
Saat ini Quennevia tengah berjalan sendirian menuju ke menara timur untuk membaca buku sesuai rekomendasi dari tetua Kara sebelumnya. Dia cukup banyak menulis buku yang harus dibaca Quennevia, mungkin sekitar.... 25-28 buku. Setidaknya tetua Kara tidak seperti tetua Bima sebelumnya, yang menyuruhnya membaca 40 buku dalam sehari.
" Haha... mungkin tidak lama lagi aku akan membaca seluruh buku di perpustakaan ini. " gumam Quennevia sambil melihat catatan dari tetua Kara itu.
Quennevia pun kembali mengarahkan perhatian nya itu ke depan, namun ia langsung menghentikan langkah nya ketika melihat seseorang yang diam berdiri di depan sana.
Lorenzo, dialah orang yang tengah berdiri di depan sana, dengan mata dinginnya ia menatap Quennevia yang juga hanya diam saja itu. Quennevia menjadi waspada setiap kali bertemu dengan nya, entah mengapa dia merasa kalau Lorenzo mempunyai aura yang berbahaya. Dan lagi... hal itu ia rasakan sejak bertemu untuk pertama kalinya.
" Apa ada yang kau perlukan, senior??. " tanya Quennevia memulai pembicaraan.
" Kau... apa alasan mu datang ke Akademi ini??. " tanya Lorenzo.
Quennevia malah jadi bingung mendengar nya, apa ada yang salah dengan laki-laki itu, pikir Quennevia. Ini pembicaraan pertama mereka dan dia malah mengatakan hal aneh seperti itu.
" Tentu saja untuk belajar, Senior. Memangnya untuk apa kegunaan Akademi selain belajar??. " sahut Quennevia.
" Belajar huh, memangnya untuk apa?? Aku yakin para spirit guardian itu sudah mengajarimu semua hal yang perlu kau ketahui sebagai penguasa hutan. " ucap Lorenzo pula sambil mengulas sebuah seringai di wajahnya.
Quennevia tersentak mendengar itu, bagaimana Lorenzo bisa tahu hal itu padahal itu dirahasiakan oleh pihak Akademi, juga oleh teman-teman nya. Tidak mungkin dia mengatahui nya begitu saja.
Quennevia pun mengkerutkan keningnya sambil mulai menatap Lorenzo dengan tajam, kemudian ia pun berkata....
" Kau ini..... Sebenarnya siapa??. " tanya Quennevia.
Namun ia hanya mendapatkan senyuman dari Lorenzo itu, dan seketika seperti ada sebuah angin kencang yang menerpa nya saat Lorenzo mengeluarkan kekuatan nya. Orang dihadapannya itu benar-benar berbahaya, dia bahkan punya kekuatan yang luar biasa.
Ketika Quennevia tengah sibuk mempertahankan dirinya dari angin kencang itu, sosok Lorenzo tiba-tiba saja menghilang dari pandangan nya. Tidak terlihat jejak apapun dan ia tidak merasakan keberadaan nya, sampai saat angin itu berhenti dan Quennevia merasakan keberadaan seseorang dibelakang nya.
" Kau... masih terlalu lemah. " bisik Lorenzo di belakangnya, ia menyentuh rambut Quennevia dan menciumnya. " Masih terlalu awal untuk mengetahui siapa diriku yang sebenarnya, tapi kurasa itu tidak akan lama lagi. Dan selama hal itu... ku sarankan kau berhati-hati. " ucap Lorenzo pula, kemudian benar-benar menghilang dari tempat itu.
Brukk.....
Quennevia terduduk tidak percaya, ada orang yang tidak bisa ia tebak dengan kekuatan luar biasa seperti itu. Sesuatu dari nya mengatakan harusnya ia menghindari orang itu, tetapi ia juga ingin tahu kenapa dia bisa mengetahui tentang dirinya.
" Aku.... ketakutan??. " gumam Quennevia pula.
Memang terlihat jelas kalau Quennevia tengah ketakutan saat ini, bukan karena keberadaan Lorenzo namun sesuatu di belakang nya. Quennevia tidak mengetahui apapun tentang dirinya, namun Lorenzo tahu banyak soal nya, bahkan meski tingkatan kekuatan mereka tidak berbeda terlalu jauh, dia masih bisa merasa tertekan karena kekuatan dan suara dinginnya itu, Quennevia sampai gemetar karena nya.
" Kau masih terlalu lemah. "
Kata-kata Lorenzo itu terus terngiang-ngiang di kepalanya, apa maksud dari ucapan nya itu.
" Cih. " decih Quennevia.
Ia pun kemudian bangun dari sana dan kembali melanjutkan jalannya kearah perpustakaan menara, untung saja tadi tidak ada siapapun di tempat itu. Jika tidak bisa-bisa orang itu akan langsung pingsan karena tekanan Lorenzo, dan itu benar-benar akan sangat merepotkan bagi Quennevia.
*********
Beberapa hari berlalu, Quennevia pun masih saja memikirkan perkataan dari Lorenzo waktu itu. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal tentang orang itu, dan kemungkinan itu hal yang tidak pernah disukai oleh nya.
Bisa saja dia itu salah satu orang yang memburunya, atau mungkin orang itu punya dendam padanya. Apapun itu Quennevia benar-benar sangat penasaran, tapi di saat yang sama dia juga merasa tidak ingin berurusan dengan Lorenzo itu.
" Quennevia.... Quennevia!. " panggil Lilac berulang kali, dan baru saja membuyarkan lamunan Quennevia.
" Iya, kakak??. " tanya Quennevia pula.
Lilac menatapnya aneh dengan apa yang terjadi, " Apa kau punya hal yang harus dilakukan, sejak tadi kau melamun terus??. " tanya Lilac pula.
Meskipun begitu Lilac masih merasa kalau ada sesuatu yang mengganggu Quennevia, dia terus saja melamun beberapa hari terakhir. Tidak seperti biasanya, Quennevia yang sedang dengan suasana hati baik itu selalu ceria. Dan kalau suasana hatinya sedang buruk dia jadi sangat dingin, namun beberapa hari terakhir dia benar-benar tidak bisa di tebak.
" Oh, benar juga. " ucap Quennevia pula dengan tiba-tiba, " Kak, kau itu satu kelas dengan senior bernama Lorenzo itu bukan?? Apa kau tahu siapa dia yang sebenarnya??. " tanya Quennevia.
Lilac nampak memikirkan hal itu, " Hm.... Tidak ada yang tahu dia itu siapa, yang diketahui di sini hanya kalau dia itu seorang pengembara. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya, keluarga nya, bahkan tentang keberadaan nya. " jawab Lilac.
" Begitu kah. " sahut Quennevia pula menimpali.
Itu sama sekali tidak menjawab rasa penasaran Quennevia, tetapi malah membuat Lilac ikut penasaran kenapa Quennevia menanyakan tentang Lorenzo. Namun kemudian perhatian mereka pun teralihkan kepada beberapa orang yang menghampiri mereka.
" Yo, apa yang sedang kalian lakukan??. " tanya Sayles bersama Jino dan yang lain yang tengah menghampiri mereka.
" Oh, Halo senior. " sapa Quennevia sambil melambaikan tangannya, mereka jadi lebih dekat karena Quennevia sering mengunjungi Lilac.
" Kau jadi sering disini ya, apa Lilac terus merepotkan mu??. " tanya Jino kepada Quennevia.
" Apa kau bilang??. " ucap Lilac yang kembali dingin setelah kedatangan mereka, sambil menatap Jino dengan tajam.
Itu lah perbedaan Lilac diantara Quennevia dan murid lainnya, dia tidak pernah baik kepada siapapun kecuali Quennevia. Hal itu kadang membuat orang lain jadi iri, dan beberapa siswi sampai membenci Quennevia terutama para senior.
" Ayolah, aku hanya bertanya. " ucap Jino sambil mengangkat bahunya.
" Aku datang karena kemauan ku, setidaknya aku bisa belajar lebih dulu dari pada murid lain seangkatan ku. " sahut Quennevia.
" Seperti nya kulihat kau terlalu banyak belajar, deh. " ucap Kian mengomentari.
" Benar, Benar. Kau perempuan yang gila belajar rupanya. " ucap Arden menimpali.
" Begitu ya??. " jawab Quennevia pula sambil memikirkan nya.
Iyah, dia bisa di bilang gila belajar sih, dia pergi ke saja ke mari hanya untuk belajar sedangkan murid yang lainnya tidak segiat dirinya.
" Kalau dipikir-pikir.... Mungkin ucapan senior benar juga. Kadang aku lupa menikmati waktu luang ku dan hanya belajar. " ucap Quennevia pula.
" Haha... Benarkan, jadi... Bagaimana jika saat liburan nanti kita pergi bersama saja. Ajak juga teman-teman mu sekalian, bagaimana??. " tanya Arden pula.
" Memangnya mau ke mana??. " tanya Lilac pula ikut bicara.
" Hehe... Tentu saja ke Chrysos!. " jawab Arden dengan sangat semangat nya.
" Hah??. " sementara itu yang lainnya bingung.
Memangnya apa yang akan dilakukan Arden di sana, kalau mereka yang pergi sudah pasti akan berlibur sih. Tapikan Arden itu orang yang jalan pikiran dan tindakan nya itu tidak pernah sesuai dengan yang ia katakan, sama seperti Oscar dan Ethan tepatnya.
" Kanapa.. Chrysos??. " tanya Sayles.
" Tentu saja, aku ingin melihat kota di sana. Kalian tahukan kalau itu adalah tempat kelahiran Quennevia kita, jadi dia bisa menunjukkan tempat-tempat menarik di sana. Aku paling penasaran dengan pelelangan keluarga Oscar, katanya di tempat itu sangat besar dan juga mewah! " jelas Arden yang penuh dengan semangat.
" Aku.. Tidak terlalu tahu soal tempat menarik di sana, tapi mungkin Niu dan Oscar bisa menunjukkan jalannya. " sahut Quennevia pula.
" Benarkan??. " ucap Arden kepada teman-teman nya.
Yang mana mereka hanya bisa tersenyum dan mengangguk kan kepala melihat tingkah nya itu....