
" Memangnya ada bukti akan hal itu??. " ucap raja Arhad, tersenyum sinis kepada Quennevia. " Selama ini tidak ada tanda-tanda jika ada spirit berusia jutaan tahun di daratan ini, apa anda mencoba memanfaatkan hutan itu sendirian??. " lanjut nya.
Quennevia menatapnya dengan serius, tapi masih tetap diam.
" Arhad, jangan seperti itu padanya. Info apapun yang kita dapat harus menjadi keamanan bagi kita semua. " ucap raja Kerajaan Bintang, Karai.
" Memangnya kenapa?? Aku hanya bertanya saja, jangan menganggapnya terlalu serius begitu Karai. " ucap Raja Arhad pula.
Seperti nya masalah baru saja terjadi, Quennevia merasa sangat kesal dengan caranya menatapnya. Ingin sekali dia langsung memukulnya langsung saat ini juga, jika bukan karena perdamaian itu.
" Bagaimana pun juga, apa yang dikatakan putri Quennevia ada benarnya. Bahkan jika itu salah pun, hutan itu menang sangat berbahaya. Bukan kah begitu, pengeran Ethan??" ucap Uskup Agung.
" Aku sih, setuju-setuju saja. " sahut Ethan, dengan tidak peduli nya, dia hanya tersenyum menikmati semua itu.
" Uskup Agung, kita sudah lebih berpengalaman dari pada putri Quennevia. Saya bisa pastikan, kalau saya dan juga Yang mulia raja Arhad bisa menjaga tempat itu nantinya. " ucap Count Friska pula, sepertinya dia mamang sama liciknya dengan rajanya.
" Itu tidak mungkin terjadi, jika Quennevia bilang itu tidak bisa. Maka tidak akan ada yang bisa menentangnya. " sahut Lecht angkat bicara.
" Memangnya kekuasaan apa yang putri Quennevia punya, anda adalah putra mahkota nya, pengeran Lecht. Jangan bilang kekuasaan anda tidak lebih dari pada putri Quennevia yang setengah bangsawan yang memiliki darah kotor ini. " ucap Count Friska lagi.
Semua orang terkejut mendengar ucapannya itu, meski tidak semua orang tahu siapa Quennevia, tapi ucapannya itu benar-benar sangat keterlaluan. Apalagi dengan gelarnya yang hanya sebatas Count.
Tentu saja, Quennevia sendiri pun juga terkejut dengan nya yang bilang begitu. Lecht bahkan sangat marah mendengar nya, tapi dia masih menahan dirinya sendiri.
" Orang ini... Sepertinya dia biasa menyindir dan menghina orang lain tanpa alasan, tapi.. berani sekali dia menghinaku secara langsung seperti ini!!. " batin Quennevia kesal, tapi dia masih memasang wajah datarnya.
" Setengah bangsawan?? Darah kotor?? Bisa kau jelaskan maksud mu, Count??. " tanya Quennevia dengan tenang, meski jika ada yang memperhatikan dengan teliti wajahnya sangat suram+marah.
Namun yang peka terhadap nya hanya Ethan, Meliyana dan ayahnya, setra Lecht yang duduk di sampingnya.
" Hng.. Iya, seperti yang kukatakan. Meski pun anda mendapatkan darah kotor dari ibu mu, yang sama sekali tidak jelas asal usulnya. Mungkin berkat setengah darah bangsawan yang mengalir ditubuh anda, makanya anda di hormati. " ucap Count Friska.
" Ucapan anda sudah keterlaluan. Apa yang membuat saya pentas mendengar perkataan seperti itu?? Kenapa saya harus dinilai dari orang tua saya??. " sahut Quennevia pula.
" Sudah jelaskan, karena anak mirip dengan orang tuanya. Putri Quennevia, betapa pun anda menyangkal hal itu, itu adalah kebenarannya. Ibu anda tidak memiliki identitas yang jelas dimana pun, dia juga hanya seorang wanita biasa. " ucap Count Friska pula.
Quennevia terdiam mendengar itu, benar ibunya tidak punya identitas dimana pun. Tapi bukan berarti dia tidak punya identitas hebat jika diberitahukan kepada mereka, karena identitas nya yang sebenarnya ada di hutan York, hutan yang mereka bicarakan itu.
" Count Friska, kau sungguh keterlaluan. Seharusnya kau tidak mengatakan itu kepada putri Quennevia. " ucap raja Ludwing yang merasa tidak senang mendengarkan nya.
" Beraninya kau bicara seperti itu pada adikku!. " geram Lecht marah.
" Raja Ludwing, pangeran Lecht. Aku tidak mengatakan hal yang salah, itu adalah kenyataan tentang putri Quennevia. Bahkan kudengar dia membunuh para pengikut Mentri hanya karena kesalahan pahaman kecil. " ucap Count Friska pula sambil tersenyum licik.
Dia bisa menyudutkan Quennevia seperti itu, benar-benar sangat membuatnya semakin angkuh. Bahkan raja Arhad pun juga tersenyum senang melihat nya, sepertinya dia pikir Quennevia terpuruk karena mendengar itu.
" Pada akhirnya anaknya tidak berguna, dan ibunya hanya seorang wanita murahan. " gumam Count Friska dengan sangat pelan, hingga tidak ada yang mendengar nya.
Tapi Quennevia bisa mendengar itu, pendengaran nya jauh lebih tajam dari pada orang-orang yang ada di sana. Dan mendengar itu membuat amarah yang sudah ada di ambang batas itu, langsung memuncak.
" Beraninya.. Kau!!. ' batin Quennevia dengan sangat marah. " ..... Rupanya kau bangsawan rendahan yang bahkan tidak lebih baik dari pada sampah. " ucap Quennevia dingin.
Semua yang ada di sana sangat terkejut mendengar dan merasakan aura Quennevia saat ini, apalagi melihat nya menatap dengan tajam dan penuh amarah.
" Aura membunuh yang sangat kuat...! " batin ratu Kerajaan timur laut, Seara.
" Apa ini?? Kulitku seperti ditusuk-tusuk. " batin Meliyana.
" Kenapa aku jadi merinding??. " batin pengeran mahkota kerajaan Aquila, Gaal.
Iya, tidak bisa dipungkiri jika aura membunuh Quennevia itu sangat kuat, bahkan para raja pun juga sangat terkejut dengan nya. Mereka tidak percaya anak perempuan berumur 11 tahun bisa memiliki aura membunuh seperti itu, apalagi tatapan nya itu seperti sudah terbiasa dengan semua ini.
Count Friska juga jadi terkejut hingga gemetar dengan hal itu, tapi dia masih mencoba untuk melawan rasa takutnya itu.
" Hanya karena gosip seperti itu kau berani menghina ku?? Memangnya ibuku bagaimana?? Jangan bawa-bawa orang lain ke dalam urusan ku." ucap Quennevia dengan dingin.
" A.. Apa maksud mu?? " tanya Count Friska panik.
" Rupanya bukan hanya tidak tahu diri, kau juga sangat bodoh. " ucap Quennevia lagi.
" Pu.. Putri Quennevia!! A.. Apa kau sedang menghina ku sekarang?!. " ucapnya dengan marah pula.
Sepertinya Count itu benar-benar sangat bodoh seperti yang Quennevia katakan, bahkan mungkin lebih parah. Dia sama sekali tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan dan dengan siapa dia berhadapan.
Brakkk.....
Quennevia menggebrak meja di depannya dan membuat semua orang kembali terkejut, dia berdiri dari duduknya sambil menatap orang (Count Friska) yang berdiri di tangah-tengah mereka itu semakin tajam.
" Yang bicara seenaknya kan kau. Hanya karena lawanmu diam, kau pikir boleh bicara semaumu?. Tutup rapat-rapat mulutmu yang kotor itu!!. " bentak Quennevia semakin dingin, dan aura membunuh nya semakin kuat, hingga membuat Count Friska kembali tersentak.
" Seandainya aku memang melakukan kejahatan, lalu apa hubungan nya dengan mu?? Seorang bangsawan rendahan seperti mu dengan lancang meremehkan keluarga Kekaisaran Chrysos, besar sekali nyali mu. Apapun latar belakang ku, tapi aku juga masih terdaftar sebagai putri keluarga Kekaisaran Chrysos dan keponakan kaisar. Kalau kau bicara sembarangan tanpa bukti, kau bisa di eksekusi atas tuduhan menghina keluarga Kekaisaran. " ucap Quennevia panjang lebar masih menatap orang itu dengan tajam.
" Aku bisa memaafkan mu demi menjaga hubungan baik yang sudah dijalin antara Chrysos dan kerajaanmu selama ini. Tapi secara pribadi aku tidak akan memaafkan penghinaan yang ku kudapat hari ini dan ini tidak ada hubungan nya dengan Kekaisaran atau kerajaan mu, kau harus bertanggung jawab atas ucapanmu. " ucapnya lagi.
Keadaan di tempat itu benar-benar hening hanya karena Quennevia yang marah, setidaknya dia tidak langsung membunuh orang yang ada di hadapan nya itu. Tapi tetap saja memunculkan kengerian bagi yang lain, dan membuat mereka membayangkan bagaimana jika mereka yang membuatnya marah seperti itu.
" Ta.. Tanggung jawab... Apa maksud mu??. " tanya Count Friska pula dengan sangat ketakutan.
" BERLUTUT!!... Berlutut sekarang juga, tundukkan kepala mu dan minta maaf lah. Kalau kau tidak mau, maka hukuman satu-satunya adalah eksekusi. Tidak peduli orang Negeri mana dirimu, hukum tetaplah hukum. Menghina ku sama seperti mendeklarasikan perang terhadap Kekaisaran Chrysos. " ucap Quennevia sambil menyeringai dengan sangat menakutkan kepada Count Friska.
" Jangan bercanda!! Gadis angkuh kau sangat keterlaluan!!. " ucap raja Arhad dgn marah.
" RAJA ARHAD!!. " bentak Lecht mendengar hal itu, ia benar-benar sangat marah sekarang ini. " Semua ini karena kesalahan bawahan mu!! Jika dia tidak melewati batasnya Quennevia juga tidak akan meminta keadilan terhadap nya seperti ini!!. " ucapnya dengan tangan yang mengenal kuat.
Raja Arhad tidak terima kalah dalam perdebatan itu, padahal dia sudah lihat sendiri bahwa Quennevia yg mendominasi perdebatan itu. Disisi lain Lecht juga tidak terima jika kerajaan Aquila tidak mau mengakui kesalahan yang sudah mereka buat. Padahal bawahnya sudah terbukti salah, tapi dia masih tetap saja bersikukuh terhadap keputusan nya. Disisi lain Quennevia hanya menatapnya dingn.
" Raja Arhad, semuanya sudah jelas. Bawahan mu lah yang salah. " ucap uskup agung angkat bicara.
" Itu benar, kau tidak bisa seenaknya seperti itu. Semuanya sudah diputuskan, kita akan mengikuti ucapan putri Quennevia. " ucap raja Ludwing pula.
" Meski begitu, biarkan aku memberi pelajaran gadis sombong itu!!. " ucap raja Arhad pula
Ia memerintah anak buahnya yang lain mengeluarkan hewan spirit mereka, untuk menyerang Quennevia. Sepertinya ada sepuluh atau mungkin lebih, dan hewan-hewan spirit itu sudah bisa berubah menjadi setengah manusia.
" Pangeran, apa anda tidak ingin membantu putri Quennevia??. " tanya Ning kepada Ethan.
" Jika aku campur tangan dia akan semakin marah, lagi pula.... Memang orang-orang itu yang cari mati. " sahut Ethan yang tidak peduli dengan nasib orang lain.
Para hewan spirit itupun maju untuk melarang Quennevia hingga ia harus berpindah posisi setelah sebelum nya mendorong Lecht agar tidak terkena serangan. Namun Quennevia hanya tersenyum melihat itu semua.
Lalu Yue, dalam wujud manusia nya pun muncul dari belakang Quennevia, dan menghempaskan semua hewan spirit itu. Dan dia pun juga terlihat sangat marah.
" Jika kalian berani menyentuh Master, akan kuambil nyawa kalian semua sekarang juga!!. " ucap Yue dengan dingin.
Semua orang terkejut melihat Yue ada di sana, bagi mereka keberadaan hewan spirit suci adalah hal yang langka. Tapi Yue berdiri di depan mereka sekarang, bahkan raja Arhad pun terkejut melihat nya.
" Tidak mungkin... Dia memiliki hewan spirit suci!. " ucap raja Arhad yang tidak percaya.
" Hahah.. gadis itu benar-benar penuh dengan kejutan. " ucap raja Karai.
" Iya, dia benar-benar penuh dengan misteri. " sahut raja Ludwing.
Raja Arhad semakin marah dengan hal itu, dia tidak menyangka kalau Quennevia punya roh suci. Tapi dia berpikir kalau jumlah hewan spiritnya jauh lebih unggul, jadi dia pasti bisa melawannya.
" Apa yang kalian lakukan?!! serang dia!!. " teriak raja Arhad pula.
" Berhenti!!. " teriak Lecht menengahi.
" Ba.. Baik yang mulia. " tapi para para bawahnya raja Arhad hanya mengikuti pemimpin mereka.
Mereka mulai mengarahkan hewan spirit mereka untuk menyerang, meski para hewan spirit itu sudah gemeteran karena kemunculan Yue. Tapi belum juga mereka melangkah, Quennevia lebih dulu menujukan kekuatan dominasi nya kepada para hewan spirit itu.
Dan sudah pasti mereka bisa mengenali kekuatan yang ditunjukkan oleh Quennevia, kekuatan milik ratu mereka. Dan itu membuat mereka semakin ketakutan.
" Berani nya kalian menunjukkan taring kalian padaku!! BERLUTUT!. " ucap Quennevia penuh dengan intimidasi.
Para hewan spirit itu pun langsung berlutut di depannya, mereka sangat ketakutan karena membuat Quennevia marah.
Sementara yang lainnya pun bingung dengan apa yang terjadi, Quennevia bisa menjinakkan mereka hanya dengan bicara beberapa kata seperti itu?? Bagaimana bisa??. Ethan dan Ning pun juga jadi semakin penasaran dengan siapa Quennevia sebenarnya.
" Kalian sangat ingin tahu siapa ibu ku dan kenapa hutan itu milikku kan?? Juga bagaimana aku bisa tahu ada hewan spirit berusia jutaan tahun di sana?? Dan kenapa para spirit itu tunduk padaku?? Baiklah akan ku beritahu. " ucap Quennevia membuat mereka penasaran.
" Ibuku...Misika Yurina, adalah peri pelindung hutan York, Ratu dari para hewan spirit, sang panguasa hutan. Dan aku adalah eksistensi yang paling mulia diantara kalian semua, aku memiliki darah keluarga kekaisaran Chrysos dan penguasa hutan York, disaat yang sama aku juga adalah keturunan dewa dan anak yang disayangi olehnya. Karena ketiadaan ibuku di posisinya maka sekarang aku lah penguasa hutan itu, dan hutan itu adalah milikku dan penghuni nya. " ucap Quennevia dgn jelas dan lantang. Untung ia sudah pernah mendengar hal itu dari Everon, jadi ia bisa jadikan itu sebagai alasan.