Quennevia

Quennevia
Perpisahan sementara



Saat ini Quennevia sedang melompat dari satu atap bangunan ke bangunan yang lainnya, ia baru saja pergi setelah menghabisi para selir dan Adele. Ia pun berhenti di sebuah menara di kota, yang mana itu adalah tempat pertemuan nya dengan Ethan.


" Kau lama sekali. " ucap Ethan, hanya dengan melirik nya ketika ia sampai disana.


" Tidak usah banyak protes, aku juga mau menikmati apa yang kulakukan sebentar. " sahut Quennevia dengan acuh.


Ethan hanya geleng-geleng kepala mendengar nya, ia benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran gadis itu. Tapi yah... cukup menyenangkan melihat semua drama yang ia mainkan nya selama ini.


" Aku akan kembali ke Foldes, apa kau akan merindukan ku??. " tanya nya sambil tersenyum, mencoba menggoda Quennevia.


" Aku akan rindu memukulmu jika kau pergi ke alam baka. " jawab Quennevia datar.


" Dasar jahat, apa kau ingin aku segera pergi ke alam baka??. " ucap Ethan pula dengan nada kecewa.


Ia agak kesal mendengar itu, tapi pada akhirnya dia juga tersenyum karena Quennevia sama sekali tidak berubah.


" Iya, pergilah sana. Dan lihat saja bagaimana aku memporak-porandakan Foldes karena kau pergi ke alam baka. " ucap Quennevia pula, sambil menyembunyikan wajahnya yang merona malu karena mengatakan hal itu.


Ethan terkejut mendengar itu, tapi kemudian ia pun tersenyum kembali. " Itu tidak akan terjadi. " sahut Ethan dengan sangat yakin.


Hembusan angin pun menerpa mereka dengan lembut, mengiringi keheningan sesaat diantara mereka. Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing sampai Quennevia yang mulai bicara lebih dulu.


" Kapan kau kembali??. " tanya Quennevia.


" Hemm... Sebentar lagi. " sahut Ethan dengan santai. " Setelah ini apa yang akan kau lakukan?? " tanyanya pula.


" Aku akan pergi ke tempat tinggal ibuku, di jantung hutan York. " jawab Quennevia.


" Setelah itu??. "


" Setelah itu aku akan pergi ke Akademi Bintang Utara. "


" Waha... Aku juga akan pergi kesana. "


Mendengar itu membuat Quennevia berbalik menatap Ethan, iya sebenarnya ia juga agak terkejut sih mendengar nya.


" Kau tidak pergi ke sana untuk mencari gara-gara dengan ku, kan??. " tanya Quennevia menatap tajam Ethan.


" Apa??~... Tentu saja tidak. " jawab Ethan cepat, " Aku pergi ke sana karena ayahku juga pernah bersekolah disana, aku ingin jadi orang kuat seperti ayahku. " lanjutnya.


Quennevia hanya menatap nya, lalu kembali menatap kota di depannya. Untuk sesaat mereka diam kembali, lalu...


" Ambil ini. " ucap Quennevia, sambil memberikan sebuah kotak kecil kepada Ethan.


Ethan pun menerima nya dan kemudian membuka kotak itu, " Ini... " ucapnya menggantung. Ternyata kotak itu berisi beberapa pil.


" Pil-pil itu aku yang buat, itu akan membantu meningkatkan pelatihan mu. Aku ingin kau jadi lawan tanding yang layak saat bertamu lagi. " ucap Quennevia sambil menyembunyikan wajahnya yang kembali malu karena itu.


" Oh, Terima kasih. Kau sangat membantu. " ucap Ethan sambil menyimpan kotak itu, " Aku juga punya sesuatu untuk mu. " lanjutnya.


Ethan pun melemparkan sesuatu kearah Quennevia, dan tentu saja itu langsung ditangkap olehnya. Saat Quennevia melihat apa yang ada ditangannya itu, ternyata sebuah kalung yang sangat cantik.



" Kalung??. " ucap Quennevia sambil melirik Ethan.


" Iya, itu mungkin tidak seperti kalung-kalung cantik yang selalu kau pakai. Tapi kuharap kau akan menerima nya. " ucap Ethan sambil tersenyum hangat.


" Kalau begitu... sampai jumpa di Akademi nanti. " ucapnya yang kemudian mencium pipi Quennevia sesaat, dan lalu menghilang dari sana begitu saja sebelum Quennevia menghajar nya.


Quennevia hanya diam mendapat perlakuan seperti itu, sambil membuat raut tidak percaya, hembusan angin pun menerbangkan rambut panjang nya. Lalu kemudian ia memandangi kalung pemberian Ethan yang ada di tangannya itu, ia menggenggam kalung itu dan tersenyum.


" Dasar bodoh. " gumam Quennevia dengan senyum manisnya dan pipi yang lebih merona ketika mengingat nya.


******


Besok nya, kabar tentang kematian para selir dan Adele pun menyebar di seluruh ibu kota, orang-orang membicarakan mereka tanpa pikir panjang lagi. Mereka lega karena ketiganya mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan setelah semua kejahatan mereka.


Arissa dan Jason tidak terlalu banyak bicara soal itu, meski sebenarnya mereka juga agak sedih dengan kejadian itu. Sedangkan Quennevia sendiri, ia pergi ke istana untuk berpamitan dengan pamannya terlebih dahulu.


" Paman Kaisar, Quennevia ingin berpamitan dengan paman. Quennevia akan segera pergi ke tampat tinggal ibu sebelum nya untuk berlatih. " ucap Quennevia sambil berlutut di depan pamannya.


" Bangunlah, keponakan ku. Kau tidak perlu berlutut seperti itu padaku. " sahut sang kaisar, ia membantu Quennevia bangun dari lantai, dan menggenggam tangannya.


" Paman, sekarang ayah sudah tidak ada di sini. Quennevia tidak bisa meminta berkat darinya, hanya paman yang Quennevia miliki di sini. " ucap Quennevia pula sambil tersenyum lembut. " Setelah ini Quennevia tidak akan berada di ibu kota lagi, Quennevia akan pergi berpetualang untuk melihat dunia. Karena itu Quennevia harap paman kaisar mengabulkan permintaan Quennevia. " ucapnya pula.


" Katakan lah. " sahut sang kaisar.


Quennevia pun mengucapkan semua yang ingin ia ucapkan, termasuk permintaan yang ia bicarakan itu. Setelah ia selesai berpamitan dengan pamannya itu, ia pun pergi dari sana untuk bersiap di kediaman nya.


Namun sebelum itu ia sempat berpapasan dengan Lecht terlebih dahulu.


" Quennevia, apa kau... benar-benar akan pergi??. " tanya Lecht.


Mendengar Lecht bertanya kepada nya, Quennevia pun otomatis berhenti sebentar.


" Tentu, kakak. Quennevia akan pergi dari ibu kota, sekarang tidak ada lagi yang Quennevia khawatirkan disini. Kediaman juga akan diurus oleh kakak Haika." sahut Quennevia menimpalinya.


" Tapi, perjalanan mu itu.... " ucap Lecht pula menggantung, sangat terlihat jika ia sangat khawatir dengan Quennevia.


" Kakak, ini adalah wasiat ayah sebelum kepergian nya. Beliau ingin Quennevia berlatih di tempat ibu dilahirkan, dan pergi melihat dunia dengan mata Quennevia sendiri. " ucap Quennevia lagi.


Lecht tidak bisa mencegah nya pergi, apapun yang Quennevia lakukan pasti ada alasan nya. Dan dia juga tidak akan bisa mengekangnya selamanya, karena Quennevia punya kebahagiaan sendiri.


Mata yang penuh keyakinan itu, dengan wajah tegas dan senyum percaya diri dari Quennevia. Ia sudah jadi lebih dewasa dari pada umurnya, tidak ada ketakutan yang biasa ia perlihatkan sebelum semua ini selesai.


" Baiklah... Jaga dirimu disana Adik, jika aku punya waktu berkunjung lah kemari. " ucap Lecht dengan tersenyum ramah kepada nya.


" Iya. " sahut Quennevia sambil menganggukkan kepalanya.


Lecht pun memeluk Quennevia sebagai tanda perpisahan, Quennevia sendiri terkejut karena Lecht tiba-tiba memeluknya. Tapi ia tidak menolak nya, malahan ia sangat senang karena nya.


*******


Setelah pergi dari istana, Quennevia pun juga pergi mengunjungi Oscar dan Niu yang sudah menunggunya di rumah Oscar. Saat Quennevia sampai di kediaman nya dengan menunggangi Yue ia sudah disambut keduanya di halaman.


" Nevia! " panggil Niu sambil berhambur kearah nya. " Ya ampun, Nevia, Nevia. Aku sangat senang kau baik-baik saja, kau tahu kehebatan mu itu sudah terkenal di seluruh ibu kota. " ucapnya dengan begitu bersemangat.


" Tentu saja, Master ku sangat hebat. " sahut Yue menimpali dengan bangga.


" Benarkah??. " tanya Quennevia sampai tersenyum.


" Itu benar, aku juga sangat senang karena para selir itu sudah mendapatkan apa yang harus mereka dapatkan. " ucap Oscar pula.


Quennevia sih tidak terlalu peduli, jika itu bukan karena kaisar yang melakukan sidang secara terbuka, orang-orang tidak akan tahu. Tapi dengan begini orang-orang tidak akan mencari gara-gara kepada keluarga nya yang ada disini, ya kecuali jika orang yang memang ingin mati.


" Iya, itu bagus. Tapi aku datang kesini untuk berpamitan. " ucap Quennevia.


" Apa?? Kau mau kemana??. " tanya mereka berdua bersamaan.


" Aku akan berlatih di rumah ibuku, tapi sebelum itu aku ingin memberikan ini kepada kalian. " Quennevia pun menberikan sebuah cincin kepada mereka.


" Itu cincin yang pernah kubeli bersama dengan Niu, di dalam nya ada beberapa teknik bela diri yang sudah ku rangkai agar dapat kalian mengerti. Juga beberapa pil yang bisa mempercepat pelatihan kalian. " ucap nya pula.


Oscar pun menerima nya cincin untuk mereka berdua itu, lalu mereka menatap Quennevia dengan sedih.


" Tapi jika begitu kami tidak akan bisa bertamu dengan mu lagi. " ucap Oscar dengan ekspresi sedih diwajahnya, begitu pula Niu.


Quennevia yang mendengar itu hanya menghela nafas sejenak, kemudian berkata. " Jika kalian ingin bertemu dengan ku lagi, mendaftar lah di Akademi bintang utara. Kita akan bertamu di sana, karena itu juga aku membekali lain dengan semua yang ada di cincin itu. " ucapnya.


Mendengar itu langsung membuat keduanya mebjadi lebih baik, karena itu artinya mereka bisa bertemu dan berkumpul lagi...


" Kalau begitu kita bertamu di pendaftaran murid baru Akademi bintang utara, beberapa tahun lagi. " ucap Niu dengan semangat.


" Iya. " sahut Quennevia dan Oscar bersamaan.


*******


- Besok nya.


Di kediaman Quennevia, orang-orang di sana saat ini sedang melepas kepergian Quennevia di depan kediaman, semua orang berkumpul bahkan para prajurit pun juga sampai ikut ada di sana.


" Tentu saja, Murphy. Aku sebenarnya ingin kau ikut, tapi perjalanan ini akan sangat berbahaya. " sahut Quennevia.


" Tapi setidaknya biarkan saya ikut, Nona. " ucap Kai pula.


" Benar, pilihlah salah satu dari kami. " ucap Ace dan Riyan berbarengan.


" Putri, anda harus memilih seorang prajurit untuk ikut. " ucap paman Sven pula dengan serius.


" Aku juga ingin ikut, kak. " bahkan Arissa pun sampai ikutan.


Quennevia malah jadi bingung mendengar semua ucapan itu, ia tidak ingin ada yang ikut dengan nya bukan hanya karena perjalanan itu berbahaya. Tapi tentu saja ada alasan khusus dibalik semua itu, dan mereka benar-benar tidak bisa membiarkan nya pergi sendiri begitu saja.


" Semuanya tolong diam!. " ucap Quennevia pula, dan akhirnya mereka pun diam.


" Semuanya, kalian tidak bisa pergi bersamaku, karena beberapa alasan. Pertama, kediaman ini akan diserahkan kepada kak Haika dan aku ingin kalian membantunya. Kedua, wilayah hutan yang akan kutuju hanya bisa dimasuki oleh diriku. Dan yang ketiga, kalian tidak perlu khawatir, ada bell bersama ku begitu juga dgn Yue dan Xi, ditambah aku juga punya kenalan di sana. Kalian tidak perlu khawatir. " jelas Quennevia panjang lebar.


" Tapi putri..... " ucap mereka semua pula menggantung.


Quennevia benar-benar bingung bagaimana harus meyakinkan mereka semua agar tidak khawatir.


" Biarkan saja, lagipula Quennevia itu sangat kuat. " ucap Jason pula angkat bicara.


" Tapi kakak.... " ucap Arissa menggantung.


" Arissa.... Kakak mu itu akan pergi berlatih di tempat nyonya besar, jadi tidak akan ada masalah. " ucap Jason pula mencoba meyakinkan nya.


" Baiklah. " akhirnya Arissa mengalah, begitu juga dengan yang lainnya.


Quennevia menghela nafas lega dengan itu, akhirnya ia bisa pergi dengan tenang sekarang. Ia sangat berterima kasih kepada Jason.


" Hei, adik. Apa Aku harus merahasiakan hal itu dari mereka juga??. " bisik Haika kepada Quennevia.


" Tentu saja, selama ibu belum memiliki tubuhnya kembali kau harus merahasiakan nya. Apalagi jangan sampai musuh-musuh tahu kalau ibu masih hidup. " bisik balik Quennevia kepada Haika.


" Kalau begitu setelah nya kau harus kembali bersama dengan ibu. " bisik Haika pula.


" Tentu saja. " sahut Quennevia dengan ceria.


Memang Haika sudah bertemu dengan Misika kembali semalam, ia juga sangat tekejut sekaligus senang melihat kalau Misika masih hidup. Tapi Quennevia kesal karena tidak diijinkan mendengar pembicaraan mereka.


" Baiklah semuanya, aku pergi dulu. " ucap Quennevia, ia berlari sambil melambaikan tangannya kepada mereka, begitu juga dengan mereka yang ada di kediaman.


" Hati-hati dijalan, Nona!. " teriak Murphy sambil melambaikan tangannya.


" Semoga anda tidak dalam bahaya!. " teriak Ace dan Riyan pula.


" Kapan-kapan pulang lah!. " teriak Haika.


Mereka terus berada di sana sampai Quennevia benar-benar tidak terlihat lagi dari pandangan mereka. Quennevia sendiri sangat senang karena tidak akan ada masalah yang terjadi kepada mereka lagi, tapi tentu itu tidak bisa menjamin nya. Tapi setidaknya akan ada banyak orang yang membantu Haika menjaga kediaman itu.


" Mereka benar-benar sangat perhatian, ya. " ucap Misika, ia muncul di samping Quennevia dan mendampingi nya pergi dari kediaman.


" Iya, meski sebenarnya sulit menentukan siapa yang akan memimpin, tapi untung paman kaisar tidak memprotes. " sahut Quennevia.


Ia jadi teringat saat ia meminta izin kepada sang Kaisar sebelumnya.


**


" Paman Kaisar, tolong biarkan Kak Haika yang menggantikan saya sebagai kepala keluarga di kediaman. Dan angkat kak Jason sebagai komandan pasukan dibawah kepemimpinan kak Haika. " ucap Quennevia saat itu.


" Apa?? Kau tidak ingin Jason jadi kepala keluarga??. " tanya sang kaisar pula.


" Bukan seperti itu, tapi kak Jason tidak cocok jadi kepala keluarga. Apalagi nantinya dia akan bergulat dengan pena dan kertas, dari pada pedang. Dan itu sama sekali bukan keahlian nya, Quennevia hanya ingin menempatkan semuanya sesuatu keahlian mereka." sahut Quennevia.


Sang kaisar nampak memikirkan hal itu, memang benar Jason sama sekali tidak cocok dengan tugas sebagai kepala keluarga.


" Hemm.... Begitu kah, baiklah kalau begitu. " ucap sang kaisar.


**


" Aku sempat sangat khawatir. " ucap Quennevia dengan lega.


" Iya, kaisar juga punya pertimbangan nya sendiri. Dia akan menghargainya, apalagi ia sudah tahu bagaimana kemampuan keduanya. " sahut Misika.


" Oh, ngomong-ngomong aku penasaran apa yang ibu bicara kan dengan kak Haika sebelum nya. " ucap Quennevia pula.


" Aha.. soal itu.... " ucap Misika.


**


Saat Quennevia mendengar ibunya ingin memperlihatkan dirinya di depan Haika ia sangat terkejut, tapi ia tetap melakukan nya. Quennevia memperlihatkan keberadaan ibunya di ruang kerja yang biasa ia gunakan, dan Haika benar-benar sangat tekejut dengan nya.


Disamping itu ia juga sangat senang dan terharu, bahkan sampai menangis dan bersimpuh di bawah kaki Misika. Tentu saja Misika membangunkan nya dan tersenyum dengan lembut kepada nya, tapi saat mereka akan bicara Misika malah meminta Quennevia keluar.


Mau tidak mau ia harus melakukan nya, dengan wajah cemberut Quennevia pun keluar dari ruangan itu dan menunggu mereka di luar.


" Ini benar-benar anda... Ini benar-benar anda, ibu.. " ucap Haika dengan air mata yang berlinang.


" Haika, jangan menangis. Aku akan menjelaskan semua nya padamu. " ucap Misika pula.


Akhirnya ia pun menjelaskan semuanya kepada Haika, juga kebenaran yang tidak ia beritahu kan kepada Quennevia sekali pun. Alasan nya karena Quennevia masih terlalu lemah untuk bisa menanggung masalah dibalik kebenaran itu, nyawanya bisa terancam jika ia gegabah.


" Jadi seperti itu, jadi semua ini karena klan Retia!!. " ucap Haika dengan sangat marah.


" Benar, dan yang tidak kusangka kalau mereka juga mengincar Quennevia. Saat pertemuan bersama para petinggi Negara lain pun mereka sampai membuat keributan hanya karena ingin menangkap Quennevia. " ucap Misika.


" Ibu, lebih baik kita langsung habisi mereka semua saja. Dengan bantuan dari klan ku aku dan kekuatan ibu dan juga Quennevia, aku yakin kita bisa menghabisi mereka semua. " usul Haika dengan emosi.


" Jangan gegabah, Haika. Apa kau tahu apa yang ada dibalik posisi para pemimpin keluarga klan meraka??. " tanya Misika.


Haika nampak memikirkan nya sebentar, lalu kemudian ia pun teringat dengan hal itu.


" Apa maksud ibu itu ketua klan mereka??. " tanya Haika.


" Benar, meski kita bisa menghadapi anggota klannya. Belum tentu kita bisa menang melawan ketuanya, kekuatan nya hampir mendekati ku karena hal yang diturunkan dari generasi ke generasi sejak ketua klan pertama meraka. " ucap Misika, ia benar namun Haika tetap sangat kesal dengan orang-orang Retia. " Haika, aku tahu klan mu itu sangat kuat. Tapi kita tidak bisa mengambil resiko itu, adapun yang perlu kita khawatir itu adalah kekuatan Quennevia sendiri. " ucap Misika pula.


" Kekuatan adik?? Memangnya ada apa dengan kekuatan nya?? Apa ada masalah??. " tanya Haika dengan khawatir.


" Haika, Quennevia itu..... " ucap Misika.


Haika sangat terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Misika, jika itu benar masuk akal sudah segala yang dilakukan oleh klan Retia itu. Jadi mereka harus menyembunyikan Quennevia sampai ia bisa mengendalikan kekuatan nya.


Pantas saja Ayah dan ibunya ingin Quennevia pergi ke hutan York, itu merupakan teritori dari penguasa hutan, dan Quennevia adalah putri dari penguasa hutan. Disana tidak akan ada orang yang bisa menggangu latihan Quennevia, juga merupakan tempat perlindungan yang paling aman.


" Haika, ingatlah apa yang aku katakan sekarang. Juga jangan lupakan identitas mu yang sebenarnya, kau masih lah tuan muda dari klan kuno itu. Dan jika kau bersedia ibu ingin kau menjaga Quennevia. " ucap Misika.


" Ibu, meskipun kau bukan ibuku yang sesungguhnya, tapi kau tetap orang yang sangat berharga bagiku, kau tetap lah ibuku. Begitu pun juga dengan Quennevia, dia tetaplah adikku, sudah tentu aku akan menjaganya dengan mempertaruhkan nyawaku. " jawab Haika dengan yakin.


Misika tersenyum senang mendengar itu, " Terima kasih, putra ku. " ucap Misika dengan terharu.


**


" Ibu??... Ibu?!... " panggil Quennevia.


Mendengar itu membuat Misika kembali dari lamunan nya, karena memikirkan hal itu terus menerus ia sampai tidak sadar jadi melamun.


" Kenapa sih, kok ibu jadi melamun. " ucap Quennevia.


" Ahahaha... Ibu hanya sedang memikirkan Haika karena kau bertanya. " sahut Misika.


" Jadi apa yg ibu bicara dengan kak Haika sebelum nya??. " tanya Quennevia pula dengan semangat.


" Tentu saja itu.... Rahasia. " jawab Misika pula.


Quennevia hanya mendengus kesal mendengar itu, kenapa ibunya harus sampai bermain rahasia-rahasiaan dengan nya. Sedangkan Misika sendiri hanya terkekeh dengan itu.


Perjalanan mereka masih panjang, dan itu diisi oleh obrolan-obrolan penuh canda tawa anatara ibu dan anak. Untungnya Quennevia selalu menghindari jalan yang selalu dipenuhi orang lain untuk pergi ke hutan York, jadi dia tidak akan dianggap gila karena telihat bicara sendiri.