Quennevia

Quennevia
Para Tetua




Di tempat para tetua.



Setelah menyerahkan surat yang dititipkan Everon kepada kepala Akademi, Quennevia langsung pergi ke tempat para tetua berada. Ia sebenarnya ingin bertemu dengan teman-temannya dulu, tapi ia juga penasaran apa yang Everon tulis untuk kepada kepala sekolah.


" Semuanya ada disini??. " tanya kepala Akademi saat ia masuk bersama dengan Quennevia.


" Kenapa kau memanggil kami kemari, Lun??. " tanya salah satu tetua, Rouen.


" Benar, aku baru saja akan menang bermain catur dengan tetua Bima. " ucap tetua yang lainnya, Kara.


" Sudah ku bilang kau hanya beruntung, Kara. " ucap orang yang disebut tetua Bima itu.


Ada tiga tetua dan juga dihitung bersama dengan kepala Akademi jadi ada empat, mereka semua memiliki hubungan yang tidak sederhana, juga merupakan pendiri dari Akademi bintang utara.


" Semua nya, kita kedatangan murid yang sangat penting. " ucap kepala Akademi menjawab pertanyaan mereka. " Nah, Quennevia. Beri hormat kepada para tetua. " ucapnya pula.


" Hormat pada para tetua, namaku Quennevia putri dari Misika Yuriana." sapa Quennevia sambil memberi hormat.


Saat mendengar nama ibunya itu, entah kenapa tetua Kara tiba-tiba saja menghampiri nya dan memeluknya. " Misika?? Kau putri Misika??. " sahut tetua Kara dengan sangat terkejut.


" Benar, dia adalah satu-satunya putri Misika. Dan ini surat dari Everon mengenai beberapa hal. " sahut kepala Akademi pula sambil menunjukkan surat yang diberikan oleh Everon.


Ketika para tetua menerima nya, mereka langsung membaca nya. Tapi ekspresi yang mereka buat sama saja seperti kepala Akademi tadi.


" Anak itu... Masih saja tidak sopan seperti biasanya. " ucap tetua Rouen dengan kesal.


" Tapi syukurlah kau bisa datang kemari dengan selamat, apalagi klan Retia sedang mengincar mu. " ucap tetua Bima pula.


" Apa alasan mereka mengincar ku karena jiwa wanita pembawa bencana??. " tanya Quennevia, yang sama sekali tidak di duga oleh mereka.


" Kau tahu soal itu??. " tanya baik tetua Bima.


" Iya, waktu di tempat ibu saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Everon dan yang lainnya. " jawab Quennevia sambil menunduk sedih.


Memang benar itu terjadi, ia sangat terkejut ketika mendengar nya, apalagi jiwa orang yang mereka coba hindari itu tersegel di dalam tubuhnya. Rasanya dari sebelumnya ia punya banyak sekali hal yang tersegel di tubuhnya ini, dimulai dari Everon, kemudian ia tahu kalau kekuatan penguasaan hutannya juga kekuatan yang ia dapat dari Emilia tersegel di tubuh nya juga. Dan sekarang ia juga harus tahu akan jiwa lain yang ada di tubuh nya, Quennevia benar-benar lelah dengan semua itu.


" Kau tidak perlu khawatir, kami akan membantumu agar bisa terpisah dengan jiwa wanita itu. Dan sebelum itu kami akan membantumu agar bisa menekan dan mengendalikan nya. " hibur tetua Kara saat melihat raut sedih Quennevia.


" Saya mengerti. Terima kasih, tetua. " sahut Quennevia.


Kara mengangguk senang mendengar nya, setidaknya Quennevia bisa sedikit bersemangat. Selama ia tidak terlalu memikirkan nya itu juga akan bagus untuk dirinya, tapi bukan berarti dia tidak boleh mengingat hal itu sama sekali.


" Kalau begitu kembalilah dan beristirahat, kami sudah menyiapkan kamar yang bisa kau tempati. " ucap tetua Rouen.


" Oh, soal itu saya punya beberapa permainan." ucap Quennevia.


Mereka saling pandang mendengar itu, tapi ya jika Quennevia punya permintaan maka dengarkan saja dulu.


******


Diasrama Akademi, Niu tengah berjalan menuju kamar yang akan ia gunakan nantinya. Karena kamar asrama itu luas dan bisa di huni oleh 4 orang di dalam nya ia jadi tidak akan sendirian, Niu hanya berharap kalau teman sekamarnya nantinya bukan orang yang menyusahkan.


" Haah... sudah tidak bisa bertemu dengan Quennevia dulu, sekarang teman sekamarnya juga tidak bisa aku yang pilih. " gumam Niu dengan wajah murung.


Sampailah Niu di depan pintu kamar yang akan ia gunakan, ia mengambil nafas dalam-dalam sebelum kemudian masuk. Ia pun mulai membuka pintu kamar nya itu, dan di sana sudah ada dua orang yang datang lebih dulu dari dirinya.


" Ha.. Halo, namaku Niu. Mulai sekarang aku akan jadi teman sekamar kalian, mohon kerja sama nya. " ucap Niu sambil menyapa mereka dengan gugup.


Yang satu sangat cuek dan hanya menatapnya sebentar dari tempat tidur tingkat nya, sedangkan yang satunya kelihatan nya sangat cerewet, sudah terlihat dari wajah nya.


" Senang juga bertemu dengan mu. " sahut Niu dengan ramah.


Meliyana tersenyum ramah pula kepada nya, " Hei, Yuki. Kau tidak kau menyapa nya??. " tanya Meliyana pula kepada satu orang lagi yang masih duduk diam di tempatnya.


" Terserah lah. " sahut orang yang dipanggil Yuki itu, dia adalah putri dari Kerajaan bintang.



* Nama :Yuki reanley.


Umur : 16 tahun.


Ket : putri Kerajaan bintang/anak kedua raja Karai.


Niu hanya tersenyum canggung melihat mereka, sifat keduanya benar-benar bertolak belakang sama sekali. Yang satunya sangat ceria dan kelihatan agak cerewet, sedangkan yang satunya lagi dingin dan jarang bicara.


" Ahaha... Maaf ya, dia memang jarang bicara dan selalu tidak peduli dengan segala hal, tapi dia orang yang baik kok. Apalagi saat sudah akrab. " ucap Meliyana tersenyum kikuk.


" I.. iya. " sahut Niu yang juga bingung sendiri.


Lalu tak lama kemudian, pintu kamar itu kembali terbuka oleh teman sekamar mereka yang lainnya. Dan masuk lah seseorang ke dalam sana..


Cring..... (bunyi lonceng)


" Aku Quennevia, yang akan jadi teman sekamar kalian. Salam kenal. " ucap orang yang masuk itu, yang mana memang Quennevia.


" Quennevia!. " ucap Niu dan Meliyana serempak, mereka terkejut sekaligus senang karena dia datang ke sana.


******


- Dijalan menuju ke teman Akademi.


" Moh, kau benar-benar membuatku sangat khawatir. Kupikir kau akan telat datang, dan saat kau dibawa oleh kepala Akademi kupikir kau mendapat masalah. Syukurlah tidak terjadi apa-apa. " ucap Niu sambil mengehela nafas lega.


" Kepala Akademi dan para tetua adalah kenalan lama ibu, jadi kau tidak perlu khawatir. " sahut Quennevia.


Niu mengangguk paham mendengar nya, iya menang bagaimana bisa Quennevia terlibat masalah, yang ada dia yang mencari masalah. Tapi mau seperti apapun masalah nya dia selalu bisa menyelesaikan nya.


" Ngomong-ngomong, apa kau mengenal gadis bernama Meliyana itu?? Kenapa dia menempel sekali padamu??. " tanya Niu yang penasaran.


Ia ingat bagaimana Meliyana langsung memeluk dan menangis kepadanya segera setelah Quennevia masuk dan memperkenalkan dirinya diasrama mereka.


" Dia teman ku, kami bertemu saat pertemuan antara Kerajaan/Kekaisaran dulu. Dia itu satu-satunya putri raja Ludwing, putri Mahkota kerajaan Lost.. " jawab Quennevia.


Niu ber-oh ria mendengar nya, " Aku senang kau jadi teman sekamar ku, setidaknya ada seseorang yang sudah akrab dengan ku. Kau tahu tadi suasana di tempat itu benar-benar aneh, yang satunya sangat ramah sedangkan yang satunya benar-benar acuh. " gerutu nya pula.


Quennevia bisa memahami nya, sifat putri Yuki memang hampir mirip dengan ayahnya. Hanya saja dia terlalu tidak banyak bicara, hal itu membuat orang lain sungkan untuk dekat dengan nya karena berpikir dia itu sombong.


" Oh, iya. Mau sampai kapan kau menutupi wajahmu dengan cadar seperti itu, dan lagi matamu... apa tidak apa-apa??. " tanya Niu dengan khawatir.


" Aku tidak suka orang lain melihat wajah ku, dan untuk mata ku baik-baik saja. Aku hanya kehilangan penglihatan ku untuk sementara, karena waktu itu aku menggunakan suatu teknik yang harusnya tidak kupelajari. " sahut Quennevia dengan santai, meski sebenarnya ia teringat betapa marahnya Everon ketika tahu akan hal itu.


" Hee.... biar ku tebak. Kau mempelajari teknik lingkaran samsara, ya. " ucap Niu.


* Samsara adalah lingkaran dari kelahiran dan kematian tak berujung, atau bisa disebut lingkaran reinkarnasi.


" Kau tahu??. " tanya Quennevia.


" Tentu saja, meski aku hanya membacanya di buku sih. Itu adalah teknik yang sangat beresiko besar bagi penggunaan nya, apalagi jika orang itu tidak bisa menyesuaikan dengan dirinya sendiri. Meskipun resiko nya bisa sembuh dalam beberapa waktu, tapi itu membuat penggunanya harus ekstra hati-hati jika terlibat perkelahian. Kau tahu kan teknik itu harus mengorbankan salah satu dari India milikmu??. " jelas Niu.


Quennevia hanya mengangguk mendengar itu, sedangkan Niu yang melihatnya terlihat pusing dengan tingkah temannya yang sama sekali tidak berubah. Iya, mau bagaimana lagi sifat nya kan memang seperti itu, sih.