
Saat sampai di tempat tujuan, di daerah Danra sebuah kota suci yang terdapat di tengah-tengah perbatasan 3 Negeri utama, Chrysos, Foldes, dan kerajaan Lost. Kota itu dipimipin oleh seorang uskup agung, dan tidak termasuk wilayah manapun dari 3 Negeri itu, artinya mereka membangun sendiri kekuasaan mereka.
Tempat itu selalu di pilih karena dianggap pemersatu wilayah, katanya dulu kala uskup agung mereka lah yang mengajukan perdamaian ke setiap Negeri yang ada di sana dengan bantuan dari bimbingan tiga dewa. Spirit, dunia bawah dan dunia atas. Karena perang yang berkepanjangan membuat rakyat menjadi menderita, dengan adanya perdamaian itu maka bisa ada Negeri-Negeri yang sejahtera seperti sekarang.
Dan penyangga kedamaian itu adalah Akademi bintang utara, Akademi yang menerima orang manapun dari setiap Negari di daratan. Disebut juga sebagai tali penghubung setiap negara, dan menjalin hubungan antar orang antar negara.
Tapi bukan tidak mungkin dendam juga bisa berasal dari sana, konflik yang sederhana pun bisa jadi masalah antar negara jika hal itu terjadi.
Quennevia turun dari kereta kudanya dibantu oleh Lecht, saat mereka sampai di sana, mereka sudah di sambut oleh orang yang bertugas menyambut dan mengantar mereka.
" Selamat datang di Danra, pangeran dan putri Kekaisaran Chrysos. Mari ikut kami menuju tempat istirahat anda. " ucap seorang pria, yang dibelakang nya ada dua perempuan juga.
" Mohon bantuannya. " sahut Lecht menanggapi ucapan mereka.
Quennevia dan Lecht pun mengikuti mereka yang sedang menunjuk kan jalan, Quennevia berjalan didepan Lecht sambil melihat-lihat rumah besar itu dengan seksama. Sedangkan dibelakang tentu saja Lecht dan juga Kai yang mengikuti nya.
" Namamu Kai bukan??. " tanya Lecht tiba-tiba kepada Kai.
" Benar pangeran. " sahut Kei dengan sopan.
" Quennevia itu keponakan yang paling disayangi ayahku, jika dia terluka sedikit saja beliau akan marah. Jadi saat ada di sini, jangan biarkan siapapun menyentuhnya tanpa izin darinya, apalagi sampai sembarangan menemuinya. " ucap Lecht kemudian.
" Tentu saja, pangeran. " jawab Kai, tentu ia mengerti akan hal itu, karena dia juga tidak mau ada seorang pun yang menyebabkan sesuatu terjadi pada majikan nya itu.
Dia sudah melihat betapa buruknya orang-orang disekitarnya, meski dia sudah berubah dan jadi kuat, Quennevia tetaplah gadis kecil yang belum dewasa. Dia masih membutuhkan perlindungan.
Tak lama, mereka pun berhenti saat sampai di depan kamar yang diperuntukkan untuk Quennevia.
" Putri, ini adalah kamar anda. Jika anda butuh sesuatu silahkan bunyikan lonceng ini, dan kedua orang ini akan langsung menemui anda. " ucap pria yang mengantarnya itu.
" Terima kasih. " sahut Quennevia.
Setelah itu, mereka pun pergi dari sana untuk mengantar Lecht ke kamarnya, Quennevia juga meminta dua orang perempuan yang di tinggalkan disana untuk kembali. Dia bilang akan memanggil mereka jika membutuhkan sesuatu.
Quennevia pun berbalik dan membuka pintu kamar itu untuk masuk, tapi sebelum itu ia melirik Kai yang masih berdiri di sana.
" Kau tidak masuk, Kai??. " tanya Quennevia.
" Tidak, nona. Saya akan ada di sini, melindungi anda selama 24 jam. " sahut Kai dengan begitu serius..
Sementara itu, Quennevia yang mendengar itu darinya memiliki ekspresi ragu diwajahnya. Tapi sepertinya dia tidak salah dengar, " Kau ini, lalu bagaimana kau tidur??. " tanya nya kemudian.
" Saya bisa bertahan meski tidak tidur selama 5 hari. " dan seperti itulah jawaban yang ia dapatkan.
Quennevia menaikan alisnya mendengar itu, apa artinya Kai tidak akan tidur. Lagian kenapa dia tidak ikut prajurit yang lain saja ke tempat istirahat mereka, kenapa malah ikut dengan nya. Yah, Quennevia tidak bisa memaksanya jika dia bersikeras.
" Kalau begitu setelah ini aku menyuruhmu untuk melas-malasan selama 2 hari nonstop. " ucap Quennevia, dia tidak mengerti lagi kenapa dia se-waspada itu di sana.
" Sesuai keinginan anda, nona. " sahut Kai sambil tersenyum.
Lalu kemudian Quennevia pun masuk ke kamar nya, dengan Kai yang menjaganya di depan pintu sana. Quennevia langsung merebahkan dirinya di atas kasur, dia benar-benar merasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh itu.
Jika saja di sana ada pesawat terbang dia tidak akan ada di kereta kuda selama satu setengah hari sampai di tempat tujuan.
" Everon, apa kau merasa baik??. " tanya Quennevia dengan suara pelan.
" Aku baik-baik saja, kenapa kau menanyakan hal tidak berguna seperti itu??. " tanya Everon pula.
" Dasar, apa kau pikiran aku akan tidak baik hanya karena bertemu dengan calon kaisar Foldes yang masih bau kencur. "
Quennevia terkekeh mendengar itu, seperti nya dia tidak akan terlalu bosan ada di sana. Setidaknya dia bisa mengusili Everon untuk sebentar, hanya untuk menghibur nya dari kebosanan yang melanda.
" Bersiap-siap lah, Everon. Kau harus bisa bertahan dari pertanyaan tidak berguna ku selama tiga hari ke depan. " gumam Quennevia, ia mulai mengantuk dengan berbaring seperti itu. Hingga akhirnya dia benar-benar tertidur di sana.
" ...... "
Everon tidak menjawab perkataan nya lagi, tapi ia langsung muncul dan duduk di samping nya. Ia mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Quennevia, lalu ia menatapnya dengan wajah sendu.
" Emilia, dia sangat mirip dengan mu, aku sampai bertanya-tanya benarkah dia anak Misika??. Apa karena itu kau bahkan memberikan kekuatan mu padanya, atau kau menganggap nya sebagai putrimu sendiri. " batin Everon sambil menatap Quennevia.
Everon pun berdiri dari duduknya, ia mengibaskan tangannya untuk menangkap sesuatu. Lalu setelah ia menatap apa yang ada di tangannya itu dengan tatapan tajam.
" Huh, lalat pengintai. Sepertinya kau terlalu meremehkan si kecil ini, jika dia tidak kelelahan seperti itu dia bisa saja langsung tahu siapa kau. " ucap Everon sambil tersenyum sinis.
Ia kembali melihat kearah Quennevia yang tidur dengan lelap, Everon mencium pucuk kepalanya singkat.
" Jangan khawatir, aku akan melindungi mu sampai kapanpun. Karena itu juga keinginan Emilia. " ucapnya kemudian menghilang dari sana.
****
Besok paginya, Quennevia memakan sarapan yang disediakan untuk nya di kamar, dia juga meminta Kai sarapan bersamanya. Awalnya dia menolak hal itu , tapi Quennevia mengancam akan memulangkan nya jika dia tidak menuruti nya, jadi lah ia pun sarapan bersama nya.
" Kai, apa kau benar-benar tidak tidur semalam??. " tanya Quennevia memastikan.
" Saya tidur, sekitar dua jam mungkin. " sahut Kai.
" Kau tidur dengan posisi berdiri di sana. " Quennevia hampir tidak percaya dengan hal itu.
Tapi Kai hanya tersenyum kepadsnya, " Saya sudah terbiasa. " jawabnya.
Terbiasa?? Memangnya seperti apa dia sebelumnya, sampai terbiasa tidur seperti itu. Quennevia benar-benar tidak mengerti dengan orang yang ada di depan nya ini.
" Putri, sudah saatnya bersiap. Sebentar lagi pertemuan nya akan di laksanakan. " ucap perempuan yang kemarin itu.
" Baiklah. " sahut Quennevia.
" Kalau begitu saya keluar dulu. " ucap Kai pula, yang langsung berjalan keluar dari sana.
Meninggalkan Quennevia yang harus pasrah di dandani oleh dua orang itu, padahal ia hanya ingin menggunakan pakaian yang tidak terlalu merepotkan.
Quennevia terkejut melihat gaun yang diambil dua orang itu, gaun yang terlihat sangat berlapis-lapis itu apa benar harus ia pakai. Itu pasti akan sangat membuatnya susah meski hanya untuk berjalan saja, dan juga pasti akan sangat gerah.
" Anu... Tidak bisa kah aku tidak memakai gaun itu??. " tanya Quennevia dengan wajah kusut.
" Tidak boleh, anda adalah satu-satunya putri yang akan ikut angkat suara disana. Yang lainnya hanya orang yang mendampingi saja, jadi anda tidak boleh kalah cantik dari mereka. " ucap yang satu, panggil saja Dina.
" Benar, benar. Anda harus terlihat lebih menawan dari mereka. " sahut yang satunya, Reya.
Quennevia hanya menghela nafasnya dengan sikap dua orang itu, mereka sama saja dengan Murphy dan ayahnya. Padahal dia ingin memukul seseorang jika saja ada keributan, tapi kalau dipikir-pikir siapa yang ingin membuat keributan ditempat seperti itu.
" Haahh... Benar-benar merepotkan. " ucapnya.