
[Season 2]
Beberapa saat sebelum nya, Oscar masih memperhatikan situasinya dengan seksama. Melihat apa yang akan terjadi dan apa yang harus ia lakukan nantinya. Suasana ditempat itu cukup tegang untuk beberapa saat, sampai Reeth mengungkit sesuatu yang penting.
" Klan Retia punya banyak cara, obat, teknik dan senjata. Jika anda mengikuti saya kesana, anda pasti tidak akan menyesal." itulah yang ia ungkit.
Kekuatan yang disaat itu sangat diperlukan oleh Quennevia, bukan hanya untuk melindungi diri sendiri tapi juga ayahnya. Disaat yang sama ia teringat dengan apa yang dikatakan Adelaide kepadanya...
[Dia memiliki kekuatan pesona, sekali kau terjebak dalam kata-kata manis yang ia ucapkan, sulit untuk bisa melepaskan diri lagi. Jika dia bertahan sampai ke masa depan, tolong... Jaga diriku dimasa itu agar aku tidak tergoda oleh perkataannya lagi.]
Janji yang sudah ia buat dengannya dan harus ia tepati...
Melihat Quennevia yang sekarang sedang dibingungkan dengan kata-kata nya, Oscar pun spontan langsung berlari kearah mereka dan menghalangi kedua nya.
" Quennevia!!." Oscar berdiri tepat dihadapan Reeth saat ini, yang itu artinya Quennevia berada dibelakangnya. Ia ingin berusaha memisahkan mereka setidaknya... tanpa pertarungan jika memungkinkan.
" Oscar?!." suara Quennevia terdengar sangat terkejut.
Disisi lain, Reeth kehilangan senyumannya saat melihat Oscar yang sekarang ada didepannya.
" Tak kusangka kau masih ada disini, kupikir kau sudah pergi dengan perempuan tadi." ucap Reeth kepadanya terdengar tidak suka.
" Ha. Kenapa? Kau kecewa karena aku mengganggu mu untuk menipu Quennevia? " sahut Oscar pula menyindir Reeth dengan tatapan tajam.
" Aku tidak menipu. Kenyataannya Klan Retia memang bisa membuat Tuan putri menjadi kuat."
" Klan Retia adalah klan yang akan menimbulkan masalah dimasa depan! Mana mungkin aku membiarkan Quennevia mempecayai Klan seperti itu!"
Perdebatan mereka berdua membuat suasananya makin tegang, apalagi Oscar yang terang-terangan menatap Reeth dengan tatapan penuh kebencian. Melihat nya saja membuat Oscar mengingat apa yang terjadi kepada Adelaide dimasa lalu, dan apa yang klan Retia lakukan kepada Quennevia dimasa yang akan datang.
Sementara itu Quennevia yang bingung saat ini hanya diam, sampai ia kemudian memegang pundaknya, " Oscar, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba-.." ucapnya yang terhenti.
" Kumohon percayalah padaku, Quennevia! Dia, dan orang-orang yang berada dipihak klan Retia.. semuanya tidak bisa dipercaya! Mereka semua tidak beres!!." sahut Oscar dengan tegas.
Quennevia tidak yakin apa itu, tapi melihat Oscar yang biasanya bersikap santai berubah menjadi sangat serius seperti itu membuatnya merasa apa yang ia katakan mungkin benar. Karena itu Quennevia menurunkan tangannya, dan membiarkan Oscar bicara sampai selesai.
" Pergilah dari sini, dan jangan mendekati Quennevia lagi! " ucap Oscar pula kepada Reeth.
" Apa yang kau pikirkan sampai bisa berpikir seperti itu, kau terlihat mengetahui sesuatu yang besar dibandingkan dirimu beberapa saat yang lalu." sahut Reeth menimpali.
Saat Oscar kemudian menyunggingkan seringai diwajahnya, " Entahlah, menurutmu kenapa Reeth... Atau harus kupanggil kau, Casius. " ucapnya yang membuat Reeth tersentak kaget.
Oscar yang melihat nya pun jadi yakin dengan dugaannya, mereka adalah orang yang sama. Meski ia tidak tahu bagaimana Casius bisa bertahan sampai ke masa kini, tapi jelas-jelas dia adalah bagian dari masa lalu yang sangat jauh.
Reeth yang mendengar itu pun terdiam sesaat, sampai kemudian ia tertawa cukup keras. " Hahaha... Menarik! Aku tidak tahu bagaimana kau mengetahui nama itu, tapi... siapa kau sebenarnya?" ucapnya kelihatan tertarik.
" Hmph. Aku adalah sosok yang bahkan tidak akan bisa kau temukan pada diriku yang sekarang. " jawab Oscar.
" Begitu ya, baiklah. Aku akan mundur sekarang sebagai penghormatanku pada satu-satunya orang yang mengetahui nama itu. Tapi lain kali, aku tidak akan pergi begitu saja. Sampai jumpa lagi, Tuan putri, pikirkanlah apa yang baru saja saya katakan. Saya akan kembali untuk menagih jawaban anda lagi nanti. " ucapnya yang kemudian menghilang dari sana.
Kini ditempat itu hanya ada mereka berdua, Oscar yang melihat semuanya berakhir pun menghela nafas lega, setidaknya untuk saat ini. Quennevia akan baik-baik saja.
" Haah... kupikir aku harus bertarung.." ucapnya terdengar lemas.
Yah, wajar saja. Dirinya melompat-lompat dari masa lalu ke masa depan, melihat banyak hal dan banyak yang terjadi, itu membuatnya sangat lelah.
Tapi kemudian ia mendengar sesuatu yang mengejutkan sekaligus membingungkan dari Quennevia..
" Terima kasih.. Oscar, kau telah menepati janjimu. " ucap Quennevia.
" Huh?" Oscar menatapnya binging dengan apa yang ia katakan.
Namun saat melihat tatapan dan bagaimana cara Quennevia tersenyum padanya saat ini, Oscar menyadari hal itu.
" Quennevia... Mungkinkah, kau..." ucap Oscar yang terhenti begitu saja.
Quennevia pun menganggukan kepalanya, " Aku tahu kau bukan Oscar yang kukenal saat ini, pakaian yang kau pakai saja berbeda dengan yang ia pakai barusan. Tinggi kalian juga beda. " sahut nya.
" Ah.. Haha... Benar juga. " Ya, Oscar baru sadar dengan hal itu.
" Lalu, Everon menyadari garis waktumu yang berbeda dengan saat ini. Dan juga... Saat aku menyentuh pundakmu tadi, semua ingatan yang kau lihat sebelumnya juga kembali padaku."
Oscar terdiam lagi mendengar itu, karena itu artinya...
" Iya, aku mengingat semuanya sekarang." Dan Quennevia langsung mengiyakannya saat melihat nya terdiam.
" Haah... Begitu ya.." Rasanya Oscar jadi melewatkan sesuatu, " Kalau seperti ini, seharusnya dulu kau tidak bilang padaku untuk memberitahumu tentang apa yang kau katakan. Kau 'kan bisa melihat semuanya hanya dengan menyentuhku. " ucapnya agak kecewa.
" Kan sama saja, kau mengingatkan apa yang tidak aku ingat dari masa lalu. Dan juga... Kau sudah menepati janjimu untuk menjauhkanku dari nya. " sahut Quennevia.
" Benar juga, ya. " Ya, itu masuk akal baginya.
Tapi tetap saja, ia merasa jadi tidak berguna karena tidak melakukan sesuatu yang besar. Sampai ia ingat kalau saat ini ia sedang dalam masalah...
" Argghhh!! Aku ingat saat ini yang lain pasti sedang bertarung! Aku harus segera kembali ke duniaku sendiri!!." ucapnya dengan panik dan langsung terduduk ditanah.
Ia melupakan itu untuk beberapa saat, dan sekarang ia bahkan tidak ingat sudah berapa lama waktu berlalu.
" Memangnya apa yang terjadi??" tanya Quennevia yang bingung sekarang.
Oscar berhenti sebentar, ia sekarang berada dimasa lalu. Jika ia memberitahu apa yang akan terjadi kepada Quennevia, masa depan yang buruk pun akan hilang... Setidaknya, Quennevia pasti tidak akan kehilangan tubuh fisiknya seperti sekarang.
Tapi... Apa itu hal yang 'benar' untuk dilakukan? Jika ia mengubah masa depan dengan cara seperti ini, kejadian tak terduga apa yang akan muncul kemudian.
Dan bagian mana yang akan hilang dari takdir dan masa depan yang telah mereka rangkai bersama?
Oscar punya keputusan sendiri sekarang, ia mengangkat wajahnya menatap Quennevia dan tersenyum. " Kami... Sedang pergi mengambil Embun darah atas permintaan penguasa hutan, tentu sana Quennevia sudah memperingati kami kalau itu berbahaya. Tapi kami tetap melakukan nya, dan karena itu juga aku dibawa ke masa lalu." ucap Oscar.
" Embun darah..?" gumam Quennevia yang terlihat memikirkan sesuatu.
" Iya. Saat aku menyentuhnya harusnya akan ada ujian yg diberikan kepadaku, tapi aku tidak tahu ujian seperti apa. Bahkan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali. " sahut Oscar yang kembali berdiri.
"Kau bilang kau melihat masa lalu, bukan?" tanya Quennevia memastikan.
" Umm.. Iya, aku melihat masa lalumu sebagai Adelaide." jawab Oscar.
" Lalu.. Apa yang kau rasakan saat melihat nya?"
Sebuah pertanyaan sederhana yang memiliki begitu banyak makna, Oscar sedikit ragu dengan jawaban apa yang harus ia katakan, tapi yang pasti ia tahu apa yang ia rasakan saat melihat nya...
" Aku.. Merasa kasihan padanya, juga sedih dan kesal. Orang seperti nya yang tidak menginginkan apapun selain kebahagiaan keluarga nya, malah berakhir mati dalam kesedihan dan penderitaan. " ucap Oscar dengan wajah sedih.
" Bagaimana saat kau melihat ku?" tanya Quennevia pula, tatapan matanya begitu serius sama seperti biasanya.
Begitu cemerlang, tanpa terlihat ada keputusasaan sedikit pun. Begitu terbalik dengan apa yang telah ia alami dalam hidupnya. Oscar merasa, jika saja Dewi menjelma menjadi manusia, dia pasti akan terlihat seperti itu.
Quennevia pun ikut tersenyum melihat itu, " Kalau begitu, sepertinya kau sudah menyelesaikan ujiannya sejak lama." ucapnya.
" Eh?" yang membuat Oscar merasa bingung untuk kesekian kalinya. " A-apa maksudnya? Memangnya ujiannya apa?" tanya Oscar.
" Kau ingat petunjuk untuk menemukan embun darah itu??" tanya balik Quennevia padanya.
" Kalau tidak salah... 'Di kedalaman yang menekan, dalam kegelapan air mata merah mengalir. Hanya orang yang mengerti kemarahan nya akan bertahan, dan jalan takdir untuk nya pun akan terbuka.'.. begitu lah petunjuk nya. " jawan Oscar agak ragu.
" Apa kau mengerti kenapa Adelaide marah?"
" Karena dia kehilangan orang-orang yang ia cintai dengan tidak adil. "
" Apa kau menyalahkannya karena telah membunuh begitu banyak orang?"
" Tidak. Karena jika itu aku.. aku pasti juga akan melakukan hal yang sama. Kemarahan selalu membuat orang menjadi tidak sadar dengan apa yang ia lakukan..."
Oscar masih tidak mengerti bahkan setelah Quennevia memberinya pertanyaan-pertanyaan itu, tapi ketika ia memikirkannya lagi ada sesuatu yang ia lewatkan.
Dan ketika ia sadar.. " Oh..! " Quennevia hanya menganggukan kepalanya menanggapi. " Oh! Aku mengerti, jadi ujian ini hanya untuk mengetahui apa aku mengerti tentang kemarahan mu atau tidak. Dan aku mengerti, bahkan bersimpati. Tunggu, apa itu benar?" ucap Oscar pada dirinya sendiri.
" Kau orang yang baik, Oscar. " ucap Quennevia yang mengalihkan perhatian Oscar, disaat dirinya mulai diselimuti cahaya yang entah datang dari mana. " Aku senang bisa bertemu dan berteman denganmu. " ucapan terakhir Quennevia terdengar menggema di kepalanya, namun ia tidak bisa melihat apapun lagi.
Itu adalah ujian kebaikan yang cukup aneh...
****
Sementara didunia nyata, Meliyana dan Niu berusaha menarik embun darah itu bersama dengan tangan Oscar yang masih tidak bisa dilepaskan satu sama lain.
" Tarik lebih keras, Meliyana!" ucap Niu.
Disisi Meliyana yang telah mengerahkan seluruh kekuatan nya," Nggg... Tidak.. bis-.. aaahh!!"
Zuuungg...
Tiba-tiba mereka terhempas menjauh saat cahaya muncul dari bawah sana menutupi Oscar. Meliyana hampir terbawa arus, jika saja Niu tidak menarik tangannya kebelakang batu untuk belindung.
" Meliyana, kau tidak apa-apa?!" tanya Niu kelihatan sangat khawatir.
" Iya, hanya saja... apa itu tadi??" sahut Meliyana yang masih terkejut dengan apa yang barusan terjadi.
" Aku tidak yakin, tapi sepertinya..." ucap Niu menggantung, ia dan Meliyana pun mengintip dibalik batu itu.
Dan mereka melihat nya...
" Maaf, kalian berdua. Aku terlalu lama ya." ucap Oscar sambil tersenyum lembut kepada mereka.
Dan Meliyana serta Niu terlihat senang sekali melihat nya akhirnya sadar.
" Oscar!."
" Akhirnya kau sadar juga."
***
Disamping itu, Ethan, Yuki dan Arkan yang ada didaratan saat ini. Mereka masih bertahan ditengah-tengah monster yang ada disekitar mereka, namun kondisi mereka buruk saat ini. Mereka telah kehabisan banyak tenaga dan sihir, satu-satunya yang masih mereka miliki hanyalah tekad untuk hidup.
" Hah.. hah.. hah.. Astaga!! Kenapa monster-monsternya banyak sekali?!" keluh Arkan yang kesal sendiri.
" Mereka tidak ada habisnya." sahut Yuki pula menambahkan.
Saat kemudian mereka melihat cahaya suar yang muncul dari dalam laut, yang juga menarik perhatian para monster...
Zuuungg...
" Apa itu??" tanya Yuki sangat terkejut.
" Mereka berhasil.." ucap Ethan kelihatan sangat lega.
Mendengar itu membuat Arkan dan Yuki pun tersenyum senang, Oscar dan yang lain telah menyelesaikan bagian mereka.
Disaat yang sama dengan cahaya itu, sosok lain juga muncul diatas laut. Sosok besar yang tidak jelas terlihat, namun jika diperhatikan dia terlihat seperti seorang wanita dengan rambut biru seperti lautan.
" Apa lagi sekarang?" ucap Arkan pula agak khawatir.
Tapi sosok itu mengulurkan tangannya kepada para monster dan berkata...
" Pemiliknya telah dipilih, kembalilah ke dasar laut yang dalam dan jangan ganggu mereka."
Suara itu terdengar menggema diudara, membuat para monster gemetar ketakutan dan satu persatu dari mereka kembali masuk ke dalam laut sesuai dengan perintah sosok misterius itu. Bersamaan dengan memudarnya bayangan sosok dan cahaya suar itu.
Disisi lain, Ethan dan yang lain masih belum yakin dengan apa yang terjadi. Tapi mungkin mereka bisa simpulkan jika mereka menang...
" Haah... berakhir sudah. " ucap Yuki sambil menghela nafas lega, Arkan bahkan langsung menjauhkan dirinya ditanah karena itu.
" Yah, pertarungan bagus selama ini. " sahut Ethan sambil tersenyum kepada mereka.
Tentu saja dibalas senyuman juga, bahkan Arkan mengacungkan ibu jari padanya. Dan langit pun sekarang kembali cerah, badai telah berhenti begitu pula dengan pertarungan mereka. Seolah menyambut kemenangan mereka, cahaya matahari terasa begitu hangat dan menyegarkan.
Dan dari kejauhan sana, mereka melihat Niu, Oscar dan Meliyana datang menjemput mereka.
***
- Dipelabuhan Foldes
Ketika matahari terlihat mulai terbenam diujung lautan, Titus dan Mira masih setia berdiri menunggu kembalinya Ethan.
" Badainya telah berhenti. " ucap Mira sambil memandangi lautan.
Dan Titus pun menyahutinya, " Ya, kuharap mereka segera kembali. Kakiku pegal. " ucapnya.
" Untungnya tidak ada yang melarang saya duduk. " ucap Mira pula yang membuat Titus merasa sedikit tersindir.
Dan dari kejauhan sana, mereka melihat nya. Ethan dan teman-teman nya datang mendekat dengan menaiki sebuah daun teratai besar, diiringi oleh para duyung yang menemani mereka kembali. Tentu saja, Meliyana dan Roh tamannya yang berjasa membuat perahu teratai itu.
" Oi! Paman Titus! Mira!! " Ethan melambaikan tangannya kepada mereka.
" Pangeran!" panggil Mira pula.
" Oi!! "
Dia terlihat lebih bersemangat dibandingkan saat pergi, itu membuat Titus merasa sedikit lega meskipun kelihatan nya dia juga babak belur dengan luka-luka ditubuhnya.
" Yah, dia terlihat lebih baik, kak." batinnya diiringi oleh senyuman tulus diwajahnya.