Quennevia

Quennevia
Diungkapkannya...



[Season 2]


Ditaman saat ini, didekat danau tempat Arkan tercebur sebelumnya. Lewis ada disana bersama dengan Reul dan Balin, berkumpul bersama dan mengobrolkan banyak hal.


Balin juga terlihat sangat ceria sambil membaca buku diantara mereka berdua.


Sementara itu... Dari kejauhan, Leana menatap hal itu dengan kening berkerut merasa heran. Sesuatu yang tidak benar itu semakin jelas, namun tidak ada jalan mundur sekarang. Jadi ia pun mendekat...


" Ayah, anda memanggilku?"


Mendengar suara Leana disana mengalihkan mereka, baik itu Reul, Lewis atau Balin. Mereka memusatkan perhatian kepadanya...


Lewis pun segera menimpali ucapnya, " Iya, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Duduklah bersama kami, menantu."


Leana diam, dia menatap Balin yang juga ragu-ragu menatapnya. Balin mungkin tahu apa yang dipikirkannya saat ini, setelah melalui waktu yang panjang dalam situasi itu.


Dia menutup matanya melihat itu, seperti yang ia inginkan, Balin berhenti mencari perhatiannya secara langsung. Namun anehnya itu meninggalkan sedikit rasa kasihan dihatinya...


" Tidak perlu, ayah. Saya akan segera pergi setelah mendengar apa yang akan anda katakan..." pada akhirnya itulah jawaban dari Leana, dia tetap tidak memberikan kesempatan kepada Balin untuk berharap.


Lewis yang mendengarnya pun tidak bisa berbuat apa-apa, " ...Baiklah, apa yang ingin aku katakan ini tentang Arkan."


Lewis pun mulai ke inti percakapan ini, dan itu langsung menarik perhatian Leana.


" Arkan..? Apa sesuatu terjadi kepadanya?"


" Dibandingkan sesuatu yang terjadi, lebih tepatnya dia yang meminta sesuatu." ucap Reul ikut buka suara dalam percakapan ini.


" Kami telah memutuskan untuk mengirim Arkan ke akademi."


Leana tersentak kaget mendengar perkataan yang diucapkan oleh Lewis disana, dan langsung menatap mereka dengan ekspresi tidak percaya. Hal ini terlalu tiba-tiba..


Itu memang bukan hal yang buruk, berbending terbalik dengan belajar secara pribadi, belajar diakademi lebih terjamin efektifitasnya. Akan tetapi... Jika Arkan pergi ke akademi, Leana tidak akan punya kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan nya kembali setelah semua yang terjadi. Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi..


" Tidak.. Arkan tidak bisa pergi.. Dia tidak boleh meninggalkanku..!!"


" Bukankah ini terlalu tiba-tiba?? Arkan masih terlalu muda untuk pergi ke akademi!."


Leana ingin mencegah hal itu bagaimana pun caranya, dia yakin dia bisa membujuk Arkan untuk tidak pergi. Namun... apa yang ia pikirkan itu adalah sebuah kesalahan..


" Aku yang minta untuk dikirim pergi ke akademi... Ibu."


Suara Arkan terdengar menimpali ucapan nya dari belakang sana, Leana yang mendengarnya pun kembali terkejut. Dan ketika ia menoleh.. betapa terkejutnya ia ketika melihat apa yang Arkan bawa..


Itu adalah pelayan nya yang setia, Rian..


***


Pagi hari ini...


Pagi-pagi buta, sebelum matahari menampakan dirinya didunia. Langit yang masih cukup gelap diantara peralihan waktu, dan udara dingin masih melingkupi dunia. Arkan telah mengumpulkan orang-orang penting dirumah ini...


Kakeknya, ayahnya, kepala pelayan yang setia dan... Balin, saudaranya.


" Balin, sebenarnya kenapa kau mengumpulkan kami disini di waktu seawal ini??" Reul yang pertama bicara, sambil menahan Balin disampingnya yang kelihatan nya masih ngantuk agar tidak jatuh.


Balin sampai mengangguk-anggukan kepalanya tak bisa menahan rasa kantuk itu, sementara Arkan yang melihatnya hanya tersenyum dengan sebelah alis terangkat.


" Yeah, sebenarnya aku tidak meminta Balin untuk ikut. Dia yang memaksa untuk datang." ucap Arkan menjelaskan hal itu, mengingat dirinya pergi ke kamar Balin dan tidur bersamanya setelah menerima laporan dari anak buahnya. " Ngomong-ngomong ada sesuatu yang penting untuk kusampaikan.." ucapnya pula yang langsung menarik rasa ingin tahu mereka.


" Apa itu? Katakanlah, nak." Lewis pun menimpalinya.


Sementara itu Arkan terdiam sesaat, menahan sesuatu yang pahit dimulutnya. Sebuah penyesalan tiba-tiba mencuat dalam dirinya, dan itu karena ketidak mampuannya dimasa lalu. Lagipula... kenapa dia melakukan ini? Ini hanya ilusinya.


" Tidak ada alasan bagiku untuk membantu mereka..."


Arkan tahu itu. Tapi dia tidak ingin hal yang sama terulang, jadi...


" Ibu akan meracuni kakek."


... Dia mengatakan itu.


Arkan menatap satu-satu wajah orang yang ada dihadapannya, mereka semua terlihat membeku dengan ekspresi terkejut diwajah mereka. Bahkan Balin pun langsung terjaga penuh setelah mendengar kata-katanya itu. Dia sendiri tahu itu tidak bisa dipercaya, apalagi dikatakan oleh anak kecil (fisik) sepertinya, jadi dia telah menyiapkan alasan.


Orang pertama yang mempertanyakan hal itu pun bicara, " Tu,tuan muda, apa yang... barusan anda katakan..?" dia adalah kepala pelayan yang telah berada disisi kakeknya sejak lama.


" Iya, seperti yang aku katakan, kepala pelayan. Ibu telah berencana untuk meracuni kepala klan." ucap Arkan dengan tegas.


Kepala pelayan kehilangan tenaganya mendengar kenyataan itu, hal itu pasti adalah sesuatu yang tidak terpikirkan olehnya karena yang ia tahu.. Leana tidak punya masalah apapun diklan.


Satu orang lagi yang mempertanyakan hal itu, adalah saudaranya.. Balin.


" Itu.. Itu tidak mungkin. Ibu tidak mungkin melakukan itu 'kan, kak? Kau hanya bergurau.." mata anak itu dipenuhi oleh harapan kalau itu hanyalah lelucon.


Namun sayang, Arkan harus mengecewakan nya. Ia menggelengkan kepalanya dan mematahkan harapan anak itu, membuatnya terdiam suram.


Disisi lain, ayahnya dan kakeknya terlihat tengah memikirkan itu dengan sangat serius. Arkan bisa menebak apa yang akan mereka katakan, itu pasti...


" Arkan, dari mana kau mendapatkan informasi ini??"


...Ayahnya menanyakan keaslian informasi ini.


" Aku menyuruh seseorang yang dapat dipercaya untuk mengawasi gerak-gerik mencurigakan ibu. Dan inilah hasil yang ia dapat.." ucap Arkan menjawab pertanyaan nya.


Ia menyerahkan laporan yang diberikan oleh bawahan nya malam tadi kepada kakeknya, dan setelah membaca itu... dilihat dari raut wajah Lewis, dia pasti telah mengkonfirmasi kalau laporan itu benar.


" ...Apa yang akan kau lakukan, Arkan?"


Dan seperti yang ia duga, kakeknya bisa menyadari niatnya mengatakan ini kepada mereka.


" Aku akan menangkap pelayan yang akan menjadi kambing hitam, dan membawa ibu kepada kakek. Setelah itu, semuanya terserah pada kakek. Aku akan memberikan tanda sebagai jawaban apakah dia benar-benar menggunakan racun itu atau tidak." jelas Arkan dengan tegas dan percaya diri.


Itu akan berbahaya jika orang yang disuruh adalah seorang petarung, tapi entah kenapa Lewis tidak bisa menolak hal itu. Untuk bebarapa saat yang singkat, ia seolah melihat sosok Arkan setelah ia dewasa, menatapnya dengan sangat serius.


" Tidak mungkin..."


Itu membuatnya membulatkan mata tidak percaya, tapi kemudian ia kembali pada kenyataan didepan matanya.


" Haa... Baiklah. Tapi hanya menangkap, bukan melenyapkan." dan dia akhirnya setuju dengan itu.


" Ayah, tapi..!"


" Jangan khawatir, Reul. Putramu kuat."


Reul enggan untuk mengakui itu, dia ingin menyangkalnya. Baginya baik itu Arkan atau Balin sama-sama anak kecil, tidak peduli sebesar apa mereka. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau dia juga merasakan apa yang dirasakan oleh ayahnya, Arkan seolah diselubungi oleh kekuatan yang menjadi perisainya, itu membuatnya tidak akan goyah dan bisa mengatasi ancaman apapun saat ini.


Tapi dia juga tahu itu hanya sementara, karena kemampuan asli Arkan... masih tertidur jauh didalam dirinya. Jadi apa yang ia rasakan saat ini..??


" Apa yang terjadi padamu, anakku...??" Reul tidak bisa lagi memberikan alasan yang pasti untuk menolak hal itu, jadi ia pun hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Arkan yang melihat persetujuan itu pun juga ikut mengangguk paham, " Baiklah. Kalau begitu, tanda hari ini adalah... Kukis."


***


Waktu bergerak cepat ditempat ini, ketika saat yang menentukan tiba. Kepala pelayan melakukan pemeriksaan mendadak sesuai yang ia minta, dan mengumpulkan semua pelayan dikediaman utama, kediaman kepala klan berada.


Sementara itu didapur, Rian masuk ke dalam sana dengan waspada, dan memasukan sesuatu ke dalam teh yang akan dibawa kepada Lewis. Dia melakukan nya dengan cepat, tapi dia tidak menyadarinya...


...Kalau Arkan sedari tadi telah ada disana dan melihat semua yang ia lakukan? Ilusi yang ia ciptakan membuatnya tidak bisa dilihat.


" Apa yang kau lakukan disini?"


Suara Arkan disana mengagetkan Rian, ia langsung berbalik menatap kearahnya karena itu...


Rian berkeringat dingin, dia gelisah dan tidak bisa menatap Arkan ketika melihatnya tepat dibelakangnya saat ini.


Sementara Arkan dengan tenang berjalan mendekat kearahnya, " Aku bertanya kenapa kau ada disini. Bukankah semua pelayan dikumpulkan diaula utama saat ini??" tanyanya kembali semakin membuat Rian panik.


" Atau kau sedang melakukan sesuatu yang buruk disini..." lanjutnya pula tepat didepan wajah Rian dengan ekspresi dingin.


Rian yang melihat itu pun terkejut dan reflek menjauh darinya, " Ti-Tidak, saya hanya..."


Dukk...


Saat dirinya tanpa sengaja menabrak meja dibelakang punggungnya, dan membuat botol yang sebelumnya ia coba sembunyikan jatuh dan menggelinding kearah kaki Arkan. Rian yang melihat itu pun seketika berubah pucat...


Sementara itu, Arkan membungkukan tubuhnya dan mengambil botol yang berisi sedikit sisa racun itu dan menatapnya. Kemudian ia pun beralih kepada Rian dihadapannya...


Arkan pun menggenggam botol itu dan tersenyum, " Ha.. Bagus sekali kau melakukan ini." ucapnya dengan sinis.


" Tidak! Tuan muda, saya bisa menjelaskan--..."


" Aku tidak butuh penjelasanmu."


Arkan mengulurkan tangan nya, menyentuh dahi Rian dengan jari telunjuknya saat itu bersinar. Dan sesaat kemudian, kesadaran Rian mulai menghilang dan ia jatuh dilantai.


" Tidurlah dalam mimpi abadi untuk saat ini." ucap Arkan sambil menatapnya yang terbaring tak sadarkan diri itu.


Kemudian Arkan pun berjalan mendekati teko diatas meja, ia juga telah menukar itu sebelumnya. Jadi ia hanya perlu menukarkan nya kembali, dan membuang teh yang ada diteko yang di isi racun oleh Rian.


Tak lama, anak buah Arkan pun juga masuk ke dalam sama dan membawa Rian pergi melalui jendela. Sementara Arkan keluar dari pintu utama dapur...


Saat dijalan, dia juga berpapasan dengan para pelayan yang kembali setelah pemeriksaan..


" Hei, kau. Apa kau akan mengirimkan teh kepada kakek?" tanya Arkan kepada salah satu diantara mereka.


" Ah, iya. Itu benar, tuan muda." jawabnya pula dengan sopan kepadanya.


" Kalau begitu, kirim kukis yang kubuat kemarin juga kepada kakek dan ayah. Aku sudah membawa bagian Balin."


" ...Baik, akan saya lakukan."


Dan semuanya telah berjalan sesuai rencana...


***


Leana menatap tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya, mengapa Rian yang telah ia tunggu-tunggu tidak kunjung kembali.. Apakah Arkan yang menahannya?


" Rian..!! Bagaimana bisa..."


Ia pun beralih menatap Arkan yang berdiri disampingnya. Putranya itu tersenyum kepadanya, namun tatapan matanya terasa begitu tajam seolah memperhatikan segala yang ia lakukan. Seperti seekor elang.. yang sedang mengintai mangsanya.


Leana tidak tahu hal itu, kalau putranya sekarang adalah orang lain. Meski begitu ia tetap berusaha mempertahankan ketenangannya...


" Arkan.. Apa yang kau lakukan pada pelayan ibu?"


...Leana tidak bisa memperlihakan kegelisahan didepan mereka. Sementara Arkan, dia hanya menaikan sebelah alisnya mendengar itu.


" Ah, kami sedang bermain petak umpet sebelumnya. Tapi tiba-tiba dia tertidur dan tidak bisa dibangunkan, aku juga bingung dengan apa yang terjadi." Arkan menimpalinya seperti itu.


Namun itu meninggalkan perasaan janggal, Arkan tidak mungkin bermain petak umpet bersama dengan pelayan diusianya sekarang. Dan juga, dia tidak sedekat itu dengan Rian, Leana tahu itu.


Sementara itu, Arkan belum selesai bicara. Dia mengangkat tangannya, menunjukan apa yang ia pegang kepada mereka yang ada disana.


" Ngomong-ngomong aku menemukan ini disembunyikan olehnya, apa ibu tahu apa ini?" tanyanya kemudian.


Leana menegang melihat hal itu, apa yang dipegang Arkan.. Tentu saja dia tahu apa itu. Karena dia lah yang memberikan benda itu kepada Rian.


...Racun yang harusnya diberikan kepada Lewis.


" A-Arkan.. bagaimana itu bisa.."


" Ibu tahu..?"


Leana tersentak mendengar itu, tapi ia tidak bisa menangatakan apapun. Dia hanya memalingkan wajahnya tidak mau menatap Arkan. Sepertinya dia juga mulai sadar sekarang, semua orang sudah tahu dengan apa yang coba ia lakukan. Terutama putranya, Arkan..


Dan itu tidak salah. Arkan yang melihatnya bungkam pun kehilangan senyumannya, dia menatap dengan ekspresi kosong. Lalu tangannya pun mengepal menggenggam erat botol racun itu.


" Ibu tidak mau mengatakan alasannya...?" guman Arkan saat kemudian ia pun menunduk dengan kecewa.


" Aziel!" Suara Arkan terdengar memanggil seseorang.


Dan saat itu, suara lain memekik menyahutinya. Seekor elang besar baru saja turun dibelakang dari langit, tepat dibelakang Leana.


" Apa yang--..Akk!"


Dan elang itu mengarahkan kakinya menekan punggung Leana hingga ia jatuh ditanah tanpa memberikan kesempatan untuk melawan atau menghindar. Leana tidak diberi waktu untuk terkejut dengan apa yang sedang terjadi, bukan hanya dia... Bahkan Lewis, Reul dan Balin juga terkejut dengan memunculkan Aziel disana.


" A-Apa yang terjadi sebenarnya...?! Kenapa penjaga pegunungan barat ada disini..?!!" meski tetap saja, Leana yang paling terkejut disana.


" Jangan bunuh dia, Aziel." Suara kembali terdengar disana, menghentikan elang ikatannya dari merobek tubuh Leana menggunakan cakarnya.


Krung...


Aziel pun kemudian mengalihkan kearah majikannya yang ada disana, tentu saja dengan mematuhi ucapannya juga.


Leana yang merasakan itu juga mulai bisa bernafas sedikit lebih baik, saat kemudian ia pun mengangkat kepalanya menatap Arkan yang masih ada didepannya. Sesaat kemudian ia tersentak dengan apa yang ia lihat sendiri...


" Kau benar-benar tidak mau mengatakan apapun, ibu..??"


...Arkan menatapnya dengan ekspresi yang begitu muram dan penuh kekecewaan, ketika ia kembali melemparkan pertanyaan kepadanya.


" A-Arkan..."


" Arkan, bagaimana bisa... penjaga pegunungan barat ada disini..??"


Ucapan Leana kembali terpotong oleh Reul yang menanyakan hal itu, itu bukan masalah, karena dia juga ingin tahu. Namun Arkan sama sekali tidak berniat menjelaskan hal itu dan hanya memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya sekarang.


" Kakak..."


Sementara itu meninggalkan kekhawatiran dipihak yang lain. Satu-satunya hal yang ia inginkan sekarang, hanyalah kebenaran...


" Katakan padaku, ibu. Kenapa kau melakukan ini?..."


...Arkan hanya ingin mendengar jawaban dari apa yang ia cari, dari orang yang telah memulai semua kemalangan nya.


Namun Leana tetap menutup mulutnya rapat-rapat, itu berlangsung cukup lama... hingga hanya ada keheningan yang berat ditempat itu. Meski didalam hati, Arkan sebenarnya mengharapkan hal lain...


" Kumohon katakan tidak.... katakan kalau itu tidak benar, bilang kalau kau terpaksa..."


Dan ketika Leana perlahan membuka mulutnya....


" ....Iya, aku melakukan nya dengan sengaja." dia mengatakan hal mengecewakan itu.


Arkan mengerutkan keningnya dalam, wajahnya menggelap dengan ekspresi yang tidak lagi bisa ditebak. Sedih, kecewa, marah... semuanya bercampur menjadi satu.


Disisi lain, Balin juga merasakan hal yang sama. Kekecewaan yang dalam muncul dihatinya, tidak masalah jika ibunya tidak menyukainya. Tapi Balin tidak mau jika karena hal itu, kakeknya lah yang menjadi korban.


Balin tidak bisa menerima hal itu...


" ...Kenapa... Kenapa ibu melakukan itu?? Kenapa ibu ingin melukai kakek?!!" pada akhirnya ia yang selama ini diam pun bicara kepadanya.


Dengan air mata yang mengalir turun dipipinya, ia juga ingin mengetahui kejelasan masalah ini dengan lebih detail.