Quennevia

Quennevia
Pembantaian Sesungguhnya



Ps: Akan ada beberapa adegan mengerikan & sadis di bagian ini nantinya, bagi yang tidak mau membacanya maka jangan dibaca... ✌✌


Semua orang mematung di tempatnya ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, raut wajah mereka ketakutan sekaligus terlihat seperti tidak dapat mempercayai apa yang mereka lihat. Sementara itu Quennevia yang ada diambang pintu itu pun masuk dengan langkah santai, menuju ke hadapan mereka.


" Berhenti! atau kau akan kami tembak!!." ucap salah seorang yang ada di sana.


Semua anggota Organisasi yang ada di sana pun langsung mengangkat senjata mereka kearah Quennevia, semua orang kecuali Lucy dan juga Mamika. Langkah Quennevia sempat terhenti ketika melihat itu, namun ia sama sekali tidak takut dan malah tersenyum.


" Ah~... Sudah lama sekali rasanya tidak melihat kalian, kalian sama sekali tidak berubah ya. " ucap Quennevia dengan santai, namun suaranya malah terdengar sangat dingin. " Aku kembali, apakah tidak ada pesta penyambutan untuk ku??. " ucapnya pula sambil mengangkat wajahnya lebih tinggi dengan senyuman yang kini diganti seringai yang ada di wajahnya.


" Beraninya kau melakukan ini?! Taukah kau-..." ucap orang yang tadi bicara itu, namun sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, ia sudah dipotong lebih dulu oleh Lucy.


" Nevia!. " panggil Lucy, membuat semua orang langsung menoleh kearah nya, " Kau Nevia bukan, kau benar-benar Nevia!. " ucapnya pula.


Lucy berjalan mendekati Quennevia dengan haru, seperti bertemu kembali dengan saudara yang sudah lama hilang, ia tak bisa menahan air matanya. Lucy dan Nevia adalah teman baik selama di Organisasi dulu, wajar jika Lucy seperti itu saat melihat Quennevia karena bagaimana pun dia memang Nevia.


" Hei, jawab lah. Kau Nevia bukan??. " ucap Lucy pula yang sekarang sudah ada tapat didepan Quennevia, sambil mencengkram bahunya.


Quennevia pun meriah tangan Lucy yang memegangi bahunya itu, dan menurunkan nya tetapi masih ia genggam. Disisi lain orang-orang yang ada di sana hanya memperhatikan apa yang akan dikatakan oleh Quennevia selanjutnya nya.


" Aku... bukan lagi Nevia, namaku adalah Quennevia. Kesadaran baru dari jiwa Nevia, juga ujung tombak balas dendam nya, dengan kata lain aku bukan Nevia yang kau kenal dan aku adalah malaikat maut untuk orang yang sudah membuatnya menderita!. " ucap Quennevia dingin.


" Tembak!!. " perintah seseorang.


" Lucy!!. " teriak Mamika pula yang mendengar itu.


Lucy pun menoleh dengan sangat terkejut, apalagi saat para anggota yang lainnya menembaki mereka tempat ragu sama sekali secara bersama-sama. Lucy memejamkan matanya ketika ia pikir semua peluru itu akan mengenai tubuhnya, disisi lain Quennevia hanya menyipitkan matanya dan semua peluru yang ditembakkan kearah nya pun langsung berhenti sesaat sebelum benar-benar mengenai nya.


Mereka yang melihat itu kehabisan kata-kata, bahkan setelah peluru sebanyak itu ditembakkan pun, tidak ada satupun darinya bisa melukai bahkan hanya satu gores pun. Lucy yang bersamanya pun bingung sekaligus bersyukur karena dia dan Quennevia tidak apa-apa, Quennevia pun hanya mengibaskan tangannya dan semua peluru itu pun jatuh di lantai.


" Ti-Tidak mungkin. "


" Apakah dia itu monster??. "


" Bagaimana bisa??. "


" Masih belum!!. " teriak seseorang pula.


Orang itu pun melemparkan sebuah granat kearah Quennevia dengan harapan dia akan hancur oleh nya, meskipun kerusakan yang ditimbulkan nya mungkin akan cukup besar.


Tapi sayang sekali.. ekspektasi nya lagi-lagi harus sirna, ketika granat yang ia lemparkan itu malah berubah menjadi helaian kelopak mawar merah. Hal tersebut lagi-lagi membuat orang-orang tercengang.


" Ap-.... "


" Perubahan komposisi. " potong Quennevia atas ucapan orang itu, ia pun menatap orang-orang itu lagi, " Sekarang?? Masih adalah lagi kah yang akan menyerang??. " tanya Quennevia masih dengan seringai diwajahnya.


Namun semua orang yang ada di sana terdiam di tempat nya, bahkan ada juga yang terduduk karena ketakutan melihat hal itu. Quennevia pun merubah ekspresi wajah nya karena sudah tidak ada yang berani melawannya lagi.


" Kuanggap itu sebagai jawaban. " ucapnya.


Cetak....


Quennevia menjentikkan jarinya, dan semua orang yang ada di sana pun langsung dihujani oleh pedang-pedang miliknya. Ada juga yang tiba-tiba tertusuk oleh es yang muncul dari bawah mereka, selain para pejabat yang Quennevia tangkap dengan akar yang muncul dari bawah tanah.


" Akhh.. Tolong!. "


" Hentikan! "


" Jangan bunuh aku!. "


" Akhh!.. "


Begitulah teriakan-teriakan sebelum kematian mereka, tidak ada yang Quennevia selamatkan satu pun dari mereka. Sebenarnya ada... ia menyelamatkan atau bisa dibilang yang tidak ia bunuh hanyalah tiga orang, Lucy yang menang ada dibelakang nya, dua lagi Mamika dan Yukio yang ia teleportasi kebelakang nya juga.


Mereka bertiga hanya bisa terdiam ketika melihat pembantaian yang dilakukan oleh Quennevia, jujur saja mereka juga takut sekaligus heran kenapa Quennevia tidak membunuh mereka juga.


Dan kini di tempat itu hanya ada meraka bertiga, dan juga para pejabat yang Quennevia belum bunuh. Akar-akar yang menangkap para pejabat itu pun mendekati Quennevia, seolah tahu apa yang Quennevia inginkan, atau memang karena dia yang memerintahkan nya. Mereka bergetar ketakutan melihat nya, apalagi sekarang tinggal mereka saja yang akan berhadapan dengan Quennevia.


" Jawab pertnyaan ku, jika kalian berbohong maka kuanggap kalian melemparkan satu dari istri/suami, anak dan juga cucu kalian ketangan dewa kematian. Aku akan datang menemui mereka dan membunuh mereka satu persatu dengan cara yang lebih menyakitkan dari pada ini. Mengerti?!. " ucap Quennevia dengan mata yang menatap mereka nyalang, dan suara yang terdengar se-dingin es.


Para pejabat itu menatap Quennevia dengan rasa takut, namun dalam pikiran mereka.. mereka masih berani meremehkan dan mengumpati Quennevia. Sampai Quennevia mengatakan sesuatu yang membuat mereka sangat amat terkejut...


" Kenapa dengan perempuan gila ini?? Jika saja dia manusia biasa, akan ku cincang dia!. "


" Mati, aku akan mati!. Perempuan itu monster, dia bukan manusia!. "


" Cih, gadis sialan! Kalau saja kita tidak terdesak seperti ini kau akan habis kami bunuh!. "


" Memangnya perempuan bodoh seperti dia tahu apa?! Dia hanya bisa mengandalkan kekuatan aneh itu saja. "


" Masih untung dia mirip dengan Nevia yang cantik, jika saja tidak aku sangat ingin meludah ke wajahnya!. "


" Kalian pikir aku tidak bisa tahu apa yang kalian pikirkah?!. " ucap Quennevia.


Quennevia semakin menatap tajam mereka dengan penuh amarah, dia bisa membaca semua isi pikiran mereka. Karena itulah ia bisa tahu jika mereka berbohong, meski begitu ia ingin mendengar mereka mengakui kesalahan mereka dengan mulut mereka sendiri.


" Apakah kalian menuduh ku sebagai pengkhianatan karena takut aku akan membocorkan tentang subjek eksperimen manusia kalian?? Tuduhan tak berdasar, pengkhianatan kalian atas semua yang sudah ku lakukan?? " tanya Quennevia.


" I-Iya. " ucap salah satu dari mereka yang sudah terlanjur ketakutan.


Lagipula jujur mereka mati tidak jujur pun mereka akan mati, tidak ada bedanya sama sekali.


Tanpa mendengar apapun lagi Quennevia langsung mengarahkan tangannya ke orang itu, yang membuatnya meledak di tempat bagian-bagian dari tubuhnya itu bertebaran kemana-mana, juga dengan darahnya yang ikut terciprat kearah nya.


" Kyaaa....!! "


" Ya Tuhan!!.


Semua orang yang melihat hal mengerikan itu semakin takut dan takut lagi, Quennevia hanya mengarahkan tangannya saja tapi orang itu langsung meledak. Bahkan Lucy pun sampai muntah melihat hal itu.


" Pertanyaan kedua. Dua tahun lalu, apa kalian membuat sebuah gerbang dimensi dan memanggil seorang perempuan bernama Beatrice ke dunia ini??. " tanya Quennevia lagi.


Satu orang diantara mereka menganggukkan kepala nya, dan Quennevia langsung memenggal kepala orang itu dengan tangannya sendiri. Yang lainnya hanya bisa menutup mata ketika melihat hal itu, namun Quennevia sama sekali tidak peduli, kini hanya tinggal tiga orang pejabat lagi.


" Pertanyaan terakhir. Apakah kalian membuat Beatrice bekerja di Organisasi sebagai anggota rahasia spesial dimana hanya kalian saja yang tahu. Kemudian kalian menyuruhnya untuk mendekati Kirito, Kagura, Sakura, Nagisa dan juga Kyosuke yang sudah keluar dari Organisasi?? " tanya Quennevia lagi.


" Ba-bagaimana kau bisa tahu?!. " tanya salah satu dari mereka pula.


" Kuanggap itu iya. " potong Quennevia.


" Setelah itu, kalian menjebak Kagura bersama Guren di sebuah gedung tua, dan membunuh mereka disana dengan meledakkan gedung itu. Beberapa bulan kemudian kalian yang sudah menyuruh Beatrice untuk mendekati Kirito dan lainnya, menyuruh Beatrice menemui mereka lagi di malam hari?? " tanya Quennevia.


" Be-benar. "


" Kalian menyuruh Beatrice membunuh Kirito dan lainnya, kemudian kalian juga membunuh anak-anak panti asuhan itu dengan mengunci mereka didalam dan membakar mereka hidup-hidup disana??. " ucap Quennevia lagi.


Kali ini para pejabat itu hanya menganggukan kepala nya serempak, semuanya sudah terbongkar semua kejahatan yang mereka lakukan. Lucy, Mamika dan juga Tuan Yukio tidak percaya kalau ternyata Organisasi bisa melakukan hal keji seperti itu, pantas saja Quennevia atau Nevia mereka yang dulu itu kembali untuk membalaskan dendamnya.


Quennevia yang mendengar pengakuan itu sendiri pun menggerakkan giginya, ia semakin dikuasai oleh marah saat ini. Ia memunculkan pedang-pedangnya kembali, dan membuat tiga orang itu mendapatkan Masing-masing tiga tusukan dari pedangnya itu. Mereka masih Quennevia biarkan hidup, tapi kembali Quennevia bakar mereka bertiga dengan api naga milik Everon hingga berubah menjadi abu.


" Dasar sampah tidak berguna!!. " ucap Quennevia dengan penuh amarah.


Sesaat setelah itu Yukio, Mamika dan juga Lucy tiba-tiba berpindah tempat dengan sendiri nya hingga membuat mereka bingung sendiri. Mereka tiba-tiba ada di atas sebuah gedung di kota, agak jauh dari markas pusat.


" Eh?? Dimana... Kita??. " ucap Mamika.


" Ho~.. Kupikir dia tidak akan menyelamatkan siapapun. "


Mendengar suara itu membuat mereka langsung menoleh, disana lah Lorenzo sedang menunggu Quennevia. Diatas gedung itu sudah ia pasang pelindung jadi badai salju yang terjadi diluar tidak bisa membuatnya kedinginan ataupun kerepotan karena nya.


" Rupanya dia masih memiliki sisi manusia nya, ya. " ucap Lorenzo pula.


" Ka-kau siapa??. " tanya Mamika yang masih belum sepenuhnya hilang dari keterkejutan.


" Aku?? Yah.. Kau bisa memanggil ku Lorenzo. " jawab Lorenzo.


" Apa kau temannya Quennevia??. " tanya Yukio pula.


" Bisa dibilang iya, tapi juga tidak. " sahut Lorenzo.


Mereka jadi bingung dengan perkataan Lorenzo, namun kemudian mereka teralihkan saat Quennevia juga mendarat di atap gedung itu bersama dengan mereka. Dengan enam pasang sayap miliknya yang kini berwarna kehitaman.


" Bagaimana??. " tanya Lorenzo kepada Quennevia.


" Markas utama, sudah kembali ke kehampaan. Kini tidak ada yang bisa menemukan nya dimana pun. " jawab Quennevia, sambil berjalan mendekati nya. Artinya dia membuat markas utama menghilang tanpa jejak satupun. " Lorenzo, buka gerbang dimensi nya. Kita kembali untuk menyingkirkan penyebab semua ini. " ucap Quennevia pula.


" Oke. " sahut Lorenzo.


Ia pun membuka kembali gerbang dimensi disana untuk kembali, tentu saja itu membuat Mamika, Lucy dan juga Yukio kebali tercengang melihat nya. Dan saat Quennevia dan Lorenzo akan masuk ke dalam sana, langkah Quennevia terhenti karena Lucy.


" Nevia, kau mau ke mana?? " tanya Lucy.


" Sudah kubilang, aku bukan Nevia yang kau kenal. " sahut Quennevia, ia pun menoleh kebelakang dan menatap mereka yang ada di sana. " Jika saja kalian terlibat aku juga tidak akan segan, tapi karena Nevia tidak ingin orang yang tidak bersalah terluka makanya kalian bisa selamat. " ucap Quennevia pula.


" Tapi.. Tapi... Kau tetap Nevia yang kukenal, karena itu kumohon.. Jangan pergi lagi. " ucap Lucy sambil memohon.


Quennevia terdiam sesaat, tapi kemudian ia pun kembali berjalan masuk ke dalam portal itu.


" Nevia... " ucap Lucy pula, ia tidak bisa melakukan apapun selain melihat Quennevia dan Lorenzo menghilang kedalam gerbang dimensi itu.