
[Season 2]
- The world borders
Disituasi yang kacau, semua makhluk sibuk dengan situasi mempertahankan diri mereka sendiri dan saling membantu satu sama lain.
Akademi sebagai pusat berperan paling aktif dalam hal ini, lalu para klan yang tahu ikut menjadi pilar. Para Spirit Guardian juga ikut ambil dalam mengendalikan kondisi alam.
Azel yang berusaha menghentikan tornado di kerajaan Aquila. Mice dan Aqua pergi menenangkan lautan. Everon yang menjaga api dipegunungan Phoenix agar tetap terkendali. Wais yang menjaga longsoran tanah terutama ditempat para Dwarf. Lalu Zeze dan Freea menemani para spirit dan peri yang gelisah dan mulai mendekati tempat ini.
Misika, sebagai penguasa hutan membuka akses masuk ke dalam sebagai tempat perlindungan. Dia harus menjaga kelangsungan hidup dari rakyat nya.
Beberapa waktu yang lalu ia juga mendapatkan pesan dari para Elf yang berkata ada masalah dengan pohon kehidupan, karena itu dia mengutus kagura ke sana. Dan dia yakin kalau Ethan dan yang lainnya telah sampai ke sana. Energi kehidupan yang menyebar sebelumnya, itu artinya mereka berhasil menyelamatkan pohon kehidupan.
" Sedikit lagi... hanya perlu sedikit lagi, Quennevia akan kembali.. dan takdir kami yang menyedihkan akan berubah dalam kebaikan." Misika telah menunggu hal ini, hal yang akan membebaskan putrinya dari penderitaan.
" Ibu.."
Perhatian Misika teralihkan kepada suara itu, ia pun memalingkan wajahnya ke belakang sana, dan mendapati Kagura ada disana, berjalan mendekatinya.
" Ibu.. Jika berdiri terlalu pinggir, itu akan bahaya loh." Kagura mendekat dan kemudian memegang tangannya disampingnya.
Misika yang melihat itu pun mengangkat sudut bibirnya tersenyum dengan lembut, " Tidak apa-apa, ibu lebih kuat dari itu." ucapnya kemudian menimpali.
" Tapi, tetap saja.... Kakak akan sedih jika ibu terluka."
Misika tidak bisa menjawab hal itu, karena Kagura memang benar. Disituasi seperti ini, dia tidak boleh lalai dan kehilangan sedikit pun kekuatan. Dia adalah pilar dari hutan ini.
" Baiklah, sesuai yang Kagura inginkan." dan Misika harus bertahan sampai putrinya kembali.
****
- Didunia bawah, labirin kegelapan.
Niu yang sedari tadi diam tak sadarkan diri pun akhirnya perlahan membuka kedua matanya. Kepalanya agak pusing, mungkin karena dia terus melewati portal sejak beberapa waktu yang lalu, jadi dia agak sensitive dengan pemindahan seperti itu. Ia masih belum terbiasa.
" Ukh.. Aduh. Tubuhku rasanya sakit-sakit..." keluhnya disana, saat kemudian dia ingat.
" Ah! Oscar! Teman-teman! Ethan! " dia memanggil teman-teman nya disana, namun tidak ada satupun yang muncul. " Yuki!.. Meliyana!... Arkan!.."
Niu tidak bisa menemukan apapun, dan tidak bisa mendengar apapun ditengah kesunyian. Dia benar-benar sendirian disana....
Niu hanya bisa menghela nafas dengan hal tersebut.
Saat kemudian ia teralihkan kepada sesuatu karena sesuatu. Niu pun sontak menoleh kebelakang, ketika sebuah cahaya redup terlihat dari sebuah celah dibelakang nya. Niu bertanya-tanya...
Ia pun melangkahkan kakinya, perlahan mendekat dinding dimana cahaya itu menembusnya. Dinding itu halus, dan dari suara keras ketika ia mengetuknya dinding itu mungkin tipis.
" Haruskah aku..." ucapnya menggantung.
Tak lama, Niu hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai, dan ia pun memukul dinding tersebut... Bang!
Ngungg...!!
Dinding nya tidak roboh, itu hanya bergetar dan mengeluarkan bunyi nyaring layaknya sebuah dengungan ikan paus. Itu membuat Niu heran.
" Sepertinya ini tidak tipis..." gumamnya pula.
Niu memikirkan nya kembali. Bagaimana dia bisa masuk ke dalam sana? Niu menyusuri tempat itu sejenak, sambil meraba-raba dinding yang sama. Tidak ada pintu yang bisa ia gunakan, dan juga... Ada sesuatu yang yang mengganjal.
Apakah cahaya itu berada dalam kurungan, atau... Dia yang ada dikurungan?
" Hm..??"
Perhatian Niu kemudian teralihkan kepada sebuah tulisan ketika telapak tangannya menyentuh permukaan kasar itu, dia nyaris tidak bisa melihat apa itu karena tempat ini sangat gelap. Namun ia bisa menebak dengan merasakan nya...
Syukurlah.. Seperti nya itu huruf yang ia kenal.
" Ini... Bahasa latin??"
[ Dea clamantis... Poena aeterna... Iudex mortuus est... Principium omnium..]
" Dewi menangis... Hukuman abadi... Hakim sudah mati... Awal dari segalanya..."
" Ah tunggu, ada yang kulewatkan..." Niu merasakan lebih banyak huruf, ada celah juga diantara mereka dan ada sebuah bagian kosong disisi bagian kiri bawah. " ...Ini bisa digeser. "
Niu berpikir, mungkin semua kata-kata ini harus disusun menjadi satu kesatuan yang utuh agar bisa dimengerti. Jadi ia pun mulai menggesernya satu persatu. Perlahan namun pasti, semua kata-kata itu pun mulai terangkai satu sama lain. Dan ketika balok terakhir digeser, kata-kata yang muncul disana adalah...
['Dewi menangis ketika sang hakim mati, awal dari segalanya. Hukuman yang abadi. Dia yang tersegel jauh diperut bumi, dan dia yang telah mengakhiri berbagai peradaban. Bintang paling terang dari tangan ibu, dan pembebas takdir.']
" Apa maksudnya ini, hanya bagian ini yang ditulis dengan tulisan tebal...?? Bintang paling terang? Apa yang berhubungan bintang...??" Niu mengkerutkan keningnya dalam kebingungan, ini seperti sebuah petunjuk.
Mungkin juga ramalan lain...
Tapi kenapa ada disini? Niu tidak bisa menemukan jawaban tentang hal itu...
Niu kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Ia harus fokus kepada arti tulisan tebal ini dulu.
" Bintang... Bintang... Stella? Sirius? Estelle?.. Al.. Altair.. "
Dudududu...
Niu tersentak kagat dengan getaran yang terjadi setelah dia menucapkan kata itu, ruang tempat nya berada bergetar hingga air dibawah kakinya pun terombang-ambing. Dan diakhir getaran itu, terdengar suara yang benar-benar keras... Brakk!
" Kyaa!!."
Ruang terasa seperti dipukul hingga terlempar dan jatuh, yang merasakan hal itu tidak bisa menahan keseimbangannya dan akhirnya jatuh dilantai.
Bukan hanya dia yang merasakan hal itu....
" A-Apa yang terjadi?!"
" Kyaa!! Teman-teman, tolong aku!"
" Ethan! Apa itu kau?!"
" Tempat ini berguncang??"
Teman-teman nya yang berada ditempat-tempat yang terpisah pun merasakan hal tersebut dan benar-benar bingung.
Sedangkan saat ini Niu, dia teralihkan kepada suara lain yang kembali terdengar..
Grreekk...
Dinding berisi ramalan itu dihadapan perlahan terbuka, seolah mempersilahkan nya untuk masuk ke dalam sana. Melihat hal itu, ia pun segera bangun dan menatap sekitar terlebih dahulu. Niu tidak tahu apa yang terjadi, namun ia tetap melangkahkan kakinya masuk ke tempat itu.
Ruang yang ia masuki itu sedikit terlihat lebih jelas daripada tempat yang sebelumnya, itu berkat beberapa kupu-kupu putih yang memancarkan cahaya samar disana. Meski begitu, tempat tersebut lebih dingin.
" Huff... Tempat apa ini sebenarnya??"
Tetap tidak ada yang bisa dilihat disana meskipun dia masuk ke sana. Itu sampai, ia mengambil langkah lain...
Tap...
" Hah..??"
Sriingg...
Niu menutup kedua matanya ketika cahaya tiba-tiba muncul, menutupi semua yang ada disekitarnya.
Dan ketika ia membuka matanya kembali, Niu telah dikelilingi oleh ratusan cermin.
" Ha...? Tempat apa ini lagi??" Niu benar-benar bingung disana.
Ia terus berjalan dengan waspada dan hati-hati, hanya ada pantulan dirinya disana sini setiap kali ia melangkahkan kakinya. Dia tidak menemukan hal spesial.
Namun tanpa ia sadari, sebuah bayangan hitam mengikutinya dari cermin ke cermin dibelakang sana.
" Sebenarnya apa ini..??" Niu melangkah mendekati salah satu cermin, ia menatap dirinya sendiri. Saat ia pun mengulurkan tangannya menyentuh cermin itu. " ...Ini mengalir seperti air. " ucapnya ketika tangannya menembus cermin itu.
Sesuatu mulai jadi janggal dari sana, ketika Niu hendak menarik kembali tangannya dari cermin itu. Dirinya didalam cermin itu malah mencekal tangannya dengan kuat...
" Hah?!!"