kalau Ethan memang tahu, arti dari ramalan itu dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Itu pertama kalinya Titus melihat Ethan yang tahu lebih dulu akan sesuatu yang belum terjadi sebelum dirinya.
" Apa ingatanmu sudah kembali? " tanya Velskud lagi disaat Ethan yang ditanya hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
Tapi kemudian ia tersenyum seperti biasanya lagi, menyembunyikan apa yang ia ketahui. " Mungkin. " jawabnya ambigu. Ia memilih kata yang bisa memiliki banyak arti sebagai jawaban dari pertanyaan itu.
" Apa ini jalan takdir, atau... kau yang sudah merencanakannya sejak awal?" tanya Velskud lagi dengan tatapan tajam.
Sementara Ethan masih tersenyum dengan santai, namun kedua matanya mulai menyipit dalam keangkuhan. "...Aku tidak tahu apa yang kakek maksud??" dan itulah jawaban yang ia berikan.
Velskud yang melihat itu pun hanya mendengus kecil, kemudian berbalik pergi, " Katakan padaku jika kau sudah siap pergi ke tempat itu, atau jika kau butuh bantuan. " ucapnya yang kemudian menghilang dibalkon yang sama saat ia datang.
Disisi lain Titus terlihat agak khawatir, " Kau yakin mau ke tempat itu??" tanyanya memastikan kembali keputusan Ethan.
Disaat Ethan menyisir rambutnya ke belakang menggunakan tangannya dan mengangguk pelan, " Iya, jangan khawatir paman. Aku tidak akan pergi sendiri. " dan seperti itulah jawaban lain yang diberikan Ethan kepada nya.