Quennevia

Quennevia
Kebenaran Bagi Sakura



* {100.000 yang lalu... Setelah perang Besar yang memusnahkan hampir 2/3 dari keseluruhan makhluk dari ketiga dunia.}


Dari sisa-sisa medan perang yang terlupakan, dimana kesedihan dan keputusasaan yang mengelilingi segalanya. Kekuatan dan fragment dewi tengah yang mati, tersisa terapung-apung diudara. Fragment dewi terbagi menjadi tiga, yaitu air mata, darah dan kekuatan ilahinya.


Dari ketiga fragment itu, lahir tiga hal yang berbeda...


Yang pertama, adalah sumber kekuatan baru, kekuatan yang lahir dari air mata kesedihan dan harapannya.


Yang kedua, adalah Crystal yang lahir dari sisa-sisa kekuatan ilahinya.


Dan yang terakhir, dari darahnya... Lahirlah jiwa seorang anak.


Dari ketiga hal yang lahir, hanya jiwa itu yang paling istimewa. Dia tidak memiliki wujud, kecuali terlihat seperti gumpalan debu yang melayang-layang berkeliaran tanpa arah didunia. Bertahun-tahun berlalu, puluhan tahun bahkan ratusan tahun, dia terus mengelilingi dunia mencari pembenaran diri dan alasan ia terlahir.


Melihat berbagai kehidupan, meskipun ia tidak pernah mengingat mereka dengan pasti. Dan ia tidak ditakdirkan berada dikehidupan itu.


Euclide & Hades juga mengetahui keberadaannya, namun mereka tetap diam dan memperhatikan bagaimana bola jiwa itu tumbuh dan memberinya kebebasan. Dimata mereka, dia adalah seorang anak yang sedang berusaha untuk menghibur dirinya sendiri.


Dia pernah meniru apapun yang ia lihat, baik itu binatang, monster atau manusia. Tapi ada hal yang kurang darinya.. Yaitu kesadaran dan juga tubuh fisik. Karena itu pada akhirnya dia selalu hanya berlalu seperti angin yang tidak pernah meninggalkan jejak.


Meski begitu, dia memiliki perasaan layaknya manusia. Dia tidak mengingat setiap hal yang pernah ia lihat dan coba lakukan, tapi dia mengingat setiap perasaan yang ia rasakan dari hal itu.


Juga perasaan kepada penciptanya yang tidak pernah ia temui.


Setelah berkeliaran tanpa arah sepanjang hidupnya, suatu hari jiwa itu tiba-tiba sampai ke pusat dunia setelah terombang-ambing dalam pusaran gelombang yang tidak diketahui. Anak itu tiba dihadapan 'Imaginary Tree'.


Pengaruh dari pohon itu memberinya kekuatan. Lalu karena kerinduannya akan sosok Quennevia, dan keinginannya untuk hidup seperti manusia yang selama ini dia lihat, dia pun jatuh tetidur dan bermimpi tentangnya.


Saat pohon dunia kemudian mengambilnya dan mengirimnya ke dunia lain, dia akhirnya terlahir sebagai manusia untuk pertama kalinya. Dan sosok ibu yang telah melahirkannya itu memberinya nama... 'Sakura'.


***


Sakuta terdiam. Dia tak berkata apapun setelah mendengar semua yang dikatakan oleh Quennevia kepadanya. Sesuatu yang tidak akan pernah dipikirkan.. Atau terpikirkan oleh setiap orang. Bahkan tak disadari oleh dirinya sendiri.


Jadi begitulah bagaimana ia lahir. Begitulah bagaimana mereka bisa bersama selama ini. Dan alasan mengapa dirinya sangat tertarik dan terpaku kepada Nevia yang adalah inkarnasi dari Quennevia, semuanya karena insting.


Itu adalah instingnya untuk kembali bersama dengan penciptanya. Kristal yang didapat sakura juga rupanya adalah kristal yang lahir saat ini, yang telah disempurnakan kembali oleh Quennevia.


Itu terasa hampir tidak nyata, tapi... Itu adalah bukti dari kelahirannya. Mengetahui itu membuat nya tak bisa menahan air matanya. Jadi itulah alasannya, jadi itulah kenapa dia merasa seperti itu..


" Jadi... Jadi.. Itu adalah aku. Aku memang harus ada disini.. Karena itu.." Sakura sekarang mengerti posisinya.


Quennevia yang melihatnya menangis hanya tersenyum semakin lebar, melihat bagaimana ia begitu terbuai oleh kenyataan bagaimana ia lahir. Ia pun mengulurkan tanganya dan memeluk Sakura dengan erat.


" Iya. Seperti itulah dirimu. Jika saja kau bisa lahir lebih cepat, tapi yang kurang darimu yang dulu hanyalah tubuh fisik dan kesiapan mental yang memadai untuk lahir. Sementara dirimu yang sekarang telah mendapatkan berkat dari pohon imajinasi dan pohon dunia. Kau sudah lebih dari siap untuk menciptakan takdirmu sendiri." Ucap Quennevia.


" ...kalau begitu, 'Imaginary creation'.. Kemampuan ku bukanlah sesuatu yang kudapatkan secara kebetulan. Melainkan sudah direncanakan sejak awal??" tanya Sakura pula padanya.


Karena itu Quennevia pun mematapnya dan menganggukan kepalanya. " Iya."


" Lalu, hal yang kucari adalah..."


Quennevia pun memegangi wajah Sakura dan terus mematapnya dengan lembut, Yang kau cari adalah aku."


Sementara tangisan Sakura terus semakin tak terkendali. " Jadi, alasan kenapa aku merindukan tempat ini juga.."


" Karena tempat ini sejak awal adalah rumahmu."


" Hiks.. Kakak.. Aku.."


" Aku tahu, aku juga selalu merindukanmu. " Quennevia tahu, itu pasti sedikit membingungkan bagi Sakura untuk mengetahui kenyatan itu. Namun sama sekali tak ada penolakan apapun darinya, jadi ia bisa dengan yakin percaya, kalau Sakura juga mempercayai hal tersebut. Dan itu yang membuatnya sebang.


Selama ini dia sudah hidup cukup menderita karena perasaan tidak cocoknya dengan lingkungan sekitar, dan dipandang sebagai anak yang 'berbeda'. Karena itu, Quennevia merasa harus mengatakan ini meskipun sedikit terlambat...


Dan sambutan yang sedikit terlambat itu terdengar begitu manis ditelinga Sakura. " Hik.. Aku pulang.. Aku pulang, kakak~!" Seolah itulah yang telah lama ia nantikan.


****


Sementara itu diruangan yang biasanya dipakai Ethan untuk melakukan pekerjaannya, ia masih berkutat seorang diri dengan semua dokumen kenegaraan yang dibawa oleh Yin ke tempat ini sesuai keinginannya.


Tentu saja sebagai orang yang akan menjadi kaisar dinegaranya, dia punya tanggung jawab yang besar, meskipun selama ini dia juga sadar kalau dia selama ini selalu bermain-main dalam menjalankan perannya.


Tidak cukup hanya dengan menunda kenaikan takhtanya, dia juga berusaha berpaling sebisa mungkin dari semua urusan kenegaraan itu. Alasannya sangat sederhana... Karena dia tidak ingin menduduki takhta sejak awal. Tapi sekarang berbeda...


Karena dia juga punya hal yang begitu penting untuk dilindungi ditempat itu.


Ketika Ethan hanya berdiam diri tanpa suara apapun selain gerakan pena dan lembaran kertas disana, telinganya menangkap sebuah suara yang berasal dari ketukan seseorang diluar sana...


Tok..Tok..Tok..


" Yang mulia, ini Yin." Suara itu pun mengiringi ketukan itu.


" Masuklah."


Ethan tidak punya alasan apapun untuk tidak menjawabnya saat itu, jadi dia membiarkannya masuk.


Ceklek..


" Permisi." Yin pun membuka pintu ruangan itu dan masuk sesuai dengan instruksinya. Dan ia memiliki beberapa kertas ditangannya. " Yang mulia, ini adalah daftar pasukan baru yang memenuhi syarat untuk pergi ke medan pedang dari pihak kita." ucapnya kemudian.


Ia pun memberikan kertas-kertas ditangannya itu kepada Ethan.


" Oh, baiklah." dan Ethan juga menerimanya dengan baik.


Ia mulai melihat daftar pasukan yang diberikan oleh Yin kepadanya, sampai kemudian sesuatu membuatnya sedikit terkejut.


" Kenapa nama Mira juga terdaftar disini??" itu membuatnya bingung.


" Ah.. Itu.." Sementara itu, Yin sendiri terlihat ragu dan bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Ethan soal masalah ini. " Sebenarnya kami sudah melarangnya, tapi.. Anda tahu 'kan seberapa keras kepalanya Mira?? Dia memaksa untuk ikut bahkan setelah kami berikan rintangan berat untuk ia lalui." ucapnya pada akhirnya.


" Dan dia melewati semua itu??" tanya Ethan lagi memastikan hal tersebut.


Dan Yin perlahan menganggukan kepalanya dengan ekspresi pusing, " ...Iya. Dia bahkan memukuli semua orang yang saya dan Tuan (..) untuk lawan sebagai duel untuknya. Dia terus bilang dia harus ikut karena dia yang akan menjadi pemimpin kesatria istana dimasa depan." jelasnya.


" Ah...." Ethan akhirnya ingat itu. Memang benar Mira pernah berkata sesuatu tentang itu sebelumnya tapi...


Sepertinya dia tidak sadar dengan usianya sendiri, atau apakah dia percaya diri karena dia mendapatkan warisan darah Elf??


Ethan tidak tahu kenapa, tapi ia merasa kalau dirinya juga tidak akan bisa menghalangi keinginan Mira. Sekalipun ia melarangnya, ia merasa Mira bisa muncul kapan saja dimedan perang.


" Jadi kita harus bagaimana, Yang mulia?" tanya Yin kemudian ketika ia melihat Ethan memikirkan sesuatu dengan alis yang berkedut.


Tapi Ethan hanya mencoba untuk tetap tersenyum dan menjawabnya, " Yah.. Kalau begitu mau bagaimana lagi. Kita berikan saja dia senjata dan zirah yang layak agar dia tidak kenapa-napa." jawannya.


" Apa anda yakin??" Yin masih ragu dengan hal itu, dan jelas dia juga bisa lihat kalau Ethan menyembunyikan sesuatu.


Dan Ethan tahu kalau Yin juga sadar dengan keraguannya,


" Kita tidak punya pilihan karena Mira terkadang bisa bertingkah seperti hantu."


" Ah.. Anda benar."


Yin setuju dengan perkataan Ethan soal sifat asli Mira. Karena itu, pada akhirnya masalah itu selesai dengan keputusan yang sama.


Mereka tidak akan bisa tenang karena jika tidak mereka akan dihantui oleh Mira sepanjang siang dan malam saat dia merasa kesal.