
[Season 2]
Ethan dan yang lainnya mulai berlencar ke lokasi-lokasi yang telah ditentukan sebelumnya, pencarian ini akan memakan area yang luas karena belum ada petunjuk yang pasti. Dan Quennevia yang sekarang tidak bisa memberitahu mereka dengan jelas kemungkinan yang bisa mereka temukan. Hanya jejak yang ditinggalkannya lah yang harus mereka dapatkan.
Tujuan pertama Ethan hari ini, adalah gedung pemerintahan. Dimana semua arsip penting disimpan dalam berangkas bawah tanah yang aman dari ledakan dan goncangan.
" Quennevia, kita sudah sampai ditempat pertama." ucap Ethan setelah memarkirkan mobil nya tak jauh dari gedung yang ia maksud.
Quennevia yang mendengar Ethan memanggilnya pun kemudian menbuka matanya yang sebelumnya tertutup dan menoleh kearahnya. Sementara itu, Ethan sendiri sudah turun lebih dulu dan berjalan ke sisi lain mobil, ia membukankan pintu mobil itu untuk Quennevia dan mengulurkan tangannya.
Quennevia menerima uluran tangan itu dan mulai melangkah keluar, hanya sesaat setelah Quennevia menapakan kakinya diatas tanah. Waktu disekitar mereka terhenti... Quennevia keluar dari mobil dengan keadaan waktu sekitar yang membeku.
Ethan hanya tersenyum mengetahui itu, " Kau melakukan apa yang kupikirkan, Zico." ucapnya kemudian.
Zico yang saat ini ada diatas pundak Quennevia pun mengangkat kepalanya dan menatap Ethan. Benar, itu ulahnya.
Sebenarnya waktu tidak benar-benar berhenti, tapi mereka masuk ke dalam celah waktu. Dimana semua hal yang ada diperlambat sampai ke tahap terlihat seperti berhenti.
Quennevia dan Ethan pun berjalan masuk ke dalam gedung dengan langkah santai, meski melihat orang-orang membeku ditempat mereka. Tapi dari pandangan orang biasa, semuanya bergerak dengan normal dan tidak ada satupun dari mereka melihat keduanya.
**
Sementara itu, ditempat Oscar dan Niu yang baru saja tiba...
Mereka memandangi lokasi yang ditandai Ethan melalui ponsel mereka, itu adalah sebuah toko buku yang terlihat cukup tua.
" Benar disini, kan??" Oscar berusaha memastikan itu karena dia ragu dengan tempat ini.
" Iya, ini tempatnya." tapi mau Niu lihat bagaimana pun memang inilah tujuan mereka.
Mereka saling pandang sesaat, dan baru kemudian memutuskan untuk masuk bersama ke dalam sana.
Kling..
Lonceng berbunyi pertanda seseorang membuka pintu toko itu...
" Selamat datang.." lalu Oscar dan Niu langsung disambut oleh seorang pria tua yang adalah penjaga tempat ini. "..Apakah ada sesuatu yang kalian cari? Kalian bisa melihat-lihat buku yang ada disini." ucap pria tua itu kepada mereka.
" Terima kasih, kek. Kami akan melakukan nya." jawab Niu menimpali dengan ramah.
Dan pria tua itu pun tersenyum lebar kepadanya, " Iya. Beritahu aku jika kalian membutuhkan bantuan."
Niu dan Oscar pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban, dan mereka mulai menjelajahi tempat itu. Sesuai nama tokonya, tempat itu dipenuhi dengan buku. Ada buku disana, buku disini, dan dilantai dua pun ada buku didinding. Bisa dibilang ini adalah perpustakaan sederhana.
Cukup banyak juga yang datang ke tempat ini, dari anak-anak, pelajar dan orang dewasa. Itu menyenangkan untuk dilihat karena orang-orang bersemangat dengan buku dan ilmu pengetahuan, itulah yang Niu pikirkan.
Saat kemudian wajah Oscar tiba-tiba muncul didepannya. " Apa yang kau pikirkan? Kita harus mencari buku tentang ular, kan?" tanyanya menyadarkan Niu dari lemunannya.
" I-Iya... aku mengerti." sementara Niu berusaha mengalihkan perhatian nya dengan wajah yang memerah dan langsung pergi mencari.
Dan Oscar hanya terkekeh melihat hal itu...
**
Sementara itu Arkan, tempat yang ia datangi adalah sebuah bar. Berbeda dengan Niu dan Oscar yang hanya perlu mencari barang atau petunjuk sederhana, Arkan harus menemui seseorang terlebih dahulu sebelum mendapatkan apa yang ia harus dapatkan.
Kali ini dia harus berhadapan dengan sekelompok kecil gangster disana..
Duak... Braakk!
" Hi-Hiik!"
Dan tentu saja Arkan tidak diberi larangan untuk tidak memukul siapapun.
" Haha... Nah, Bob. Kupikir tidak ada lagi anak buahmu yang tersisa." ucap Arkan kepada ketua gangster yang ada disana, dia terlihat gemetar ketakutan dihadapan nya hanya karena Arkan datang dan mulai memukul semua anak buahnya yang ada disana. Sementara Arkan yang melihatnya hanya tersenyum sinis, " Kita bisa bicara baik-baik sekarang kan?" tanyanya kemudian.
" A-Apa yang kau inginkan..?" orang yang dipanggil nya dengan nama Bob itu pun mulai menimpalinya sambil menahan rasa gugup yang ia rasakan.
Arkan sendiri tidak terlalu peduli dengan itu, dia hanya membutuhkan benda yang ia cari. " Jurnal yang diberikan 'Nevia' kepadamu."
Bob tersentak setelah mendengar itu, ia pun terlihat mengalihkan perhatian nya sejenak, membuat Arkan sedikit menyipitkan matanya. Laki-laki itu sepertinya sedang menggertakan giginya terlihat menahan sesuatu, sampai ia kemudian berkata...
" Aku... Aku tidak tahu soal jurnal yang kau katakan." dia berkata seperti itu.
" Hmm.." Arkan yang mendengar jawaban itu hanya mengangkat kepalanya dan menatapnya, ia pun kemudian mengeluarkan sesuatu untuk mempermudah masalahnya.
Bob yang melihatnya pun kembali tersentak, karena yang Arkan keluarkan adalah sebuah pistol. Dia bukan satu-satunya yang memiliki benda itu disana, tapi yang membuat Bob merasa ada yang janggal disana adalah, ekspresi Arkan yang sama sekali tidak menunjukan keraguan, kemarahan atau apapun. Kecuali kesenangan..
Dia terlihat sangat menikmati pekerjaan nya sekarang.
Arkan pun mengulurkan tangannya dan menepuk pundak Bob, membuatnya sedikit terperanjat. Kemudian Arkan pun kembali bicara dengan senyuman lebar diwajahnya..
" Kau orang yang pintar menilai situasi, kan? Jadi... Apakah kita akan melakukan ini dengan cara mudah? Atau cara yang sulit?" Arkan pun bertanya kepadanya, disaat yang sama ia menodongkan pistol itu ke kepala Bob.
Ini akan menjadi, perbincangan yang menegangkan diantara mereka...
**
Tempat lain, sebuah rumah mewah ditengah kota. Yuki dan Meliyana telah tiba disana dan berhenti tepat didepan gerbang rumah itu. Kelihatannya sangat tertutup dan juga suram. Yuki merasakan kalau ada sesuatu yang buruk pernah terjadi disini...
" Meliyana, kau melihat ada orang didepan??" tanyanya kepada Meliyana dibelakang nya.
Meliyana pun menanggapinya dengan menganggukan kepalanya.
Seorang pria terlihat datang dari dalam pagar rumah besar itu, dilihat dari pakaiannya, dia sepertinya adalah petugas keamanan disana. Pria itu sedikit pagar itu dan keluar menghampiri mereka yang masih ada diatas motor yang mereka tumpangi.
Melihat itu, Yuki pun kemudian melepaskan helm yang ia pakai dikepalanya, begitu pula dengan Meliyana.
" Permisi, apakah ada sesuatu yang membuat kalian datang kemari?" tanya pria itu kepada mereka.
Yuki yang mendengarnya pun kemudian mengambil sesuatu dari balik jaket yang ia kenakan, sebuah tanda pengenal dan ia menunjukan nya kepada pria itu. " Aku Yuki, anggota keamanan publik saat ini. Aku ingin tahu apakah tuan rumah ada ditempat nya?." ucapnya kepada pria itu.
Itu adalah salah satu benda khusus yang disiapkan oleh Ethan agar mereka bisa bergerak lebih leluasa dalam mengumpulkan petunjuk ditempat yang membuat mereka harus memastikan identitas.
Pria itu kelihatan sedikit terkejut mengetahui siapa dia, dan ia pun langsung menjawab. " Iya. Tuan muda ada dirumah."
" Tuan muda??" sementara Yuki yang mendengar itu bertanya-tanya, " ....Apakah kami bisa bertemu dengan beliau?"
" Iya, tentu saja. Silahkan masuk ke dalam."
" Yuki, kurasa ada pembantaian disini sebelumnya." bisik Meliyana kepadanya tiba-tiba, ia dari tadi menggunakan kekuatan nya dan meminta Green untuk bicara dengan tanaman-tanaman yang ada disana.
" Apakah itu tuan rumah yang sebelumnya?" sahut Yuki pula ikut berbisik.
Yang mana hal itu diangguki oleh Meliyana, " Iya.."
" Baiklah, kita akan tahu setelah kita didalam."
Yuki pun mengakhiri percakapan itu dan kembali melajukan motornya masuk ke halaman rumah itu, disaat yang sama dengan pria yang sebelumnya itu kembali menutupnya. Tempat ini benar-benar tertutup.
Meliyana dan Yuki pun dibawa masuk ke dalam rumah besar itu, mereka hendak dipandu ke ruang tamu sementara pegawai yang lain pergi memanggil majikan mereka. Tapi Yuki menolak hal itu dan lebih memilih menunggu di depan saja, mereka harus segera menemui pemilik rumah.
Disaat yang sama, mereka juga melihat-lihat kondisi rumah itu dengan seksama.
" ... Tidak ada yang aneh." ucap Meliyana setelah mereka masuk ke dalam rumah itu.
Menang benar, meski suasananya terkesan cukup suram, tapi semuanya berjalan normal didalam sana. Para pekerja disana juga bekerja seperti biasanya, dan tidak ada aktifitas mencurigakan satupun.
" Mungkin itu karena pembantaian yang sebelumnya, apa kau sudah tahu siapa pemilik rumah ini sebelumnya?" tanya Yuki kemudian.
" Hmm..." Sementara itu Meliyana terlihat sedang memastikan hal itu, kekuatan nya mengalir lebih luas ditempat itu. Ia berusaha menjangkau tanaman-tanaman lain yang ada disekitar rumah ini sampai... ekspresi Meliyana berubah terkejut. " Um... Yuki.."
" Apa..?" perubahan itu membuat Yuki bertanya-tanya, ia pun melangkah lebih dekat kepada Meliyana dan sedikit menundukan wajahnya, ketika Meliyana mulai berbisik padanya.
Dan saat itu ia pun juga ikut terkejut..
" Ryuji... Hidran..." Yuki bergumam mengulangi nama itu.
Dia tahu siapa orang yang dimaksud disana sekarang. Orang yang kepalanya Quennevia bawa ke dunia mereka sebelum nya, dan juga ayah yang mengadopsi Nevia didunia ini. Dia Ryuji Hidran.
Yuki mulai memikirkan kronologis yang mungkin terjadi di sini. Ia sudah mendengar tentang orang itu dari Ethan sebelum nya, setelah mengetahui sifat orang itu, Yuki bisa menduga kalau dia adalah orang pertama yang dibunuh Quennevia saat datang ke sini sebelum nya. Itu karena Quennevia punya dendam yang cukup besar kepada orang itu.
Ia tidak menduga kalau ternyata Ethan akan mengarahkan dirinya dan Meliyana ke tempat itu.
Kemudian, perhatian mereka teralihkan ketika mendengar suara langkah kaki yang datang dari lantai atas. Mereka melihat seorang perempuan berambut hitam pendek berjalan kearah mereka.
" Apakah kalian mencariku??" perempuan itu bertanya kepada mereka disana. " Namaku Marina Hidran." ucapnya pula memperkenalkan dirinya.
Sementara itu, Yuki dan Meliyana terdiam sesaat setelah melihat nya, sampai Meliyana pun berkata...
" Um... kupikir yang akan kami temui itu Tuan Muda??" ucapnya sambil kebingungan.
Marina pun tersenyum dan menjawab, " Ah, kakak ku tiba-tiba tumbang karena hangover setelah minum bersama teman nya semalam. Dia cukup tertekan sejak kematian ayah kami, karena itu aku minta maaf kalian tidak bisa menemuinya." jelasnya terlihat tidak enak.
" Tidak masalah, tolong jangan merasa bersalah. Kami hanya datang untuk mencari sesuatu milik Organisasi yang mungkin tertinggal dirumah ini." ucap Yuki langsung menyabutnya.
" Milik Organisasi..??"
" Itu sebuah foto dengan kode tertulis dibelakangnya. & juga memiliki sebutan 'Ular'. Kami juga tidak yakin foto seperti apa itu."
" Hmm..."
Marina terlihat memikirkan hal itu dengan serius, dia terlihat ragu dan juga khawatir akan sesuatu. Yah, wajar saja karena Yuki mengatakan kalau itu berhubungan dengan Organisasi.
Dia mungkin trauma mendengar hal seperti itu masih ada dirumahnya, benda yang bisa saja membuat mereka mati seperti ayah nya. Dan karena hal itu...
" Baiklah..."
Dia tidak punya alasan untuk menyembunyikan nya.
"...Bagaimana jika kalian mencarinya diruang kerja ayahku dulu?"
Dan seperti dugaan dia akan langsung menawarkan hal itu karena ketakutannya.
" Baik." karena itu Yuki dan Meliyana tidak bisa melewatkan kesempatan ini.
Mereka berjalan mengikuti Marina naik kembali keatas, menuju kearah dimana ruang kerja itu berada. Selama itu Yuki dan Meliyana juga melihat-lihat lorong rumah yang mereka lewati, ada cukup banyak benda yang kemungkinan benda antik terpajang disetiap sudut. Lalu ada beberapa potret juga tergantung didinding nya. Diantara itu, ada sebuah potret besar dimana berisi dua orang pria dan dua orang perempuan dialamnya.
Yuki dan Meliyana meyakini bahwa pria yang duduk dikursi dengan posisi menyamping dalam potret itu adalah Ryuji, disisi kirinya adalah putrinya Marina dan dibagian belakang adalah putra tertuanya. Sementara perempuan dengan rambut Violet yang sedikit lebih muda diantara mereka yang berdiri disamping putra Ryuji adalah... Nevia.
" Luar biasa mereka masih menggantung potretnya bersama setelah apa yang terjadi kepadanya, sepertinya kedua anak orang ini tidak seburuk ayahnya..." batin Yuki melihat itu.
Meski begitu... Tidak ada satupun emosi yang terlihat diwajah Nevia, mungkin hal buruk sudah terjadi padanya sejak saat itu.
Tak lama dari itu, mereka pun sampai didepan ruang kerja milik Ryuji. Marina terlihat mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya dan membuka pintu ruangan itu.
Ceklek...
Marina menoleh kearah mereka sesaat sebelum masuk, " Mari masuk, aku tidak yakin apakah aku bisa mencarinya sendiri." ucapnya.
Yuki dan Meliyana yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya sebagai tanggapan. Dan mereka pun mulai melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu, saat...
Duung..!
Baru sesaat setelah mereka melangkah ke dalam, sebuah sensasi gelap menghantam mereka. Membuat keduanya terpaku dengan perasaan ngeri yang mereka rasakan...
" Ini adalah..."
" ...Sisa-sisa kebencian dan kekuatan iblis Quennevia masih ada disini."
Mereka berdua berusaha menahan rasa takut yang perlahan naik dan tubuh mereka yang samar-samar gemetaran. Disamping itu, sepertinya mereka tahu kenapa tempat ini memiliki kesan yang suram, semuanya berawal dari sini.
Sementara itu, Marina mulai melihat-lihat dokumen yang tertinggal disana. " Kupikir semua benda yang dipegang ayah tengang organisasi telah diambil kembali, aku tidak menyangka kalau masih ada yang tertinggal..." ucapnya.
Tidak ada sahutan, itu membuat Marina merasa aneh dan menoleh kearah Yuki dan Meliyana. Dan dia merasa lebih aneh ketika mendapati kalau wajah mereka berdua terlihat agak pucat...
" Um... Kalian berdua baik-baik saja??" tanyanya memastikan keadaan mereka.
Dan pertanyaan itu berhasil menyadarkan kembali Yuki dari lamunannya, " Ah! Maaf... kami tiba-tiba melamun. " ucapnya.
" Tidak apa. Kalian bisa mencarinya dimana pun jangan khawatir." sahut Marina pula.
" Baik."
Karena itu, Yuki dan Meliyana pun ikut membantu mencari foto yang mereka inginkan itu.