Quennevia

Quennevia
Menyebrang Dimensi Dan Bangkitnya Kekuatan Iblis




(*👆anggap aja kaya gitu+ada salju nya+siang hari)


Di siang ini ketika salju menyelimuti kota kesayangan Nevia, namun Quennevia lah yang kembali ke kota itu. Kota yang ia mimpikan selama ini, yang dipenuhi oleh hiruk-pikuk orang-orang yang berlalu lalang meskipun salju menutupi kota.


" Ini...Kota Nevia berasal." ucap batin Quennevia.


Ia sampai tidak bisa menahan air matanya ketika bisa melihat kota itu lagi. Bedanya ini bukan ingatan Nevia tapi ia datang langsung ke sana, dan perasaan Nevia yang ada dalam dirinya pun ikut membuncah akan kerinduan yang sangat besar.


Quennevia sedikit terkejut ketika tangan seseorang menyentuh pipinya untuk menyeka air mata nya yang jatuh itu, ya siapa lagi kalau bukan Lorenzo bukan, kan hanya dia saja yang ikut bersamanya ke tempat itu.


" Bukankah kau harusnya bahagia bukannya menangis??. " ucap Lorenzo.


" Aku sama sekali tidak menangis. " sahut Quennevia dengan ketus sambil memalingkan wajahnya, " Tetapi perbedaan waktu antar dua dimensi kita itu berbeda sangat jauh, ketika Nevia datang ke dunia itu saja waktu disini sudah berlalu 50 tahun. Apa menurutmu orang-orang itu masih hidup saat ini?? " tanya Quennevia pula.


" Aku sudah mengatur tanggal dan waktu nya, kita kembali ke 5 tahun setelah Nevia mati. " jawab Lorenzo.


" Entah kenapa kedengaran seperti mesin saja, sampai bisa sampai di atur seperti itu. Yang lebih penting kita harus mencari pakaian dan kendaraan yang bisa kita pakai dulu, orang-orang akan berpikir kita sedang melakukan Cosplay jika melihat kita seperti ini. " ucap nya pula.


" Kita cari disana saja. " jawab Lorenzo pula.


Yang Lorenzo tunjuk adalah sebuah Vila dengan mobil mewah di garasi Vila itu, tentu saja memangnya ada toko pakaian di tengah hutan seperti ini. Seperti nya Vila itu milik seseorang yang kaya, mobilnya saja adalah mobil mewah dengan atap yang bisa dibuka. Quennevia dan Lorenzo saling pendang melihat itu, sesaat kemudian mereka pun berjalan kearah vila itu.


Mereka berdua langsung masuk dengan mudah nya ke Vila itu, mereka sempat melihat dua orang di dalam Vila tersebut yang sedang bermesraan. Jadi Quennevia dan Lorenzo tidak mengganggu mereka dan langsung mengambil pakaian yang bisa mereka pakai saja, setelah nya Lorenzo juga mengambil kunci mobil yang ada di garasi itu untuk mereka pakai.


" Sudah selesai??. " tanya Lorenzo ketika melihat Quennevia berjalan mendekati nya.


" Menurut mu??. " tanya balik Quennevia datar.


" Kalau begitu ayo berangkat. " ajak Lorenzo pula.


Mereka berdua pun langsung pergi dari sana menggunakan mobil yang punya rumah itu, disaat yang sama pemilik rumah dan mobil itu beserta dengan pacarnya itu sedang tidur pulas dalam dunia mimpi yang dibuatkan oleh Quennevia. Mereka tidak akan bangun sampai pengaruh dunia mimpi itu selesai.


Selama perjalanan itu Quennevia hanya sibuk memandangi kota yang ia lewati itu, banyak hal yang ia ingat kembali dari kenangan milik Nevia. Pemandangan kota yang gemerlap dengan cahaya lampu ketika malam tiba, dan udara dingin dengan pemandangan bersalju di setiap jalan yang mereka lewati. Untung saja salju tidak turun jadi tangan ada yang masuk ke dalam mobil mereka, mengingat saat ini mobil yang digunakan oleh Quennevia dan Lorenzo adalah mobil dengan atap terbuka.


Dan untuk jalan yang dituju, mereka sedang menuju ke tempat dimana Kirito dan yang lainnya harusnya tinggal, panti asuhan dipinggir kota. Tempat Nevia menitipkan anak-anak yang ada di sana kepada Kirito dan yang lainnya dulu, Lorenzo juga tidak perlu dipandu oleh Quennevia karena ingatan nya yang dulu sebagai Guren masih ia ingat dengan jelas.


Quennevia sangat berharap bisa bertemu lagi dengan mereka semua dan menceritakan semua yang ingin Nevia cerita kan kepada mereka sebelum nya. Andai saja hal itu bisa terwujud, akan tetapi... apa yang dihadapkan kepada Quennevia bukanlah sesuatu yang ada di ingatan nya.


" Hah... Ap-apa ini?? Apa yang terjadi??. " gumam Quennevia dengan tidak percaya.


Pasalnya yang ada dihadapannya saat ini, hanyalah reruntuhan dari panti asuhan yang hangus terbakar. Hanya berlalu 5 tahun, tapi kenapa tempat ini jadi seperti itu, kira-kira seperti itulah hal yang dipikirkan oleh Quennevia. Disisi lain Lorenzo tengah memikirkan nya saat ini..


" Apa aku salah belok, ya??. " ucapnya.


" Tidak.. Tidak, ini benar-benar tempatnya. Kenapa.. semuanya jadi seperti ini??. " sahut Quennevia.


" Kalian, apa yang kalian lakukan disini??. " tanya seseorang pula yang kebetulan lewat disana.


" Ah, Halo nyonya. Sebenarnya kami ingin melihat panti ini setelah lama tidak kesini, tapi... sebenarnya apa yang terjadi?? " tanya balik Quennevia.


"Soal itu... " ucap ibu itu menggantung.


Dia kelihatan sangat takut ketika mengingat sesuatu, kemungkinan ia juga ragu tentang menceritakan kejadian itu kepada Lorenzo dan Quennevia. Karena keduanya terlihat seperti orang asing dinegara ini, tapi kemudian ia pun menceritakan nya kepada Quennevia dan Lorenzo.


" 2 tahun yang lalu, disini terjadi pembantaian. " ucap ibu itu.


" Pembantaian?!. " sahut Quennevia pula semakin terkejut.


Ibu itu pun mengangguk, ia menceritakan semuanya kepada Quennevia, terlebih lagi ternyata rumah ibu itu tepat disebalah panti asuhan tersebut. Ternyata 2 tahun lalu, hanya berselang beberapa bulan dari kematian Kagura dan juga Lorenzo, yang mati karena ledakan di sebuah gedung. (Ini Quennevia sebenarnya baru tahu waktu diperjalanan diceritakan oleh Lorenzo)


Katanya waktu itu tiba-tiba ada seorang perempuan misterius yang datang ke panti itu, dia bicara dengan Kirito yang tinggal disana. Mereka terlihat berdebat akan sesuatu, namun saat Kirito berbalik perempuan itu tiba-tiba saja menusuknya dengan pisau. Sakura, Nagisa dan Kyosuke yang melihat nya langsung berlari keluar menghampiri Kirito yang sudah jatuh berlumuran darah itu.


Namun mereka juga tiba-tiba ditembak oleh orang-orang berpakaian hitam, yang entah muncul dari mana. Anak-anak dan para pengurus penti yang ketakutan di dalam berusaha untuk kabur atas permintaan Sakura sebelum nya, namun ternyata mereka dikunci di dalam panti asuhan itu dan dibakar hidup-hidup di dalam sana. Dihari itu mereka semua pun mati.


" Tidak mungkin... Kenapa..??. " ucap Quennevia setelah mendengar semua itu.


Ia berjalan mundur dengan kaki yang terasa lemas, seakan-akan kakinya itu tidak bisa lagi menopang dirinya, tubuhnya pun jadi gemetar, dengan air mata yang mengalir deras di pipi nya. Akhirnya tubuh Quennevia pun terhuyung...


" Quennevia.. " ucap Lorenzo yang dengan sigap menangkapnya agar tdk terjatuh.


Quennevia pun berbalik dan mencengkram kedua tangan Lorenzo, " Ini berbeda dengan yang kau katakan, Lorenzo. Kau bilang aku bisa menemui mereka lagi, kau bilang mereka masih hidup. Tapi mereka.... Sudah tidak ada. " ucap Quennevia lirih sambil menggelengkan kepalanya, dengan tangis nya yang juga terus mengiringi.


Ia pun menyenderkan kepalanya didada bidang Lorenzo, perasaan kesedihan Nevia lagi-lagi membuncah seperti perasaan rindunya sebelum ini. Lorenzo yang melihat nya tahu ini hal yang menyedihkan, apalagi jika Nevia sendiri yang mengetahui hal itu, tangan nya pun langsung memeluk Quennevia untuk membuatnya sedikit lebih tenang.


" Apakah anda punya foto orang yang melakukan nya, nyonya??. " tanya Lorenzo kepada ibu yang masih disana itu.


" Ah, tentu saja. Orang itu masih diburu oleh Negara ini, dan pemerintah juga menyebarkan foto orang itu. Tolong tunggu sebentar, saya akan mengambil nya di rumah. " ucap ibu itu yang langsung pergi kerumahnya untuk mengambil foto orang yang dimaksud olehnya itu.


Beberapa saat kemudian, setelah Quennevia merasa sedikit tenang ia pun memutuskan untuk berjalan masuk ke reruntuhan panti itu seorang diri, sementara itu Lorenzo menunggunya di tempat semula. Tak lama setelah nya ibu yang tadi bicara dengan mereka itu datang kembali, dengan selembar foto di tangannya.


Ibu itu menyerah kan foto tersebut kepada Lorenzo, kemudian langsung pergi lagi dari sana setelah bicara beberapa kata dengan Lorenzo, ia kelihatan tidak tega saat melihat Quennevia yang bersedih seperti itu.


Lorenzo pun melihat siapa orang itu, dan jujur saja ia juga cukup terkejut melihat siapa orang itu, ia tidak diberi tahu akan hal itu. Atau mungkin memang tidak ada yang tahu kalau itu bisa terjadi, kemudian ia pun berjalan mendekati Quennevia untuk menyerahkan foto itu kepada nya.


" Ternyata orang yang sangat kau kenal pelakunya. " ucap Lorenzo.


Quennevia pun mengambil foto yang diserahkan Lorenzo itu dan melihat nya, ia sama sekali tidak bereaksi melihat foto itu hanya saja kebenciannya terhadap orang itu semakin bertambah.


Quennevia pun menggerakkan giginya, " Sialan kau... Beatrice!. Aku mengutuk mu, Beatrice!! " teriak Quennevia dengan penuh amarah.


Iya, orang di foto yang dilihat oleh Quennevia adalah Beatrice, atau.. seseorang yang mungkin mirip dengan nya. Entahlah.


Dan tepat setelah Quennevia berteriak seperti itu, semua hal yang ada di tempat tersebut tiba-tiba saja berhenti bergerak, lebih tepatnya Quennevia yang menghentikan waktu. Yang bisa bergerak di dalam lingkup penghentian waktu itu hanyalah Lorenzo yang sekarang bukan lagi orang dari dunia ini dan Quennevia yang menghentikan waktu itu sendiri, dan disaat itulah sebuah pilar cahaya merah kehitaman tiba-tiba membungkus diri Quennevia dan membumbung tinggi kelangit.


Lebih tepat nya di jantung hutan York, tempat Everon membekukan tubuh Emilia. Ia tengah berada di sana, hanya duduk melamun sambil menemani tubuh tak bernyawa itu, sampai sesuatu mengalihkan perhatian nya.



Sringgg.....


" Hm...??. " Everon pun menoleh.


Dan betapa terkejut nya dengan apa yang ia lihat, tubuh Emilia tiba-tiba bersinar seperti cahaya yang membalut Quennevia sebelum nya.


Zringg....


Dan cahaya itu juga ikut naik menuju langit, Everon langsung bangkit berdiri dari duduknya itu dengan wajah yang amat sangat terkejut.


" Ap-Apa yang terjadi... Quennevia?!. " ucapnya yang langsung teringat Quennevia saat melihat kekuatan yang tertinggal di tubuh Emilia bereaksi seperti itu.


Diluar tempat itupun, semua yang melihat nya sama bingung nya dengan Everon saat ini, para spirit guardian yang lain juga melihat hal itu.


" Apa itu?? Apakah Everon akan membuat kericuhan baru lagi??. " ucap Zeze.


" Tidak, itu... tanda kebangkitan. " ucap Wais.


" Warna merah seperti darah yang di penuhi oleh kebencian. " ucap Freea.


" Jadi maksud nya Quennevia... " ucap Azel pula menggantung.


" Dia sedang dipenuhi amarah. " ucap Misika yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka semua.


Para spirit guardian yang mendengar nya pun langsung berbalik kearah Misika, sementara Misika berjalan lebih mendekati mereka.


" Kebangkitannya sudah terjadi. Aku harus segera memberitahunya ... Bagaimana nasib dan takdir nya. " ucap Misika pula masih sambil memperhatikan pilar cahaya itu.


- Daerah bangsa iblis bulan darah.


Ternyata pilar cahaya itu bukan hanya terjadi di tempat Misika dan para spirit guardian, tapi juga didaerah klan iblis bulan darah. Semua orang sampai panik dan tergesa-gesa keluar dari rumah mereka masing-masing untuk melihat hal tersebut, cahaya yang muncul dari crystal kehidupan klan iblis bulan darah yang artinya kehidupan pemimpin klan mereka sebelum nya telah bengkit kembali.


" Ohh... Nyonya Emilia. "


" Itu kekuatan nyonya Emilia. "


" Kekuatan nya akan kembali melindungi kita. "


" Bukankah harusnya masih belum, ya. " gumam Tetua pertama ketika melihat hal itu.


" Sebenarnya apa yang terjadi??. " sahut Tetua ke tiga pula.


- Digua tempat Yulles dan lainnya berada.


Mereka masih disana, sedang menyusun strategi untuk menyusup ketempat klan Retia berada. Saat tiba-tiba saja Yulles untuk kedua kalinya merasa tersentak ketika merasakan hawa keberadaan yang familiar itu.


" Ada apa??. " tanya Haika.


" Perasaan ini... " gumam Yulles menggantung dengan wajah yang terkejut sekaligus tidak percaya.


Ia pun mencabut sebuah kalung Crystal yang ia pakai dan melemparkan nya hingga hancur, lalu kemudian ada sebuah gambar yang muncul diudara dan memperlihatkan apa yang ingin dilihat oleh Yulles. Ternyata adalah tempat klan iblis bulan darah berada.


" Pilar apa itu?? bukankah tidak ada pilar seperti itu sebelum nya. " ucap Niu bertanya-tanya.


Buk....


Yulles memukul dinding gua itu, " Sial, harusnya masih ada 5 segel lagi. Kenapa ke 5 segel itu terbuka bersama-sama, apa yang terjadi kepada Quennevia?!. " ucap Yulles sambil mengusap wajah nya dengan frustasi.


Tentu saja, masalah dia masih disekap oleh klan Retia saja belum terselesaikan, sekarang malah muncul lagi hal mengejutkan. Yang lainnya ikut terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Yulles itu, dan disaat itu Zico pun menyampaikan sesuatu.


Kyu.. Kyu.. Kyu... (anggap aja suara Zico, dia masih belum bisa bicara)


" Huh?? Apa?? Bisakah kau bicara bahasa Manusia??. " ucap Arkan yang sama sekali tidak mengerti, bukan hanya dia sih.


Kyu.. Kyu..


" Zico bilang dia merasakan kekuatan kak Quennevia lenyap sebelum nya, dia melewati gerbang dimensi. " ucap Kagura, ternyata dia mengerti bahasa spirit animal seperti Quennevia.


Mungkin karena sedikit darah Quennevia yang ada di tubuhnya Kagura, jadi ia juga bisa melakukan beberapa hal yang hanya bisa dilakukan oleh Quennevia.


" Apa maksud mu dia membuka gerbang dimensi??. " tanya Oscar.


Kyu.. Kyu.. Kyu..


" Bukan, tapi Zico merasakan inti spirit ibunya digunakan. Seperti nya klan Retia memiliki itu dan menawarkan kak Quennevia untuk pergi menyebrang dimensi. " ucap Kagura pula.


" Gerbang dimansi?? Master tidak mungkin menyetujui nya begitu saja, kecuali.....!! " ucap Yue menggantung dengan amat sangat terkejut.


- Sementara itu di markas sementara klan Retia.


Mereka juga melihat pemandangan mengejutkan dan langka itu.


" Leluhur, itu... " ucap Seriana menggantung.


" Iya~.. Itu adalah Quennevia, Lorenzo berhasil menariknya menuju kegelapan, meskipun masih belum sempurna. " sahut Seretia tersenyum senang.


Ia yakin seluruh daratan juga ikut gempar melihat kejadian ini, karena bukan hanya pilar cahaya itu yang terlihat sampai ke mana-mana. Namun juga sampai membuat langit berubah warna menjadi semerah darah.


" Sekarang... Putri 4 dunia sudah bengkit sepenuhnya, aku jadi tidak sabar melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. " ucap Seretia pula...