
Di malam yang sama, kediaman para selir. Saat ini selir kedua dan selir pertama sedang saling bertemu satu sama lain, di malam yang sudah larut itu keduanya nampak bertengkar akan suatu hal.
" Apa yang sebenarnya kau pikirkan?!! Kenapa kau malah membunuh Hudson?! " ucap selir kedua dengan marah.
" Memangnya kenapa?? Aku hanya ingin mempermudah jalan bagi Jason saja, lagipula kita akan diuntungkan akan hal itu bukan?. " sahut selir pertama.
" Benar, tapi.... " ucap selir kedua lagi menggantung, entah kenapa dia merasakan firasat yang buruk, karena itulah dia benar-benar gelisah.
Sementara itu, Anna yang melihatnya hanya menghela nafas. " Sudahlah, tidak akan ada yang menyadari hal itu. Tidak ada saksi juga tidak ada bukti, Quennevia tidak akan pernah tahu yang sebenarnya, begitu pula dengan yang lain. " ucap selir pertama pula dengan sangat percaya diri.
Dia tidak tahu saja kalau selama ini, pelayan (Linda) yang paling ia percayai adalah mata-mata yang di kirim Quennevia. Sejak malam itu Linda tidak pernah berani membantah Quennevia, dia masih menyayangi nyawanya dari pada harus terlibat dalam rencana para selir itu.
Selama ini Linda berkerja dengan sangat baik hingga tidak membuat selir pertama curiga, bahkan dia selalu mendengar semua rencana buruknya, sehingga Quennevia sendiri bisa mempersiapkan pembalasan yang lebih lagi. Hanya saja saat kematian Hudson itu, dilakukan oleh nya sendiri jadi ia tidak bisa menebak nya.
Masalah ini pun akan ia sampaikan kepada Quennevia, karena sebelumnya Quennevia tidak ada di tempatnya dia jadi tidak bisa memberitahu nya.
" Tapi bagaimana dengan Kaisar?! Dia pasti akan menyelidiki kasus kematian adiknya. " ucap selir kedua lagi.
" Jangan khawatir bibi Elise, kita akan menyingkirkan semua bukti yang ada. Saat ini baginda Kaisar berada dalam suasana yang sangat berduka, dia pasti tidak akan menyadari nya. " ucap Adele yang ada di sana juga.
" Bagaimana menurutmu Arissa??. " tanya selir kedua pula pada putrinya.
Arissa yang sedaritadi sedang melamun pun terkejut, dia tidak terlalu mendengar kan apa yang mereka ucapkan.
" Mm.. Menurutku... Itu.. Terserah ibu saja. " ucap Arissa dengan agak ragu.
Sebenarnya Arissa sangat ragu dengan rencana keduanya ini, dia sudah jadi sangat dekat dengan Quennevia beberapa waktu ini, hingga ia tidak mau menyakiti nya. Dan juga... Hudson adalah sosok ayah yang baik dan adil, Arissa tidak pernah merasakan permusuhan apapun kepada-nya, dan tentu saja dia sedih karena kematiannya itu. Dia sempat berpikir apa dia harus memberitahu kebenarannya atau tidak kepada yang lainnya.
" Sudah jelas bukan, kau hanya perlu percaya saja pada rencana ku. " ucap selir pertama.
" Baiklah, hanya kali ini saja. " jawab selir kedua.
Saat mereka sudah sepakat dengan rencana itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba membuka pintu.
Brakk....
" Jadi kalian yang merencanakan hal ini!. " ucap orang itu dengan marah, yang tidak lain tidak bukan adalah Jason.
" Jason, apa yang kau lakukan di sini??. " tanya selir pertama pula dengan terkejut.
" Kenapa kalian melakukan hal keji itu? Memangnya untuk apa semua kejahatan yang sudah kalian lakukan ini?!. " bentak Jason benar-benar marah kepada mereka yang ada disana.
" Ini semua untuk kakak, kami melakukan nya untuk mu. Jadi jangan salahkan ibu atau siapapun di sini, salahkan Quennevia dan yang tidak beruntung!. Lagipula, memangnya kakak tidak pernah merasa tidak adil apa?? Ayah hanya menyayangi Quennevia seorang, padahal kita juga anak nya. Bukankah itu sangat tidak adil?! " ucap Adele pula ikut meninggikan suaranya.
" Kalian gila, jika baginda Kaisar tahu kalian semua akan dijatuhi hukuman mati, karena melakukan pembunuhan kepala keluarga Kaisar!. " ucap Jason.
Ia tidak pernah mempermasalahkan perlakuan ayahnya kepada, karena ia tau seperti apa Quennevia meskipun ia tidak pernah terlalu memperhatikan nya selama ini. Dan hanya ayah meraka saja yang Quennevia miliki, sementara dia, Arissa dan Adele masih memiliki ibu mereka. Bukan berarti Hudson tidak mempedulikan meraka juga.
Dan saat ini ia benar-benar sangat khawatir kepada mereka, tapi disaat yang bersamaan juga sangat marah, mereka sudah melakukan hal-hal yang sungguh keterlaluan. Padahal sudah dari dulu ia bilang tidak ingin menjadi pewaris kedudukan ayahnya, tapi ibu nya masih saja begitu serakah.
" Lagipula Quennevia juga masih ada, tidak akan ada yang mendapatkan posisi pewaris kecuali dirinya atau pun keputusan darinya. " ucap Jason pula.
" Kaisar tidak akan tahu. " ucap Selir pertama. " Tidak akan ada yang tahu kebenaran ini, Quennevia juga akan segera tiada. Dan jika kau masih menganggapku ibumu sebaiknya kau merahasiakan ini, mulai sekarang dan seterusnya ibu akan mengawasi mu!. " lanjutnya.
Jason tidak percaya ibunya bisa mengatakan hal seperti itu, dia benar-benar sudah tidak bisa lagi memahami ibunya, dia tidak bisa dibawa kembali. " Terserah ibu saja. " ucap Jason yang kemudian langsung pergi dari sana.
Di perjalanan nya kembali ke tempatnya itu ia terus memikirkan kebenaran itu, dia tahu ibunya sudah berbuat salah, tapi apakah dia sanggup melihat ibunya dihukum? Tidak, itu adalah jalan terbaik, mungkin dia bisa meminta Kaisar atau Quennevia tidak menghukum mereka mati. Mungkin cukup jika mengurung atau mengusir mereka, dia harus memberitahu Quennevia kebenaran nya.
*****
Esok paginya.
Di taman, Arissa yang masih berwajah muram setelah kejadian semalam, sedang menemani Adele di sana. Mereka hanya sekedar berjalan-jalan saja, tapi Adele benar-benar berpikir kalau semua rencana ibunya akan berhasil, dan terus menyombongkan hal itu.
" Hai, Arissa. Setelah ini, ayo jadi saudara yang sesungguhnya. Karena sebentar lagi kediaman ini akan menjadi milik kak Jason. " ucap Adele kepadanya dengan sangat pasti, seolah dia telah benar-benar menang.
" Apa kakak yakin kalau rencana ini akan berhasil??. " tanya Arissa kemudian.
" Tentu saja, tidak mungkin rencana yang sudah disusun sedemikian rupa ini akan gagal. Kau tenang saja tidak akan ada yang tahu. " sahut Adele.
" Lalu... Bagaimana dengan kasus ayah, Kaisar pasti akan tetap mengirim orang untuk menyelidiki nya bukan?? " ucap Arissa lagi.
" Ya ampun, sudahlah. Tidak akan ada yang tahu, kita sudah membuang semua bukti yang ada, tidak akan ada yang tahu. Lagipula, sebelum kita membunuh Quennevia. Kita hanya harus memfitnah nya, kita bilang saja ia menggunakan hewan peliharaan nya untuk datang ke kediaman dan memberikan racun kepada Hudson ketika dirinya ada di tempat pertemuan antar raja. " sahut Adele pula, Arissa benar-benar sangat tidak suka dengan hal itu, apalagi dia yang menyebut nama ayah mereka dengan tidak sopan seperti itu.
Setelah mengucapkan hal itu, perhatian Adele tiba-tiba teralihkan kepada seseorang yang berjalan di sekitar taman itu. Ethan, dia sedang melihat-lihat tempat itu sendirian, tapi dia tidak memperhatikan kedua orang itu yang ada di sana.
" Astaga, tampan sekali. " gumam Adele dengan wajah merona, ia pun tanpa sadar berjalan mendekati Ethan.
Arissa yang melihat itu merasa aneh dengan Adele, tapi dia tidak mengatakan apapun dan hanya mengikuti nya.
" Anu... Anda siapa??. " tanya Adele saat ia sudah berada dekat dengan Ethan.
Ethan tersenyum kepada nya, membuatnya semakin Merona. " Halo, namaku Ethan. Aku adalah tamu putri Quennevia, anda pasti kakak dan adik beliau, bukan? " sahut Ethan.
" Be... Benar. " jawab Adele pula, seperti nya ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Ethan. " Dari mana kau berasal?? " tanyanya pula.
" Ah, aku berasal dari Kekaisaran Foldes. " ucap Ethan menimpali nya.
Ethan sendiri merasa kalau orang yang bicara dengan nya itu, memiliki sesuatu yang mencurigakan, mungkin dia memiliki niat tersembunyi. Sedangkan yang satunya acuh tak acuh, dan dia terlihat seperti ingin segera pergi dari saja namun tidak bisa.
" Ethan, apa yang kau lakukan??. " tanya seseorang dari belakang nya, membuat dia, Adele dan juga Arissa menatap kearahnya.
Quennevia, berdiri di saja dengan wajah tanpa ekspresi nya, Arissa sempat ingin bicara tapi ia urungkan hal itu.
" Ah, kau sangat lama. Jadi aku berjalan-jalan sebentar. " ucap Ethan menjawab apa yang Quennevia tanyakan.
Namun Quennevia yang mendengar itu justru mengkerutkan alisnya, " Aku? Lama? Justru kau yang menghilang entah kemana, apa kau tahu kalau aku mencarimu sedari tadi, aku bahkan mulai berpikir jika kau dibawa gerombolan semut untuk di bawa ke sarangnya. " ucap Quennevia.
" Haha... Jahat sekali, jika aku hilang kau tidak akan mendapatkan pria setampan aku lagi. " ucap Ethan dengan tidak tahu malunya.
Quennevia yang mendengar itu memiliki ekspresi setengah jijik diwajahnya, tidak menyangka dia akan mengatakan itu terus terang sekali. Sedangkan Adele tercengang dengan Ethan yang sekarang mengacuhkan nya.
" Sudahlah ayo pergi, kakak kedua dan juga adik sebaiknya segera pergi ke aula juga. Semua orang disuruh berkumpul di sana. " ucap Quennevia sambil berjalan hendak pergi dari sana, tapi dia berhenti sejenak dan memalingkan wajahnya kepada mereka.
" Oh, karena aku yang menyuruhnya. " ucap Quennevia sambil tersenyum sinis, kemudian benar-benar pergi dari sana bersama dengan Ethan.
Dan Adele yang ditinggalkan di sana menjadi kesal, karena Quennevia membawa Ethan bersamanya.
" Ihhh... Menyebalkan, kenapa dia malah membawa pria itu, sih!. " ucap Adele dengan kesal.
" Sudahlah kak, ayo kita pergi juga. Jika kita terlambat aku tahu akan ada hal buruk terjadi pada kita. " ucap Arissa pula.
Akhirnya Adele juga setuju dan pergi menyusul Quennevia dan Ethan yang sudah pergi lebih dulu.
*****
Di kediaman Selir pertama..
Prangg.....
" Apa kau bilang?! Quennevia menggunakan kediaman utama dan tinggal di sana?!. " pekik nya dengan suara tinggi.
" Benar, nyonya. " sahut Linda.
Selir pertama sangat marah karena Quennevia pindah ke kediaman utama, harusnya ia dan anak-anak nya yang tinggal di sana. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana Quennevia bisa melakukan hal seperti itu setelah kepergian ayah tercinta nya, biasanya dia hanya akan mengurung diri di kamarnya dan tidak pergi ke mana pun.
Linda sendiri melaporkan hal itu karena disuruh Quennevia, Quennevia ingin lihat apa yang akan di lakukan oleh para selir jika tahu ia sudah pindah disaat yang bersamaan dengan kematian ayahnya.
" Tidak bisa dibiarkan, aku akan mengajari anak kurangajar itu!. " geram selir pertama.
Saat ia hendak keluar dari sana, dayang lain dari kediaman utama yang ada di luar sana mengetuk pintu, setelah ia mendapatkan izin ia pun menyampaikan pesan kepada nya.
" Nyonya Anna, semua orang dipanggil untuk datang ke aula. Putri Quennevia bilang semua orang diwajibkan hadir, jika ada yang tidak hadir maka ia akan di usir dari kediaman ini. " ucap dayang itu dengan ekspresi tenang.
" Anak kurang ajar itu!. " ucap selir pertama pula, lalu ia pun langsung pergi ke aula seperti yang di sampaikan, diikuti Linda dan dayang yang tadi menyampaikan pesan itu.