
Quennevia dan Beatrice masih terus bertarung satu sama lain, kali ini Beatrice mendapatkan kesempatan untuk melawan balik namun Quennevia pun tidak mau kalah darinya.
Trangg...
" Erghhh....!! " (Beatrice)
" Karena mu, aku harus kehilangan semuanya!! Karena salahmu... Semuanya adalah kesalahan mu!!. " ucap Quennevia.
Klangg...
Brakk...
Duarr...
" Cih, tidak ada habisnya!!. " ucap Beatrice.
- Disisi lain, jantung hutan York.
Ckress... Ckress... (Anggap aja suara sesuatu yang digunting)
Misika masih sibuk dengan rangkaian bunga yang ia buat saat ini, meski ia juga tahu apa yang sedang terjadi kepada putrinya diluar sana saat ini. Bahkan hingga membuat seluruh wilayah daratan menjadi gelap dengan awan guntur, dan badai di lautan karena kekuatan nya yang tak terkendali.
Dan saat ini para spirit guardian sedang berkumpul di tempat Misika, sambil menunggu perintah darinya tentang apa yang harus mereka lakukan dengan Quennevia yang saat ini pasti sedang mengamuk. Mereka tidak bisa bergerak begitu saja tanpa izin dari penguasa hutan.
" Sekarang bagaimana?? Quennevia benar-benar dikendalikan kebencian nya, jika seperti ini tidak akan ada yang bisa menghentikan nya hingga ia benar-benar menghancurkan dunia. " ucap Aqua.
" Bahkan para spirit yang ada disini pun bisa merasakan kebencian nya, mereka bisa saja ikut mengamuk seperti Quennevia. " sahut Freea pula.
" Tapi.. Jika kita saja tidak bisa menghentikan nya, maka tidak akan ada satu orang pun yang bisa. Kecuali... " ucap Azel menggantung.
" Kecuali orang yang jadi alasan mengapa ia bisa mengamuk seperti ini, bukan??. " jawab Wais.
Azel pun menganggukan kepala nya menanggapi hal itu, memang benar jika Quennevia sudah dikuasai amarah pasti akan sulit untuk menenangkan nya.
" Bukankah orang yang jadi alasan nya itu sudah tiada, makanya Quennevia jadi mengamuk bukan. Jadi bagaimana kita bisa menenangkan nya, jangan bilang kalian ingin memanggil jiwa nya kembali??" tanya Zeze.
" Kita bisa menyuruh bocah rusuh itu untuk bertanggung jawab, karena sebagian dari kejadian ini adalah salahnya. " jawab Everon sambil melipat kedua tangannya.
" Bocah rusuh yang kau maksud itu... Apakah Ethan??. " tanya Aqua pula.
" Iya, memangnya ada yang lain lagi??. " tanya balik Everon.
" Bagaimana menurut mu sendiri, Misika??. " ucap Mice pula yang sedari tadi diam.
Ckress...
Misika terhenti ketika mendengar pertanyaan itu, " ..... Takdir mereka berdua terikat satu sama lain, aku yakin Ethan pasti bisa melakukan nya. " jawab Misika.
Misika pun menyimpan gunting yang ia gunakan untuk memotong bunga, kemudian bangkit dari duduknya dan berbalik menatap mereka.
" Ayo pergi. " ucapnya pula yang diangguki oleh para spirit guardian.
*****
Sementara itu Ethan yang masih belum bangun itu, kesadaran nya tengah berada di suatu tempat yang ia sendiri tidak ketahui dimana. Semua yang ada disekitar nya berwarna putih, tidak ada hal lain lagi yang ada di sana, dan dirinya sendiri mengambang di tempat yang serba putih itu.
" Dimana... Aku. " gumam Ethan.
Namun seketika ia diterpa oleh angin yang sangat kencang, dan ketika ia membuka matanya kembali ia sudah berada di sebuah padang bunga yang sangat luas di sana.
" Apa yang sebenarnya terjadi. " ucapnya pula bertanya-tanya.
" Lyon!. "
Mendengar panggilan seseorang membuat Ethan menoleh, yang ia lihat didepan nya adalah seorang gadis dengan rambut biru seperti langit yang cerah, sedang berlari kearah nya dan tiba-tiba saja memeluk nya.
(*👆anggap aja kaya gitu)
Sruukk...
" Lyon, hehe... "
" Tu-Tinggu sebentar, kau itu siapa?? Kenapa tiba-tiba memelukku, dan siapa yang kau panggil Lyon itu??. " ucap Ethan yang malah bingung sendiri.
Kemudian ia pun melihat tangan nya bergerak sendiri menyentuh pipi gadis yang memeluknya itu, " Eh, kenapa tanganku bergerak sendiri??... Bukan, itu bukan tanganku. Aku.. berada di tubuh orang lain.. Sebenarnya mereka ini..siapa??" ucap Ethan pula ketika baru menyadari nya.
(*👆anggap aja gambar cowoknya)
" Oh, benar juga Quennevia. Apa yang terjadi kepadanya, bagaimana aku bisa kembali??. " gumam Ethan nampak sangat khawatir.
Ethan sangat ingin kembali, namun ia tidak bisa kembali. Dia hanya bisa melihat apa yang ada di depannya sekarang, dia tidak punya kuasa untuk melakukan apapun disana. Kedua orang yang ada di depannya itu pergi ke berbagai tempat, dan secara alamiah kaki Ethan pun berjalan mengikuti mereka, karena kedua orang itu maupun yang mereka temui tidak bisa melihat nya. Ethan pun juga merasa semakin aneh, ia melihat banyak hal ketika mengikuti mereka, sampai suatu hari...
" Hei, Lyon. Apakah.. kau menyukai ku??. " tanya gadis berambut biru itu pula.
" Tentu saja. " jawab laki-laki bernama Lyon itu.
" Meskipun aku bukan manusia??. " tanya sang gadis lagi.
" Kalau kau bukan manusia memangnya kenapa?? Selagi itu kau.. aku akan tetap mencintai mu, Sirius. " ucap Lyon itu yang kemudian memeluk perempuan yang ia panggil Sirius itu.
Disana yang sama Ethan pun sangat terkejut, " Si-Sirius?? Dia adalah Sirius?? Kalau begitu ini... ingatan Quennevia saat menjadi Sirius.. " ucap Ethan.
Ethan memutuskan untuk terus mengikuti perjalanan Sirius dan Lyon terlebih dahulu, bahkan ia juga melihat bagaimana keduanya mengalahkan Seretia di pertarungan sebelum nya. Setelah itu mereka hidup damai untuk beberapa waktu, sampai... orang itu datang.
" Itu.. Beatrice?!. " ucap Ethan ketika melihat seseorang pula yang wajahnya sangat mirip, bukan hanya mirip tapi keduanya adalah orang yg sama.
Ethan melihat bagaimana Beatrice begitu terobsesi kepada Lyon, bahkan sampai bisa melakukan banyak cara untuk memisahkan nya dengan Sirius, tapi ia selalu saja tidak berhasil. Dan ketika hari itu pun akhirnya datang tanpa ada seorang pun yang bisa menduga nya, Beatrice menculik anak-anak satu persatu dari kotanya sendiri kemudian membunuh mereka.
Kemudian ia pun menjebak Sirius ketika dimana ia berubah ke wujud bukan manusia nya, orang-orang menganggap kalau anak-anak itu ditangkap dan dibunuh oleh Sirius, dan melampiaskan amarah yang tidak benar kepada Sirius. Mereka menangkap Sirius, menghakimi nya, menyakiti nya, dan kemudian.... Membunuhnya.
Ethan yang melihat semua itu terjadi tidak bisa melakukan apapun, itu karena bukan hanya dirinya tidak terlihat tapi karena keberadaan nya di sana juga bagaikan udara yang hampa, ia tidak bisa menyentuh ataupun disentuh oleh siapapun, seperti hantu lebih jelasnya. Bahkan saat ia melihat Mice yang kehilangan kendali dan memusnahkan negeri itupun ia tidak bisa melakukan apapun selain melihat nya.
" Kenapa... jadi seperti ini..Kejadiannya. " ucap Ethan yang masih belum bisa percaya dengan apa yang ia lihat itu, semuanya berakhir dengan kekacauan begitu saja.
" Kau sudah mengingatnya?? "
Sebuah suara pula membuatnya kembali menoleh, dibelakang nya berdiri Sirius yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
" Si-Sirius... Bagaimana...??. "
" Dunia ini, Negeri ini, dan juga orang-orang ini, termasuk diriku, hanyalah kepingan memori. Karena itulah aku bertanya apakah kau sudah mengingat nya..... Ingatan mu. " ucap Sirius, saat kemudian bayangan nya itu pun tiba-tiba memudar.
" Tu-... Sebentar, tunggu dulu Sirius. Ingatan ku?? Apa maksud mu??. " tanya Ethan.
" Kau akan mengingat semuanya, tujuan mu ada di sini sudah sangat jelas. Kau sudah sangat dekat. " jawab Sirius sambil menunjuknya, dan kemudian ia pun benar-benar menghilang bersamaan dengan pandangan Ethan yang tiba-tiba berubah menggelap.
" Aku tidak bisa melihat apa-apa... aku tidak bisa mendengar apa-apa... seperti berada di dalam kegelapan yang sangat dalam. " batin Ethan.
" Kirito.... "
Sampai Ethan mendengar suara seseorang lagi yang menyebutkan sebuah nama yang tidak asing di telinga nya, nama yang pernah ia dengar dari Quennevia sebelum nya. Ia pun membuka matanya perlahan-lahan pandangan nya langsung tertuju kepada pohon besar yang tapat berada di atas kepala nya.
Wusshhh....
Angin pun berhembus di saat langit senja, disaat Ethan yang masih belum benar-benar sadar dimana dirinya saat ini. Ia pun merasakan tangan seseorang yang mengelus kepala nya dengan lembut, dan yang ia lihat kemudian adalah wajah seorang gadis yang memandangnya dan lembut serta senyuman yang sangat hangat.
" Bangunlah, Kirito. Sekarang sudah sore.. " ucap gadis itu pula.
Ethan yang baru sadar kalau sekarang ia tengah tidur di pangkuan gadis didepan nya itupun terkejut dan langsung bangun dengan perasaan yang kikuk.
" Ma-maaf. " ucap Ethan.
Tapi gadis itu malah tertawa, " Ya ampun, Kirito. Apakah pahaku senyaman itu?? Kau bahkan sampai tertidur sangat pulas. " ucap gadis itu.
" Hah?? Kirito siapa-.... "
" Ka-kau seharusnya membangunkan ku lebih awal, Nevia!. "
Ethan merasa bingung lagi sekarang, itu bukan apa yang ingin ia katakan, tapi kenapa ia malah mengatakannya.
" Ka-kenapa lagi ini... " ucap Ethan, dan kini ia malah diam berdiri di sebelah mereka yang tengah duduk di atas rerumputan.
" Hei, Nevia. Jika ada seseorang yang menyatakan cinta padamu.. apa kau akan menerima nya??. " tanya Kirito.
" Tunggu ini, aku ingat ini... " ucap Ethan pula.
" Hm.. Tentu saja aku akan menolak nya, pembunuh seperti ku tidak pantas mendapatkan cinta. Pada akhirnya mungkin aku hanya akan dimanfaatkan saja. " jawab Nevia.
" Begitu... " ucap Kirito pula sembari menekuk wajahnya, sampai Nevia mengatakan hal lainnya lagi.
" Tapi... Jika itu Kirito, mungkin aku akan menerima nya. Itupun jika kau mau hidup bersama dengan seorang pembunuh. " ucap Nevia dengan senyuman lebar kepada Kirito, disisi lain Kirito terlihat terkejut mendengar nya dan malah terdiam.
Sementara itu Ethan, dia yang hanya melihat hal itu mengingat semuanya sekarang.
" Aku ingat... ini.. kejadian ini berlangsung satu hari sebelum Nevia ditetapkan jadi buronan, ini adalah... ingatan ku. " ucap Ethan dengan wajah yang sedih sekaligus bingung dan tidak percaya.
" Akhirnya kau mengingat nya lagi ya??. " ucap seseorang pula yang membuat Ethan tersadar dari lamunan nya.