
Di hutan tidak jauh dari kota, Quennevia memutuskan untuk pergi ke sana untuk mencari sesuatu yang bisa membuatnya lebih kuat. Tentu saja Ethan juga ikut, lagipula mereka memang sedang bersama, sedangkan Kai dan Meliyana entah pergi ke mana tapi mereka belum bertemu.
Mereka terus masuk ke dalam hutan, sampai ke sebuah pinggiran sungai yang ada di sana.
" Sebenarnya kenapa kau mau datang ke mari??. " tanya Ethan.
" Mencari kekuatan. " sahut Quennevia.
" Mencari kekuatan, ehh?? Kalau mau kekuatan harusnya kau berlatih. "
Quennevia hanya melirik nya sebentar, tapi kemudian kembali memperhatikan sungai yamg mengalir dengan tenang itu. Ia pun menyayat tangannya sendiri, dan membiarkan darahnya mengalir mengikuti sungai.
" Bagaimana?? Bukankah darahku sangat enak untuk kalian?. " ucap Quennevia, seolah-olah sedang bicara dengan seseorang.
Ethan hanya memperhatikan apa yang dilakukan Quennevia di belakang nya, lalu tak lama air yang tenang itu berubah menjadi bergejolak, seperti ada sesuatu yang akan muncul kepermukaan dari dalam sana.
Dan memang benar, seekor monster ikan melompat keluar dari dalam sungai, dan monster itu hendak menyerang Quennevia. Quennevia yang ada tepat di depan monster itu hanya memandang nya, sambil tersenyum kepada si monster itu.
" Pedang api. " ucap Quennevia, lalu muncullah kobaran api yang berubah menjadi pedang. " Tebasan bilah api. " ucapnya lagi.
Boomm...
Saat itu Quennevia menebas udara di depannya, dan muncul bilah api yang melesat ke arah monster itu, dan meledak saat mengenainya. Monster itupun langsung terjatuh di samping mereka.
" Woow... " hanya itu yang diucapkan oleh Ethan.
Monster itu terlihat masih hidup dan bergerak-gerak, Quennevia pun menusuk kan pedangnya ke monster itu, berulah ia diam seperti seharusnya. Quennevia pun menarik pedang nya untuk merobek perut ikan itu, dan ia pun mengambil inti spirit nya.
" Cukup bagus. " ucap Quennevia sambil memperhatikan inti spirit itu.
" Untuk apa kau membutuhkan nya??. " tanya Ethan.
" Untuk meningkatkan kekuatan, pelatihan ku berbeda dengan orang lain. Karena itu aku membutuhkan ini. " sahut Quennevia.
Quennevia pun menyimpan nya dalam gelang penyimpanan yang baru saja ia dapatkan di kota tadi. Saat sebuah kupu-kupu hinggap di bahunya, ternyata bukan hanya satu, tapi ada segerombolan kupu-kupu yang beterbangan di sana.
" Sudah musim kupu-kupu, kah?? Harusnya tidak di tempat seperti ini kan. " ucap Ethan.
" Mereka cantik. " ucap Quennevia, ia membiarkan satu kupu-kupu hinggap di jarinya.
" Iya, seperti seseorang. " batin Ethan, " aku penasaran bagaimana menurutmu tentang kehidupan. " ucapnya pula.
" Kenapa?? " Quennevia beralih menatapnya dengan serius.
Biasanya orang tidak akan bertanya hal seperti itu tanpa alasan kan, karena terlalu senang berada di luar Quennevia sampai lupa siapa yang sedang menemani nya itu.
" Hanya ingin tahu, aku banyak mendengar kalau kau dikenal tidak pandang bulu saat membunuh seseorang. Tentu aku juga tidak berbeda jauh, meski warga Kekaisaran menganggap ku pahlawan, tapi bagi orang luar aku tetap di kenal sebagai pembunuh berdarah dingin. " ucap Ethan.
Quennevia tidak segera menjawab nya, ia menatap Ethan sejenak, dia terlihat kesepian meski selalu tersenyum aneh seperti itu. Ia pun kembali menatap ke depannya, ia melangkah sambil mengulurkan tangannya ke arah kumpulan kupu-kupu itu.
" Kehidupan dan kematian itu sudah jadi jalan alam semesta. Hidup itu adalah hal yang paling menakjubkan dan misterius, sedangkan kematian menjadi akhir dari awal sebuah kelahiran baru. " ucap Quennevia, ia yang ada di depan sana terlihat bersinar karena sinar matahari, membuat Ethan terpesona.
" Tidak perlu menyesal jika kau membunuh untuk melindungi apa yang berharga bagimu, menyesal tidak akan merubah apapun, penyesalan itu tidak akan menghidupkan kembali nyawa yang sudah melayang. Bagiku meski kehidupan itu adalah hal yang berharga, justru orang yang sama sekali tidak mengerti nilai dari kehidupan dan nilai dari seseorang, mereka sama sekali tidak lebih berarti dari pada seekor kupu-kupu ini. " ucap Quennevia lagi.
" Oh, dan meskipun begitu aku tidak akan membiarkan orang yang sudah menyakiti apalagi membunuh orang-orang ku hidup tenang, akan kuhabisi mereka hingga akarnya. " ucapnya pula.
Mendengar itu Ethan mengangguk setuju dengan nya, memang benar apa yang dikatakan Quennevia. Tidak peduli bagaimana orang menilainya, selama itu demi orang-orang yang berharga baginya dia tidak peduli.
" Kau benar. " ucap Ethan.
" Tapi ngomong-ngomong kupu-kupu ini lama-lama menyebalkan juga. " ucap Quennevia sambil kembali menunjukkan wajah sebalnya.
" Kau benar, lama-lama tempat ini jadi penuh
dengan bau busuk. "
" Mereka sangat cantik, sayang sekali hanya sebuah kepalsuan. Trik murahan seperti ini, tidak akan berpengaruh!. "
Quennevia membakar semua kupu-kupu itu hingga tidak tersisa, dan di sebrang sungai itu ada seorang wanita misterius dengan jubah hitam panjang yang menutupi dirinya.
Quennevia dan Ethan menatap wanita itu dengan waspada, tidak ada siapapun yang bisa membatu mereka di sana, mungkin karena itu wanita itu muncul. Wanita di sebrang sungai itu hanya menatap mereka, kemudian ia tersenyum.
" Putri Quennevia, bagaimana keputusan anda??. " tanyanya to the point.
Mendengar itu membuat Ethan mentap Quennevia bingung, sedangkan Quennevia hanya menatap wanita itu datar.
" Arghh... Kau selalu mengikuti ku selama ini kan, sudah ku bilang aku tidak tertarik. " sahut Quennevia kesal
" Apa anda yakin?? Saat ini Klan Retia kami membutuhkan kekuatan anda, dan anda juga akan di untungkan untuk itu. " ucap wanita itu lagi.
" Hah?? Bercanda ya, kalian memiliki banyak orang di klan kalian, apalagi yang kalian butuhkan?? Dan alasan apa kalian mengumpulkan orang-orang kuat, kalian ingin memulai perang?? Sudah kubilang aku sama sekali tidak tertarik, jadi sebaiknya enyahlah dari hadapan ku!!. " ucap Quennevia lagi.
" Begitu ya, ternyata seperti itu. Kalau begitu... Jgn salahkan aku menggunkan cara paksa. " ucap wanita itu lagi, kembali tersenyum.
Tiba-tiba ada angin yang sangat kencang berhembus ke arah mereka, dan empat orang lainnya yang juga mengenakan jubah keluar dari tempat bersembunyi mereka. Sepertinya situasi itu benar-benar semakin tidak menguntungkan bagi Quennevia dan Ethan, mereka di kepung musuh di sana.
" Mm... Hei, bagaimana ini??. " tanya Quennevia.
" Mana ku tahu. " sahut Ethan.
Tiba-tiba ada sebuah lingkaran sihir di bawah kaki mereka, dan mulai bersinar. Tidak lama kemudian ledakan muncul di tempat mereka berdiri, Quennevia dan Ethan yang berhasil menghindari ledakan itu terbang dengan sepasang sayap di punggung mereka.
Sepasang sayap naga yang ada di punggung Quennevia, adalah sayap naga yang sama dengan milik Everon.
" Ukhh... Jika saja aku tidak memiliki sayap setelah menyerap ekstrak darah milik Everon sebelumnya, mungkin aku sudah gosong dalam ledakan itu. " batin Quennevia.
" Mereka terlalu kuat, lebih baik kita kabur selagi bisa. " ucap Ethan, ia menggenggam tangan Quennevia dan pergi dari sana.
" Mereka kabur, jangan biarkan mereka lolos. " ucap salah satu dari orang-orang yang ada di sana.
Mereka pun ikut terbang untuk mengejar Quennevia dan Ethan, mereka bergerak sangat cepat hingga hampir mengejar mereka berdua.
Lalu salah satu dari mereka lagi mengucapkan beberapa mantra, dan muncullah sebuah rantai yang berhasil mengikat Quennevia.
" Ahhh....!! " Quennevia terjatuh karena rantai itu membuat sayapnya tidak bisa di gunakan.
" Quennevia!. " teriak Ethan, ia menyusul Quennevia yang jatuh di antara pepohonan itu.
Srakk... Srakk....
Kraakk...
Brukkk....
" Ukhh... Uhuk..Uhuk.." rintih Quennevia, beberapa tulangnya patah karena jatuh di antara pepohonan dan batu yang ada di sana. Quennevia sendiri merasa heran dengan itu, harusnya ia tidak mudah terluka hanya karena jatuh dari ketinggian seperti itu.
" Ba... Bagaimana bisa?? Kekuatan ku... Tersegel!. " batinnya.
Dan lagi rantai itu masih mengikatnya hingga ia tidak bisa bergerak.
" Quennevia.. " panggil Ethan yg sudah di turun di sana, ia segera menghampiri nya. " Kau baik-baik saja?? " tanyanya.
" Tidak apa-apa... Hanya beberapa tulang yang patah. " sahut Quennevia.
" Hanya?!. Bagaimana bisa 'hanya' dengan santainya?!. Dan rantai ini, sebaiknya langsung lepaskan saja. "
Ethan akan menyentuh rantai itu, tapi Quennevia menepis tangannya agar ia tidak menyentuhnya.
" Jangan sentuh itu, atau kekuatanmu juga akan tersegel!. " ucap Quennevia memberinya peringatan.
" Haha... Rupanya kau cepat menyadari nya, tuan putri. " ucap salah satu dari orang yang mengejar mereka, mereka berlima juga sudah ada di sana.