
[Season 2]
Semua orang disana sekarang menunggu jawaban Leana, penjelasan yang bisa menjelaskan tindakan nya yang seperti itu. Dan Alasan mengapa ia harus membedakan kedua anak yang telah ia lahirkan... Menunggu akhir dari ketidakadilan nya.
Angin berhembus diantara suasana yang dingin, keheningan ditempat itu begitu dalam hingga suara sekecil apapun bisa didengar. Namun... Baik itu Leana, Arkan atau yang lainnya tidak ada yang membuka mulut mereka sedikitpun. Mereka terus diam selama beberapa saat, sampai...
Leana akhirnya membuka mulutnya, " ...Karena aku membutuhkan, Arkan." dia berkata dengan suara yang pelan.
Namun jawaban itu tidak menjelaskan maksudnya...
" Ibu bisa mendapatkan kakak meski ibu tidak menyentuh kakek, jadi apa alasan ibu sampai harus melakukan hal seperti ini?" Balin juga tidak puas dengan jawaban tak jelas seperti itu.
" Arkan memiliki potensi yang besar, hanya aku yang bisa mengembangkannya. Tapi pemimpin klan pasti tidak akan setuju dengan keputusanku. Aku membutuhkan kekuatan itu untuk membalas rasa sakit dari masa lalu yang tidak pernah terlupakan. Aku tidak bisa mengakuimu karena kau mirip dengan orang yang kubenci." jawaban itu menyakiti hati Bain, jadi selama ini itulah alasan ibunya untuk mendorongnya menjauh.
Disaat yang sama, mendengar jawaban itu membuat ekspresi Reul mengerut kesal, " Jadi maksudmu, kau ingin menarik Arkan pergi ke jalan yang penuh dengan darah?! Bahkan setelah selama ini... Kau tidak bisa meninggalkan dendam dalam hatimu dan memutuskan untuk membalas mereka menggunakan putramu sendiri?!!" Reul berteriak penuh dengan amarah.
Bukan hanya dia yang tidak setuju dengan keputusan tidak masuk akal seperti itu, Lewis juga sama. Itu tidak akan menjadi kebahagiaan bagi siapapun, apa yang dia coba lakukan hanyalah menghancurkan masa depan putranya. Dan memisahkannya dengan keluarga yang bisa melindungi dan menyokong nya.
" Kau bisa mengatakan hal itu karena kau tidak merasakan apa yang aku rasakan, Reul!" Leana membalasnya dengan putus asa, dia tahu dia gagal, tapi ini tidak adil baginya yang merasakan penderitaan. "...Aku tahu aku salah, tapi aku tidak bisa membiarkan mereka!."
" Meski begitu, apa perlu kau membawa putramu seperti itu?"
" Karena hanya Arkan yang memiliki kekuatan itu... Karena kau tidak peduli denganku, jadi hanya Arkan yang ada disisiku. Tapi sekarang dia juga pergi..."
" Bagaimana bisa... kau mengatakan hal seperti itu. Yang menghindariku itu kau, Leana.."
Reul mengapalkan tangannya dengan erat, ekspresi nya berubah muram. Dia tidak percaya kalau istrinya merasa kalau dirinya tidak mempedulikan nya, itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Setiap waktu, sebelum kesehatannya jatuh dahulu, Reul selalu berusaha untuk memahami Leana.
Apa yang dia lakukan, apa yang dia sukai, dan apa yang dia inginkan... Reul selalu memperhatikan semua itu.
" Apa kau pikir aku membawamu karena rasa kasihan...?? Tidak seperti itu. Itu karena aku jatuh cinta padamu..."
Benar, Reul mencintai Leana. Saat pertama kali bertemu dan membantunya dari pembunuh bayaran, jujur saja itu karena dia memang kasihan. Tapi setelah memperhatikan nya lebih dekat dan mengetahui masa lalunya, dia jadi peduli.
Saat itu Reul sendiri tidak yakin dengan apa yang ia rasakan, tapi dia selalu ingin melihat Leana didekatnya. Dia selalu khawatir, dan takut jika dia pergi. Karena itu... Saat pembasmian selesai, dia ingin langsung membawanya ke hadapan ayahnya. Saat Leana menerimanya, dia sangat bahagia karena berpikir dia juga memiliki perasaan yang sama.
Tapi sepertinya itu hanyalah kesalahpahaman nya belaka...
" Sekalipun ibu menggunakan ku atau Balin, ibu tidak akan bisa menjatuhkan keluarga ibu."
Arkan menengahi pertengkaran kedua orang tuanya itu, membuat semua perhatian langsung tertuju kepadanya.
" Tidak peduli apa yang ibu lakukan, ibu tidak akan bisa menggulingkan keluarga ibu dan hanya ibu yang akan dirugikan." lanjutnya pula.
" Arkan.. Apa yang.. Bagaimana bisa kamu..." Leana menatapnya dengan ekspresi bingung dan terkejut.
Sementara Arkan, dia hanya diam tanpa ekspresi dan menatap kosong kearahnya. Ia pun kembali berkata, " Keluarga mu ibu, mereka mendapatkan perlindungan dari keluarga kerajaan. Jika kau ingin menggulingkan mereka, butuh lebih dari sekedar usaha untuk memperkuat kekuatan ku, kau juga butuh orang yang bisa mengendalikan kekuatan politik itu."
" Arkan..."
" Bahkan untuk diriku yang ada disini, masih sangat jauh untuk sampai pada tahapan diriku."
" Arkan, apa yang kau katakan..??"
[" Apa kau akan memberitahu mereka langsung...??"]
Suara familiar itu kembali terdengar didalam kepalanya, dirinya yang lain mempertanyakan rencana nya selanjutnya. Arkan memejamkan matanya karena itu...
" Ini adalah waktu yang tepat, aku juga harus segera kembali."
Dan Arkan tidak punya kewajiban untuk tetap berada ditubuh ini selamanya, seingin apapun ia akan keluarga yang bahagia... Ini bukanlah tempatnya.
Sebuah kekuatan menyeruap keluarga dari tubuh nya, sesuatu keluar dengan paksa namun halus dari tubuh itu. Sementara itu, Ayah, kakek, saudara maupun ibunya terdiam dengan ekspresi terkejut melihat apa yang terjadi.
Sebuah sosok lain, tubuh astral Arkan mewujudkan dirinya sendiri ke dunia, terpisah dengan tubuh fisiknya didunia ini. Dan dirinya yang lain kembali mengambil kendali atas tubuhnya lagi, berdiri disampingnya kemudian menoleh dan menatapnya.
" Sudah kubilang kau berjalan terlalu jauh..." ucap dirinya yang lain, sedangkan Arkan hanya diam mendengar itu. "...Aku sudah pernah bilang padamu, kalau tidak perlu melakukan nya sampai sejauh ini." ucapnya kembali.
" 'Dan aku telah memberitahumu kalau aku datang untuk mendapatkan jawaban'." ucap Arkan sendiri masih tanpa ekspresi.
" Jadi, apa kau mendapatkan jawaban mu?"
" 'Aku tidak tahu. Aku yakin aku ingin tahu alasannya, tapi hal yang mengganjal dihatiku masih tetap ada'."
Dirinya yang lain menghela nafas lelah mendengar perkataan nya, sementara Arkan hanya menaikan alisnya melihat itu. Rasanya sedikit aneh melihat dirinya sendiri seperti itu.
" Arkan..." perhatian mereka teralihkan ketika mendengar suara Lewis, dihadapan mereka orang-orang yang masih belum mengerti dengan situasi terdiam dengan ekspresi bingung. " ...Arkan, apa maksudnya ini?? Bagaimana..." Lewis jadi yang pertama bertanya disana.
Kedua Arkan disana saling pandang satu sama lain setelah mendengar itu, lalu dirinya yang lebih kecil memalingkan wajahnya dengan ekspresi kesal dan melipat kedua tangannya.
" Kau yang membuat situasi ini, jadi kau yang jelaskan." ucapnya dengan ekspresi wajah kesal.
Sementara Arkan sendiri hanya tersenyum, " 'Yeah, itu akan jadi penjelasan yang panjang jika dijelaskan dengan detail. Tapi secara singkat, aku dari dunia lain. Dari masa depan yang berbeda dengan kalian'."
" Apa.. bagaimana bisa.."
" 'Aku tahu dia sulit diterima, dan aku tahu ini mustahil. Terima kasih kepada pohon kehidupan aku bisa datang ke tempat ini. Meskipun ini memang mengejutkan, aku juga bukanlah orang yang kalian kenal'.."
Perhatian Arkan pun kemudian tertuju kepada Balin yang menatapnya dengan terkejut, bukan hal aneh, tapi dia meneteskan air matanya. Arkan menggigit bibirnya berusaha menahan sesuatu yang mencoba keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Dan ia pun berpaling dan berjalan mendekati Aziel disisi lain, Arkan pun kemudian mengelus kepalanya dengan ekspresi sedih.
" 'Aku datang hanya untuk mencari ujianku, tapi aku masih tidak mengerti niat dari pohon kehidupan membawaku ke dunia ini. Kupikir jika aku tahu asal muasal aku dibenci ibuku, aku bisa menebaknya. Rupanya hanya kekecewaan yang kudapatkan'..." ucapnya kemudian.
Sementara disisi lain, Leana tertegun mendengar itu. Ia pun sontak mengangkat kepalanya menatap Arkan bingung karena perkataannya..
" Apa maksudmu 'aku membencimu'... Arkan..? "
" 'Posisi kami bertukar. Didunia ku, yang ada diposisi anak emas adalah Balin, dan orang yang menjadi bayangan adalah aku. Akhir yang kami temui ditempat itu begitu buruk, sampai hubunganku dengan saudaraku pun semakin memburuk'..."
" Bagaimana mungkin itu... Lalu kenapa kau mencoba mengubah semuanya disini, meski kau tahu itu tidak akan mengubah apapun didunia nyata??"
Ekspresi nya berubah lagi. Leana kembali tenggelam dalam rasa ketidak adilan yang tidak rasional, harusnya dia tahu maksud nya melakukan ini meski Arkan tidak mengatakan nya. Namun sekarang Arkan juga sadar, inilah yang petunjuk katakan 'kasih sayang yang salah'.
Ini mengerikan.
" ....'Aku tidak tahu'." Tapi Arkan bahkan tidak bisa menjawab itu dengan benar.
" Sungguh jawaban yang tidak bertanggung jawab, bagaimana bisa kau--.."
" 'Mungkin aku yang terlalu bodoh... karena tetap mengharapkan kasih sayangmu meski tahu kau tidak pernah melihatku'." Arkan memotong perkataan Leana sebelum ia menyelesaikan nya, dan langsung membuatnya terdiam. " 'Bahkan ketika kau membuat drama bodoh dengan membunuh ayah dan kakekku, kemudian menendangku keluar dari klan sebagai kambing hitam. Aku tetap berharap kau akan datang menjemputku dan membelaku'.." lanjutnya pula.
Sebuah senyuman getir terlihat diwajahnya, itu menyakitkan, tentu saja. Apalagi ketika dirinya tahu kalau ibunya sendirilah yang melakukan hal itu, harapan dalam hatinya langsung berubah menjadi keputusasaan yang begitu dalam.
Arkan selama ini bertanya-tanya, kenapa dia berharap akan cinta buta dari wanita yang telah menghancurkan hidupnya. Apakah karena dia adalah ibunya..?? Tidak ada jawaban yang pasti, tapi kenyataan itulah yang ia katakan kepada Balin disini.
Perasaan yang tertanam tidak bisa dihilangkan begitu saja. Dia membencinya, sangat!
Tapi jauh didalam lubuk hatinya, Arkan tetap mengharapkan sebuah kesempatan dimana ibunya akan memeluknya dengan penuh kehangatan dan menatapnya dengan lembut. Itu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.
Namun itu hanyalah bayang-bayangnya, angan-angan yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan....
" 'Aku membencimu'." dan sekarang ia mengungkapkan hal itu kepadanya meski bukan dirinya yang sesungguhnya. " 'Aku benar-benar membencimu yang mengaku sebagai ibuku, orang yang telah merebut semua kebahagiaanku. Dan membuatku serta saudaraku menderita'...."
Dia ingat Ethan pernah mengatakan sesuatu kepadanya...
["Kau terlalu memendam perasaan sendiri, ungkapkan saja. Jangan membebani diri sendiri."]
" 'Aku sungguh-sungguh membencimu. Tapi apa yang harus kulakukan karena aku juga menyayangimu'..."
Matanya mulai terasa panas dan Air mata pun jatuh perlahan dipipinya...
Lalu Oscar selalu mengingatkannya...
["Hei, kami ini temanmu, kan? Kami temanmu. Jadi jangan menyembunyikan kesedihan sendirian, katakanlah kepada kami agar kau merasa sedikit lega. Kami selalu ada untukmu..."]
" 'Aku menjalani kehidupan yang sulit setelah keluar dari klan, dan selalu dikejar bahaya. Namun berkat itu aku juga bertemu dengan teman-teman yang peduli padaku, lebih dari pada keluarga ku sendiri'..."
Kenangan itu datang bersamaan, bercampur aduk dan menghantamnya seperti ombak, yang baik dan yang buruk, hari-hari dimana ia mencoba bertahan hidup seorang diri, dan hari-hari yang ia habiskan bersama teman-temannya.
Saat ia tahu kakek dan ayahnya mati...
Saat dia bertemu dengan Ethan dan Oscar..
Saat saudaranya mengincar nyawanya...
Saat teman-temannya selalu menunggunya pulang dan tersenyum dengan ramah...
Ketika dia harus menderita seorang diri..
Ketika dirinya dikelilingi oleh mereka yang sangat peduli padanya...
Ethan yang bijaksana, Oscar yang tenang, Niu yang lembut, Meliyana yang ceria dan penuh semangat, Yuki yang dingin tapi peduli dan...
" Arkan..."
...Quennevia yang selalu mengulurkan tangan kepadanya ketika ia terjatuh.
Itu adalah kenangan yang sangat ia hargai, teman-teman yang sangat berharga dibandingkan apapun yang ia miliki. Arkan mengepal tangannya dengan erat menahan emosinya, kemudian ia pun menarik nafas panjang dan kembali menghembuskan nya.
Ia kembali mendapatkan ketenangannya, "....'Sekarang aku tidak peduli lagi padamu. Mau kau mencintaiku atau membenciku, karena aku punya hal yang lebih penting'." Itu juga sebuah kejujuran, namun dia masih punya sedikit harapan juga.
" 'Akan tetapi...!! Setidaknya disini, ditempat ini.. Kumohon jangan buat kesalahan yang sama, tolong jangan menjerumuskan anak-anakmu ke dalam jurang keputusasaan yang sama. Bukan salahmu jika kau punya masa lalu yang sulit, bukan salahmu jika kau ingin menuntut keadilan, tapi gunakanlah cara yang benar! Jangan menghancurkan masa depan anak-anakmu! Atau kau tidak ada bedanya dengan ayah yang begitu kau benci itu...!" Arkan memohon dengan kesungguhan hatinya dan menatap Leana dengan ekspresi memelas ketika air matanya terus jatuh.
Leana masih terdiam mendengar semua itu, dia tetap diam... saat kemudian ia pun menundukan kepalanya, dan sesuatu mulai jatuh dari kedua matanya. Iya... Dia menangis.
Leana menatap kedua tangannya yang gemetar, " Aku.. melakukan itu... Aku melakukan nya.. Apa yang.. sudah kulakukan..." dan ia pun menggunakan kedua tangan itu untuk menutupi wajahnya.
" Maafkan aku.. Maafkan aku... Aku salah. Aku membuat kesalahan... Aku minta maaf..."
Suara penuh penyesalan terdengar darinya disela isak tangisnya, mendengar kebenaran dan bagaimana nasib satu dari anaknya dalam penderitaan. Leana mungkin akhirnya sadar... kalau apa yang telah ia lakukan, tidak jauh berbeda dengan apa yang ayahnya lakukan kepadanya.
Dia memisahkan kedua putranya, memberikan kasih sayang yang tidak seimbang dan hampir menghancurkan kebahagiaan mereka. Dia hampir membunuh ayah mertua yang begitu baik padanya, dia hampir membunuh suami yang selalu peduli kepadanya.
Jika saja dia benar-benar melakukan hal itu, pada akhirnya dirinya hanya akan sendirian...
Dia akhirnya sadar akan hal itu.
Bukan hanya dirinya dan Arkan yang menangis disana, bahkan Arkan kecil dan Balin juga. Lewis dan Reul menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih. Terlalu banyak yang terjadi dan mereka ketahui saat ini, dan mereka belum siap untuk menerima nya.
Leana mungkin akan diberikan kesempatan kedua, anak-anak nya disana akan kembali membuka hati padanya jika dia berkata jujur dan mulai percaya. Meski begitu... dia harus tetap menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.
Setelah pengakuan yang mengejutkan itu, orang-orang Lewis pun datang dan membawanya dan pelayannya pergi untuk menunggu pengadilan karena melakukan percobaan pembunuhan kepada kepala Klan. Anak-anak yang harus bersiap untuk nasib ibu mereka berkumpul disekitar ayah mereka.
Sementara Arkan dan Aziel yang tidak berasal dari dunia itu, mereka harus bersiap untuk pergi dan kembali...
Tap...
" Apa yang akan kau lakukan sekarang, nak...??" suara itu mengalihkan perhatian nya dari Aziel.
Arkan menoleh dan mendapati Lewis berdiri tak jauh darinya dan menatapnya. Bukan hanya dia, dua saudara itu dan ayah yang ia kenal juga menatapnya dengan lekat. Arkan hanya tersenyum, kemudian ia pun mengalihkan perhatian nya ke danau tempat nya datang.
" ...'Aku harus kembali. Ada orang-orang yang menungguku untuk pulang'." ucapnya menimpali Lewis.
Lewis yang mendengar itu pun ikut tersenyum, " Kelihatannya kau sama sekali tidak sendirian, kan? Mereka orang-orang yang berharga bagimu itu." ucapnya pula.
Arkan menganggukan kepalanya membenarkan hal itu, " 'Iya, mereka'."
" Bagaimana dengan hal yang kau cari itu?" Reul pun ikut bertanya disana.
Tapi Arkan tidak tahu. Dia bahkan meragukan perasaannya sendiri, " 'Entahlah... aku yakin ini yang kuinginkan, tapi'..." perhatian nya jatuh kepada Balin yang sedang menatapnya disana, dan ia langsung terdiam.
Balin yang melihat itu juga sadar, dan ia pun bertanya. " Bagaimana dengan aku diduniamu? Apa kau membencinya juga?"
" 'Tidak. Dia hanya orang bodoh yang percaya pada ilusinya... Iyah, aku yang seperti ini juga tidak ada bedanya dengannya, sih'."
" Mungkin kau sedang menunggunya..."
" 'Menunggu...?'." Arkan tidak yakin apa maksud nya...
" Bicara padanya." saat kemudian dirinya yang lain pun menengahi mereka, perhatian pun jadi tertuju padanya. " Jika kau ingin tahu apa itu, bicara padanya. Itu yang kau lakukan pertama kali disini, mungkin juga kau harus melakukan itu disana." lanjutnya pula dengan wajah acuh tak acuh.
" 'Ah'..." tapi bagi Arkan itu adalah sebuah pencerahan.
Arkan pun jadi mengingat percakapan yang ia lakukan bersama dengan Kagura malam itu, dan apa yang ia katakan kepadanya...
[" Itu artinya kakak sedang merindukan saudaramu."]
Ah, sekarang Arkan tahu apa yang harus dia lakukan.
" 'Hahaha... Sekarang aku tahu apa yang kuinginkan, aku juga ingin memperbaiki hubunganku dengan saudaraku'. " dia tersenyum dengan cerah, membuat yang lainnya pun juga ikut senang dia menemukan tujuannya.
" 'Mungkin aku akan mulai bicara dan memanggilnya bodoh tepat didepan wajahnya setidaknya sekali'. " ia sangat mengharapkan hal itu.
[«Itu..kah jawa..ban mu?»]
Saat suara itu masuk ke dalam kepalanya, mengalihkan perhatian Arkan. Itu suara yang tidak ia kenal, namun rasanya begitu hangat dan lembut.
" 'Siapa..? Apa... Pohon kehidupan..'. "
" Kalau begitu kau harus tahu melakukan apa, Arkan."
Suara lain kembali muncul dibelakangnya, Arkan pun sontak menoleh kepada suara hangat dan manis yang ia dan teman-temannya rindukan.
" 'Quen..nevia'..."
Dia berdiri disana, diatas air tepat didepannya. Sosok yang indah itu...
Dia tersenyum kepadanya, kemudian mengulur tangan seperti yang selalu ia lakukan.
" Kemarilah, kami sudah menunggumu.."
Ia telah menunggu-nunggu saat ini, Arkan ingin menyambut kembali tangan hangat yang selalu menyambut semua orang itu. Jadi ia pun mendekat, ia berlari kearahnya dan menggenggam tangan itu.
" 'Ayo kembali, Quennevia. Kepada teman-teman kita'..."