
Setelah menemui kaisar sebelumnya, Quennevia memutuskan untuk membantu menyelesaikan masalah yang diajukan ke kediaman mentri saja. Dia menyelesaikan masalah-masalah yang dianggap sepele sampai yang besar, awalnya masih sama saja tidak ada yang mendengarkan nya.
Karena itu ia menyuruh para prajurit yang melakukan nya, kadang ia sendiri yang datang ketempat itu, semakin lama keberhasilan yang didapatkan Quennevia dengan menyelesaikan semua itu semakin banyak. Dia juga kadang meluangkan waktu untuk mengambil pekerjaan lain bersama dengan Niu dan juga Oscar.
Banyak rakyat yang semakin mengaguminya, mereka membuang semua pernyataan bahwa Quennevia adalah sampah tidak berguna. Apalagi saat ia membuat bendungan dalam waktu 5 hari saja, ia menggunakan kerjasama prajurit dan kekuatan Yue untuk menahan aliran airnya.
Awalnya orang-orang hanya diam dan melihat apa yang dilakukan. Tapi dimulai dari bantuan seseorang, orang yang lain juga ikut membentunya. Begitu pula yang lain.
Semakin lama, semakin banyak orang yang terbantu dengan apa yang dilakukan Quennevia, dan wilayah Kekaisaran pun juga jadi semakin maju. Kaisar sendiri sudah menerima semua laporan itu, dan merasa sangat puas dengan apa yang dilakukan Keponakan nya itu. Kelak ia tidak perlu khawatir lagi jika adiknya harus pergi jauh, agar Quennevia yang membantu mengurus kekuasaannya.
Hari ini pun Quennevia tetap saja sibuk dengan semua dokumen berisi laporan-laporan berbagai hal. Meski berjalan dengan tenang, tapi ketenangan itu sama sekali tidak bertahan lama.
" Jangan halangi jalan ku, aku ingin menemui anak itu!!. "
" Nyonya, putri sendang sibuk. Tolong jangan berbuat keributan!. "
" Siapa kalian berani mengaturku?!! Minggir!!. "
Sepertinya seseorang berusaha untuk menerobos masuk kesana, hingga membuat keributan yang sangat mengganggu. Tapi Quennevia tidak menghiraukan nya dan tetap fokus dengan pekerjaan nya.
Braakkk...
" Quennevia, sampai kapan kau akan mengurung kami seperti itu?!!. " ucap orang yang membuat keributan itu, selir pertama.
Quennevia hanya melirik nya dengan tatapan datar, sambil tetap memegang laporan ditangannya.
" Ma.. Maafkan kami, putri. Nyonya selir tetap bersikeras untuk masuk. " ucap penjaga yang ada di depan sana.
Quennevia hanya mengangkat tangannya dan menyuruh penjaga itu untuk pergi, penjaga itu membungkuk dan langsung pergi dari sana sambil menutup pintu ruangannya.
" Bibi, ini adalah ruangan ayah. Tolong jaga tingkah mu disini. " ucap Quennevia datar, ia mengalihkan kembali perhatian nya kepada laporan di tangannya.
" Jaga tingkahku?? Kau yang harus menjaga tingkah mu, apa kau tidak menghormati ku lagi yang sudah membesarkan mu?!. " bentak selir pertama.
" Apa maksudmu??. " tanya Quennevia, masih dengan wajah datar dan malas.
" Kau sudah mengurung kami selama 1 bulan, apakah kau kira itu pantas?!!. "
" Pantas. " jawab Quennevia cepat, ia bahkan tidak memikirkan itu dua kali. " Harusnya bibi bersyukur aku hanya mengurung kalian di sana, dan tidak memberikan hukuman cambuk sama seperti dua dayang yang sebelumnya. " lanjutan nya menatap selir pertama dingin.
Mendengar itu membuat selir pertama bungkam, dia memang beruntung hanya dikurung. Tapi sudah dikurung, uang yang diberikan padanya pun juga ditahan oleh Quennevia, membuatnya tidak bisa membeli perhiasan lagi. Bahkan perhiasan yang ia miliki pun dijual kembali oleh Quennevia.
" Setidaknya berikan aku uang lagi! Dengan begitu aku akan puas, dan lagi.. Kenapa kau malah menjual semua perhiasan milikku!!." ucap selir pertama dengan emosi.
" Milikmu?? Perhiasan itu dibeli dengan uang milik kediaman ini, itu artinya perhiasan itu milik kediaman ini. " ucap Quennevia dengan santai.
" Dan lagi, kau butuh uang untuk apa?? Semua pedagang yang ingin menjual apapun di kediaman ini, tidak akan bisa masuk tanpa seizin ku. Dan barang yang ingin mereka jual pun juga dibatasi. " lanjut nya pula.
" Apa?!! Kau tidak bisa melakukan itu!!. " ucap selir pertama tidak terima.
" Iya, aku bisa. Dan sudah kulakukan. " jawab Quennevia. " Kalau sudah selesai silahkan keluar. " lanjut nya.
Selir pertama menggeram kesal, tapi kemudian ia pun pergi dari sana sambil menghentakkan kakinya. Dia benar-benar kesal karena Quennevia tidak bisa dipengaruhi seperti dulu lagi, dan dia jadi khawatir jika kebenaran atas kematian ibu Quennevia terungkap.
Setelah kepergian dari selir pertama, suasana di sana pun kembali tenang. Quennevia menghela nafasnya lelah, baginya menghadapi orang seperti selir pertama lebih melelahkan daripada bertarung dengan seratus monster. Tak lama kemudian, pintu ruangan itu pun kembali di ketuk.
" Nona, ini Murphy. Boleh saya masuk??. " ucap Murphy dari luar saja.
" Masuklah. "
Pintu pun terbuka dan Murphy pun masuk ke dalam sana, dia membawa nampan berisi cemilan dan juga teh. Ia melihat bagaimana nona nya itu sangat rajin, bahkan terkadang sangat sibuk akhir-akhir ini. Itu membuatnya bangga karena dia sekarang sangat aktif, apalagi di usia nya yang sangat muda. Tapi disaat yang sama dia juga agak cemas jika kesehatan Quennevia menurun. Ia berjalan mendekati Quennevia dan menyajikan teh itu padanya.
" Oh iya, tadi saya berpapasan dengan selir pertama, apa dia baru saja dari sini??. " tanya Murphy, ia memberikan cangkir berisi teh itu kepada majikannya
Quennevia yang melihat nya pun menerima itu, kemudian berkata. " Iya, hanya menggonggong tidak jelas seperti anjing. " ucapnya, ia meminum teh yang diberikan Murphy padanya.
" Ya ampun, apa dia sama sekali tidak lelah ya. Oh, ngomong-ngomong, Nona. Siang ini tuan akan sampai di sini. " ucap Murphy pula.
" Sudah akan pulang, ya. "
Pertahanan yang hampir sama kuatnya dengan istana Kekaisaran, apa mungkin karena ayahnya itu adik Kaisar atau ada hal lain yang jadi alasan nya.
" Jadi selama ini aku sama sekali tidak menyadari nya, kalau aku tinggal di tempat yang sangat bagus seperti ini. " batin Quennevia, ia mengulas sebuah senyuman di wajahnya.
****
Siang harusnya, Hudson benar-benar tiba di kediaman itu, bersama dengan Haika dan Jason yang menemani perjalannya. Quennevia menyambutnya hanya dengan Murphy, selir kedua dan juga putrinya.
Ia tidak mau ada keributan saat kedatangan ayahnya, jadi ia tidak mengijinkan selir pertama dan Adele keluar dari paviliun tempat mereka sekarang.
" Ayah. " panggil Quennevia sambil berlari memeluk ayahnya saat sampai disana.
" Ohohoho... Putriku, apa kau merindukan ayah??. " tanya Hudson tersenyum senang.
" Tentu saja. " sahut Quennevia tersenyum dengan ceria. " Aku rindu melihat mu menghukum orang-orang tidak bisa di atur itu dengan mudahnya. " isi batinnya.
" Bagaimana dengan ku, apa kau merindukan ku juga adik??. " tanya Haika yang kemudian muncul disamping Hudson.
" Tidak. " tapi Quennevia hanya memberikan jawaban itu dengan wajah datar.
Mendengar itu membuat Haika menampakkan raut wajah murungnya, padahal dia juga tahu kalau Quennevia hanya bercanda. Atau mungkin tidak.
" Bibi Ellise, dimana ibuku??. " tanya Jason saat menyadari ketidakhadiran ibunya.
" Dia ada di paviliun barat, Anna membuat sedikit kesalahpahaman. Tapi putri kedua sudah memberikan hukuman kepada mereka. " sahut Ellise.
" Hukuman??. " ucap Haika dan Jason bersamaan.
" Tidak perlu khawatir kakak pertama, kak Haika. Kakak Ketiga hanya mengurung bibi Anna dan kakak kedua selama 3 bulan. " jelas Arissa, dia ingin membuat Quennevia ada di pihaknya dan ibunya dengan cara membelanya.
" Memangnya ada masalah apa??. " tanya Haika yang merasa penasaran dengan itu.
" Hanya kesalahpahaman kecil, tidak perlu di pusingkan. " sahut Quennevia.
Mereka hanya mengangguk mengiyakan saja ucapan Quennevia, sedangkan Hudson sudah tahu semuanya bahkan tentang Quennevia yang mengeksekusi para orang nya. Dia mengetahui nya setelah kakaknya sang kaisar memberikan surat tentang itu.
Ia juga sudah tahu Quennevia mengerjakan semua perkerjaan nya selama ini, dan hasilnya sangat baik. Ia jadi semakin bangga kepada nya karena bisa berubah seperti sekarang.
" Baiklah, nah semuanya ayo masuk. Kalian juga beristirahat lah. " ucap Hudson kepada Haika dan Jason.
" Baik, ayahanda. " sahut keduanya.
" Dan Quennevia, ayo ikut ayah sebentar. " ajak Hudson.
Quennevia pun langsung mengikuti ayahnya tanpa berkata apa pun lagi, ia kembali ke ruang yang ditempati nya tadi pagi, ruang kerja ayahnya.
" Quennevia, ayah sudah dengar semuanya dari kaisar. Kerjamu sangat bagus dalam mengurus kediaman dan juga persoalan yang dihadapi rakyat. " puji Hudson kepada putrinya.
" Terima kasih, ayah. " sahut Quennevia.
" Tapi... Apa kau benar-benar ingin pergi ke Akademi bintang utara??. " tanya Hudson, dengan raut wajah khawatir.
" Tentu saja, ayah. Bisa diterima di sana adalah sebuah kehormatan besar. " jawab Quennevia tegas.
Melihat raut yang penuh keyakinan dari putrinya itu, Hudson hanya menghela nafasnya pasrah. Ia tidak akan bisa menghentikannya lagi, apalagi kakaknya sang kaisar sudah mengijinkan nya untuk pergi.
Ia pun mengambil seseuatu dari laci meja nya, sebuah kotak kayu dengan ukiran yang sangat indah. Ia meletakkan kotak itu depannya dan memberikan nya kepada Quennevia.
" Ambil lah ini. " ucap Hudson.
Quennevia hanya menaikkan salah satu alisnya, kemudian ia mengambil kotak itu dan membukamya. Ada sebuah gulungan di dalam sana.
" Apa ini, ayah??. " tanya Quennevia.
" Itu adalah peta tempat tinggal ibumu. " sahut Hudson, membuat Quennevia menatapnya terkejut. " Tidak ada yang bisa datang kesana bagaimana pun caranya, hanya ibumu yang bisa. " lanjut nya.