Quennevia

Quennevia
Perpisahan



[Season 2]


# Esok harinya...


Ethan berdiri memandangi jalanan kota dari atas sebuah gedung, kota tetap berjalan dengan sibuk seperti biasanya. Meski beberapa kriminal tetap bebas berkeliaran diantara mereka tanpa disadari, orang-orang tetap harus menjalani kehidupan mereka meski bahaya mengintai disekitar mereka.


Angin berhembus menerpanya disana, dan Ethan menyentuh sisi kiri wajahnya menahan rambutnya yang terbang kearah wajahnya.


Sekarang Ethan memikirkannya, sepertinya rambutnya jadi lebih panjang lagi dari sebelumnya. Ia berpikir apakah harus ia memotongnya sekarang, itu akan membuatnya terlihat benar-benar mirip dengan ayahnya jika benar.


" Kalihatannya kau punya banyak hal yang perlu dipikirkan."


Ethan menoleh ketika mendengar suara itu dibelakangnya, dan ia melihat seorang laki-laki baru saja tiba dan mendarat dengan perlahan disana.


Ethan yang melihat nya pun kemudian tersenyum dan berkata, " Kau terlambat, Kharainza. Aku sudah menunggu sejak satu jam yang lalu." ucapnya.


Benar, itu Kharainza.


Sementara itu Kharainza terdiam dan menatap tangannya sendiri dengan ekspresi bingung, " Aku masih menyesuaikan diri. Aku bisa merasakan energi tetap terkumpul dalam tubuhku." ucapnya yang kemudian berjalan mendekati Ethan.


" Itu karena aku memang membiarkan beberapa kemampuan tetap ada dalam dirimu untuk imbalan." sahut Ethan kemudian kembali ke posisi semula.


" Imbalan? Untuk apa?"


" Kau membutuhkannya jika benar ingin melindungi wanita itu."


Wusshh...


Angin kembali berhembus, sementara suasana diantara Kharainza dan Ethan berubah dalam keheningan. Keduanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Sampai Kharainza jadi yang pertama membuyarkan suasana itu.


" Jadi dia sudah lahir?" dia menanyakan itu kepada Ethan. Ia memang sudah menduganya, sejak Ethan menawarkan untuk mengubahnya menjadi manusia saat itu juga.


Dan Ethan pun mengangguki hal itu, ia pun mengangkat tangannya dan menunjuk ke depan sana. " Disana, lho. Gadis berambut hitam yang sedang bermain ayunan bersama temannya." mendengar itu, membuat Kharainza langsung mengalihkan pandangan nya ke tempat yang dimaksud oleh Ethan. Dan ia sangat terkejut.


" Itu wanita yang kau cari." lanjut Ethan kemudian.


Tempat yang ditunjuk Ethan adalah sebuah panti asuhan, dan anak yang dimaksud nya juga adalah anak yang tinggal dipanti itu. Meski Kharainza tidak memiliki eksisten sebagai makhluk mistis lagi, dia pasti merasakannya. Perasaan akrab yang tertinggal dalam dirinya dan kerinduan yang selama ini ia tahan. Karena itu ia bisa membuat ekspresi yang penuh dengan perasaan yang campur aduk seperti sekarang. Itu terlihat jelas, sampai-sampai ia tak bisa mengalihkan perhatian nya dari gadis itu.


Ethan memperhatikan perubahan ekspresi nya itu dengan seksama. Benar, pasti sangat sulit mengontrol perasaan seperti itu. Ia juga sama, ketika ingatannya perlahan kembali rasanya ia ingin melampiaskan semua emosinya sekaligus, tapi ia tidak tahu harus bagaimana agar menjadi lebih baik. Setiap kali melihat Quennevia, rasa bersalah selalu muncul, tapi ia tidak ingin melepaskan matanya dari Quennevia pada saat yang sama. Perasaan seperti itu sangat menyiksa.


Quennevia juga pasti sama. Begitu pula Kharainza sekarang. Dan ketika itu terjadi, sesuatu akan mulai keluar perlahan... kemudian jatuh dari matanya.


Clak...


Air mata.


" Aku mendapatkannya."


Kharainza tersadar ketika mendengar itu. Dan ia melihat bagaimana Ethan seolah memang telah menunggu dengan sebuah botol kecil ditangannya, dia menangkap air mata yang jatuh dari wajahnya.


" Kau... Bisa-bisanya kau memanfaatkanku dalam situasi seperti ini." ucap Kharainza agak kesal karena nya, ia pun dengan cepat langsung menghapus air matanya yang keluar itu.


Sementara Ethan hanya menghela nafas dengan santai dan menutup botol ditangannya, " Mendapatkan apa yang telah lama hilang dan paling diinginkan itu hal yang sangat menyentuh. Melihat bagaimana orang yang kau pedulikan hidup dengan baik dan bisa kau temui lagi, sungguh perasaan yang tiada tara. Air mata ajaib panuh emosi, aku membutuhkan itu. Jadi aku tidak bisa membiarkannya terbuang begitu saja." ucapnya kemudian.


Kharainza tahu itu. Benar, cara yang bagus untuk membuatnya menangiskan air mata yang dia inginkan, tapi tetap saja dia tidak suka dengan caranya yang seperti itu.


" Dia berusia 7 tahun sekarang. Orang tuanya meninggal saat dia berusia 5 tahun karena kecelakaan pesawat, kakek yang selama ini menjaganya juga meninggal 2 bulan lalu. Dia tidak punya kerabat jadi tidak ada yang mengasuhnya, karena itu dia ada disana. Akan tetapi... Tempat itu juga bukan tempat yang baik untuknya." ucap Ethan lagi.


" Bukan tempat yang baik??" Kharainza yang mendengar nya agak bingung dengan maksud Ethan, dari yang ia lihat anak-anak itu bermain dengan riang dan bahagia. Apa yang salah dengan hal itu?


" Kalau melihatnya hanya dari luar, semua orang akan berpikir seperti itu. Tapi jika kau melihat kedalam, kau akan tahu bahwa anak-anak mendapatkan perlakuan yang kejam. Dunia seperti itulah tempat ini sekarang."


Penjelasan itu akhirnya membuat Kharainza menyadarinya, " Jangan bilang...!"


Ethan tidak membalasnya, ia hanya diam sembari menutup kedua matanya dengan kedua tangannya yang ditempatkan dibelakang punggungnya. Seolah membenarkan apa yang ia pikirkan, Kharainza tahu Ethan tak mungkin berbohong. Dan itu membuat Kharainza jadi geram.


Ethan hanya melihat hal itu, dan ia pun kembali bicara, " Kau bisa membawanya kapanpun kau mau. Tapi, jika boleh aku memberimu saran..." Ethan berbalik dan menghadap Kharainza dengan tegas. " Pikirkan posisimu didunia ini terlebih dahulu. Berbeda dengan sebelumnya, kau dikenal sebagai salah satu pilar penting penjaga dunia. Sekarang, kau hanyalah laki-laki biasa yang tidak punya posisi dan koneksi, kau sama dengan pengemis jalanan yang tidak punya apapun. Dapatkan apa yang kau perlukan, barulah setelah itu kau bawa dia." jelasnya kemudian.


Kharainza sendiri terlihat memikirkan hal tersebut, "...Apa yang harus kulakukan??."


" Kau bisa jadi apapun yang kau mau, kau bisa menggunakan kemampuan yang masih melekat padamu itu sebagai bantuan. Tapi.... Aku yakin kau paham cara kerja dunia ini, jadi kau pasti akan berhati-hati. Satu hal lagi yang harus kau ingat." Ethan menjeda kata-katanya, dan ia mengangkat tangannya dengan menempatkan jari telunjuk didepan wajahnya. " Wanita itu belum sepenuhnya lepas dari ikatan 'Will of Holy Tree'. Dan karena dia tidak ada ditempat seharusnya, mulai sekarang takdir akan mengejarnya dengan segala cara. Wanita itu harus tetap hidup sampai usianya mencapai 20 tahun, atau dia akan lenyap selamanya. Itu juga salah satu alasan dari kekuatan yang masih ada padamu. Dan jika dia berhasil selamat, baru kau dan dia benar-benar akan lepas dari jeratan itu."


Kharainza kembali terdiam karena peringatan nya, itu artinya mereka akan menghadapi sesuatu yang sulit dimasa depan karena takdir masa lalu yang masih menjerat. Kharainza tidak punya jalan mundur sekarang, karena dia sudah sampai disini.


" .... Aku mengerti."


Karena itu dia harus bersiap.


****


Disaat yang sama, dibukit tempat pertama kali mereka sampai didunia ini. Oscar dan yang lainnya sudah berkumpul disana, bahkan Yukio dan yang lain juga masih bersama mereka. Hanya tinggal menunggu Ethan, maka semuanya sudah akan siap.


" Sudah selesai, ya. Misi yang kita mulai sejak satu setengah tahun yang lalu." ucap Niu sembari menatap kembali kota untuk terakhir kalinya.


" Iya, kau benar." Yuki yang ada disampingnya pun menanggapi itu sembari menganggukkan kepalanya.


" Sudah banyak hal yang kita lalui dan lihat, kurasa... Itu akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah kita lupakan bersama." ucapnya kembali.


" Iya, sangat banyak." sahut Arkan yang tengah duduk bersila diatas batu dan menyilangkan kedua tangannya, ia mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk dan kembali berkata. " Sekarang kita akan pulang." ucapnya dengan suara terdengar penuh kerinduan.


" Setelah kita menyelesaikan nya, kita bisa kembali ke akademi dan bertemu dengan yang lain. Aku juga sangat merindukan mereka." Oscar juga ikut mengutarakan isi hatinya disana.


Sementara Meliyana terdenger menghela nafas panjang diantara mereka, " Haahh... Sekarang aku mengingatnya. Kita semua melewatkan upacara kedewasaan bersama-sama." ucapnya.


" Kita semua melewatkan upacara kedewasaan karena banyak hal yang terjadi dan harus langsung melakukan perjalanan. Aku juga jadi tidak bisa melihat Kai dalam waktu lama." gerutunya lagi.


" A..haha.. Itu yang kau pikirkan??" tanya Oscar agak canggung.


Yang lainnya juga sama, mereka tidak menyangka kalau itulah yang dipikirkan oleh Meliyana selama ini. Sementara Yukio dan yang lain hanya tertawa melihat tingkahnya.


Tapi jika Oscar dan yang lainnya pikirkan lagi, apa yang Meliyana katakan itu ada benarnya. Jika mereka menggabungkan waktu setelah mereka menjadi murid tahun kedua diakademi selama setengah tahun, dan perjalanan ini bisa dikatakan mereka sudah menghabiskan waktu selama dua tahun.


Maka kalau begitu, tahun ini Oscar dan Arkan berusia 21. Quennevia, Meliyana, Niu dan Yuki ada diusia 20 tahun, dan Ethan jadi yang paling tua diusia 22 tahun.


Mereka semua sudah ada diusia dewasa sejak lama.


" Kita bisa meminta pihak akademi membuat pesta kedewasaan untuk kita setelah kembali." ucap Niu yang memberikan idenya setelah memikirkan semua itu.


" Hoo~." dan yang lainnya setuju dengan pemikiran itu.


Dan tak lama kemudian, Ethan pun muncul. Ia terbang menghempiri mereka dan mendarat disana, dia datang sendirian.


" Jadi... hanya aku yang terlambat sepertinya." ucapnya ketika sampai disana.


" Benar! Hanya kau yang terlambat." sahut Arkan menimpalinya.


Sementara yang lain hanya tersenyum dengan hal itu, Ethan mengerti dengan maksud mereka. Ini waktunya untuk mendapatkan hasil dari usaha mereka.


" Ayo, kita harus membangunkan Quennevia." ucap Ethan yang kemudian diangguki oleh yang lainnya dengan penuh semangat.


" Aku ingin ikut!."


Ethan dan teman-teman nya mengalihkan perhatian mereka ketika mendengar itu, sakuralah yang mengatakannya. Dan tentu saja itu cukup mengejutkan, bahkan untuk Yukio, Mamika dan Lucy.


" Sakura..."


Sakura memiliki ekspresi sedih diwajahnya, mereka mungkin bisa menebak apa alasan nya. " Aku.. Tidak mau kembali ke rumah. Aku tidak bisa, aku tidak mau sendirian. Maksudku, selama ini... Aku tidak berpikir ada alasan mengapa aku harus menderita demi bertahan hidup ditempat ini. Kota ini tidak membutuhkanku lagi, para petugas lebih baik dari pada diriku. Jadi, kupikir aku mungkin bisa sedikit lebih berguna ditempat yang membutuhkanku daripada disini." ucapnya.


Sakura tidak pernah melakukan hal besar selama ini, dia hanya menjadi pengawas. Karena merasa tidak dibutuhkan, ia agak kesepian. Disamping itu, dia tidak mau berpisah dengan Quennevia dan Ethan lagi, karena itu dia ingin bertindak egois...


Meski sebenarnya dia takut akan ditolak.


Saat kemudian, Ethan yang sebelumnya hanya diam saja setelah mendengar ucapnya kembali tersenyum. Dia menatap Sakura dengan tatapan yang hangat dan mengulurkan tangannya kepada gadis itu.


" Tentu saja. Sejak kau mendapatkan kekuatan itu, sejak kau menjadi bagian dari hal yang tidak seharusnya ada disini... Kau harus ikut dengan kami pergi ke dunia yang lain." ucap Ethan.


" Hah.." membuat Sakura mengangkat kepalanya sedikit terkejut disaat yang sama air mata bahagia keluar dari matanya.


Ia dapat melihat Ethan dan teman-teman nya memandangnya dengan senyuman yang tulus dan menerima seluruh keberadaan nya. Mereka mengajak Sakura untuk pergi bersama.


Sakura pun kembali menoleh kebelakang untuk sesaat, menatap teman-teman lamanya. Dan mereka juga miliki ekspresi yang sama dengan mereka.


" Pergilah. "


" Jangan khawatir soal tempat ini, kami akan menjaganya dengan baik."


" Hiduplah dengan baik disana, ya."


Mereka melepaskannya dengan senyuman yang penuh dengan kebahagiaan untuknya. Jadi Sakura pun juga tersenyum kepada mereka.


" Aku akan pergi." dia senang dan juga sedih mengingat ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka.


Tapi dia menguatkan hatinya dan berjalan mendekati Ethan dan yang lainnya, Sakura menerima uluran tangannya, dan Ethan menggenggam tangannya dengan erat.


Sudah tiba saatnya bagi mereka untuk pergi.


Eclipse merentangkan kedua tangannya ditengah-tengah mereka, " Bersiaplah. Aku akan membawa kalian ke samudra bintang." ucapnya, dan sihir perpindahan nya pun aktif.


Dan sebelum mereka benar-benar pergi, mereka mengucapkan salam perpisahan mereka terlebih dahulu.


" Sampai jumpa. Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal karena aku bisa saja kembali ke sini nantinya. Tolong jaga dan bantu Kharainza untukku." ucap Ethan kepada teman-teman nya disana.


Yukio yang mendengar nya pun menganggukan kepalanya, " Iya, aku akan membantunya sesuai keinginanmu, sebanyak yang aku bisa."


" Selamat tinggal semuanya."


" Senang bisa mengenal kalian didunia ini."


" Aku tidak akan pernah melupakan kalian."


Oscar dan yang lainnya pun melambaikan tangannya kepada mereka, yang tentu juga dibalas dengan baik. Ketika itu, Ethan dan yang lainnya perlahan mulai menghilang dari hadapan mereka bertiga.


Dan Lucy yang ada diantara mereka menundukkan kepalanya berusaha menahan tangis, ia menggigit bibirnya dengan keras dan meremas pakaian yang ia kenakan. Ia sedikit tidak rela karena ini akan jadi perpisahan terakhir.


Saat kemudian Mamika menyentuh pundaknya dan berkata, " Kalau sulit untuk mengatakan selamat tinggal, setidaknya tersenyumlah. Kita lepas mereka dengan senyuman terbaik kita, jangan biarkan mereka terus merasa khawatir kepada kita." ucapnya sambil tersenyum dengan lembut.


Lucy yang mendengarnya sedikit terisak, ia tahu itu benar. Karena itu ia menguatkan dirinya, dan kembali tersenyum menatap kepergian Ethan dan yang lainnya bersama Mamika.


Ethan yang melihat itu pun juga jadi tersenyum semakin lebar, itu untuk memberikan semangat kepadanya. Ketika mereka sepenuhnya menghilang dari tempat itu.


Kenangan akan kota yang indah itu membanjiri ingatan Ethan dan yang lainnya, teman-teman baru yang tidak akan mereka lupakan. Setiap hal yang mereka coba, dan tempat baru yang mereka kunjungi.


Ini adalah perjalanan terbaik bagi mereka. Selamanya takkan terlupakan.