Quennevia

Quennevia
Kebangkitan



Krangg!


Ketika belenggu terakhir akhirnya hancur, beberapa saat pertama masih belum ada reaksi apapun. Saat kemudian Arabel yang ada disana merasakan sesuatu, dan ia mengulurkan tangannya untuk menggunakan kemampuan nya dan menarik Oscar dan yang lainnya menjauh dari tubuh Quennevia.


" Woah! Apa ini??" Arkan sedikit terkejut dengan hal yang tiba-tiba itu, mereka melayang kembali ke arah Mariana dan Arabel.


" Ah! Tubuh Quennevia bersinar." sementara itu Meliyana yang menyadari itu menunjuk kearah tubuh Quennevia.


Ketika mereka mendarat kembali, mereka mulai bisa melihat semuanya dengan lebih jelas. Ya, seperti yang dikatakan oleh Meliyana, tubuh Quennevia mulai diselimuti oleh cahaya keemasan. Bersamaan dengan itu, aliran kekuatan nya yang sebelumnya kusut pun perlahan mulai tenang. Karena itu, Euclide pun tidak lagi perlu menahannya.


Hal selanjutnya yang terjadi, adalah tubuh yang telah disempurnakan oleh Hades dan yang lain. Tubuh itu perlahan juga dibungkus dalam bola cahaya dan terbang mendekati tubuh Celestial Quennevia.


Melihat hal itu, mereka pun jadi sangat senang...


" Ah, Quennevia.." bahkan Misika terlihat sangat terharu dan meneteskan air matanya, sementara Yiggrite menepuk pundaknya.


[Kita semua berhasil.] Euclide pun mengembutnya dengan ekspresi yang sangat cerah.


Dan Hades yang mendengar itu tidak bisa membantah dan hanya mengiyakannya saja, [Kau benar.] saat kemudian perhatian nya pun teralihkan kepada Eclipse yang ada disampingnya dan ia mulai mengusap kepalanya. Sampai-sampai Eclipse yang terkejut memasang ekspresi bingung.


Oscar dan yang lainnya juga sama, mereka terlihat sangat bersemangat melihat itu disamping Mariana dan Arabel.


Ketika tubuh inkarnasinya semakin mendekat dengan Quennevia, kedua kelopak matanya yang tertutup pun perlahan terbuka. Mata zambrud itu berkilau menyambut kembalinya kehidupan. Dan perlahan Quennevia pun mengulurkan kedua tangannya, dia menggenggam tubuh inkarnasi itu dengan kedua tangannya, dan kembali menutup matanya.


Ketika itu, kekuatan nya yang besar pun bersinar semakin terang, ketika Quennevia menyatukan dirinya dengan tubuh itu. Cahayanya sangat menyilaukan hingga Oscar dan yang lainnya bahkan tidak bisa melihat apa yang terjadi.


Disaat itu, mereka juga mendengar suaranya bergema...


[Kepada pengawas alam semesta yang agung... Benih yang lahir dari perjuangan para pahlawan, bintang paling terang yang menuntun jalan. Sumber kebebasan dan keputusasaan. Akan menentukan terbaliknya surga dan neraka.]


Ramalan lain yang belum tersampaikan diperdengarkan kepada mereka...


Sesaat kemudian, cahaya itu hilang. Dan Quennevia telah berdiri dihadapan mereka, ia merentangkan kedua tangannya seolah akan memeluk mereka dan kembali membuka matanya.


[Kepada mereka yang melihat akhir dari perjalanan... itu juga adalah awal yang baru.]


Wujudnya masih sama, ia belum benar-benar menggunakan tubuh inkarnasi nya meski telah bersatu. Dan lalu ia pun tersenyum, bersama dengan itu, sapaan pun mulai datang padanya...


" Quennevia!."


" Akhirnya kau bangun."


" Syukurlah kita berhasil.. huwaa.."


" Jangan menangis."


" Kak Quennevia!!."


" Kami sangat merindukanmu, Quennevia!."


Teman-temannya yang berisik jadi yang pertama dan paling berisik menyambutnya kembali. Quennevia yakin ini biasa terjadi...


[...Sudah lama ya, teman-teman. Aku senang kau disini juga, Sakura.] dan Quennevia sangat senang melihat mereka tidak berubah sama sekali.


" Quennevia..."


Lalu perhatian Quennevia pun teralihkan mendengar itu, dan ia melihat Misika menatapnya benar-benar dengan air mata yang mengalir deras dari matanya. Dia menutupi mulut nya berusaha menahan isak tangis, meski begitu ada banyak perasaan rindu dimatanya. Quennevia juga bahagia melihatnya...


Quennevia pun mengulurkan tangannya kearah Misika, dia harap dia bisa memeluknya tapi sulit dengan wujudnya sekarang. Jadi ia hanya membiarkan Misika menyentuhnya, [Maaf membuatmu menunggu lama... Ibu. Aku pulang.] ucapnya.


" Putriku.... selamat datang." Misika pun menyambutnya dan tersenyum mendengar itu.


" Selamat pulang, nak. ...Atau mungkin, harus kupanggil 'Nyonya'? 'Yang mulia'?" sementara itu, Yiggrite justru bingung harus memberinya panggilan apa.


Disatu sisi dia tahu Quennevia lahir sebagai cucunya, tapi disisi lain dia juga sadar kalau Quennevia itu adalah penciptanya, jika dikatakan secara harfiah.


Dan melihatnya kebingungan, membuatnya tertawa...


[Hahaha... Terserah kakek mau memanggilku apa.] dia sama sekali tidak keberatan dengan apapun, asal bukan hal buruk saja.


[Lalu...] Kemudian, kali ini Quennevia beralih kepada Euclide, Hades dan juga Eclipse disana. [...Terima kasih, kakak. Untuk semua yang telah kalian lakukan untukku. Dan maaf, karena aku tidak cukup bersabar.] dia mengucapkan itu dengan ekspresi merasa sedikit bersalah atas semua masalah yang terjadi.


Tapi Euclide maupun Hades hanya tersenyum mendengar itu darinya...


[Apa ini? Kami hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Quennevia, kami sangat senang karena kau kembali.]


[Sebagai tambahan, jangan biarkan Ethan berbuat semaunya lagi. Tolong kontrol dia agar tidak membelah 3 dunia lagi.]


[....Apa kau harus mengungkit itu sekarang??]


[Tidak ada yang salah dengan kata-kataku.]


Euclide yang mendengar itu sampai tak habis pikir dengan jalan pikiran Hades, tentu dia tahu kalau saudara nya ini bukan orang yang berterus terang soal perasaannya. Tapi tidak perlu juga mengungkitnya seperti itu...


Sementara Quennevia hanya tersenyum canggung karena itu. [E-Em.. baiklah.] dia bahkan tidak yakin apa akan ada lain kali tapi biarkan saja. [Terima kasih untukmu juga, Eclipse. Kau sudah banyak membantu.] Quennevia lebih memilih beralih dan kembali mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Eclipse.


Eclipse yang mendapatkan ucapan itu dan juga usapan kepala pun sampai menundukan kepalanya dengan wajah yang tersipu malu kemudian mengangguk. Dia terlihat sangat manis ketika bersikap seperti anak kecil.


Dan untuk yang terakhir... Quennevia melihat Mariana dan Arabel disana.


[Ratu Mariana.]


" Dewi Agung..." Mariana membungkukan tubuhnya ketika Quennevia memanggilnya.


Dan Quennevia juga menganggukkan kepalanya. Mereka tidak terlalu banyak memiliki intervensi, tapi Quennevia sangat berterima kasih kepadanya yang telah membantu. Sekaligus menunjukan penghormatan satu sama lain.


[Arabel.]


Arabel jadi yang terakhir, tapi jadi yang paling gelisah. Mungkin karena dia tidak merasa dirinya membantu sama sekali, dia sangat ingin bertemu dengannya, tapi dia tidak melakukan apapun. Jadi dia merasa kalau dirinya disana hanya mengganggu...


Tapi Quennevia sama sekali tidak berpikir begitu.


[Maafkan aku. Kau pasti sangat kesulitan selama ini.] Justru Quennevia merasa bersalah karena meninggalkan segala tanggung jawabnya pada anak ini. Quennevia tahu dia juga pasti menderita.


Kata-kata itu membuat Arabel terdiam sejenak, dan lalu air mata pun mulai tumpah. [Tidak... Itu bukan hal besar. Aku senang ibu sudah kembali.] ia pun berkata demikian sembari berusaha mengusap air matanya.


[Aku juga senang bisa melihatmu,... Arabel.]


Itu akan menjadi pertemuan kembali yang tidak akan pernah dilupakan oleh seorang pun yang ada disana, apalagi oleh Oscar dan yang lainnya. Kembalinya teman lama sekaligus kembalinya pencipta mereka, tidak akan ada hal luar biasa lain yang bisa menyaingi hal ini.


Ngomong-ngomong soal teman, sepertinya mereka melupakan seseorang...


" Aarggghhhh!!." sampai kemudian Meliyana dan Oscar tiba-tiba berteriak sangat keras sampai-sampai mengagetkan yang lainnya.


" A-ada apa dengan kalian??" tanya Niu kepada mereka sambil berusaha menenangkan diri dari keterkejutan.


" Kalian sakit??" bahkan Arkan pun bertanya-tanya soal itu.


" Kita melupakan dia..." jawab Oscar pula dengan wajah panik


" Huh??"


" Coba pikirkan apa yang kurang."


" .... "


Mereka memikirkan itu sejenak tentang apa maksudnya, dan barulah mereka sadar.


" ....Ethan dimana, ya?" tanya Yuki samakin memperjelas semuanya.


Mereka pun langsung serempak melihat kearah Quennevia dengan ekspresi terkejut, tapi Quennevia yang ditatap seperti itu oleh mereka hanya memiringkan kepalanya sebagai tanggapan. Melihat itu membuat wajah mereka berubah pucat...


" Itu tidak mungkin, kan?? Dia tidak disana.."


" Bu-bukankah harusnya dia langsung keluar??"


Mereka berusaha berhenti berpikir kalau Ethan terjebak didalam tubuh Quennevia, tapi mau dipikirkan bagaimana pun situasinya mengarah kesana. Jika itu benar, maka habislah Ethan... Lalu apakah Quennevia tidak menyadarinya??


Tapi nyatanya...


" Huh? Kenapa kalian melihat kearah sana..??" suara Ethan justru terdengar diarah sebaliknya, dan ia memeluk Mariana dari belakang sembari menempatkan kepalanya dibahu Mariana dan menatap mereka dengan ekspresi lucu. " Kalian tidak akan menemukanku disana karena aku disini." ucapnya pula dengan santainya.


Oscar dan yang lainnya langsung terdiam melihat itu, sementara itu Mariana tertawa...


" Ahahaha.. Dasar anak ini." ucapnya yang kemudian mengelus wajah Ethan dengan gemas karena kejahilannya kepada teman-temannya.


Tapi Ethan kelihatan tidak peduli sama sekali dengan hal tersebut, " Ah, ibu. Aku merindukanmu." dia justru kelihatan manja kepada ibunya. Ia bahkan tidak peduli meski saat ini teman-temannya sedang menatapnya dengan ekspresi seolah siap untuk membunuhnya.


" Ethan, bisakah berhenti menjahili mereka? Teman-temanmu itu mengkhawatirkanmu, tahu." saat kemudian Felice menengahinya.


" Sayang..."


" Aw~ Ayolah, ayah. Apa yang mungkin mereka lakukan padaku? Jangan berkata seolah mereka akan membunuhku hanya karena ini."


" Iya, mereka tidak akan membunuhmu. Tapi mengganggumu selama satu minggu penuh."


" Itu terdengar mengerikan, tolong jangan memberi mereka ide itu."


Ethan yakin dia tidak akan tahan dengan gangguan mereka jika teman-temannya benar-benar melakukan itu. Dia bisa menghindar, tapi coba tebak bagaimana teman-temannya akan membuatnya terlihat konyol didepan semua orang.


" Oh, benar. Ngomong-ngomong, Quennevia... bukankah waktunya untuk melakukan itu??" saat kemudian Ethan pun mengalihkan percakapan dengan menanyakan hal itu.


[Kau benar.] Quennevia sendiri menganggukan kepalanya membenarkan hal itu.


" Huh? Apa itu? Ada apa?"


" Apa lagi yang kalian rencanakan?"


Dan itu juga berhasil mengalihkan perhatian teman-temannya dari kekesalahan mereka sebelumnya.


Quennevia pun mengeluarkan tiga buah kelereng ditangannya dengan tiga warna yang berbeda, merah, biru dan violet. Bisa tebak apa itu?


Quennevia kemudian melemparkan ketiganya ke bawah, dan mereka berubah menjadi tiga sosok lain ditempat itu.


Melihat mereka tentu saja membuat Oscar dan yang lainnya terkejut...


" Sirius!."


" Huh..?"


" Seraphine?? "


" Kenapa aku disini?"


" Kak Nevia!!."


" Sakura."


Mereka bertiga sekarang ada diluar tubuh Quennevia, berada dihadapan mereka semua. Dengan wujud mereka masing-masing...


Itu membuat mereka penasaran apa yang akan dilakukan oleh Quennevia dengan hal ini?