Quennevia

Quennevia
Akhir Black Phantom & waktu kepergian dari Foldes.



Beberapa saat kemudian, tepat di dalam bangunan guild itu semua orang sudah merasa ada yang berbeda, selain keramaian yang ada di tempat itu tidak ada lagi keramaian yang bisa di dengar di sekitar mereka.


Diluar yang terlihat dari jendela pun juga sangat gelap, mereka seperti tidak ada di kota yang biasanya selalu penuh keramaian itu.


" Apa... Ada apa ini?? "


" Kenapa suasananya jadi berbeda begini??. "


" Rasanya tadi masih ada banyak orang, kemana mereka pergi ya??. "


Begitulah ucapan-ucapan orang-orang di dalam sana yang sangat bingung dengan apa yang terjadi di antara mereka.


" Ada apa ini, bagaimana bisa mereka hilang begitu saja??. " tanya Master guild itu kepada seseorang di samping nya, namun orang itu hanya menggelengkan kepalanya.


Lalu tiba-tiba seseorang berlari ke arah nya dengan sangat terburu-buru," Master, diluar... diluar sana bukan kota. Kita tidak ada di kota!!. " ucap orang itu.


" Apa?!. " sahut sang master pula dengan sangat terkejut.


Ceklekkk....... Krieeetttt.....


Perhentian mereka semua teralihkan kepada dua orang yang baru saja masuk ke dalam sana, Everon dan Yulles masuk dengan langkah santai dan perasaan yang sangat senang bisa melakukan hal ini.


" Haha.. seperti nya kita akan bersenang-senang. " ucap Everon dengan percaya diri.


Semua orang di guild itu merasakan kekuatan aneh yang muncul dari keduanya, Yulles pun juga sudah menunjukkan rupa aslinya di hadapan semua orang di sana.


" Siapa kau??. " tanya master guild dengan sombong.


" Siapa aku?? Ingatan mu pendek juga ya, padahal baru 15 tahun tidak bertamu. " ucap Everon dengan sinis, sambil terus berjalan ke arah master itu.


" Ahahaha... wajar saja dia sudah tua, Tuan. " sahut Yulles merasa geli melihat tingkah Everon.


Sementara itu master guild itu merasa tersentak mendengar apa yang dibicarakan oleh Everon, dia merasa tidak pernah bertemu dengan orang seperti nya dan apa yang ia ucapkan membuatnya mengingat kenangan buruk tentang penyerangan 15 tahun lalu itu.


" Apa.. maksud mu??. " tanya master guild itu pula.


Everon yang terus maju itu dihalangi oleh beberapa anggota, namun semua nya langsung terpental jauh bahkan tanpa terlihat apa yang Everon lakukan kepada mereka.


" Katakan apa maksud mu, siapa kau sebenarnya?!!. " ucap Master guild itu pula dengan marah.


" Jika aku menunjukkan nya, apa kau akan ingat??. " tanya Everon kepada master itu, ia pun mengeluarkan sebuah sayap, sayap naga milik nya, tanduk di kepalanya dan ekor yang ikut muncul di belakang nya, ia pun mengucapkannya sebuah nama. " Emilia... "


Master guild itu pun kembali tersentak, apalagi mendengar nama yang menjadi masalah baginya itu, dan melihat Everon membuat nya mengingat monster yang menyerang guild nya dulu.


" Benar, aku adalah monster yang selalu kau takut kan itu. " ucap Everon pula dengan seringai menakutkan, seolah ia bisa membaca pikiran master itu.


" Kau juga harus membayar karena sudah membunuh kakak ku, Emilia!. " ucap Yulles pula dingin.


" Ka.... kalian semua, bunuh monster itu!!. " ucapnya kepada semua anggota nya.


Orang-orang itu ramai-ramai mencoba mengarang mereka berdua di sana, namun pada akhirnya mereka hal yang dibantai. Beberapa mencoba melarikan diri namun pintu ataupun jendela di sana tidak bisa di buka.


Itu karena Quennevia mengelilingi guild itu dengan tanaman rambat yang sangat tebal dan banyak, hingga tidak mungkin ditebas sekali pun. Sementara itu di hadapan mereka tengah terjadi pembantaian besar-besaran di tempat itu.


Entah itu Everon maupun Yulles mengamuk sesuka hatinya, lagipula tidak akan ada yang bisa menghentikan mereka. Juga mereka tidak khawatir akan ada masalah setelah memasang pelindung.


Beberapa saat kemudian, semua orang di tempat itu sudah tak bergerak lagi, bahkan master guild itu juga mati di tangan Everon. Mereka pun akhirnya pergi dari sana dan meninggalkan nya begitu saja.


****


" Iya, lagipula tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini. " sahut Everon dengan santai.


" Iya juga sih. " ucap Quennevia pula menimpali dengan agak murung.


Everon pun mengusap kepala Quennevia, " Jangan cemberut seperti itu, aku tidak akan pergi ke medan perang. " ucapnya.


Membuat Quennevia jadi merona malu, " Siapa juga yang mengkhawatirkan ku. " gerutu Quennevia.


Cetakkk.....


Ia pun kembali membuka dimensi ruang, " Ya sudah, pergi sana. " usir Quennevia pula sambil memalingkan wajahnya, Everon hanya terkekeh geli melihat nya.


" Emm... anu, Tuan Everon. Aku berencana memperkenalkan Quennevia kepada para tetua, bagaimana menurut anda??. " tanya Yulles sebelum Everon pergi.


" Iya, jika para kakek tua itu mau menerimanya lakukan saja. " jawab Everon dengan agak tidak peduli.


Iya, dia tidak pernah terlalu akur dengan para tetua yang dimaksud Yulles itu, atau mungkin bisa dibilang dia selalu tidak terlalu akur dengan semua orang karena pemarah dan juga menjengkelkan.


" Oh, iya kau... " ucapnya pula menggantung saat melihat Ethan, yang dilihat hanya bingung kenapa. " Jika sampai terjadi sesuatu pada Quennevia habislah kau, aku..! akan..! mengawasimu!!. " ucap Everon dengan sangat-sangat serius seolah sedang mengancam Ethan, apalagi dengan tatapan tajam nya itu.


" I.. Iya, aku mengerti. Kau tidak perlu khawatir. " sahut Ethan merasa tidak nyaman ditatap menakutkan seperti itu oleh Everon.


" Baiklah, kalau begitu sampai jumpa. " ucap Everon pula sambil mengelus kepala Quennevia lagi, kemudian ia pun masuk ke dalam dimensi ruang itu.


**********


Kemudian pagi-pagi sekali, saat Niu bangun dari tidur nya, entah kenapa ia seperti melihat langit biru yang tengah bergerak, atau dia yang sedang bergerak. Ada angin juga yang menerpa nya di sana, dia merasa aneh dengan mimpi nya, apakah dia lupa menutup jendela lagi.


Lalu ada seekor burung pula yang terbang melintasi nya, ia merasa semakin aneh lagi dengan hal itu. Dan ketika ia benar-benar sadar dari tidur nya, ia benar-benar terkejut setengah mati dengan apa yang tengah terjadi kepada nya.


" Ah, ya ampun! Ada apa ini?!!. " teriaknya dengan sangat syok.


Pasalnya ia tengah merasa di atas punggung Yue, yang sangat besar sekali yang tengah terbang melintasi langit di pagi hari seperti ini. Bahkan saking kencang nya suara teriakan nya, Oscar yang juga masih tertidur langsung terbangun karena nya.


" Eh, Eh. Dimana aku??. " gumamnya dengan tidak jelas.


Sedangkan Quennevia hanya menatap mereka datar, " Pagi. " ucapnya kepada mereka.


" Sebenarnya ada apa ini, bagaimana bisa kita tiba-tiba ada di langit seperti ini??. " tanya Niu dengan sangat bingung.


" Ehh, kita ada di langit kah??. " ucap Oscar pula yang masih linglung.


" Kita akan pergi ke wilayah klan iblis bulan darah. " jawab Yulles dengan ramah kepada mereka.


Keduanya terdiam sesaat, siapa orang yang baru mereka temui ini, dia sangat tampan dan terlihat masih muda (Padahal usianya mh sudah ratusan tahu bahkan lebih). Lalu kemudian mereka pun sadar dengan apa yang dikatakan nya.


" Apa?! Wilayah klan iblis bulan darah?!!. " teriak mereka dengan lebih syok lagi dari tadi.


Baru juga bangun tapi mereka sudah diberi kejutan seperti ini, memangnya mau apa mereka ke sana. Dan lagi sejak kapan mereka bisa ada di langit seperti itu, dan Ethan terlihat sangat senang sekali duduk di atas kepala Yue.


Lalu sejak kapan Yue jadi sebesar ini, dan ada juga orang yang tidak mereka kenal, tiba-tiba bilang mau ke wilayah klan iblis bulan darah. Dan Quennevia yang terlihat tidak peduli apapun lagi, mereka benar-benar bingung.


" Uhh... Sebenarnya apa yang terjadi di sini sih??. " ucap mereka berdua dengan bingung.