Quennevia

Quennevia
Lily Laba-Laba Emas



[Season 2]


Setelah beberapa hari mereka pergi dari wilayah para Elf, sekarang Ethan dan teman-teman nya sampai didesa terdekat dan menyewa penginapan. Mereka berkumpul bersama untuk membahas petunjuk dan bahan selanjutnya yang harus mereka cari dan dapatkan bersama, namun...


Brukk...


" Haahh.... Aku menyerah, aku sama sekali tidak bisa membaca apa yang tertulis dibuku itu." Niu menjatuhkan dirinya diatas meja dengan lesu.


Iya, mereka tidak bisa mengurai dua petunjuk dibuku petunjuk itu. Sementara untuk satu yang lain, mereka sepakat untuk mencarinya terakhir. Karena itu bertuliskan untuk mencari makhluk hidup dan mereka tidak tahu dia ada dimana.


" Mana coba lihat. " Oscar pun mengambil buku petunjuk dihadapannya dan melihat apa yang ada disana.


Itu memang aneh dan rumit, lebih seperti ke kode rahasia dibandingkan bahasa. Tapi... Karena ini tulisan kuno, jadi bisa saja salah.


" Sayang sekali tidak ada bahasa seperti ini yang diajarkan diakademi." ucap Oscar pula.


Niu pun mengangguk setuju, " Iya. Aku sudah mencoba untuk menguraikannya selama beberapa bulan terakhir selama perjalanan kita, tapi sama sekali tidak ada yang bisa digunakan untuk menerjemahkan hal itu." ucapnya sambil memijit kepalanya yang terasa pusing seolah akan meledak.


" Wah, bahkan Niu yang paling pintar bahasa kuno diantara kita juga kesulitan, apa yang harus kita lakukan?" tanya Arkan pula dengan santai sambil memakan cemilan disana.


Meliyana yang ada disampingnya pun menggelengkan kepalanya, " Tidak tahu, jangan lihat aku." ucapnya.


" Apa kita kembali dulu ke Akademi?? Tetua mungkin tahu." usul Yuki.


Ya, itu masuk akal. Niu juga sempat berpikir seperti itu, tapi jika mereka kembali sekarang, bisa saja justru akan ada halangan yang besar menanti mereka ketika melakukan perjalanan lagi. Selama ini mereka telah berusaha keras untuk mengelabui mata klan Retia dan menghilangkan jejak.


" Apa yang membuat kalian begitu frustasi.." suara Ethan pun kemudian terdengar disana, membuat mereka semua langsung memusatkan perhatian kepadanya yang sedang mengelus Quennevia yang ada dipangkuannya. " ...Aku bisa membacanya." lanjutnya pula.


Ethan pun mengangkat kepalanya menatap mereka, dan betapa terkejut nya ia ketika ditatap dengan tatapan horor dari teman-teman nya. Itu membuat nya menelan ludah dengan gugup.


" Ke-Kenapa..? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah??" tepatnya dia tidak sadar dengan situasi apa yang ada disana, tentang hal yang baru saja dia katakan.


" Kenapa kau tidak mengatakan nya dari awal??" tanya Niu yang merasa agak kesal dengan tingkahnya itu.


Pusing-pusing dia mencoba mencari tahu ini dan itu dengan segala cara selama ini, rupanya orang yang bisa menerjemahkan isi yang tertulis dibuku ini ada tepat didepan matanya.


Sementara Ethan hanya tersenyum canggung dengan itu, " Loh, bukannya kau yang tidak membiarkanku mengatakannya, ya?" ucapnya pula menimpali.


Teman-temannya yang mendengar itu pun terdiam, kemudian sedikit memikirkan hal itu terlebih dahulu.


Saat itu...


" Sebenarnya, aku bisa..."


" Lupakan saja. Kita cari tahu nanti."


Lalu...


" Akh! Kenapa tidak ada jawaban untuk tulisan-tulisan cacing ini?!"


" Hei, aku bisa-..."


" Berhenti berpikir karena kau bodoh."


Dan...


" Sebenarnya apa yang tertulis disini, sih. Siapa yang menulis bukunya, hiks.."


" Berikan padaku. Biar aku yang--..."


" Jangan menyerah, kita akan tahu nanti. "


Setelah mereka pikirkan lagi, itu memang salah mereka karena tidak terlalu mendengarkan nya. Karena itu mereka jadi tidak tahu kalau Ethan sebenarnya bisa membaca dan menerjemahkan isi nya.


Eh, tapi! Jika dipikir-pikir, dia kan bisa langsung bicara dengan jelas tanpa menunda-nundanya, itulah yang membuat mereka kembali menatapnya kesal.


" Ack, sial! Ini membuat kepalaku makin pusing. Jadi apa yang ditulis dibuku itu? Apa yang harus kita lakukan dan benda apa yang kita cari?" tanya Arkan yang langsung ke pokok permasalahan mereka.


Ethan pun kemudian mengangkat jari telunjuknya, tersenyum dan berkata, " Bunga Lily laba-laba emas, itulah yang kita cari. Dan tujuan kita selanjutnya adalah..... Dunia bawah." ucapnya dengan begitu santainya.


" Hah?!!" berbeda dengan teman-temannya yang justru berteriak kencang karena kaget dengan hal itu.


***


Namun... Sedari tadi teman-temannya begitu lemas dan lesu, seperti zombie yang tidak punya tenaga sama sekali untuk berjalan atau bicara, Ethan sampai bertanya-tanya dengan apa yang terjadi kepada mereka.


Dan Ethan tidak tahan dengan situasi tegang diantara mereka itu, " Ayolah teman-teman... Kita hanya akan pergi ke klan iblis darah.." ucapnya yang kemudian berhenti dan menoleh kebelakang sana.


Oscar yang tepat ada dibelakangnya pun mengangkat kepalanya yang terus tertunduk lesu dan menatapnya, " Mudah sekali kau bicara, padahal kita akan pergi ke dunia orang mati." ucapnya menimpali Ethan.


" Terus? Memangnya seburuk apa dunia orang mati?" Ethan pun bertanya dengan sebelah alis nya yang terangkat, dan berkacak pinggang. " Kita hanya datang kesana, ambil bunga itu, kemudian pergi ke tempat selanjutnya." lanjutnya pula dengan ekspresi yang begitu cerah.


Sementara teman-temannya yang lain yang melihat itu justru mengerutkan kening mereka dan menatapnya dengan tatapan aneh.


" Ethan, apa kau sadar dengan apa yang kau katakan??" tanya Yuki kemudian mewakili mereka.


Dan Ethan pun menganggukan kepalanya dengan yakin, " Tentu saja, aku sadar." jawabnya.


" Ini bukan tempat lain dan biasa, melainkan dunia orang mati!" Niu pun berusaha menjelaskan dengan singkat sambil menekan kata-katanya.


Tapi melihat wajah Ethan yang kelihatan bingung tapi santai itu membuat nya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia seolah-olah telah biasa melakukan perjalanan antar dunia disini. Mungkin jika itu dunia ini dan dunia lain tempat nya dan Quennevia dulu tinggal, tapi ini adalah dunia bawah.


Bagaimana bisa Ethan setenang ini saat tahu kalau dirinya akan pergi ke dunia bawah disaat dirinya sekarang masih hidup...??


" Haha... Orang ini sudah benar-benar tidak waras.." gumam Meliyana dengan ekspresi kosong.


Saat kemudian, Arkan, orang yang biasanya paling kocak diantara mereka menjelaskan sesuatu dengan serius. " Ethan, kau tahu kan dunia bawah itu tempat apa?" tanyaya.


" Tentu saja." sahut Ethan dengan cepat.


" Dan apa kau pikir itu akan baik-baik saja jika kesana, bagaimana jika saja kita justru dianggap sebagai penyintas atau penyusup? Bagaimana jika kita justru akan diadili dan tidak bisa kembali selamanya? Kita juga bisa membuat Dewa Dunia Bawah marah!" Arkan pun kembali menegaskan, yang mana juga langsung diangguki oleh teman-temannya yang lain dengan begitu tegas.


Perlahan, Ethan pun kehilangan ekspresi nya. Ethan yang mendengar semua itu sebenarnya paham dengan apa yang sedang dimaksud dan kekhawatiran oleh teman-temannya. Tapi...


" ....Jangan khawatir, Hades pasti sudah tahu tentang ini.." gumam Ethan dengan suara pelan.


Dan itu menarik reaksi bingung teman-temannya...


" Apa, kau mengatakan sesuatu?" tanya Meliyana yang sadar dia mengatakan sesuatu.


Tapi Ethan hanya tersenyum, " Kubilang kalau itu akan menjadi utusan kakek Ygrette nanti." ucapnya yang kemudian berbalik dan kembali melanjutkan jalannya naik keatas sana.


Teman-temannya saling pandang dalam kebingungan, saat kemudian mereka pun juga kembali mengikuti langkah untuk baik ke atas sana.


***


Tak lama setelah itu, mereka semua sampai diatas sana. Mereka sekarang dihadapkan dengan sebuah pintu gerbang yang begitu besar dan juga unik atau... Kuno?


Terdapat sebuah ukiran-ukiran yang membuatnya terlihat seperti lukisan, ini seperti... Menceritakan tentang sebuah perang atau semacamnya. Iblis, malaikat, dewa dan... Hewan buas...


" Apa ini pintu gerbang menuju ke klan iblis darah?" tanya Yuki sambil terus memperhatikan gerbang itu dengan seksama.


Ethan yang ada paling depan pun kemudian meliriknya setelah mendengar itu dan berkata, " Ah, iya. Ini gerbang portal untuk masuk ke wilayah iblis didunia tengah." ucapnya.


" Tunggu, apa? Jadi ini bukan gerbang masuk ke kotanya klan iblis darah?" sahut Niu pula baru tahu.


Ethan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, " Wilayah klan iblis lebih luas dibandingkan yang terlihat, kami menggunakan ruang eksternal untuk menambah kapasitas wilayah agar tidak menghabiskan tanah yang telah dikuasai oleh pihak lain. Dan mencegah konflik wilayah." jelas nya pula.


" Ouh, jadi seperti dimensi ruang khusus, ya?" tanya Meliyana yang juga diangguki oleh Ethan.


" Karena klan iblis juga sebenarnya adalah pendatang didunia ini, jadi mereka hanya berusaha agar bisa selaras dan akur dengan penghuni dunia tengah."


Yeah, apa yang dikatakan Ethan ada benarnya juga. Karena klan iblis adalah keturunan iblis murni dari dunia bawah, lebih tepatnya dunia iblis. Mereka jadi sangat berbeda dengan manusia didunia ini meski memiliki rupa yang hampir mirip, sama halnya dengan Elf.


Ethan meraba-raba gerbang besar itu, saat kemudian dia menyentuh sebuah permata dan mendorongnya masuk. Secara perlahan, gerbang itu bergetar dan mulai terbuka secara perlahan pula.


Ada sebuah pusaran ungu yang menjadi portal masuk ke tempat yang mereka inginkan.


Ethan pun berbalik dan mengulurkan tangannya kearah teman-temannya, " Pegang tanganku, jangan sampai terlepas. Atau kau mungkin akan terdampar ke tempat yang berbeda." ucap Ethan.


Yang kemudian tangannya pun disambut oleh Meliyana. Meliyana pun menoleh dan menggenggam tangan Yuki, dan Yuki yang menggenggam tangan Oscar, kemudian Oscar menggenggam tangan Niu dan Niu yang menggenggam tangan Arkan. Mereka pun menatap Ethan dengan serempak.


" Kalian siap?" tanya Ethan pula memastikan.


" Iya!" jawab mereka bersamaan, baru setelah itu mereka pun masuk ke dalam portalnya bersama-sama pula.