
Masih di saat yang sama, setelah perkenalan singkat itu mereka langsung duduk dan menonton bersama pertandingan antara murid baru dan senior itu. Iya, mereka kecuali Niu dan juga Meliyana yang sibuk berbincang dengan Kagura.
" Wow... perempuan itu lumayan juga. " ucap Oscar.
" Lumayan apanya, kekuatan nya atau... " ucap Arkan pula dengan sengaja menggantung kata-katanya.
" Jangan cari masalah deh. " sahut Oscar dengan wajah datar, sementara Arkan hanya cengengesan saja.
Pertarungan itu sudah berlangsung cukup lama di antara para murid baru itu, mengejutkan mereka bisa bertahan lama dari para senior mereka. Seperti nya para murid itu memiliki kualitas yang sangat baik, sampai saat seorang murid wanita yang menduduki peringkat satu di antara murid baru.
Brukk...
" Pemenang nya, Raya dari kelompok murid baru!. " ucap sang wasit yang mengawasi pertandingan nya.
Orang-orang terkagum-kagum melihat nya, perempuan bernama Raya itu tidak pernah kalah sejak pertandingan di mulai. Itu membuktikan bahwa dirinya yang paling kuat diantara mereka, namun... sikap sombong nya itu seperti merendahkan para murid lain yang ada di sini.
" Huh, apa hanya ini saja kemampuan yang dimiliki oleh murid Akademi ini??. " ucapnya sambil tersenyum sinis.
" Kupikir akan ada yang lebih kuat, tapi ternyata membosankan. Ayo kamari, apa ada yang ingin menjadi lawanku??. " tantangnya pula dengan angkuh.
Para murid yang lain mulai membicarakan sifat sombong nya itu, dan beberapa marasa geram dengan nya. Namun karena kesenjangan kekuatan diantara mereka tidak ada yang berani maju, karena Raya masih menyembunyikan kekuatan nya yang sesungguhnya.
Disisi lain Quennevia dan yang lain, " Cih, dia sombong sekali. Ethan kau lawan dia-.. " ucap Arkan yang menggantung.
" Hahahha... begitu kah??. " tanya Ethan kepada Kagura.
" Iya, kakak selalu menceritakan tentang kak Ethan. " sahut Kagura.
Ethan malah tengah sibuk dengan obrolan nya bersama Kagura, " Um.... Ada yang ingin melawan perempuan angkuh itu??. " tanya Niu pula ikut bicara.
" Selama kalian berpikir itu, seseorang sudah masuk ke arena. " ucap Yuki datar.
Membuat mereka yang mendengar nya langsung memfokuskan perhatian mereka ke arena, dan sesaat kemudian mereka terperangah melihat siapa yang masuk ke sana. Bukan hanya mereka saja, tapi juga seluruh siswa senior yang mengenal Quennevia dengan baik.
Murid di peringkat 2 terkuat diantara murid senior, Quennevia turun tingkat saat bertarung melawan Ethan ketika ujian beberapa minggu yang lalu, saat Ethan menggabungkan kekuatan yang biasa ia gunakan dengan kekuatan iblisnya.
Semua orang langsung bersorak menyemangati Quennevia yang tengah berjalan masuk ke dalam arena itu, dia murid yang tidak mungkin bisa dikalahkan oleh siapapun bagi mereka. Apalagi saat mereka melihat kekuatan nya beberapa waktu lalu, begitu pula dengan teman-temannya yang lainnya.
Bagi mereka peningkatan kekuatan mereka itu tidaklah normal, sehingga memberi mereka julukan Bintang Akademi. Iya karena ketenaran mereka itu terus bersinar seperti bintang, apalagi Ethan dan Quennevia yang merupakan anggota paling kuat mereka.
" Karena aku menginginkan nya, kuberi kau kesempatan untuk melawan ku. " ucap Quennevia kepada Raya ketika ia sudah sampai di tengah arena.
Sementara Raya menatap Quennevia remeh, " Hmph.... Apa kau pikir kau sehebat itu apa??. " ucapnya angkuh.
Disisi lain Quennevia juga menyunggingkan seringai nya, " Huh, jika kau ingin bergabung dengan kami, kau harus membuang kebiasaan buruk mu itu. Jika kau ingin menghina ku, sebaliknya kau berpikir ulang atau bersiaplah mati. Dan jika kau pikir bisa mengalahkan ku, kau pasti bercanda. " ucapnya.
Raya pun menggeram marah mendengar nya, " Rasakan ini!!. " pekiknya yang langsung melayangkan serangan kepada Quennevia dengan kekuatan besar.
Namun Quennevia dapat menahan serangan itu
dengan sangat mudah nya, bahkan ia belum mengeluarkan pedang dari sarungnya. Hal itu tentu saja membuat Raya terkejut, padahal dia menyerang dengan kekuatan besar tapi tidak berdampak apa-apa kepada Quennevia.
" Woo... Quennevia, semangat!. " teriak Meliyana yang memimpin pemandu sorak lainnya dari kursi penonton sana. " SE-MA-NG-AT, QUENNEVIA SEMANGAT!!." teriaknya pula bersama para pendukung yang lain.
Semantara teman-temannya yang lain menatap kearahnya datar, apalagi dengan banyak mata yang tertuju kepada mereka itu.
" Dia tidak waras ya_- " ucap Oscar.
" Mungkin lebih ke terlalu berlebihan_- " sahut Ryohan.
" Haruskah ku pukul dia?? _- " tanya Yuki.
" Iya, tolong ya_- " jawab Arkan.
Sementara Ethan hanya terkekeh melihat tingkah mereka itu, disaat yang sama pula Kagura menatap Quennevia dengan mata yang terkagum-kagum.
" Woww... " ucapnya.
Disisi lain Quennevia terus mendapat kan serangan-serangan dari Raya, yang mana sama sekali tidak ada satupun serangan itu yang mengenainya. Raya sendiri semakin marah karena Quennevia bisa menahan semua serangan itu dan terkesan bermain-main dengan nya.
Quennevia terlihat santai-santai saja di sana, tidak membalas serangan itu sama sekali dan juga tidak menerima serangan yang dilancarkan Raya, sampai Raya dibuat kelelahan karenanya.
" Ada apa, bukankah kau yang menginginkan pertarungan dengan ku?? Apa sekarang kau masih bisa memandang remeh Akademi ini??. " tanya Quennevia.
" Hah.. Hah... Tidak adil, kau sama sekali tidak mencoba melawan ku sekali pun. Jika kau berani coba teriak pedang yang ada di tanganmu itu!!. " ucap Raya dengan sangat marah.
Sementara itu Teman-teman Quennevia, " O-Ow, gawat nih. " ucap mereka, sementara para siswa yang lainnya tidak tahu apa-apa soal pedang itu.
" Maksudmu pedang matahari dan bulan milikku?? Kau yakin kau bisa menahan kekuatan nya??. " tanya Quennevia pula.
" Hah, bilang saja kau tidak berani. Jangan menakut-nakuti orang lain dengan bualan mu itu!!. " tantang Raya.
Quennevia menyipitkan matanya mendengar itu, disaat yang sama teman-temannya sudah membuat pelindung sihir di sekitar mereka, bahkan membuat Kagura yang ada bersama mereka sampai bertanya-tanya.
Lalu kemudian Quennevia pun tersenyum, " Baiklah, jika itu yang kau inginkan. " ucap nya dengan senyum mengerikan itu.
Tak....
Ia pun memegang handle pedang itu, dan Quennevia pun mulai menariknya keluar dari sarung pedangnya. Belum juga pedang itu benar-benar keluar, aura yang sangat kuat dan menekan langsung terasa di tempat itu. Dan ketika pedang itu sudah keluar, tiba-tiba saja ada angin kencang dan tekanan yang lebih besar lagi dari arena.
" Kyaaa....!!. "
Para murid sempat panik karena hal itu, dan mereka juga mencoba untuk bertahan di tempat masing-masing. Bagitu pula dengan teman-temannya Quennevia, mereka bertahan dari tekanan pedang itu sekuat yang mereka bisa, sambil Niu pula yang memeluk Kagura.
" Ughhh... Apa dia sudah gila dengan melepaskan tekanan seperti ini??. " ucap Arkan.
" Seperti nya, Quennevia berencana untuk menjatuhkan kepercayaan diri lawannya. " ucap Ethan pula menimpali.
" Iya, kan tidak perlu sampai.seperti ini juga. " sahut Yuki.
Tekanan itu sangat kuat hingga terasa sampai keluar Arena, apalagi dengan Raya yang mungkin saat ini merasakan lebih. Mengingat ia sekarang berada tepat di depan benda yang mengeluarkan tekanan besar itu, ia gemetar ketakutan dan saking ketakutan nya ia sampai jatuh terduduk di tempatnya.
Klakk......
" Huh.. E-Eh??... " ucapnya dengan kebingungan ketika ia mendongakkan kepalanya, ujung pedang Quennevia itu sudah ada di depan wajahnya. Sementara tekanan nya sudah hilang seperti sebuah angin yang lewat.
" Kau kalah. " ucap Quennevia kepada Raya.
" Pe.. Pemenangnya... Quennevia, dari kelompok murid senior!. " ucap sang juri pula.
" Wooohh....!!. " teriakan kagum pun kembali bergema di tempat itu.
Sementara Quennevia tidak terlalu mempedulikan mereka, ia memasukkan kembali pedang nya ke dalam sarungnya itu, setelah itu berulah ia keluar dari arena itu.
Sebelumnya ia juga memberikan isyarat kepada teman-temannya untuk pergi dari sana, akan lebih baik jika mereka ada di tempat lain saja. Lagipula pertandingan itu sudah akan selesai, jadi tidak perlu lagi ada yang mereka lihat.