Quennevia

Quennevia
Permata kehidupan



[Season 2]


Byurr...


Setelah ilusi didepannya kabur dan menghilang, Arkan merasakan dirinya kembali jatuh ke dalam air. Ia pun membuka matanya dan kembali melihat hal yang pernah ia lihat ketika masuk ke mata air kehidupan. Tangan yang sebelumnya ia genggam pun menghilang bersama buih air, dan seutas cahaya menyusup masuk ke dalam dadanya.


Arkan menggenggamnya dengan erat, itu terasa sangat hangat. Disaat yang sama ia merasakan kekuatannya yang mulai berlimpah. Dan untuk memastikan hal lain, ia pun berbalik dan menatap apa yang ada dibelakangnya.


Ada sebuah gelembung besar dibelakangnya, mungkin itu adalah gelembung ilusi yang menjebaknya didunia ilusi itu. Dan mengembalikannya lagi ke tempat ini...


Arkan pun tersenyum dengan lebar, " Aku benar-benar kembali..!" ucapnya dengan sangat gembira.


Saat kemudian, sesuatu yang dingin dan gelap tiba-tiba ia rasakan dibelakangnya. Itu benar-benar terasa begitu suram dan tidak nyaman. Arkan pun kembali membalikan tubuhnya, dan apa yang ia lihat disana adalah sebuah gumpalan hitam.


Ada tentakel-tentakel lain yang bergerak-gerak didasar tempat itu, makhluk yang telah menyerap energi kehidupan dari pohon kehidupan.


" Wah, Gurita sialan ini yang mengganggu pohon agung ini.."


Arkan berkata dengan kesal dan mulai bereneng mendekati benda itu, ia beberapa kali menghindari tentakel-tentakel yang berusaha menabraknya, hingga akhirnya sampai didekat nya.


Merasakan kehadirannya disana, tentakel lain pun mulai bergerak kearahnya dengan kekuatan yang cukup besar. Meski begitu Arkan berhasil menangkapnya dengan tepat.


" Kena kau."


Dari belakang nya muncul yang lain, tapi Aziel langsung muncul dan menangkap itu dengan kedua cakarnya.


" Bagus! Aziel, ayo tarik dia keatas!"


Aziel memekik sebagai tanggapan.


Dan ia pun mulai menariknya bersamaan dengan Arkan, mereka terus menarik sekuat tenaga mereka. Akhirnya, meski makhluk itu berusaha bertahan sekuat tenaga dibawah sana, dia perlahan terangkat dan akhirnya lepas dari dasar mata air itu.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Arkan pun langsung meluncur naik seperti yang sebelum nya dilakukan oleh Ethan. Sambil terus menarik makhluk itu supaya bisa diurus nya dan teman-temannya.


Namun tentu saja, gurita hitam yang entah bagaimana bisa ada disana itu tidak diam saja. Dia kembali menggerakan tentakel-tentakel nya untuk menangkap Arkan dan Aziel. Itu cukup merepotkan, jadi Arkan terpikirkan satu hal...


" Lepaskan, Aziel!." dia memberikan perintah, dan Aziel langsung melepaskannya.


Arkan pun berhenti ditempatnya, hanya setengah langkah lagi mereka akan sampai dipermukaan. Tapi akan lebih cepat jika gurita itu yang duluan pergi.


Jadi Arkan menggenggam tentakel ditangannya dengan erat, ia mengambil ancang-ancang, kemudian menggunakan dorongan angin yang dibuat oleh Aziel dan memutar tubuhnya secepat yang ia bisa.


" Bersiaplah untuk terbang, gurita!"


Ucapnya ketika ia berputar bersama gurita itu, sampai sebuah pusaran kecil pun terbentuk. Saat ia merasa itu sudah cukup, Arkan pun melepaskan gurita yang kelihatannya mulai pusing itu. Sang gurita pun terlempar ke arah permukaan dengan cepat dan tidak bisa melakukan apa-apa..


Disaat yang sama dengan itu, mereka yang sedang menunggu dipermukaan menyadari keanehan yang terjadi. Pusaran air itu tiba-tiba terbentuk ditengah mata air dihadapan mereka...


" A-Apa yang terjadi?!" Raja Elf sempat panik melihat itu.


Sebenarnya bukan hanya dia, tapi yang lainnya juga. Karena situasi yang tidak mereka ketahui itu terjadi sangat tiba-tiba...


" Arkan!! Apa kau baik-baik saja?!!" Niu sampai berteriak untuk memastikan hal tersebut, tapi tetap saja tidak ada respon. Namun...


" Dia datang." Kagura nampaknya tahu apa yang terjadi.


" Siapa yang datang?" tanya Meliyana yang berdiri disampingnya bingung.


Tapi pertanyaan nya itu langsung terjawab, ketika sebuah gurita hitam raksasa melesat keluar dari danau dan menghantam langit-langit pohon dengan cukup kuat. Mereka yang melihat itu sangat terkejut dibuatnya. Tak berapa lama, gurita itu pun kembali jatuh ke dalam air..


Syuutt.. Byurr..


" A-Apa itu..." Oscar tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat ketika melihat gurita raksasa yang mengambang tak berdaya dimata air.


Saat....


Splash...


" Halo, apa kalian menungguku??"


...Perhatian mereka kemudian teralihkan kepada Arkan yang ikut keluar dari mata air itu.


" Arkan!"


Teman-temannya yang melihatnya berjalan keluar pun segera mendekatinya dan memeriksanya.


Terutama Meliyana yang langsung membolak-balik tubuhnya, " Tidak ada yang luka, tidak ada yang patah, baguslah." ucapnya sambil menghela nafas dengan penuh rasa syukur.


Saat Niu pun berteriak mempertanyakan apa itu, " Benda apa itu?! Kenapa gurita raksasa itu ada didalam sini?!"


Arkan yang mendengarnya pun menggeruk kepalanya bingung, dia juga tidak tahu bagaimana benda lunak itu bisa sampai disini.


" Entahlah, tapi dari apa yang kulihat.. Dialah biang keladi hilangnya energi pohon kehidupan." ucapnya.


" Tapi bagaimana bisa? Pohon ini tidak mungkin bisa dimasuki begitu saja.."


Sang Raja terlihat tidak percaya kalau ada makhluk seperti itu didalam pohon kehidupan selama ini. Lebih tidak bisa dipercaya lagi dengan kenyataan bahwa dirinya tidak tahu hal itu.


" Entahlah, mungkin ada orang yang dengan sengaja meletakannya disini." asumsi Yuki itu tidak salah. Karena tidak mungkin makhluk seperti ini ada disini begitu saja.


" Yeah, apapun itu. Kita harus mengurusnya dulu sebelum-..."


Kata-kata Arkan terhenti ketika sesuatu mulai bergerak-gerak lagi dibelakangnya, gurita itu lebih dulu bangun daripada dia yang mengatakan kata-katanya.


" Astaga..." ucapnya pula yang kemudian melihat ke belakang sana.


Entah kenapa gurita itu sekarang terlihat lebih besar dibandingkan sebelumnya, atau... itu karena dia lunak dan mudah melipat tubuhnya sebelumnya..


" Bagaimana kita melawannya disini..??" ucap Oscar yang agak khawatir dengan pertarungan didalam.


Kekuatan mereka mungkin malah menghancurkan gurita itu beserta pohon kehidupan nya. Itu malah akan jadi masalah lain.


" Aku akan melemparnya!" suara Kagura terdengar dibelakang mereka.


Namun saat ia dan teman-temannya menoleh ke sana, sesuatu justru lebih dulu terlempar ke arah mata air. Dan itu langsung masuk ke dalam dengan suara pelan dan ringan, sementara yang lainnya tercengang dengan itu.


Itu karena...


" Ba-bagaimana bisa..."


" Bagaimana bisa kau melakukan itu?!!"


" Kyaakk!! Quennevia!"


...Benar, yang Kagura lemparkan kesana adalah kelinci Quennevia. Itu langsung membuat mereka panik..


" Apa yang harus kita lakukan?" Meliyana sampai terlihat seperti akan segera menangis karena itu.


" Arkan, pergi masuk lagi dan bawa Quennevia keluar!." sementara Yuki sibuk mendorong Arkan kedepan sana.


" Apa??" dan Arkan sendiri mempertanyakan hal itu.


Sementara didepan mereka pula, Niu dan Oscar justru sibuk menghalangi tentakel-tentakel itu dari menyerang mereka.


" Tunggu! Kenapa kalian malah bertengkar sendiri?!"


" Cepatlah bantu kami!"


Mereka cukup kesulitan..


" Ahaha... Hentikan, ini tidak apa-apa, dia tidak melakukan kesalahan, kok."


Saat kemudian perhatian mereka teralihkan kepada suara itu, Ethan yang sebelumnya menghilang entah kemana sekarang berdiri dengan santainya melihat apa yang sekarang terjadi dihadapannya.


Namun karena hal itulah, dia jadi ditatap kesal oleh teman-temannya yang lain...


" Dari mana saja kau dan baru kembali sekarang?!"


" Apa maksudmu tidak apa-apa disaat Quennevia tenggelam didalam dan gurita ini mengamuk!!"


" Bisakah kau berhenti tersenyum sendiri dan bantu kami sekarang?!"


" Apa kau tidak tahu betapa khawatir nya kami sekarang?!!"


" Jangan diam saja dan bereskan gurita ini!!"


Ethan langsung disembur oleh berbagai amarah dari teman-temannya disana, yah, dia sudah terbiasa. Jadi dia tetap menanggapinya dengan santai..


Sementara disisi lain, Kagura dan Raja Elf hanya diam menatapnya dengan agak canggung.


Saat gurita itu pun semakin menjadi-jadi, dia menggerakkan tentakelnya kesana kemari dengan tidak beraturan. Dia terlihat gelisah... Tidak, lebih tepatnya dia menyadari sesuatu disana. Dan dia mencarinya sekarang...


Ethan yang tahu itu pun menyipitkan matanya dan menatap sang gurita, " Ho... Kau benar-benar datang untuk ini." gumamnya.


" Apa yang sedang kau lakukan?! Cepat lakukan sesuatu!" ucap Niu kembali.


" Baik, baik. Aku akan melakukan nya." dan Ethan pun menyahutinya.


Dia mengangkat tangan kanannya yang mengepal terlihat menggenggam sesuatu, dan ketika ia membuka kepalan tangan itu. Sebuah cahaya lembut dan terasa kuat langsung dirasakan oleh mereka yang ada disana...


Hal itu membuat semua orang berhenti dan memusatkan perhatian kepadanya, bahkan gurita raksasa itu.


Saat ini, ditangan Ethan, sebuah batu berwarna hijau murni yang lembut mengambang ditelapak tangannya. Batu itulah yang memencarkan energi kehidupan murni yang sama dengan pohon kehidupan itu sendiri.


" Apa itu..." Yuki terpaku padanya.


" Green..." Sementara Meliyana menyentuh dadanya, ketika merasakan spirit alam dalam dirinya berdebar dalam kegembiraan. Ia merasakan sesuatu yang familiar.


Sementara yang lainnya tetap terdiam ditempat mereka..


" Itu.. Benda itu..." berbeda dengan Raja Elf yang terlihat tidak percaya dan haru disaat yang sama, ini mungkin jadi pertama kalinya setelah beribu tahun seorang Elf melihat kembali benda yang disembunyikan oleh pohon kehidupan didalam dirinya. " Permata... kehidupan..."


Benar, permata kehidupan. Inti paling murni dari pohon kehidupan, sumber kehidupan. Permata yang terbuat dari fragment dewa dan mengandung energi dewa. Sekarang itu ada ditangan Ethan.


Gurita raksasa itu pun mulai bergerak, dia meluncurkan tentakelnya kearah Ethan untuk merebut permata itu. Sementara Ethan yang melihat nya hanya mengulum senyuman. Dan ia kembali menggenggam permata itu dengan erat, kemudian melemparkan nya kearah gurita itu.


Sang Gurita yang melihat itu pun menggulung tentakelnya yang lain berusaha menangkap itu, namun dalam beberapa saat yang singkat dan cepat. Jalur lemparan permata itu berbelok dengan tiba-tiba, permata itu pun jatuh ke dalam mata air dengan cepat. Sementara gurita bergerak-gerak gelisah, teman-teman Ethan berjalan menghampirinya.


" Apa yang kau lakukan? Kenapa melemparnya kesana?" tanya Oscar dengan cemas.


Tapi Ethan hanya tersenyum, " Karena dia yang akan menyelesaikan nya." ucapnya menimpali.


Oscar terdiam sesaat, dan lalu ia pun sadar. Itulah alasan dia dan Kagura melemparkan mereka ke dalam kolam yang sama. Seseorang telah lebih dulu menunggu didalam sana, dan permata itu akan jatuh ke tangannya ketika masuk ke sana. Ia dan teman-teman yang lain pun segera mengalihkan perhatian kembali ke mata air.


Saat sebuah cahaya dengan rona emas dan hijau pun muncul dibawah mata air dan gurita itu. Tak lama berselang, sesuatu menyembul keluar dari dalam air.


Itu Quennevia... Dan permata kehidupan yang dilemparkan oleh Ethan ada ditangannya.


Energi dari permata kehidupan meresap kedalam dirinya, dan berkat itu, ia sekarang bisa membuat tubuh fisik sementara dalam wujud manusia. Rambut emasnya berkibar layaknya benang emas yang tertiup angin, dan mata hijaunya berkilau seindah permata kehidupan itu sendiri.


Gurita yang melihat nya muncul disana terlihat bergetar karena suatu alasan, namun ia tetap melakukan niat awalnya. Ia kembali mengarahkan tentakelnya kearah Quennevia, berusaha merebut kembali permata itu. Namun tentakel itu tidak pernah sampai.


Secara alamiah, Quennevia punya barrier yang kuat mengelilinginya sebagai palindung. Dan tentakel gurita itu akan terbakar sebelum bisa menyentuhnya.


Quennevia pun mengangkat satu tangannya kearah gurita tersebut, sang gurita pun seketika terjebak dalam sebuah bola sub-ruang yang mana terus mengecil dan semakin kecil hingga akhirnya jatuh ketangan Quennevia dalam bentuk sebuah kelereng.


" .... "


Quennevia menatapnya dalam diam sesaat, dan kemudian ia pun mengangkat kepalanya menatap pohon kehidupan. Tak lama, ia pun mengalihkan perhatiannya kepada Ethan dan teman-temannya yang ada disana.


Ethan tersenyum kearahnya, dan kemudian ia pun menganggukan kepalanya.


Melihat hal itu, Quennevia pun kemudian melihat permata kehidupan ditangannya. Ia menggenggam permata itu dengan kedua tangan didepan dadanya, saat energi dari permata itu pun kembali menyeruap kesegala arah ditempat itu.