
#Dunia tengah
- Kuil Dewi Tengah, kekaisaran Chrysos.
Situasi yang semakin memanas antara klan Retia dan negara-negara dibenua membawa kericuhan nyata hingga para pemimpin tidak lagi bisa menyembunyikan nya. Chrysos juga sama.
Rumor soal perang telah beredar luas dan tidak lagi terbendung, bahkan rumor soal hilangnya Putri Empat Dunia semakin membuat orang-orang dilanda kepanikan.
Usaha telah dilakukan sebisa mungkin untuk meredam kepanikan itu, tapi hal tersebut juga tidak akan bisa bertahan lama.
Karena itu, serangan gelombang pertama pun telah dilancarkan atas persetujuan kepala akademi bintang utara dan penguasa hutan.
" Yang mulia, pasukan yang disiagakan telah bergerak bersama dengan aliansi yang lain menuju ke wilayah konflik."
" Bagaimana situasi disana menurut laporan Klan Aira?"
" Situasinya masih stabil, meski bentrok antar kedua belah pihak telah berlangsung sejak 3 bulan terakhir. Namun semuanya masih terbilang baik."
" Bagaimana dengan Seretia dan keturunannya?"
" Dia masih belum menampakkan dirinya."
Lecht, sebagai Putra Mahkota kekaisaran adalah orang yang bertanggung jawab memimpin hal tersebut. Selayaknya pemimpin, ia juga harus segara pergi ke garis depan untuk mengatur pasukannya. Tapi sebelum itu, ia menyempatkan pergi ke kuil terlebih dahulu.
Lecht tidak berpikir dia harus, tapi sesuatu membuatnya merasa kalau ia harus datang kesana. Bersama dengan ajudannya yang menjelaskan keadaan digaris depan saat ini.
" Sesuatu terasa berbeda... Aku yakin ada yang berubah.." pikiran itu muncul dalam kepalanya.
Karena itu dia datang kesana. Itu karena dia merasa aneh pada dirinya sendiri.
Meski huru-hara terjadi dimana-mana dan laporan datang tiada henti, bahkan ketika kepemimpinan pasukan diserahkan ayahnya, sang kaisar padanya. Lecht sama sekali tidak merasakan apapun, pikirannya justru merasa tenang seolah dia ada ditempat yang sangat hening.
Langkah kakinya berhenti ketika ia dan ajudannya melewati sebuah kolam berwarna biru dengan bunga-bunga teratai dan ikan yang hidup disana, dan ia pun mengalihkan pandangannya kearah patung yang ada ditengah kolam tersebut.
Sebuah patung seorang wanita yang sedang menggandong seorang anak, itu adalah patung yang lambangkan kuil ini sendiri. Wanita itu digambarkan sebagai dewi tengah yang adalah ibu dari semua yang hidup, dan anak yang ada ditangannya adalah manusia. Kamudian ada seekor kelinci di kakinya, dan burung merpati yang hinggap dipundaknya.
Itu menunjukan kasih sayangnya yang tiada terhingga kepada semua makhluk hidup. Untuk beberapa saat Lecht sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatian nya dari patung itu, saat angin hangat berhembus seolah membisikannya sesuatu, Lecht terlihat memiliki ekspresi terkejut diwajahnya.
Hingga membuat ajudannya pun bingung melihat itu. " Yang mulia, apakah ada yang salah..??"
Tapi Lecht sama sekali tidak menjawabnya dan masih terpaku ditempatnya, tak bergerak sama sekali. Itu semakin membingungkan..
Saat sesuatu yang tak ia duga kemudian terjadi. Cahaya perlahan naik dari kolam yang menjadi pusat kuil, pilar cahaya naik menembus langit hingga semua orang dapat melihat itu.
" Ya-yang mulia..!! Ini..!." ajudannya sampai kehilangan kata-kata melihat itu.
Sementara Lecht merasakan perasaan yang familiar darinya, " Akhirnya kembali..." itu adalah pertanda.
Pilar cahaya tidak hanya terjadi di Chrysos, tapi di 6 kuil besar dewi tengah yang tersebar diseluruh benua. Hingga membuat semua orang heboh karenanya. Dan para pendeta yang ada diseluruh kuil itu langsung berbondong-bondong pergi keruang berdoa untuk memanjatkan doa mereka.
" Dewi tengah telah kembali..!"
" Beliau menjawab doa kita."
" Firman telah turun!."
{Untuk anak-anakku yang kucintai... Terima kasih telah bertahan salama aku tidak ada.}
Firman turun di ke 7 kuil secara bersamaan...
{...Waktunya telah tiba untuk mengembalikan apa yang seharusnya, mengembalikan jarum takdir ke tempatnya...}
Dewi tengah menyampaikan kehendaknya kepada semua ciptaannya...
{...Kegelapan yang selama ini terpendam didunia, waktu kalian tidak akan lama lagi...}
Bahkan para peri dan animal spirit menundukan kepalanya kepada keagungan yang ditunjukan kembali kedunia mereka...
{...Bersama dengan anak-anak yang telah kupilih, membimbing takdir kalian. Waktu pembalasan telah tiba...}
Dia tidak akan diam lagi.
{...Untuk menyatukan kembali benang yang terputus dan kedamaian, untuk mendapatkan kembali semua yang telah menghilang mereka rampas.}
Peringatan langsung yang ditunjukan kepada musuh yang akan dihadapi, sekaligus menunjukan kembalinya takhta yang telah kosong selama 100.000 tahun lamanya.
Suaranya bisa didengar diseluruh dunia, bahkan sampai ke jurang paling dalam, dimana makhluk paling mengerikan terkurung dan menunggu kedatangannya.
Disaat yang sama, 'World Borders'.
Swosshhh..!
" Ah..! Woah~..."
" Kagura!."
Danau di hadapan Haika dan Kagura berada tiba-tiba saja bergejolak hebat dan membuat gulungan ombak tinggi yang saling menabrak satu sama lain. Haika berusaha memeluk erat Kagura ketika itu terjadi... Dan mereka hampir saja ikut terkena gulungan ombak itu, jika saja Aqua tidak muncul tepat waktu dan membelah air yang akan menerjang mereka berdua.
" Anak-anak... kalian baik-baik saja??" tanya Aqua yang masih berusaha menahan gelombang air yang menjadi liar itu.
" I-iya.."
" Kami selamat, terima kasih Nona Aqua."
Keduanya benar-benar bersyukur dengan keberadaan nya. Tak lama, para Spirit Guardian yang lain pun juga muncul disana.
Azel yang turun disamping Haika jadi yang pertama bicara diantara mereka, " Dimulai ya.~" ucapnya.
" Apanya??." membuat Kagura yang mendengar ucapannya pun bertanya dengan bingung.
Disaat yang sama tangan Everon pun menepuk kepalanya, dan memutarnya kembali ke arah danau. " Sesuatu yang sangat ingin kau lihat sebelumnya." ucapnya menjawab rasa penasaran Kagura.
Dan seperti yang dikatakan Everon, ditengah gulungan ombak yang besar itu sebuah kubah runcing perlahan muncul pertama kali. Kemudian disusul dengan yang lainnya...
Melihat itu membuat Kagura terperangah dengan rasa kagum melihat kemunculannya. Sesuatu yang tersegel lama didalam danau akhirnya menampakan dirinya.
Sebuah daratan lain muncul ditengah-tengah danau World Borders yang sangat luas, terlihat mengambang tak jauh diatasnya, dan ada sebuah istana kristal ditengah-tengah daratan itu. Istana putih yang terlihat menyatu dengan semua tanaman dan tebing disekitarnya, juga air terjun yang mengalir dihadapannya.
" Woah... Itu rumah kakak." ucap Kagura dengan kagum melihat itu.
Haika juga merasakan hal yang sama dengan Kagura, ia bahkan sampai tak bisa berkata-kata lagi melihat kemunculannya sampai kemudian ia melihat Freea mengulurkan tangan kearahnya.
" Ayo, kita harus mengembutnya, kan?" Freea berkata demikian kepadanya dan tersenyum.
Haika menoleh sesaat dan melihat Kagura kini ada dalam gendongan Everon, dan ia pun kembali menatap Freea dan menerima tangannya. Dan saat itu, Freea pun membawanya terbang kearah istana putih yang muncul tersebut.
Bersama dengan yang lainnya, mereka mendekati istana itu dan mendarat tepat didepannya.
Istana yang benar-benar besar dan megah...
" Woah..." Haika benar-benar terperangah melihatnya, istana ini seperti dongeng menjadi nyata.
Dan sekarang itu ada dihadapannya, mereka berjalan diatas jalan perak yang terlihat seperti berlian, diantara tanaman-tanaman hijau yang sangat segar bahkan setelah tak ada yang mengurusnya selama ini. Mereka seolah menyambut kehidupan yang baru..
Saat ini mereka benar-benar ada didepan pintu masuknya, pintu besar dan tinggi yang menjulang didepan mereka. Tak lama setelah mereka berada disana, pintu besar itu pun perlahan terbuka. Dan ada seseorang yang telah menunggu dibaliknya...
" Sudah lama tidak bertemu ya... semuanya." suara itu menyambut mereka dengan senyuman yang mengiringinya. Orang yang telah mereka tunggu sejak lama.. "...Aku kembali." akhirnya penantian mereka telah berakhir.
Quennevia ada disananya...
Tentu saja dia tidak sendirian, yang lainnya juga ada disana bersama mereka. Semua... kecuali Euclide, Hades, Arabel dan juga Eclipse.
" Kakak! Ibu!."
" Quennevia."
" Selamat datang kembali!!."
" Aku senang kalian semua kembali dengan selamat."
" Kerja bagus."
Dan mereka pun langsung memberikan penyambutan kepada Quennevia dan yang lainnya.
" Kakak!!." Kagura bahkan langsung berlari kearah Quennevia dan memeluknya dengan sangat erat. " Kakak, aku sangat merindukanmu."
Quennevia sendiri juga senang melihat nya, " Aku juga merindukanku, Kagura. Kamu tumbuh dengan sangat baik." ucapnya sambil mengelus kepalanya dengan lembut.
Sementara itu dibelakangnya ada seseorang yang terlihat bingung dengan apa yang ia lihat dihadapannya.
" Kagura?? Bagaimana dia bisa berakhir ditempat ini juga??" ucap Sakura sambil bertanya-tanya.
Karena itu Nevia yang berdiri disampingnya pun menimpali hal itu, " Percaya padaku, itu adalah cerita yang sangat panjang." itu memang penuh dengan ledakan, pertempuran dan kejutan.
Saat kemudian Haika mendekat dan mengalihkan perhatian, " Quennevia, aku senang bisa melihatmu lagi. Aku benar-benar sangat bersyukur." ucapnya yang tidak bisa menahan air matanya.
Dan yang lainnya juga...
" Tuan Azel! Kau lihat bagaimana kerennya aku sekarang?? Menjelajahi banyak tempat seperti yang kau katakan itu ternyata sangat luar biasa!."
" Ya, Arkan. Aku bisa lihat kau jadi sangat berbeda meskipun semangatmu tetap sama. Benarkan, Wais??"
" Berhenti memujinya. Dia akan jadi mirip kau jika terus dipuji."
*---
" Misika, kau baik-baik saja?? Apakah ada yang terluka atau semacamnya??"
" Kenapa kau jadi sangat protektif Freea??"
" Sudahlah, aku tidak apa-apa Freea, Aqua. Terima kasih karena telah melakukan yang terbaik selama aku pergi."
" Memangnya kalian pikir dia pergi ke mana dengan siapa? Bagaimana mungkin dia terluka jika aku ada disana."
" Oh, guru juga ikut ya..."
" Hentikan."
*---
" Jadi akhirnya kau berhasil, ya."
" Apa anda berpikir saya akan gagal, Tuan Everon??"
" Aku hanya bicara."
" Entah kenapa anda terdengar seolah ingin saya gagal."
" Ethan.. ayo, jangan memulai perkelahian dengannya, oke??"
" Biarkan saja, Oscar. Kita akan lihat siapa yang akan dilumat sekarang."
" Oho, siapa takut?."
" Everon, berhenti kekanakan."
" Tutup mulutmu, Mice."
*---
" Kyaa! Meliyana! Niu! Yuki! Aku merindukan kalian selama 1 tahun 6 bulan 2 hari 4 jam 42 detik yang lalu. Aku sangat senang kalian akhirnya kembali."
" Ka-kami mengerti, Nona Zeze. Tolong.. pelukannya terlalu erat."
" Aku tidak bisa bernafas."
" Umph...! Tercekik.."
" Ah! Maafkan aku..."
Mereka semua melepas kerinduan dengan cara mereka sendiri, dan tiba-tiba saja tempat itu jadi sangat heboh karena mereka.
Sementara itu diantara mereka, Felice dan Mariana yang melihat bagaimana mereka semua berinteraksi dengan begitu akrab hanya tersenyum bahkan tertawa. Itu pemandangan hangat yang menyenangkan untuk dilihat.
" Huhu... Mereka semua akan menjadi kelompok yang kuat saat bersama, namun juga lucu." ucap Mariana dengan girang karenanya.
" Iya, kau benar." dan Felice yang mendengarnya pun tak bisa menyangkal hal tersebut.
Saat kemudian perhatian nya pun kembali tertuju kepada Ethan yang terlihat tersenyum bahagia disana, dan Felice pun seketika diam. Mariana yang menyadari itu pun kemudian mengikuti pandangan suaminya dan menatap satu-satunya putra yang sangat mereka sayangi.
Waktu telah berlalu sangat lama, Ethan sekarang sudah dewasa dan mampu memimpin hidupnya sendiri dengan baik. Karena itu, Mariana bisa menabak apa pikiran suaminya saat ini.
Mariana pun mengulurkan tangannya dan menggenggam Felice, dan ia pun kembali tersenyum kearahnya. " Jadi kurasa... ini adalah waktunya, bukan??" tanyanya kemudian.
Felice yang mendengar pertanyan itu darinya pun jadi menatapnya, dan ia ikut tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. " Iya.. Ini waktunya." jawabnya menimpali itu.
" Terkadang aku berharap.... Aku sangat penasaran, dan ingin melihat perjalanan apa lagi yang akan mereka tempuh bersama. Melihat masa depan bersama mereka."
" Benar. Tapi sayang sekali.. cerita kita sudah berakhir. Jadi jangan biarkan orang-orang dari masa lalu mengganggu masa depan mereka, biarkan semuanya tetap tinggal dimasa lalu. Anak-anak inilah yang akan membangun masa depan yang mereka inginkan."
Ini akan jadi terakhir kalinya, perpisahan terakhir mereka...
" Ayo semuanya! Kita segera kembali ke akademi dan mengumumkan berita baik ini!."
" Yeah! Waktunya menghajar klan wajah Retia dengan keras!!."
" Ayo lakukan!."
Teman-teman Ethan dan Quennevia terlihat telah sangat menantikan hal tersebut, mereka semua berlari pergi saling berlomba dan mengejar satu sama lain dengan penuh semangat. Para spirit guardian mengikuti nya dibelakang, bersama dengan Misika, Sakura, Haika dan Yiggrite tentu saja Kagura juga. Dan Ethan menyusul belakangan...
Saat...
" Ethan.."
Ia mendengar orang tuanya memanggilnya.
Karena itu, Ethan pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kearah mereka. Dan keduanya pun menatap kearahnya, ada senyuman lebar dan ekspresi bangga dalam raut wajah keduanya, membuat Ethan yang melihat itu terdiam sesaat.
" Ya..??"
Masih dalam diam, mereka bertiga belum mengucapkan kata-kata lain selama beberapa saat, tapi jika melihat ekspresi Ethan baik-baik, sepertinya dia juga menyadari maksud dari ekspresi kedua orang tuanya saat ini.
" Kami juga akan pergi sekarang.." sampai akhirnya Mariana mengucapkan hal itu. "....Kamu sudah tumbuh dewasa, kami sangat bangga padamu." lanjutnya.
" .... " Ethan hanya terdiam.
" Mulai sekarang, semuanya ada ditanganmu Ethan. Aku tahu kau sudah siap." ucap Felice kemudian.
" Kami akan selalu memperhatikanmu ditempat lain." Mariana kembali berkata.
Dan setelah cukup lama diam, akhirnya Ethan pun berkata, ".... Kalian benar-benar akan pergi sekarang? Apa kalian tidak ingin berada disini sedikit lebih lama, bagaimana jika kembali... Kerumah?" ucapnya dengan suara sedikit bergetar, seolah tercekik.
Itu mengganjal hatinya, rasanya Ethan masih belum siap menelan kenyataan itu. Karena selama ini dia tahu, kalau kedua orang tuanya tidak pernah meninggalkan sisinya bahkan setelah mereka mati, tapi sekarang waktunya bagi mereka untuk benar-benar pergi.
Ethan belum siap menerimanya.
Mariana juga melihat perasaan itu dari ekspresi nya, jadi ia pun memegang wajah putranya yang tetunduk dan mengangkat nya.
" Kau tahu itu bukan lagi tempat kami..." ucapnya, menatap dalam kemata Ethan. " ...Tapi kau tahu dimana tempatmu, bukan??." lanjutnya.
Tempatnya...
Ethan tahu itu, tempatnya yang saat ini adalah bersama dengan teman-temannya. Itulah yang seharusnya. Kalau begitu, untuk orang tuanya...
" Haha... Baiklah, aku tahu aku tidak bisa menahan kalian karena keegoisanku. Atau aku akan menyakiti orang yang kusayangi lagi." jadi Ethan harus melepaskan perasaannya bersama kedua orang tuanya.
" Iya, itulah yang benar."
" Kau tahu itu bukan perpisahan yang sesungguhnya bagimu, Ethan. Kau tahu dimana kau bisa menemui kami saat kau ingin bertemu dengan kami. Dan dalam kemungkinan yang tak terbatas, bahkan setelah kami bereinkarnasi, kau masih tetap bisa menemukan kami." ucap Felice, yang kemudian diangguki oleh Ethan.
Hal terakhir....
Mereka pun memeluk Ethan bersama, sebagai perpisahan yang sempurna. Disaat yang sama, tubuh mereka mulai berubah kehilangan wujudnya.
" Kami menyayangimu, Ethan. Kami akan selalu... menyayangimu."
" Aku juga menyayangi kalian... Ayah.. Ibu.."
Segera setelah ia mengatakan itu, kedua orang tuanya berubah menjadi sebuah bola jiwa, dan terbang ke langit meninggalkan nya. Ethan menatap kepergian mereka itu dengan seksama, disaat angin berhembus menerpanya, hingga mereka tak terlihat lagi diangkasa yang luas.
Rasanya jadi agak sedikit kosong. Beberapa saat yang lalu ia masih bisa merasakan kehangatan mereka disisinya meski telah berubah menjadi jiwa, sekarang mereka benar-benar hilang.
Saat itulah tepukan ringan dipundaknya dan panggilan dari suara yang merdu itu datang seolah berusaha mengobatinya, " Ethan."
Jadi Ethan pun berbalik kearahnya dan melihat Quennevia disana, dia juga melihat kalau teman-temannya yang lain ada tak terlalu jauh darinya, menunggunya.
Ada banyak orang yang peduli dan percaya kepadanya.
" Disana tidak ada lagi yang perlu ditunggu, semuanya akan mengalir seperti seharusnya. Jadi kenapa kau tidak ikut dan tetap disini??" ucap Quennevia kepadanya.
Ethan yang mendengar itu kembali terdiam sejenak, saat senyuman pun kemudian kembali mengembang diwajahnya.
" Iya, aku akan ikut. Lagipula kita harus tetap bersama dan berjalan bersama." ia pun berkata seperti dan merangkul Quennevia, mereka berjalan kearah teman-temannya yang mulai memanggil dan melambaikan tangan kearah keduanya.
" Hei! Ayo cepat, aku ingin segera pulang dan makan. Aku akan malas-malasan selama beberapa waktu agar siap bertempur dalam kondisi prima!."
" Aku harus segera mandi dengan minyak mawar dan sabun agar aku kembali terlihat seperti putri."
Mereka tidak berubah sama sekali...