
Di hutan Leiylu sebelah barat.
Groarrrr......
" Gyaaaaa!!..... "
Dua orang tengah berlari dikejar seekor beruang hitam raksasa, bahkan setelah mereka menggunakan kecepatan maksimal mereka untuk menghindari, beruang itu masih saja tetep bisa menyusul mereka.
" Kenapa beruang itu tidak berhenti mengejar kita?!!. " teriak salah seorang nya, Niu.
" Aku tidak tahu!. " jawab yang satunya, sudah pasti Oscar.
" Agh!, Nevia!! Cepat lakukan rencana mu!!" teriak Niu pula.
Mereka terus berlari untuk menghindari beruang yang mengamuk karena sarangnya diusik dengan sengaja oleh Quennevia dan sekarang ia mengejar mereka dan menghancurkan sekitar nya, hanya mereka berdua yang terlihat disana. Sedangkan yang membuat masalah satunya mengamati di suatu tempat, sambil tersenyum melihat buruannya datang dengan sendiri nya.
" Pedang angin. " ucap orang itu.
Lalu kemudian angin pun berputar disekitar tangannya, hingga muncul lah sebuah pedang. Ia langsung melesat kearah beruang yang sedang mengejar Niu dan Oscar itu, lalu...
Jlebb...
Ia menusuk kepalanya dengan pedang yang ada di tangannya itu.
Groarrrr.....
Teriak beruang itu, ia mulai tidak tentu arah dan menabrak pepohonan sebelum kemudian benar-benar ambruk. Niu dan Oscar yang melihat itu juga ikut berhenti, kemudian mereka berjalan menghampiri mayat beruang itu.
Seorang gadis terlihat berdiri di atas tubuh beruang itu, rambut emasnya yang panjang pun terbang di tiup angin. Kemudian ia pun menoleh kearah Niu dan Oscar, siapa lagi kalau bukan Quennevia kan.
" Kalian baik?? " tanya Quennevia, masih selalu dengan wajah datar nya.
" Iya, setidaknya kami tidak jadi dimakan beruang. " ucap Oscar.
" Ngomong-ngomong siapa yang membutuhkan beruang ini??" tanya Niu pula.
" Aku. " jawab Quennevia.
Dia membutuhkan inti spirit beruang itu untuk membuat obat kekuatan, untuk ia pakai saat melepaskan segel Everon. Setidaknya mungkin akan membantu dari pada kekuatan jantung iblis yang belum bisa ia kendalikan sepenuhnya.
Quennevia pun merobek perut beruang itu, dan mengambil inti spirit nya keluar. Inti spirit itu berwarna merah yang bersinar dan juga mengeluarkan aura kakuatan yang sangat kuat.
" Wow, warnanya sangat indah. Sulit dibayangkan benda seperti ini ada di dalam hewan roh seperti ini. " ucap Niu.
" Lalu beruangnya akan kau buat apa??. " tanyanya pula.
" Kita bawa saja, aku sudah menawarkan harga yang bagus untuk menjual nya. " sahut Quennevia.
" Oke. " ucap Oscar dan Niu, beruang itupun disimpan Oscar dalam gelang penyimpanan nya.
" Baiklah... Ayo pulang. " ucap Niu dengan semangat.
Tapi kemudian mereka malah merasa kan aura aneh di sana, angin yang berhembus pun juga jadi terasa sangat janggal. Tidak jauh dari mereka pun terdengar langkah dari banyak hewan spirit yang berlari menjauhi sesuatu.
Quennevia, Niu dan Oscar yang penasaran pun akhirnya menuju asal suara itu, dan ternyata lebih banyak hewan roh yang lari dari pada yang ia duga. Mereka semua bergerak satu arah menjauhi arah mereka berasal, Quennevia yang melihat kearah mereka berasal pun juga merasa ada yang aneh.
Ditempat itu seperti ada sebuah kabut racun, bahkan tanaman yang ada di sana pun layu karena kabut itu.
" Sebenarnya... ada apa disana??. " ucap Oscar terheran-heran.
" Hah... Bahaya!. " seru Niu, ia mendorong Quennevia dan Oscar untuk melindungi nya.
Saat sebuah panah melesat kearah mereka, alhasil dialah yang terkena panah itu.
" Niu!!. " ucap Oscar.
" Kau baik-baik saja??. " tanya Quennevia, ketika mereka berdua menghampiri Niu.
" A.. Aku baik-baik saja. " sahut Niu, sambil menahan sakit di lengan kanannya.
" Tahan sedikit. " ucap Quennevia.
" Kau bisa menawarkan racun nya??. " tanya Quennevia, sambil tetap menatap arah itu.
" Iya, aku bisa. Ini bukan racun yang terlalu berbahaya. " sahut Niu.
" Kalau begitu lakukan, aku akan lihat siapa yang berani menembakan anak panah secara tidak akurat ini. " ucap Quennevia.
" Apa?? Tidak, itu berbahaya!. " tolak Oscar.
Tapi Quennevia sama sekali tidak mendengarkan mereka, " Kau temani saja Niu di sini. Yue, kau jaga mereka. "
Yue pun langsung muncul di samping nya. " Baik master. " jawab Yue.
Quennevia pun langsung pergi dari sana, tidak mempedulikan Niu dan Oscar yang tetap menolak nya untuk pergi ke tempat itu. Ia bergerak dengan sangat cepat, melewati hutan-hutan itu.
****
Sedangkan ditempat itu, tiga orang yang ada di sana sedang melawan seekor ular hijau besar. Racun yang ia sembur kan berubah menjadi kabut, dan membuat semua kehidupan disana jadi mati.
Hanya hewan atau orang yang memiliki kekuatan yang besar saja yang bisa menetralkan dan bertahan, yang lainnya mungkin bisa bertahan karena obat.
" Tuan, tolong biarkan kami yang menghadapinya. " ucap salah satu orang yang ada di sana, namanya Ning.
" Itu benar, tuan. Anda hanya perlu melihat nya saja. " ucap yang satunya, dia seekor hewan roh yang sudah berubah wujud. Seekor kucing hitam berekor 2, Yin.
" Jika kalian bisa mengatasi nya, silahkan saja. " sahut satu orang lagi, dia memakai jubah yang menutupi nya. Dia hanya diam sambil tersenyum, melihat aksi dari anak buahnya itu.
Setelah mendapat izin dari tuan mereka, mereka pun langsung menyerang ular itu bersama-sama. Pertarungan itu nampak imbang satu sama lain, tapi jumlah lawan si ular jelas lebih banyak dari pada dirinya.
Si ular itu mulai terdesak, dan ia bersiap untuk menyembur kan racun lagi. Mereka bertiga sama sekali tidak gentar dengan itu, tapi orang yang di sebuat 'tuan' itu, merasakan keberadaan seseorang lagi yang menuju kearah mereka.
Saat ular itu akan menyembur kan racunnya, sesuatu tiba-tiba menghantam kepalanya dengan keras hingga ia hilang kesadaran. Hal itu membuat tiga orang itu terkejut, tapi karena debu akibat hantaman itu sangat banyak mereka belum sempat melihatnya.
" A... Apa ini??. " ucap Ning yang terheran-heran.
" Aku tidak tahu. " sahut Yin.
Orang yang dibelakang mereka pun juga sama terkejut nya, pasalnya ia tidak merasakan kekuatan apapun saat serangan itu datang. Tapi saya hancurnya bahkan bisa membuat tanah di sekitarnya retak dengan sangat mudahnya.
Saat debu di tempat itu mulai menghilang, barulah mereka bisa melihat apa yang menerjang ular itu. Helaian rambut berwarna emasnya terbang dibawa angin, dengan rupa yang anggun dan wajah dinginnya membuatnya terlihat semakin menawan. Iya, dia Quennevia.
" Dia??. " batin orang dibelakang itu. Dia diam-diam mengulas sebuah senyuman di wajahnya, melihat Quennevia.. Orang yang pernah ia Selamat kan di hutan waktu itu.
Sementara itu, Ning yang tersadar dari rasa terkejut kemudian langsung mengungkapkan Terima kasih kepada nya. " Nona, kami tidak tahu anda siapa. Tapi Terima kasih sudah membantu kami mengalahkan ular ini. " ucap Ning, dengan sopan kepada Quennevia.
Quennevia hanya memandangnya datar, " Ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepada kalian. " sahutnya menimpali Ning.
" Apa kalian lihat orang yang menembakan panah ini??. " lanjutnya, ia menunjukkan panah yang tadi mengenai Niu kepada orang-orang itu.
Yin yang melihat itu kemudian berkata, " Sepertinya itu milik orang-orang yang ada di sana. " ucapnya sambil menunjuk orang-orang yang tergeletak tidak bernyawa di sebrang mereka.
" Cih, sudah mati ternyata. " gumam Quennevia dengan kesal melihat itu, padahal ia berniat untuk memukuli mereka setidaknya sekali terlebih dahulu.
Ia pun melompat turun dari kepala ular itu, sambil berjalan kearah mayat-mayat orang yang ada di sana. Ia memperhatikan setiap wajah dari orang-orang yang ada disana, mereka bukan anggota guild mereka. Dan lagi ada sesuatu yang membuat perasaan nya jadi buruk di antara mereka.
Saat ia masih melihat-lihat wajah orang-orang itu, tiba-tiba saja ular yang tadi tak sadarkan diri pun bangun lagi dan mendesis dengan sangat marah kearah Quennevia.
" Awas..!! " teriak Yin ketika melihat bahaya itu.
Sang ular itu pun berusaha untuk memakan Quennevia yang sedang membelakangi nya itu, namun Quennevia langsung berbalik dengan raut wajah yang sangat marah. Seketika ular itu berhenti ditempat nya, terpaku dan langsung meringkuk terlihat ketakutan.
" Entahlah!. " ucap Quennevia dingin kepada sang ular.
Tanpa basa basi lagi, ular itu langsung saja pergi dari saja tanpa melakukan apapun lagi. Disisi lain Ning dan Yin sedang sangat amat tercengang saat ini, bukan hanya mengalahkan ular itu dengan mudah. Tapi Quennevia membuatnya ketakutan hanya dengan tatapan nya dan mengusir nya begitu saja, sementara si tuan itu semakin tertarik dengan kemampuan Quennevia.
Kemudian Quennevia pun menoleh kearah Yin yang ada di seberang nya.
" Kau itu apa?? Siluman, kah??. " tanya Quennevia tiba-tiba.
Yin sedikit tersentak mendengar itu, " Aku seekor hewan roh yang sudah berubah wujud, seekor kucing hitam berekor dua. " sahut Yin sambil tersenyum. " Dia tidak berniat menangkapku kan. " batinnya.
Sedangkan isi pikiran Quennevia, " Everon juga bisa berubah wujud, apa Yue juga bisa, ya. Aku penasaran apa dia itu laki-laki atau perempuan, karena hal itu agak terlalu sensitif untukku, aku jadi tidak menanyakannya. " batinnya.