
Mendengar semua bujukan dari teman-teman nya, Quennevia pun menghentikan kekuatannya, dia sadar jika dia tetap melakukan maka mereka juga akan ikut terluka. Setelah Quennevia menarik kembali kekuatannya, barulah semua orang bisa kembali merasa lebih baik.
Dan tidak lama kemudian, para prajurit pun juga datang ke sana. Mereka bergegas datang setelah Ace dan Ryan bilang putri sudah kembali dan langsung ke tempat hukuman, dan mereka benar-benar terkejut merasakan energi menekan yang sampai keluar itu.
" Putri, apa anda baik-baik saja??. " tanya paman Sven, jendral disana.
" Aku baik. " jawab Quennevia datar. " Paman, aku punya permintaan. " lanjutnya pula.
" Silahkan katakan. " jawab Sven mantap.
Quennevia pun mengangkat tangannya dan menggenggam udara, saat itulah orang-orang yang tadi merendahkan nya terikat oleh sebuah akar yang muncul dari tanah. Tidak terkecuali selir pertama dan putrinya pula.
" A.. Apa ini?!!. "
" Quennevia! Lepaskan kami!!. " bentak Adele kepada nya.
" Putri kedua, setidaknya hormatilah kami. " ucap Anna pula.
Quennevia hanya menatap mereka dingin, sama sekali tidak mempedulikan nya. " Paman, kurung selir pertama dan juga putrinya di paviliun barat. Sebagai hukuman telah bertindak seenaknya dan menuduh sembarangan. " ucapnya.
" Baik, putri. " jawab Sven, langsung memerintah perajurit nya melakukan seperti yang dikatakan.
" Apa?!! Kau tidak bisa melakukan ini pada kami?!! Quennevia!!. " pekik Anna yang tidak terima dengan keputusan itu.
" Dua dayang yang terikat dibelakang selir kedua, cambuk mereka seratus kali. Sebagai hukuman karena sudah menghina putri dari mentri Hudson. " ucap Quennevia lagi, dan langsung dituruti lagi oleh Sven.
Dua dayang itu dibawa keluar dan di beri hukuman cambuk oleh para prajurit itu, bahkan mereka sampai memohon maaf kepada Quennevia pun tidak pedulikan nya.
" Dan untuk yang terikat sisanya, kesalahan mereka karena sudah menghina, dan juga melakukan percobaan pembunuhan kepada putri mentri. Dan juga sudah menyeleweng kan kekuasaan mereka, mengatas namakan nama Mentri Hudson. Hukuman..... Penggal. " ucap Quennevia sambil menatap orang-orang itu dengan tajam.
Tatapan itu membuat mereka merinding, belum lagi mereka terkejut mendengar hukuman yang diberikan Quennevia kepada mereka. Niu, Oscar, Kai dan Murphy pun juga ikut terkejut mendengar itu, tapi mereka yakin kalau itu bukan tanpa alasan, apalagi setelah apa yang terjadi barusan.
" Putri ketiga, anda tidak bisa melakukan ini. Kami adalah penasehat tuan besar. "
" Tolong ampuni kami, putri ketiga. "
Begitulah sekiranya ucapan-ucapan ampun dari orang-orang itu, tapi lagi-lagi Quennevia tidak mempedulikan nya.
" Siapa suruh kalian mencoba menyerang ku yang masih anggota keluarga Kekaisaran. " ucap Quennevia dingin.
Pada prajurit juga tidak mempertanyakan hal itu, mereka yakin jika keputusan itu adalah keputusan terbaik yang sudah di pikiran oleh Quennevia dengan matang.
Mereka pun langsung menangkap mereka dan membawa mereka ketempat lain untuk di penggal, lagi pula disana tempatnya sudah hancur dan mereka tidak mau Quennevia melihat nya. Meskipun Quennevia juga sudah pernah melakukan nya sendiri, sih.
****
Setelah kembali ke kediaman putri, Murphy dan yang lainnya langsung menunggui Quennevia yang tengah memulihkan keadaannya. Karena melepaskan segel saat ia belum siap, Quennevia harus mencoba menaklukkan kekuatan itu sendiri.
Maka setelah itu kekuatan yang lainnya pun juga akan lebih mudah dikendalikan, Quennevia bermeditasi untuk mengontrol nya, sedangkan yang lainnya menunggunya dengan gelisah.
" Apa... Nevia akan baik-baik saja??. " ucap Niu khawatir.
" Jangan khawatir, Nona pasti bisa melakukan nya. " jawab Murphy, meski sebenarnya dia pun khawatir dengan nya.
" Aku benar-benar terkejut kekuatannya sebesar itu. " ucap Oscar kemudian.
Iya, dia tidak pernah melihat seseorang melakukan itu dengan mudah nya. Apalagi jika seorang pemula, jika orang itu sudah benar-benar sangat kuat dia sih tidak heran.
" Nona, pasti punya lebih banyak kekuatan lagi. " sahut Kai untuk ucapan Oscar, yang diangguki olehnya.
Tapi sepertinya, yang lebih khawatir itu sebenarnya adalah Yue. Sedari tadi dia terus mondar-mandir kesana kemari sepertinya itu, benar-benar jelas sekali gelisah nya.
" Uhuk.. " Quennevia terbatuk dan darah keluar dari mulutnya, membuat mereka semakin khawatir dengan nya. Yue pun memutuskan untuk bicara dengan seseorang yang mungkin bisa membantu Quennevia.
" Hei, reptil tua. Aku tahu kau ada di sana, sebaiknya kau bantu Master dari pada diam saja seperti patung. " Akhirnya Yue bicara juga tapi itu membuat mereka bingung dengan siapa dia bicara.
" Yue, dengan siapa kau bicara??. " tanya Murphy merasa heran dengan itu.
" Kurang ajar, siapa yang kau bilang kadal tua, hah?!!. " terdengar lah ucapan seseorang yang tengah dari mana datangnya, itu suara Everon.
Karena suara itu kini bisa didengar oleh semua orang yang ada di tempat itu, mereka jadi terkejut karena tidak ada siapapun yang ada di sana.
" Siapa itu?? Apakah hantu??. " tanya Niu sambil ketakutan.
" Niu, jangan pikirkan soal hantu lagi. " sahut Oscar yang bosan mendengar nya selalu mengeluh tanpa hantu.
Mereka masih tidak tahu kalau ada seekor naga di dalam tubuh Quennevia, dan kalau mereka tahu pasti akan sangat gempar sekali.
" Bocah rubah, kekuatannya harus ia sendiri yang kendalikan. Jika tidak ia selamanya tdk akan bisa mengendalikan nya. " ucap Everon.
" Tapi master sangat kesulitan, kekuatan itu bukan kekuatan yang bisa dikendalikan manusia biasa. " sahut Yue.
" Hehe... Sepertinya kau salah paham. Dia bukan manusia biasa, kau sendiri tahu itu. " ucap Everon lagi.
" Oya, aku juga ingin dengar. " ucap Quennevia tiba-tiba, ia pun membuka matanya dan mengubah posisi duduknya, dengan menaikan sebelah lutut nya.
Yang lainnya senang karena Quennevia baik-baik saja dan sudah mengendalikan kekuatan nya. Lalu tiba-tiba muncullah seseorang disamping Quennevia, sambil tersenyum kepada nya, entahlah senyum apa itu.
Yang lainnya malah tambah bingung dengan siapa yang muncul itu. " Siapa dia??. " bisik Kai kepada Murphy.
" Entahlah. " jawab Murphy.
" Apa yang membuatmu berpikir aku bukan manusia biasa, apa karena jantung itu?? atau ada hal lain??. " tanya Quennevia, sambil menatap orang yang baru muncul itu.
" Hehe... Kau nampak tidak terkejut melihat wujud ku ini. " ucap orang itu yg ternyata adalah wujud manusia Everon, meskipun itu hanyalah perwujudan energinya.
" Aku juga penasaran kenapa kau tidak pernah menunjukkan wujud mu itu di dunia luar, atau di depanku sampai saat ini. " sahut Quennevia.
Everon hanya tersenyum mendengar itu, lalu kemudian sesuatu tiba-tiba saja keluar dari kalung milik Quennevia. Xi, dia keluar dari sana dan langsung menggeram kepada Everon.
" Dia lah penyebabnya, dia selalu menggeram padaku seperti itu." ucap Everon saat melihat Xi.
" Pffttt... Kau takut kepada anjing kecil ini. " Quennevia tertawa dan mengambil Xi kepangkuan nya. " Seorang naga agung yang melegenda, takut kepada anjing kecil yang tinggal di kalung ku ini. " lanjut Quennevia.
" Jangan tertawakan aku seperti itu. Eh, tapi ngomong-ngomong dia jadi lebih kecil dari sebelumnya. " sahut Everon pula.
" Apa maksud mu? dia jadi lebih besar dari sebelumnya tahu. " jawab Quennevia.
Everon nampak berpikir dan memiringkan kepalanya mendengar itu, sepertinya Xi yang ada di ingatan nya itu bukan Xi yang sekarang. Atau.. Xi yang kehilangan kekuatannya dan jadi mengecil seperti itu.
" Sepertinya dia jadi besar karena memakan sihir mu yang berantakan itu, jadi dia yang membantumu mengontrol kekuatanmu itu. " ucap Everon kepada Quennevia. " Itu artinya dia jadi kecil juga karena kehabisan sihir, ya. " itulah yang itu pikirkan pula.
" Jadi kau dan dia sama saja. " Quennevia menatap Everon dengan kesal, lalu ia beralih kepada Xi. Terakhir dia melemparkan Xi kepada Murphy yang otomatis langsung menangkapnya.
Quennevia pun merebahkan dirinya di atas kasur empuk milik nya, sambil bergumam.. " Sialan, aku dikelilingi hewan yang suka memakan energi sihir ku. " gumamnya dengan kesal.
" Ngomong-ngomong kalian menginap saja, ini sudah malam. " ucap Quennevia kepada Niu dan Oscar.
" Eh... Emang boleh??. " tanya Oscar.
" Iya, kalian tinggal di kediaman putri saja. Murphy, tolong antar mereka ke kamar. " ucap Quennevia.
" Baik, nona. Lalu Xi??. " sahut Murphy.
Quennevia malah memperlihatkan wajah tidak sukanya, dan itu membuat Murphy bingung. " Malam ini dia tidur dengan mu, aku tidak mau dia mengambil energi yang baru saja aku dapat kan. " jawab nya kemudian.
Murphy sedikit terkekeh, " Baiklah, nah mari ikut aku. " ucap Murphy.
Ia pun menuntun Niu dan Oscar pergi dari sana, Kai juga kembali ke tempatnya untuk beristirahat. Kini disana tinggal Everon dan Quennevia saja, karena Yue sudah lebih dulu masuk ke ruang spirit nya.
" Iyah, kalau begitu aku juga pergi saja. " ucap Everon hendak menghilang.
" Tunggu, karena kesadaran mu sedang ada diluar dan dalam bentuk manusia, jadi jawab semua pertanyaan ku dulu. " Quennevia memegangi nya agar tidak pergi, dan Everon hanya bisa menghela nafas karenanya. Harusnya ia tidak menunjukkan wujudnya itu didepan Quennevia.