
Diluar, Oscar dan yang lainnya telah selesai bersiap diposisi dan siap menjalankan rencana mereka. Mereka berenam bersama Sakura menatap satu sama lain dengan fokus. Saat kemudian Sakura pun menarik nafasnya sejenak.. dan ia memasang kuda-kuda.
Ia menempatkan kaki kanannya kebelakang, bersama dengan tangan kanannya yang terangkat memegang tombak pembelah langit dengan garis lurus. Ia sedikit menambahkan kekuatannya untuk memastikan mereka benar-benar mendapatkan waktu lima menit yang mereka butuhkan. Dan ketika ia benar-benar siap...
" Hup..!"
Wiishh!!
" Kak Niu!."
Ia langsung melemparkan tombak itu kearah Niu yang ada ditangan kanan Quennevia.
Sakura mendapatkan kode itu, dan ia melihat tombak yang dilemparkan Sakura melesat kearahnya dalam waktu 34 detik.
Niu pun mengangkat tangan kanannya dan bersiap untuk memegang itu, " Aku akan menangkapnya." ucapnya.
Dan ia benar-benar berhasil.. "..U-uhh.." meski ia sedikit dikejutkan karena berat tombak itu yang terasa lebih besar daripada senjata yang pernah ia ambil. Meski begitu ia masih bisa mengangkatnya.
Niu pun memegang tombak itu dengan kedua tangannya, dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sebelum kemudian ia mengayunkan nya dengan semua kekuatan yang ia bisa dan memukul belenggu ditangan kanan Quennevia.
" Hiyaa!!."
Bangg!
Benturan ketas keduanya bersamaan dengan hembusan energi yang besar pula, Niu sampai merasa kalau dia akan terhempas jika dia tidak bertahan sekuat yang ia bisa. Ia sudah memegang tombak itu selama 10 detik, jadi sekarang telah berlalu 44 detik. Ia berpikir sepertinya dia tidak cukup kuat, tapi kemudian...
Crack..
" Huh..??" rantai belenggu itu benar-benar retak. 'Krang'!. Dan itu benar-benar hancur.
" Kau berhasil!"
" Cara ini benar-benar bekerja!."
Teman-temannya yang lain yang melihat itu juga terlihat terkejut tapi pada saat yang sama juga girang...
" Niu! Kemari! Lempar kemari!." saat Arkan kemudian melambaikan kedua tangannya diatas kepalanya sambil melompat-lompat penuh dengan semangat.
" ..Iya!." Niu pun menganggukinya dan segera melemparkan kembali tombak ditangannya ke arah orang yang akan menghancurkan rantai belenggu itu selanjutnya.
Dan Arkan terlihat bersemangat menantikannya...
Disaat yang sama dengan itu, Ethan yang ada didalam ruang isolasi dalam dimension tak dikenal masih terdiam ditempatnya. Ia juga mendengar dan merasakan perubahan itu, satu rantai belenggu telah hancur.
Seperti sebuah dorongan, Ethan bisa merasakan perasaan teman-temannya yang sedang berusaha keras diluar sana. Dan ia pun juga menyadarinya...
".... Itu benar. Kita tidak boleh menyerah begitu saja disini."
Ia pun kembali berusaha bangun, tidak ada yang boleh membuatnya melemah ditempat ini. Demi kepercayaan yang telah teman-temannya percayakan padanya, dia harus menyelesaikan ini...
" Tidak ada waktu bagi kami untuk ragu-ragu." dan Ethan pun kembali mengangkat kepalanya menatap Quennevia didapannya.
" Sudah... berakhir.."
" Ini masih awal..."
" Tidak mungkin berubah..."
" ...Apa bisa berubah?."
" Iya, bisa..." Ethan kembali menimpali semua kontradiksi itu. " ....Itu karena teman-teman ada disini." memberikan jawaban yang mungkin selalu ditunggu oleh Quennevia.
Jawaban... bahwa dia tidak pernah sendirian.
Tap..
" Dapat!." dan saat itu, Arkan baru saja mendapatkan tombak ditangannya pada detik ke 97.
Ia terlihat memutar tombak itu diatas kepalanya sejenak, dan ia pun mengayunkan nya. " Hancurlah!."
Arkan memberikan tenaga yang cukup besar untuk melepaskan belenggu itu dengan cepat, meski begitu ia juga berhasil dalam 5 detik.
" Heh. Oscar! Ambil ini!." dan segera setelah itu, ia pun langsung mengopernya kembali kearah Oscar yang telah menunggunya dengan cara menendang ujung tombak tersebut.
Ethan juga berusaha sebisanya, ia memusatkan sisa energinya pada kedua tangannya demi berusaha menembus penghalang yang membatasi mereka. Ia tetap melakukannya meski itu sulit.
Dengan itu, perlahan... penghalang yang mulai tidak stabil setelah hancurnya dia belenggu pun retak dan mulai hancur.
Di detik ke 138, tombak itu sampai ditangan Oscar. Ia menerima nya dengan baik. Ketika tombak itu telah berada ditangannya, Oscar pun langsung membalik posisinya. Dia memegangnya didepan wajahnya, dan menancapkannya ke belenggu dikaki kiri Quennevia.
7 detik kemudian, belenggu dikaki kiri Quennevia pun juga hancur.
" Meliyana, giliranmu." ucap Oscar ketika itu, dan ia langsung memberikannya kepada Meliyana. 47 detik kemudian, Meliyana memegang tombak itu ditangannya.
" Ugh.." dan berat tombak itu juga bertambah.
Meliyana hampir tidak bisa mengangkatnya sama sekali, ia menggunakan bahunya untuk menahan tombak itu tetap berdiri dengan posisi terbalik yang sama dengan Oscar.
Baru ketika tombak itu menyentuh belenggu tersebut, Meliyana pun merusaha menariknya kearah atas untuk merusaknya. Itu perlahan bergarak, tapi ketika berada ditengah ia mulai tersendat..
" Ukhh... Dia tidak bergerak lagi..." dia kesulitan.
Sepertinya Meliyana hampir tidak bisa menambah kembali kemampuan nya karena secara langsung, tombak itu juga menyerap energi orang yang menggunakannya.
" Ayo, Meliyana! Kau bisa melakukan nya!." tapi Niu berusaha menyemengatinya.
" Kak Meliyana, gunakan kemampuan Green untuk membantumu mengangkat tombaknya!." Sakura pun kemudian memberikan referensi kepadanya.
" Meliyana!."
Mendengar itu, Meliyana berusaha melakukan apa yang dia katakan. Mengerahkan semua kemampuannya, meski dia tidak sekuat teman-temannya. Apa yang membuatnya kuat adalah teman-teman perinya dialam, " Uhhh... Aaarghhh!."
Green menjawab keinginan kontrakrornya yang ia sukai, ia menyembul keluar dari portal yang muncul dibelakang Meliyana, dan menggunakan kekuatan elemental untuk mengubah wujudnya.
Perlahan ia membesar, dan sekarang wujudnya berubah menjadi seperti golem. Dan ia membantu Meliyana menggerakan tombak itu.
Grooaaa..!
Golem Green mengerahkan kekuatan nya, mendorong tombak itu naik melalui belenggu dan perlahan tombak itu pun bergerak dan berhasil memotongnya.
" Whoaa.." Meliyana sedikit terkejut dengan itu, ia hampir terjungkal karena kehilangan keseimbangan tapi Green menahan dan mengangkatnya.
" Horee!!."
Disisi lain, teman-teman nya bersorak girang melihat nya berhasil..
Meliyana pun kemudian menoleh dan menatap Green yang menggendongnya, dan Green pun terlihat menyambutnya dengan senyumannya diwajahnya. Meliyana yang melihat itu pun ikut tersenyum dan memeluknya. Keduanya terlihat senang melihat satu sama lain.
" Green, ayo. berikan tombaknya kepada Yuki." ucap Meliyana kemudian.
Dan setelah itu, Green pun menganggukan kepalanya menanggapi ucapan Meliyana, dan mulai melemparkan tombak itu sesuai keinginannya. Dan Yuki mengulurkan tangannya menunggu hal itu....
Disaat yang sama, Ethan masih berusaha menerobos pelindungnya, kali ini ia berhasil memasukan kedua lengannya ke dalam dengan paksa, tapi selain itu dirinya masih berada diluar. 4 rantai belenggu telah hancur, disaat yang sama pengekangan mulai dikurangi.
Ethan mulai bisa menambah kekuatan nya untuk mendorong dirinya masuk. Saat...
" Uh!."
Ia merasa ada sesuatu yang memegangi kakinya dibawah sana.
Dan lalu ia pun menundukan kepalanya melihat apa yang muncul sekarang, itu adalah tangan-tangan pucat yang menyembul keluar dari lantai hitam dibawah kakinya. Tidak hanya satu atau dua, bukan juga tiga... Mereka keluar dari segala arah. Dan mereka semua bergerak kearahnya berusaha menangkapnya.
" Khh, yang benar saja... Quennevia! Bangunlah!." dan ia pun kembali memanggilnya ketika tangan-tangan itu perlahan mendekat.
Satu persatu dari mereka memeganginya, dan berusaha menariknya menjauh kembali. Tapi Ethan bertahan sekuat yang ia bisa...
" Quennevia!.. Quennevia!." dia terus memanggilnya.
Ia bahkan melangkah maju dan mendorong dirinya masuk lebih dalam. Saat itu dia melihatnya... Ketika tangan Quennevia bergerak dan dahinya terlihat mulai berkerut. Suaranya bisa mencapainya...
" Quennevia, kami disini! Kami datang menjemputmu. Buka matamu!!." Ethan terus berteriak memanggilnya.
Ketika Yuki diluar sana, akhirnya mendapatkan tombak pembelah langit sebagai pembebas terakhir. Yuki memegangnya erat dan akan menusukannya ke arah belenggu itu...
" Lakukan, Yuki!!."
" Hancurkan itu!."
Akan tetapi....
DUUNGG!!
" Akkh!."
" Apa ini..?!"
Sesuatu tiba-tiba terjadi, entah apa itu, tapi dia berhasil mengguncang ruang angkasa. Bersamaan dengan gelombang yang membludak seolah ingin menghempaskan semuanya. Bahkan Euclide dan para dewa yang lain juga merasakan itu.
Oscar dan yang lainnya berusaha mempertahankan keseimbangan dan tetap berdiri, tapi Yuki tidak seberuntung itu.
" Huh?!!" ia merasakan kakinya tergelincir dari pijakannya, dan ia akan jatuh.
" Yuki!!." teman-temannya yang melihat itu pun berteriak dengan panik kearahnya.
Dan saat itu, dia juga mendengar suara Hades yang berteriak kepadanya. [Nak! Jika kau jatuh sambil memegang tombak itu, dia akan membawamu ke tempat tak dikenal yang sulit ditemukan!!.]
[Lepaskan tombaknya!!.] bahkan Eclipse memperingatinya soal itu.
Tapi Yuki berpikir, waktunya tidak banyak lagi...
" Jika aku gagal, Quennevia tidak akan lepas dari jeratan... Ini satu-satunya kesempatan kami..!!"
Yuki tidak bisa melepaskan tombak itu dari tangannya, ataupun kesempatan yang telah susah payah mereka dapatkan ini..
Ia memejamkan matanya erat dan bergumam," Kumohon..!!."
Sruukk..
Dan ia merasa seseorang menahan punggungnya.
Sementara itu didalam, keadaannya masih tidak setenang ditempat Ethan ataupun diluar. Seraphine masih bersikeras dengan kekeraskepalaannya. Dia mengendalikan arus kekuatan yang ada didalam dan berusaha menghentikan mereka melakukan pembebasan.
" Kenapa kau masih tidak mengerti?!! Ini bukanlah yang Quennevia inginkan!." Sirius berteriak kepadanya dan menarik kedua tangannya dengan tali yang ia buat.
Tapi Seraphine tentu saja melakukan perlawanan, " Memangnya apa yang tahu?! Bagaimana kau benar-benar tahu bahwa dia tidak menginginkan ini?!." ia pun membalas perkataannya.
" Semuanya sedang berjuang!! Quennevia sejak tadi berusaha membuka matanya! Ethan berusaha membangunkannya meski kau berusaha menariknya pergi! Dan teman-temannya yang lain berusaha menghancurkan hukuman itu!! Apa kau masih tidak mengerti juga?! Semuanya akan berbeda kali ini!!."
" Tidak akan ada yang berbeda!! Semuanya sama saja!! Tidak peduli dimana atau kapan, semuanya sama! Karena itu aku berusaha melindunginya! Kami melindunginya!."
Keduanya beradu argumen dan saling menarik satu sama lain, sementara itu Nevia yang sejak tadi hanya diam saja dan melihat apa yang keduanya lakukan, tentu saja dia tahu Seraphine tidak mungkin melakukan ini hanya dengan kekuatan nya sendiri. Semua kesadaran yang tidak ingin kembali berkumpul padanya, itulah kenapa dia menyerap mereka. Tak lama kemudian Nevia pun berkata...
" Kalian tentu saja tidak peduli..." perkataannya menghentikan Sirius dan Seraphine untuk sesaat, dan keduanya pun jadi mengalihkan perhatian kearahnya. " Tapi Quennevia tidak sama, dia mau keluar dan terus hidup...." ucapnya kembali menjeda kata-katanya.
Saat ia pun mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap balik mereka berdua, " ...Dan ada yang lain juga yang ingin ibunya kembali." dia pun berkata demikian.
Dan itu berhasil membuat Seraphine jadi sangat terkejut...
Disaat yang sama, Yuki terdiam terkejut dengan apa yang terjadi kepadanya. Seseorang menahannya ketika ia akan jatuh, dan sekarang ia menatap sosok seseorang dihadapannya. Dia tidak melihat wajahnya dengan jelas karena bentuknya yang teransparan dan bersinar, tapi ia yakin dia gadis berambut pirang seperti Quennevia.
Bukan hanya dia yang terdiam terkejut dengan itu, tapi yang lainnya juga. Bahkan para dewa.
Dan bagi Niu, itu adalah kedua kalinya dia melihatnya...
" Gadis itu..." benar, dia ingat dia melihatnya saat didunia bawah.
" Huh?"
Tanpa kesempatan untuk bicara atau bertanya, sosok itu pun kemudian juga memegang tombak yang dipegang oleh Yuki. Dan mengarahkannya kepada belenggu, mereka berdua menusuk belenggu terakhir dengan tombak itu pada detik ke 298. Dan karena itu, tombak itu pun bersinar terang menyelimuti Yuki dan sosok tersebut.
Waktu yang diberikan berhasil digunakan, ketika perlahan belenggu dileher Quennevia retak, sosok itu juga menghilang bersama dengan cahaya tersebut. Dan tak lama kemudian, belenggu terakhir hancur...
Bersamaan dengan, hancurnya penghalang...
Prangg..! yang membuat ruang gelap itu perlahan memudar dalam cahaya putih.
" Hah..?!!." dan Quennevia yang terbangun dengan air mata yang mengalir dari matanya.
" Quennevia."
Ethan yang melihat nya berhasil terbangun pun langsung mengulurkan tangannya kembali dan memeluknya dengan erat. Itu adalah kemenangan mereka.