
[Season 2]
Semenjak Arkan menahan kekuatan milik Leana ibunya, dia memang merasa agak aneh dan kepalanya pusing. Awalnya dia pikir itu bukan masalah serius karena dia telah sampai pada tahapan yang lebih tinggi. Namun ia melupakan satu hal..
...Yaitu fakta bahwa dirinya sekarang berada didalam tubuh anak kecil.
Menahan kekuatan sebesar itu bagi anak seusia ini terlalu berlebihan. Belum lagi karena dari dalam Arkan juga mengeluarkan kekuatan yang tidak sesuai dengan tubuhnya sekarang. Itu membuatnya mengalami cidera didalam tanpa ia sadari, menurutnya dia beruntung karena hanya mengalami mimisan.
Namun bagi yang lain itu adalah masalah besar.
" Kakak! Kakak, kau bisa mendengarku?!."
" Tuan muda!."
" Arkan! Bertahanlah!."
Arkan bisa mendengar suara-suara mereka yang mengkhawatirkannya saat ia terbaring dilantai tak berdaya, dan ia melihat bagaimana paniknya mereka saat melihatnya seperti itu. Arkan ingin bangun dan segera menenangkan mereka, namun ia merasa tidak punya tenaga sama sekali. Dan kepalanya semakin sakit.
" Sial... Aku terlalu berlebihan."
Arkan tidak mempertimbangkan hal ini. Dia bergerak tanpa berpikir dan melupakan hal yang sangat penting. Arkan tersenyum seolah menertawakan kebodohannya sendiri.Dan sekarang ia melihat saudaranya yang malang menangis dihadapannya dengan begitu histeris karena ketidak mampuannya.
Itu pemandangan yang sangat buruk untuk dilihat, namun ia harap itu juga terjadi padanya.
Penglihatannya mulai kabur, namun ia masih berusaha mengulurkan tangannya kearah Balin. Ia menyentuh pipi anak itu, dan dengan ekspresi yang dipaksakan untuk tersenyum, ia berkata...
" Jangan menangis, aku akan baik-baik saja."
Itu adalah kata-kata terakhir darinya sebelum ia kehilangan kesadarannya. Penglihatannya berubah gelap, dan suara-suara yang sebelumnya terdengar memanggilnya pun perlahan-lahan menjauh sampai kemudian menghilang sepenuhnya.
Arkan berpikir, jika saja dunia nyata juga seperti ini.. Andai saja hubungannya dengan saudaranya sebaik mereka ditempat ini, alangkah menyenangkannya masa itu.
Ia mengingat pertemuan terakhir mereka direruntuhan kuno setengah tahun yang lalu, dan perpisahan mereka benar-benar buruk sama seperti pertemuan mereka.
" Ah... bagaimana keadaan anak itu sekarang."
****
Ini sudah beberapa saat berlalu semenjak Arkan jatuh tak sadarkan diri, dokter sudah memeriksa dan memberinya obat. Meski begitu dia masih belum sadarkan diri hingga saat ini.
Balin dan Reul terus berada disisinya, bahkan setelah kabar itu sampai kepada Lewis, dia pun langsung datang setelah menghentikan rapat penting yang baru saja dimulai hanya untuk mengetahui kondisi dan apa yang terjadi kepada cucunya.
" ...Jadi maksudmu, Leana mengerahkan kekuatan nya kepada anak-anak dilorong?."
" Iya, ayah. "
" Haa.. apalagi yang dia rencanakan kali ini, sampai tidak memperhatikan kesiapan dan memampuan anaknya sendiri."
" Saya juga kurang tahu, tapi dari percakapan mereka. Dia seperti ingin memastikan sesuatu... "
Itu selalu menjadi topik utama di keluarga ini, meski begitu jalan pikiran Leana tidak pernah bisa ditebak. Awalnya mereka mengira dia ingin menjadikan Arkan sebagai pemimpin klan selanjutnya, namun semakin hari... semuanya jadi terlihat sepertinya bukan hanya itu.
Leana seperti merencanakan sesuatu yang lebih besar.
Jika dibiarkan, dia mungkin akan membuat Arkan berjalan dijalan yang dipenuhi oleh darah.
Lewis selalu memikirkan kebaikan klan. Sebelum menikah dengan putranya, Leana dikenal sebagai master bela diri yang dipuji orang-orang. Berbakat dan juga kompeten.
Karena itu dia menerimanya saat putra nya mempertemukan mereka, dia berharap Leana akan menjadi sosok yang membanggakan, karena itu dia selalu mendukungnya. Lalu hal seperti ini terjadi, sekarang... sepertinya ia harus mulai mengurangi kebebasan yang ia berikan kepada menantu perempuannya yang satu ini.
" Aku akan memberinya peringatan lagi. Namun sebelum itu, kita harus tahu apa yang dia inginkan dari Arkan."
" ...Penguasa alam bawah sadar. "
Gumaman kecil Balin terdengar mengalihkan perhatian keduanya, saat Balin yang sedari tadi diam menatap Arkan yang terbaring tak sadarkan diri pun ikut menoleh kearah mereka.
" Ibu berkata sesuatu tentang 'Penguasa alam bawah sadar', apa ayah dan kakek tahu apa itu?."
Pertanyaan Balin membuat ekspresi Reul dan Lewis berubah menggelap, itu adalah hal yang sangat serius.
'Penguasa alam bawah sadar'
Adalah sebutan yang diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan mental ditahap tertinggi, dimana tidak ada yang bisa mencapainya tanpa pengorbanan dan bakat yang mumpuni.
" Apa kemampuan Arkan benar-benar bergulir dalam serangan tipe mental??" Reul tidak tahu hal itu, tidak ada yang pernah memberitahukan persoalan anak-anaknya padanya.
Mereka yang memiliki kemampuan mental yang tinggi saja telah menjadi harta karun dan orang yang sulit untuk dihadapi. Terlebih untuk mereka yang tidak memiliki ketahanan terhadap serangan mantal. Itu bisa menjadi lebih berbahaya dibandingkan dengan serangan fisik.
Tapi jika... Arkan benar-benar bisa sampai ketahap tertinggi. Dia bisa sangat ditakuti dan disebut bencana jika berjalan ke jalan yang salah. Dia bisa saja mengendalikan sebuah kekaisaran besar dan menundukannya dibawah kakinya.
Itu tidak akan bagus karena dia pasti akan diincar oleh banyak orang...
Reul mengepalkan tangan nya sambil bertanya-tanya, apa putranya harus melewatu hal berat seperti itu?? " Sial... andai saja aku tidak seperti ini, Arkan dan Balin bisa mendapatkan hidup yang lebih layak dan aman."
Situasi hening sesaat, lalu...
" Balin, bisakah kau menjaga kakakmu sebentar." ucap Reul ditengah kehaningan yang ada diantara mereka disana.
" Ng?" disisi lain Balin memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos karena mendengar itu.
Reul yang melihat nya pun tersenyum dan menjelaskan," Ayah dan kakek harus melakukan sesuatu lebih dulu, jadi apa kamu bisa menjaganya?? Ayah yakin kakakmu akan senang dengan apa yang kau lakukan."
Balin yang mendengar itupun, matanya langsung berbinar. Ia menganggukkan kepalanya dengan cepat dan penuh semangat, sementara itu Lewis dan Reul keluar dari ruangan itu.
Reul punya beberapa bertanyaan soal apa yang terjadi kepada Arkan dan sesuatu yang lain. Lewis juga menerima niatnya dengan baik dan sekarang... mereka bersama didepan ruang dimana Arkan berada, bicara bersama sambil menatap jendela yang sama.
" Saya rasa kita harus lebih memperhatikan apa yang dilakukan oleh Leana, ayah. Agar hal ini tidak terjadi lagi, dan agar tidak ada masalah diklan." Reul tahu pasti apa yang terjadi setelah ia terbaring sakit hanya dengan melihat tingkah Leana dan para pelayan yang selama ini datang untuk mengurusnya.
Lewis yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya setuju, " Kau benar. Sudah terlalu lama kita diam saja, anak-anak pun yang berakhir menjadi korban."
" Iya, dan sepertinya... Arkan menyadari kejanggalan itu, dan mulai memberontak tanpa pikir panjang."
Itu terlihat sangat jelas, kebencian samar yang ditampilkan dimata anak kecil itu. Reul tidak bisa memastikan dari mana itu berasal, tapi jelas itu tertuju kepada klan. Dan secara personal, itu kepada Leana.
Kemudian ia langsung kepertanyaan keduanya, " Ngomong-ngomong ayah.... Apa Arkan melakukan hal-hal aneh belakangan ini??"
Pertanyaan tiba-tiba itu menarik perhatian Lewis, " Tidak, sejauh yang aku tahu dia hanya menghabiskan waktu bersama dengan Balin. Dan dia sibuk meninggalkan kelas serta menjauhi istrimu." dia cukup bingung karena pertanyaan nya tidak biasa.
" Begitu..."
" Apa ada hal lain yang terjadi??"
Reul tidak bisa bilang itu masalah, justru sebaliknya itu adalah berkah. Namun apakah wajar bagi anak kecil yang belum tahu apa-apa mengetahui hal ini, dan juga... siapa orang yang ia temui.
" Obat yang dibuat Arkan.... Saya bisa sembuh seperti ini karena obat yang dia buat."
" Apa...?"
" Beberapa hari yang lalu, ketika malam hari dia tiba-tiba datang untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak menemui saya. Dia membawa sebuah gelas berisi obat herbal yang katanya dia buat sendiri. Setelah sekian lama akhirnya dia datang, ekspresi nya saat melihat saya adalah ekspresi yang telah lama hilang darinya. Karena itu saya tidak bisa mengecewakan anak itu, yang telah bersusah payah membuat obat untuk saya sampai tangannya luka-luka. Dan dihari berikutnya, saya merasa kalau penyakit saya ini sudah menjadi lebih baik. Bahkan Vitalitas saya meningkat secara derastis dibandingkan sebelumnya."
Reul menceritakan semuanya. Semua yang terjadi diantara mereka dan bagaimana dia bisa langsung bugar seperti sekarang, dan Lewis yang sedari tadi mendengarkan pun membulatkan matanya tidak percaya. Namun itulah yang terjadi kepada Reul.
Reul belum selesai bercerita, dia pun langsung melanjutkannya. ".... Ketika Arkan kembali berkunjung, saya bertanya padanya. Darimana dia mendapatkan resep obat seperti ini? Arkan menjawabnya...."
[" Saat itu, saya berjalan-jalan dihutan. Kebetulan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik, saat itu saya berpikir kalau dia adalah seorang malaikat. Akan tetapi dia adalah simbol dari keputusasaan dan kekejaman itu sendiri, dia membunuh orang-orang yang berniat memanfaatkannya tanpa ampun. Dia terlalu dingin dan kejam untuk menjadi malaikat, dan terlalu baik untuk menjadi seorang iblis. Ketika saya mengatakan soal kondisi ayah, dia pun berkata..."]
{"Jika kau ingin menyelamatkan orang yang kau sayangi, kau harus tahu apa yang terjadi kepadanya. Vitalitas adalah daya hidup, berkurangnya daya hidup artinya dia tidak akan hidup lama lagi, dia akan segera menemui ayah dari kematian. Dan waktu untuknya akan berhenti.
Jika kau benar-benar ingin menyelamatkan nya, setidaknya untuk memperpanjang hidup nya selama beberapa hari, atau beberapa bulan, mungkin juga beberapa tahun yang singkat..."}
["...Dia memberikan saya resep obat yang bisa meningkatkan vitalitas, meski ini hanya semantara... Tapi saya ingin bersama dengan ayah untuk sedikit lebih lama. Agar ayah bisa melihat saya dan Balin tumbuh dewasa dan merasa bangga."]
Reul menjelaskan semuanya tanpa celah, tanpa kebohongan. Putra sulungnya yang dulu ia kenal kehilangan harapan, kini telah menemukan harapan yang baru dan berjuang sendiri membuat awal yang baru.
Memperbaiki hubungannya dengan saudaranya dan menyembuhkan penyakit ayahnya, anak itu telah melakukan sebuah langkah besar yang akan sangat mempengaruhi masa depan mereka. Seolah-olah... dia adalah orang lain yang berasal dari sebuah tempat yang sangat jauh dan tidak bisa dijangkau.
Disaat yang sama, Lewis juga memikirkan hal itu. Itu sungguh pencapaian yang luar biasa, akan tetapi ada sesuatu yang mengganjal baginya....
" Wanita yang terlihat cantik seperti malaikat, namun menjadi simbol keputusasaan layaknya iblis... Tidak mungkin..." Lewis berpikir, mungkin itu adalah penjelmaan dari sosok yang selama ini menopang dunia.
Tapi... apa mungkin baginya menjelma dihadapan seseorang tanpa kemauannya sendiri, dan lagi... tidak ada pertanda kalau dia akan lahir didunia ini saat ini. Lewis tidak bisa memastikan nya, namun itu adalah berkah tersendiri...
" Apa ayah bisa menebak siapa itu? Mungkinkah itu benar-benar seorang malaikat? Atau dewi? Mungkin saja... penjaga dunia ini?" ia mengepalkan tangannya dalam-dalam. Reul sepertinya juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.
Tapi karena itu, Lewis pun menggelangkan kepalanya. Baginya hanya ada satu hal yang penting, " Entahlah, setidaknya itu membantu mu dan kedua anak itu. Itu saja cukup..."
Dibandingkan dengan siapa identitas orang yang ditemui Arkan, keamanan mereka adalah hal utama, hanya itu yang penting baginya.