Quennevia

Quennevia
Spider lily emas



[Season 2]


[" Aarrggghhhh..!!!"]


Suara melengking itu kembali terdengar di labirin kegelapan, mengejutkan Oscar dan yang lainnya. Mereka yang sedang bergerak menuju ke tempat Niu pun sontak menghentikan langkah mereka dan menutup kedua telinga masing-masing.


Suara itu bergema dengan sangat keras hingga rasanya gendang telinga mereka seperti akan pecah.


" Ughh... Apa lagi ini, siapa yang berteriak??" ucap Arkan yang bertanya-tanya tentang hal itu.


Namun tidak ada yang menjawabnya karena mereka hanya fokus untuk melindungi telinga mereka.


Hingga beberapa saat kemudian, suara itu pun menghilang ditelan kegelapan. Mereka saling pandang sesaat, suara yang mereka dengar itu berasal dari depan sana. Oscar yang pertama kali melangkah mendekat, ia menyentuh dinding yang membatasi mereka dengan tempat itu.


Dinding itu sekarang terasa tebal dibandingkan saat Niu menyentuhnya.


" Kita harus masuk, ada yang punya ide bagaimana caranya??" tanya Oscar yang kemudian berbalik menatap teman-teman dibelakang.


Namun para gadis kemudian memusatkan perhatian mereka kepada satu orang ditengah-tengah, melihat itu Oscar pun jadi ikut menatapnya. Sementara itu... Orang yang ada ditengah, lebih tepatnya Arkan bertanya-tanya apa maksud mereka menatapnya seperti itu.


" Apa..??"


***


Didalam tempat itu sendiri, sosok yang mirip dengan Niu itu hanya terduduk diam dihamparan kaca yang berserakan dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia mendapatkan serangan ke dalam dirinya sendiri setelah Niu memecahkan serangan mentalnya.


[" Sialan... Perempuan kecil itu.."]


Sosoknya yang awalnya seperti Niu pun mulai berubah, rambut nya orange seperti Niu berubah menghitam. Dan matanya pun menjadi warna hijau, dia jelas salah satu roh yang menyesatkan itu.


" Melihat mu seperti itu rasanya aku menang."


Suara itu kemudian mengejutkan arwah itu, Niu kembali ke sana dan mendarat dengan lembut diatas lantai. Sebilah pedang masih ada ditangannya, dan ia menatap orang yang telah mempermainkan nya sebelumnya dengan ekspresi dingin.


[" Diam kau! Anak kecil yang tidak tahu apa-apa sepertimu memangnya bisa apa?!"]


Arwah itu justru mengaum marah, dia melesat kearah Niu dan ingin menyerangnya. Namun Niu lebih cepat, ia memasang kuda-kuda dan menikam dada arwah itu dengan pedang ditangan nya.


Jlebb...


[" Ackk!!"]


Arwah perempuan itu pun jatuh diatas lantai dan tidak berdaya lagi, dia bahkan tidak bisa bergerak lagi.


Disisi lain, Niu menghela nafas panjang dengan itu. Dia cukup lelah dan... malu jika memikirkan apa yang terjadi kepadanya tadi. Beruntung tidak ada yang melihat hal itu.


Saat kemudian...


" Uhh..."


Perhatian nya teralihkan kepada suara yang terdengar ragu itu. Ia pun sontak menoleh, dan ia mendapati teman-teman nya yang lain menatapnya terkejut, apalagi dengan apa yang ia lakukan tadi.


" Ah, kalian disini..."


Situasi mereka tiba-tiba jadi canggung...


Saat kemudian Niu menemukan hal aneh yang terjadi, kenapa mereka mudah sekali menerobos dinding itu sementara ia harus berusaha keras memecahkan teka-teki. Wah, ini ketidakadilan yang benar-benar parah.


" Jadi Niu... Um, apa yang terjadi? Kenapa kau menusuk wanita.. Ah tidak. Kenapa kau menusuk arwah ini??" Oscar pun bertanya disana dan berjalan mendekat lebih dulu.


" Soal itu..." kata-kata Niu menggantung, apakah dia akan mengatakannya. Tidak, itu hal memalukan. " ...Aku tidak mau mengatakannya." ucapnya yang kemudian memalingkan wajahnya kearah lain.


Oscar hanya tersenyum bingung dengan itu, " Baiklah. Jadi apa dia menyerangmu? Kami mendengarmu berteriak sebelumnya.."


" Katakan saja seperti itu.."


" Ada apa dengan kalian ini??" tanya Arkan pula yang tiba-tiba muncul tak jauh dari mereka. " Kalian seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta saja." lanjutnya pula yang mana membuat Oscar dan Niu terperanjat kaget.


" A-Apa.. Apa yang kau katakan?! Ini tidak seperti itu.." Oscar langsung menampik hal tersebut, dengan wajahnya yang bersemu merah. Sedangkan Niu berusaha untuk tidak menatap Arkan yang berkata demikian.


" Ah begitu..."


" Tentu saja begitu!."


Di lihat bagaimana pun... ekspresi Arkan terlihat seperti orang yang tidak percaya dengan hal tersebut, dia memang tidak yakin.


Sementara dua yang lainnya hanya menatap kelakuan mereka dibelakang sana.


Sampai kemudian Yuki pun angkat suara, " Ekhem... Aku benci mengganggu momen kalian, tapi apakah kalian lupa kalau kita perlu melakukan sesuatu disini??" tanyanya yang langsung menyadarkan mereka.


" Benar! Kita harus mencari bunga emas itu!" sahut Arkan yang akhirnya teralihkan dengan itu.


" Tidak perlu, sepertinya kita sudah menemukan itu." dan Meliyana kemudian berkata demikian.


Mereka yang mendengarnya dibuat bingung, Meliyana pun menunjuk apa yang dia maksud, mereka pun kemudian mengikuti kearah mana ia menunjuk. Dan itu adalah.... Arwah yang ditusuk Niu tadi.


Sebuah sinar terlihat memancar dari luka yang dibuat pedang Niu, Oscar yang melihat itu pun kemudian mencabut pedangnya yang masih menancap didada arwah itu. Tak lama dari itu... sesuatu pun keluar dari sana.


Itu sebuah tunas. Tunas itu kemudian tumbuh dari luka yang tercipta, semakin besar dan akhirnya mekar menjadi bunga emas yang cantik. Itu adalah 'spider lily emas' yang mereka cari.


" Wah, aku tidak percaya akan semudah ini." ucap Arkan ketika melihat itu.


Namun kemudian ia sadar dengan ekspresi cemberut Niu disampingnya, dia seperti itu karena kata-katanya.


" Mudah pan*at mu. Aku hampir mati karena ditarik masuk ke dalam kolam oleh para arwah." Niu berkata dengan kesal.


" Maaf, aku tidak tahu." Arkan segera menjawabnya seperti itu.


Namun kemudian mereka teralihkan kepada Meliyana yang berjalan mendekat dan mengeluarkan sebuah tabung yang cukup besar. Didalam tabung itu ada segumpal tanah yang sebelumnya ia ambil, dan Meliyana pun memindahkan bunga itu ke dalam tabung tersebut.


Teman-teman nya terkagum-kagum dengan itu, awalnya mereka bertanya-tanya kenapa Meliyana mengambil tanah dari dunia bawah. Jadi ini maksudnya.


" Selesai! Sekarang bunganya akan tetap hidup untuk waktu yang lama." ucap Meliyana ketika ia selesai sambil mengangkat tabung berisi bunga itu dengan bangga.


" Aku tidak yakin kalau bunga ini akan layu dengan mudah meskipun tidak kita tanam." Yuki kemudian menimpalinya dengan berkata seperti itu.


" Tapi... bukankah seperti ini jadi lebih cantik??"


Yah, mereka tidak bisa mempungkiri hal itu. Apa yang dilakukan Meliyana memang cantik.


Sebenarnya, pada awalnya Meliyana juga berniat mengambil air dari sana untuk bunganya. Namun Ethan telah memperingatinya untuk tidak mendekati sungai dunia bawah sembarangan, jadi ia mengurungkan niatnya itu.


" Baiklah sekarang, kita harus mencari jalan keluar saja." ucap Niu kemudian, tapi yang jadi masalahnya adalah... Bagaimana.


Mereka juga sudah memikirkan hal itu sejak pertama datang ke sana, namun tidak ada yang berhasil menemukan jalan keluar dari tempat itu. Saat kemudian, seekor kupu-kupu melintas didepan wajah Niu, kupu-kupu yang familiar dengan nya.


Karena itu, Niu pun terus menatap kemana kupu-kupu tersebut pergi. Ia berjalan kearah jalan yang dibuat oleh Arkan dan yang lain tadi, namun sebelum ia melewatinya, kupu-kupu tersebut berhenti dan hinggap di dinding dekatnya.


Kupu-kupu tersebut membuka tutup sayapnya seolah memberi sinyal, dan saat itulah Niu sadar.


Sementara yang lainnya hanya diam, mereka saling tatap sebentar sebelum akhirnya ikut berjalan mengikutinya juga.


***


- Disaat yang sama, ditempat Ethan berada.


" Mereka sudah berhasil, maka aku juga harus kembali." Ethan berkata demikian, saat ia pun bangkit berdiri dari atas kursi.


Ethan berjalan menuruni beberapa anak tangga yang pendek untuk keluar dari gazebo, saat suara Hades kemudian menghentikan nya.


[ Kau akan langsung pergi ke tempat itu??]


" Iya, begitulah."


[ Apa kau tidak memiliki hal yang kau inginkan?]


" .....Jika itu yang kau tanyakan, ada satu sebenarnya.."


Ethan menggantung kata-katanya, saat ia pun kembali menolah dan mengatakan hal yang ingin ia katakan kepada sosok dihadapan nya.


" ...Berikan tombak itu padaku."


Namun kali ini, perkataan Ethan membuat kening Hades berkerut. Itu mungkin sesuatu yang besar...


[... Ethan, apa kau tahu bobot dari perkataan mu itu?] Hades berkata demikian dengan ekspresi yang sangat serius.


Tapi Ethan hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai, " Iya, aku tahu. Lagipula kalian akan memberikan nya kepada anak itu, jadi kenapa tidak berikan padaku lebih dulu yang lebih membutuhkan nya sekarang?" ucapnya kemudian.


[Tombak itu bisa menghancurkan tiga alam.]


" Pedang yang kubawa dan milik Quennevia juga sama.."


[Ethan, kau yang paling tahu dengan hal itu...] Hades langsung memotongnya setelah ia selesai mengatakan hal itu, dia benar-benar serius. [ ....Tombak itu juga merupakan kunci untuk makhkuk buas yang tersegel jauh dibawah tanah.]


Ethan tahu itu.


Ia mengalihkan pandangan nya kebawah sana, ekspresi nya berubah suram dan kedua matanya kehilangan cahaya nya ketika sebuah kehancuran terlintas dikepalanya. Itu hal yang menjadi awal segalanya, dan kahilangan terbesar mereka.


Hades juga menyadari hal itu, dan ia hendak mengatakan sesuatu, namun Ethan lebih dulu berkata disana.


" ....Itu tidak akan terjadi lagi. Aku akan menggunakan nya untuk membangunkan Quennevia."


[....]


" Kau bilang kalau kalian telah melakukan pertaruhan besar, kalau begitu lakukanlah sampai akhir..." Ethan berkata seperti itu, saat kemudian ia pun menatap dengan tajam.


" ...Pertaruhkan segalanya untuk mengembalikan dia yang telah hilang. Kupikir kalian peduli kepada saudari kalian yang mati ketika perang terjadi, jadi kenapa kalian diam saja selama ini??" lanjutnya kemudian.


[....] Hades tetap terdiam, ia menatap Ethan yang ada dihadapan nya dengan seksama. Tak lama dari itu, ia pun kemudian menutup matanya dan menghela nafas sejenak. [ Ha... Tombak itu ada di'pohon dunia', jika kau mau dan jika Euclide serta pohon dunia mengizinkan nya, maka ambil saja]


Ethan yang mendengarnya kemudian menganggukan kepalanya, dan ia kembali berbalik untuk pergi. Saat itulah, dia mengatakan sesuatu terlebih dahulu...


" Sampai jumpa dihari yang dijanjikan.... พี่ชาย."


Dia berkata seperti disaat yang sama dengan dirinya yang hilang dari sana. Sedangkan Hades hanya diam menatapnya tenpa mengatakan apapun lagi.


****


Oscar dan yang lain nya masih menyusuri labirin tempat mereka berada saat ini, mereka terus mengikuti kupu-kupu untuk menemukan jalan keluar. Dalam situasi tenang yang seperti itu, bagi mereka itu justru agak menyeramkan. Ketika kegalapan dibelakang mereka seolah melahap labirin ini dan membuatnya menghilang tanpa sisa.


Tidak ada yang berani untuk menoleh kebelakang, mereka semua hanya fokus berlari mengikuti jejak cahaya didepan mereka. Keringat dingin membasahi tubuh mereka, ditengah suasana dingin yang terasa hingga menusuk tulang. Sampai kemudian mereka melihat sesuatu diujung jalan...


" Itu jalan keluar! Lari lebih cepat!." ucap Yuki kepada mereka semua.


Yang lain pun mengangguk mengerti, dan masing-masing dari mereka mulai menambah kecepatan lari mereka.


Dan satu langkah terakhir, mereka melewati batas labirin. Mereka berlima keluar dari lebirin itu. Mereka benar-benar bahagia, saat...


...Meliyana tergelincir didepan mereka.


" Uakk!!" dia terjungkal hingga membuat Arkan yang berlari dibelakang nya pun berhenti mendadak, namun Oscar yang tidak sempat melakukan itu menabraknya.


Demi agar tidak jatuh diatas tubuhnya yang kecil, keduanya pun memilih menjatuhkan diri kebelakang. Namun sayang keduanya juga malah menabrak Niu yang berdiri disana.


" Oh, tidak!."


" Gyaa!!"


Brukk..


Mereka jatuh bersama disana...


Kecuali Yuki. Dia yang mendengar suara gedebruk yang keras itu pun langsung menoleh, dan ia mendapati teman-teman nya terbaring ditanah dengan ekspresi kesakitan diwajah mereka.


Namun Yuki hanya menaikan sebelah alisnya dengan hal itu, " Apakah ini waktunya tidur?" tanyanya dengan santai kepada mereka.


Teman-teman yang mendengar itu hanya menatap nya dengan ekspresi mencela, dia bahkan tidak berpikir untuk membantu mereka yang jatuh tepat dibelakang punggungnya. Benar-benar tidak berperasaan.


" Aduh... rasanya bagian belakangku sakit sekali." keluh Meliyana ketika bangun dari atas tanah.


Dan disaat itu, Niu pun menimpalinya. " Menurutmu bagaimana perasaanku yang ditimpa oleh dua laki-laki ini??" tanyanya.


Sementara Oscar dan Arkan malah pura-pura tidak mendengar hal tersebut. Itu menjengkalkan, tapi ya mau bagaimana lagi... Itu juga adalah sebuah kecelakaan.


" Wah, apa yang aku lewatkan...?" sampai kemudian perhatian mereka teralihkan kepada suara itu.


Ethan datang mendekat kearah mereka dengan ekspresi cerah, dia tidak merasa kasihan sama sekali dengan apa yang telah terjadi kepada mereka, bahkan tidak bertanya apa mereka baik-baik saja. Dengan santainya dia berkata seperti itu dan tersenyum.


Itu langsung membuat Oscar dan Arkan kesal, terutama Niu yang mendapatkan lebih banyak masalah.


" Oscar, apa kau ingat dengan apa yang kita bicarakan waktu itu??" tanya Arkan kemudian.


Dan Oscar menganggukan kepalanya kepada itu, " Aku ingat." jawabnya.


" Ayo kita lakukan."


Keduanya mengepalkan tangan dengan semangat yang berapi-api dimata mereka yang penuh dendam, sementara Yuki dan Meliyana hanya diam dengan canggung.


Saat, " Aku tidak tahu apa yang kalian sepakati, tapi aku ingin ikut." Niu juga ikut ambil bagian dengan mereka.


Sementara Ethan yang melihat tekad mereka itu jadi terkejut, dia merasakan firasat buruk yang sama dengan sebelumnya kembali dari mereka.


" Te-teman-teman... tunggu, dengarkan penjelasanku dulu.." dia berusaha mengatakan sesuatu, tapi mereka bertiga tidak bisa diajak kompromi lagi.


Pada akhirnya.. Yang bisa Ethan lakukan adalah berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dari ketiganya.