
Disiang hari yang cerah, matahari bersinar menerangi bumi. Semua orang memulai kesibukan mereka sedari pagi, tentu menjadi hari yang sama sibuknya seperti biasanya. Dan...
Boomm...
Dan terdengar suara ledakan kecil dari kediaman putri, yang hanya bisa didengar oleh orang yang berada di radius 5 meter dari tempat putri. Tapi tentu saja Kai dan Murphy yang ada di sekitar sana jadi panik dan langsung bergegas mendatangi Quennevia didalam kamarnya.
" Nona, anda baik-baik saja?? " tanya Murphy.
" Nona, apa yang terjadi?? " tanya Kai.
Tepatnya mereka mengatakan nya bersamaan, mereka melihat ke dalam kamar itu dan sudah ada sangat banyak asap karena ledakan tadi. Dan kemudian Quennevia terlihat menyembul keluar dari kepulan asap itu.
" Uhuk.. Uhuk.. Arghh... Padahal hanya percobaan untuk membuat pil baru, masa wadahnya sudah meledak seperti itu. " gerutu Quennevia dengan kesal.
" Master, itu karena tungku nya barang murah. " ucap Yue di sampingnya.
Sementara Quennevia tersentak mendengar itu, " Barang murah katamu!! Aku membelinya dengan harga 500 koin emas, dan aku ditipu barang imitasi seperti ini!!. " mengetahui hal itu membuat nya jadi makin kesal mendengar nya.
Murphy dan Kai hanya tersenyum melihat nona mereka yang seperti itu. Hingga akhirnya Quennevia pun lelah marah-marah dan menjatuhkan dirinya diatas kasurnya dan menghela nafas panjang.
" Haaah..."
" Nona, mungkin anda perlu istirahat. Bagaimana pun anda sudah bekerja keras, lalu pil dan obat yang menggunung ini...Mau di apakan??" ucap Murphy, sambil melihat semua obat yang sudah dibuat Quennevia disudut ruangan.
Karena terlalu bersemangat dia sampai lupa lalu semua itu sudah menggunung seperti itu. Quennevia pun berpikir sebentar, dia juga tidak membutuhkan semua obat itu secara keseluruhan, sih. Dia sudah memisahkannya sesuai dengan khasiatnya juga.
" Entahlah, menurutmu jika dijual akan dapat untung berapa??. " tanya Quennevia.
" Obat-obat ini sangat berharga, Nona. Bahkan bisa sampai bernilai ratusan juta koin emas. " ucap Kai menimpali.
" Ratusan juta?!!." Quennevia berteriak kaget mendengar itu, " Jika aku bisa membuat pil tingkat tinggi itu akan sangat berguna, aku tidak perlu khawatir soal uang lagi. " ucap nya pula dengan semangat.
Sebenarnya sampai sekarang pun dia selalu berpikir untuk jadi orang kaya, hingga tidak ada yang menandinginya. Mungkin didunia ini dia hanya perlu jadi kaisar saja, tapi itu tidak mungkin.
" Murphy, jual saja sebagian dari pil dan obat itu. Keuntungan nya bisa kita gunakan untuk apapun. Lalu, cobalah untuk menutupi jejak dari mana itu berasal." ucap Quennevia.
" Baik, nona. Sekarang anda harus istirahat dulu. " sahut Murphy.
" Ya ampun, aku bukan anak kecil lagi Murphy. " gerutu Quennevia, meski sebenarnya dia senang diperlakukan seperti itu.
Itu karena tidak ada yang memperlakukan nya dengan sayang seperti itu di dunia nya sebelum nya. Tidak, ada... tapi hanya ada beberapa orang, dan mereka adalah seorang yang berharga.
" Saya tahu, tapi bagi saya anda itu sangat berharga. " jawab Murphy sambil tersenyum dengan tulus.
" Kalau begitu, saya akan pergi dulu. " Kai pun pergi dari sana.
Mereka berdua pun pargi dari sana, meninggal Quennevia bersama dengan Yue dan Xi di dalam sana. Quennevia merasa agak hening setelah mereka pergi, dan ia hanya menatap langit-langit sementara Xi dan Yue bermain saling cakar satu sama lain. Perlahan-lahan dia pun mulai mengantuk dan akhirnya memejamkan matanya untuk tidur.
Saat tertidur dia merasakan sesuatu yang aneh, dia merasa ada di tempat lain, dengan suasana yang dingin dan gelap. Dia pun membuka matanya lagi, dan benar saja, dia ada di sebuah tempat yang asing. Sangat gelap dan dingin, tidak ada siapapun di sana.
" Dimana lagi ini?? Harusnya aku tidur dengan tenang sekarang, dan lagi... air apa yang menggenang ini?? Apa ada banjir, ya. " gerutu-an Quennevia melihat semua itu.
Dia pun berjalan menyusuri tempat itu sambil meraba dindingnya, dia seperti ada di sebuah lorong yang panjang. Membuat kesannya agak sedikit menyeramkan, apalagi kesunyian yang keterlaluan itu.
" Tempat apa sih ini. Kok bikin merinding, ya. " batinnya.
Ia terus berjalan hingga di sebuah tempat yang luas, didepan nya.. sebuah jeruji besar yang seperti penjara. Ia melihat ada sesuatu dibalik jeruji itu, seekor makhluk yang besar.
" Akhirnya sampai juga. " ucap makhluk itu. Dia bangun dan menyorot Quennevia dengan matanya yang tajam.
" Makhluk apa kau ini?? " tanya Quennevia balas menatap makhluk itu dengan dingin.
" Huh, anak yang tidak kenal rasa takut sama seperti 'dia'. Aku adalah makhluk terkuat yang ada di daratan ini, orang-orang memanggil ku sebagai bencana dan beberapa menyebutku pelindung. Akulah sang naga agung.... Everon. " ucap makhluk yang ternyata naga itu, sambil memperlihatkan keagungan nya dengan melebarkan sayapnya sambil mengaum dengan keras.
Tapi Quennevia hanya menatap nya dengan wajah datar, dan hanya membalas perkataan nya dengan ber-oh ria saja. Naga itupun sampai kehilangan kehilangan kata-kata nya melihat itu.
" Pintu keluar nya dimana, ya?? " tapi Quennevia tidak mempedulikan nya dan malah mencari-cari pintu keluar.
" Tidak, tidak.. Kau tidak akan bisa keluar dari sini, ini adalah alam bawah sadar mu. " ucap naga itu, dia menyerah untuk membuat Quennevia kagum dan ketakutan padanya.
" Alam bawah sadar?? Hmm.. Itu artinya aku masih tidur?? Hmm... Bagaimana caranya keluar dari sini?? " gumam-an Quennevia.
Sang naga yang harga dirinya terluka karena tidak dianggap menakutkan oleh Quennevia hanya menatapnya dengan datar, dia penasaran apa yang membuat Quennevia tidak tertarik padanya sampai segitunya. Quennevia sendiri hanya memikirkan bagaimana caranya dia bisa pergi dari sana.
" Hei, apa kau tidak mau tahu sesuatu yang penting?? " tanya sang naga itu kepada Quennevia kemudian.
" Apa?? " tanya balik Quennevia dengan cepat.
" Sebelum itu kau harus berjanji akan mengeluarkan ku dari sini. " ucap naga itu, dia mencoba melakukan tawar menawar dengan Quennevia.
" Apa hubungannya info dari mu dengan aku yang mengeluarkan mu dari sini?? "
Tentu saja Quennevia sudah menebak nya, tapi untuk melakukan tawar menawar dengan nya adalah hal yang sangat sulit. Otak licik nya itu tidak akan bisa dikalahkan oleh orang lain, dan yang paling penting... dia ingin untung banyak.
" Tentu saja info itu akan ku beri tahu. " ucap naga itu.
" Cih, kalau begitu aku rugi besar. Kau pikir mengeluarkan mu dari tubuhku itu hal yang bisa di lakukan dengan hanya menjentikkan jari dan lagi... Kenapa kau bisa ada di tubuhku? " ucap Quennevia sambil menunjuk naga itu.
" Hei, ibumu yang menyegel ku disini. Jika bukan karena dia, aku tidak akan berada disini, dan hanya menyerap kekuatan yang kau serap. " Nampaknya naga itu tidak sengaja membocorkan satu rahasia penting.
Tapi kemudian dia menyadari nya dengan hanya diam mematung, Quennevia yang mendengar pengakuan nya juga hanya diam. Sampai kemudian...
" Ah, jadi kau yang menghambat ku untuk jadi kuat selama ini!!" teriak Quennevia dengan sangat marah.
" Itu... Bukan tanpa sengaja, jika aku tidak lakukan aku bisa mati kehabisan energi di sini. " dalih naga itu sambil mengalihkan pandangan nya menghindari Quennevia.
" Tidak ada alasan. Jika kau ingin aku mengeluarkan mu dari sini, kau harus menjadi pelihara ku selamanya. "
Quennevia terlihat sangat marah dengan hal itu. Jika saja naga itu tidak ada, dia pasti sudah mati dengan tenang dan tidak perlu masuk ketubuh ini. Dan Quennevia yang asli pasti sudah jadi sangat kuat hingga tidak ada yang bisa menandinginya.
" Yang benar saja!! Kau ingin naga yang agung ini jadi peliharaan mu!! Aku adalah salah satu Spirit Guardian!. " ucap naga itu tdk terima.
" Aku pikir itu hal yang lebih bagus dari pada mati di sini, bukan??. " tanya Quennevia dengan ekspresi dingin dan seringai yang menyeramkan.
Bahkan naga itupun sampai dibuat terdiam melihat seringai nya itu, apalagi aura yang ia keluarkan itu.
" ...Ternyata memang benar dia bisa menggunakan nya, tapi dia bahkan tidak mengetahuinya. " batin sang naga, dia bisa merasakan kekuatan Quennevia hanya dari auranya.
" Jika aku jadi pelindung mu, maka kau akan mengeluarkan ku dari sini?? " tanya naga itu setelah mempertimbangkan tawaran Quennevia.
" Bukan pelindung, tapi Peliharaan. Iya sama saja, sih. Tentu, aku akan mengeluarkan mu dari tubuh ku. " jawab Quennevia dengan yakin.
" Kalau begitu baiklah, tapi bersumpah lah untuk hal itu. " sahut sang naga.
" Harusnya aku yang mengatakan itu. " Quennevia mendengus sebal karenanya.
Quennevia pun membuat sebuah lingkaran sihir di tempat itu dengan mengunakan darahnya, setelah selesai naga itu pun juga ikut meneteskan darahnya di atas lingkungan sihir itu. Dan lingkaran sihir itupun langsung bercahaya.
" Perjanjian sudah disetujui. Tinggal usaha mu untuk mengeluarkan ku dari sini. " ucap naga itu setelah itu.
" Huh, jangan khawatir. Aku adalah orang yang selalu menepati janjinya, sekarang tinggal kau yang mengatakan informasi mu." jawab Quennevia.
" Kalau begitu berbalik lah. " sahut sang naga pula.
Quennevia pun menuruti nya dan berbalik, dan alangkah terkejutnya dia saat melihat apa yang ada dibelakang nya.
" I.. Ini.. " ucapnya tidak percaya.